jump to navigation

Solidaritas August 7, 2010

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

*sebagai pledoi.

Tulisan ini panjang dan dijamin membosankan. Jangan sia-siakan waktu Anda untuk membaca tulisan yang kurang berguna ini.

Beberapa tahun lalu, eh tepatnya dua tahun lalu di medio 2008, sebagai seorang bujang yang baru saja merana karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, hidup saya bagaikan berada dalam gubuk derita. Setelah memperjuangkan cinta selama kurang lebih dua tahun juga, hasilnya sia-sia belaka. Saya jadi tidak percaya kalau cinta datang karena terbiasa. Witing tresno jalaran seko kulino. Itu tipuan saja, pasti hanya untuk membesarkan hati bujang-bujang yang ditolak cintanya agar tak segera putus asa.

Percayalah apa kata Pat Kai: Sejak dulu beginilah cinta. Deritanya tiada akhir.

Setelah memutuskan untuk berhenti berharap pada gadis yang lama, perburuan baru pun segera dimulai. Iseng-iseng berhadiah. Meskipun trauma masih terasa, toh saya tidak mau kalah dong sama alumnus Geng Gabrut yang mulai menemukan pasangannya masing-masing.

Alkisah kemudian saya berkenalan dengan Ling-Ling, seorang calon dokter dari universitas tetangga. Entah bagaimana caranya saya dipertemukan dengannya. Mungkin memang jodoh. Eits, tapi bukan dia yang akhirnya saya incar.

“Ling, kamu ada teman yang prospek ke depannya cerah untuk dijadikan pasangan hidup. Tidak perlu cantik, yang penting menarik.,” tanya saya pada Ling-Ling.

Entah kenapa Ling-Ling justru tidak menarik perhatian saya saat itu. Memang tidak ada perasaan, harus bagaimana lagi.

“Aduh siapa ya? Teman saya yang single dan menarik memang banyak. Tapi yang mau sama kamu agak susah,” kata Ling-Ling. Bercanda, semoga.
“Ya ampun Ling, relakanlah temanmu satu buat saya. Niscaya dia akan hidup bahagia dan penuh suka cita selamanya,” saya merayu Ling-Ling.
“Bagaimana ya? Saya kok tidak yakin. Janji laki-laki biasanya di mulut saja,” Ling-Ling masih meragukan niat mulia saya.
“Ya ampun Ling, lihatlah mataku ini. Apa yang kamu lihat?” saya masih meyakinkannya.
“Saya melihat ada dua bola mata,” kata Ling-Ling jujur.
“Bukan! Ketulusan yang terpancar di dalamnya,” saya berusaha.
“Gombal,” Ling-Ling berkomentar.

Tidak sia-sia saya merayu Ling-Ling untuk mengenalkan temannya yang berprospek cerah. Tanpa menunggu lama saya segera beraksi.

Cipluk namanya. Teman SMA Ling-Ling yang berdomisili di Kota Besar. Satu jam perjalanan dari kampung saya, tapi naik Garuda Indonesia.

Berhubung teman Ling-Ling ini berada di Kota Besar maka tidak mungkin bagi saya untuk melakukan pendekatan dengan frontal. Beruntunglah ada teknologi internet dan komunikasi. Terimakasih yang sebesar-besarnya buat penciptanya. Anda sungguh membantu saya. Semoga Tuhan memberkati Anda.

Melalui internet dan telepon saya melakukan pendekatan. Sampai suatu saat ada waktu untuk berjumpa. Kebetulan waktu itu sedang ada acara di Kota Besar dan saya beruntung bisa menghadirinya. Kira-kira setahun semenjak saya rajin berkomunikasi dengan Cipluk.

Pertemuan pertama itu berlangsung biasa saja. Masih jaga image lah. Cipluk datang bersama Tince teman karibnya yang juga saya kenal. Tidak banyak kata yang terucap. Hanya percakapan-percakapan singkat saja. Maklum, saya ini sebenarnya agak pemalu dan pendiam.

“Hai, sama siapa?” saya bertanya.
“Itu sama Tince,” jawab Cipluk.

Dan percakapan-percakapan tidak penting lainnya. Pada akhirnya saya lebih sering ngobrol dengan teman lain begitu pula Cipluk yang akhirnya lebih nyaman bercanda dengan Tince.

Tidak sampai satu jam pertemuan kami dan rasa-rasanya prospek hubungan saya-Cipluk ke depannya tidak menuju ke arah yang lebih baik. Itu pikir saya.

Maka hubungan saya dan Cipluk cuma saya harapkan sampai sebatas teman saja. Tidak lebih. Ditambah lagi kenyataan bahwa selama setahun hubungan pertemanan saya dengan Cipluk itu tidak berjalan menyenangkan. Cuma sekali saya pernah berbicara langsung dengannya via telepon (diluar pertemuan saya dengan Cipluk di Kota Besar). Itupun tak lama, kurang dari satu menit. Saya yakinkan memang tidak bakalan ada apa-apa antara saya dan Cipluk.

Sampai pada suatu ketika Tince bertemu dengan saya di salah satu acara di Kota Besar. Cipluk tidak ikut, katanya sedang ada acara lain. Tapi saya kok curiga. Wong cuma dekat ini, masa’ ya tidak bisa datang barang sebentar saja.

“Kamu itu sebenarnya sama Cipluk bagaimana?” tanya Tince.
“Ya biasa saja, tidak ada apa-apa. Memangnya ada apa?” saya balik bertanya.
“Lah selama ini kamu sms dia, berhubungan dengannya apa maksudnya?” Tince menyelidik.
“Ya tidak ada apa-apa. Sekadar menjalin tali silaturahmi,” jawab saya.
“Beneran? Saya kok tidak yakin. Asal kamu tau, Cipluk itu ada rasa sama kamu. Makannya kamu jangan mempermainkannya. Kalau suka bilang saja, kalau tidak ya sudah. Jangan memberi harapan padanya,” Tince agak muntab.

Dibilang seperti itu saya kaget juga. Jarang-jarang ada perempuan yang ceplas-ceplos bicara masalah ini. Biasanya membicarakan hal-hal semacam ini agak susah memulainya.

“Yah memang saya ada rasa sama Cipluk, tapi kok nampaknya dari dia tidak ada respon. Saya kan jadi sangsi. Takut kalau harus menderita,” saya menjelaskan.
“Jangan salah, Cipluk sering cerita kalau dia juga ada perasaan sama kamu. Cuma dia malu saja untuk menyatakannya langsung. Namanya perempuan kan,” kata Tince agak mereda marahnya.

Wah kok nampaknya ada titik cerah dalam hubungan saya dan Cipluk.

“Ooo…,” saya hanya melongo.
“Iya, kamu sebagai lelaki jangan asal pasang pancing terus ditinggal. Kalau ada ikan yang makan umpan ya diangkat. Jangan dibiarin, digantungin gitu. Tidak enak tau! Kalau suka bilang, kalau tidak ya tinggalkan,” Tince masih protes melihat tanggapan saya.

Saya jadi berasa tidak enak sama Cipluk. Yah, mungkin memang karena sifat saya yang kadang kurang peka terhadap perasaan perempuan maka Cipluk menjadi korban. Saya jadi merasa bersalah saja.

“Eh tapi sekarang Cipluk punya cowok dan kamu kenal sama dia. Orangnya ada di sini,” terang Tince lagi.

Jreng jreng.. Petir menyambar. Serigala melolong. Ini apa maksudnya coba? Katanya Cipluk ada perasaan sama saya tapi kok kenyataannya dengan lelaki lain dia menjalin cinta. Pantas saja dia tak mau datang ke acara ini. Mungkin dilema bertemu saya saat dia telah berdua. Romansa cinta remaja memang tidak bisa diduga.

“Lalu bagaimana kalau begini Ce?” saya bertanya pada Tince.
“Pokoknya jangan menggantungkan nasib sahabat saya itu,” kata Tince seakan memaksa..

Saya bingung. Di satu sisi saya tidak ingin menggantungkan cinta Cipluk, tapi di sisi lain saya tidak ingin mengganggu hubungan cinta yang sudah terjalin.

Komunikasi saya dengan Cipluk masih terjalin dengan baik. Meskipun kata Tince: Cipluk sudah punya pacar, tapi kenyataannya dia masih berhubungan dengan saya seakan-akan dia masih single dan available. Pun Cipluk tidak pernah bercerita pada saya kalau dia sudah berpasangan.

Prinsip saya: saya lebih percaya apa yang disampaikan oleh yang bersangkutan tentang dirinya. Kata orang lain saya anggap hanya angin lalu. Kalau dia tidak bercerita berarti ada dua kemungkinan, yang pertama itu memang tidak ada atau yang kedua itu tidak penting dan tidak perlu saya ketahui yang artinya dia menyepelekan keberadaan saya. Maka dari itu, jika nantinya saya dibohongi saya bisa kecewa luar biasa.

Saya tunggu sampai beberapa bulan, tidak sekalipun Cipluk bercerita tentang pacarnya. Saya pun tak mau bertanya. Pikir saya, hanya saya lelaki yang berhubungan dekat dengannya seperti halnya dia satu-satunya perempuan yang dekat dengan saya.

Ditambah dengan anggapan Tince tentang kejahatan saya yang menggantungkan nasib asmara Cipluk, maka saya putuskan untuk menyatakan perasaan saya pada Cipluk enam bulan setelah Tince mengungkapkan apa yang ada dalam perasaan Cipluk pada saya. Namanya juga terpisahkan jarak, maka saya hanya menyatakan perasaan saya via sms. Itu cara terbaik menurut saya. Wong kalau saya telpon ndak pernah diangkat, paling banter ya di-reject. Sungguh mengenaskan nasib saya.

Dengan pertimbangan enam bulan itu Cipluk sudah putus sama pacarnya dan perasaan Cipluk yang saya pikir belum berubah pada saya maka saya yakin Cipluk akan menerima saya sebagai pendamping hidupnya. Sorak-sorak bergembira pokoknya.

Tapi kenyataan tidak seperti yang diharapkan. Sungguh menyedihkan. Tadinya saya pikir semuanya akan berjalan mulus dan saya segera mendapatkan pendamping hidup saya, tapi nyatanya Cipluk tidak berpikir hal yang sama.

Katanya,

Aku sama sekali tidak bisa LDR dan belakangan ini lebih kepikiran. Tidak pernah berhasil bertahan relationship seperti itu. Aku baru sadar, keberadaan fisik seseorang itu lebih meaningful.

Saya masih berpikir positif. Saya mencoba mencari celah atas jawaban itu. Kalau saya nantinya dapat kerja di Kota Besar maka alasan LDR bisa dikesampingkan, lha tapi kalau saya ditempatkan di daerah? Sama saja. Setelah menganalisa dan mendapat pertimbangan dari Paijo maka saya putuskan bahwa memang saya dan Cipluk tidak akan bisa bersama. Terlalu riskan untuk dipaksakan. Segala yang dipaksakan tidak akan baik hasilnya. Saya terima nasib saja, mungkin memang belum saatnya.

Kecewa? Tentu saja. Harapan-harapan yang sempat saya rencanakan berantakan.

Ah saya jadi ingat kata Ucrit, “Kawan, saya cuma ndak pengen saja orang berharap terlalu jauh dan terlalu tinggi, kalo terlalu jauh nanti pulangnya susah, kalo terlalu tinggi nanti jatuhnya sakit setengah mati.”

Yang membuat saya tak habis pikir lagi, apa mungkin Tince mempermainkan saya. Apa yang pernah dikatakan mereka, yang membulatkan tekad saya untuk menyatakan perasaan saya, bohong belaka?

Saya pikir tak ada gunanya menyalahkan orang lain. Biarlah semua berjalan apa adanya. Paling tidak anggapan Tince bahwasanya saya menggantungkan cinta Cipluk itu tidak benar adanya. Kemudian saya juga tau bagaimana tanggapan Cipluk pada saya. Itu sudah cukup, tidak perlu diperpanjang lagi.

Hubungan saya dengan Cipluk masih baik-baik saja, meskipun hubungan kami tidak seintens dulu. Yang penting silaturahmi masih jalan. Saya juga tidak mau terbawa perasaan seperti dulu.

Sampai beberapa bulan kemudian Tince menghubungi saya setelah mengetahui saya dekat dengan gadis lain.

“Kamu benar sama si Neng,” tanya Tince.
“Iya, memangnya kenapa?” saya menanyakan motivasinya.
“Bagaimana nasib teman saya Cipluk? Kamu melukainya. Kok playboy sih?” protes Tince.

Weits, bagaimana saya bisa dibilang playboy? Bukankah seharusnya saya yang bilang Cipluk playgirl? Eh saya tidak mau suudzon ah, dosa. Saya anggap saja tidak ada jodoh antara saya dan Cipluk.

“Kamu mau mendengar ceritanya dari saya langsung? Tapi ini hanya dari pandangan saya. Sangat subjektif sekali,” saya menjelaskan.
“Oh iya, boleh silakan. Saya mau mendengarkan,” Tince menimpali.
“Waktu itu saya juga tidak mau menggantungkan cintanya. Untuk mengatakan saya suka sama dia saja itu berat, tanggung jawabnya besar. Apalagi waktu itu Cipluk sudah punya pacar kan?” saya kembali menjelaskan sekaligus mencari penegasan.
“Iya, tapi kan sudah putus. Kok kamu bisa secepat itu pindah ke lain hati? Perasaan kamu yang saya kenal tidak seperti itu,” tanya si Tince.

Saya sudah mencium gelagat tidak baik. Tince ini katanya mau mendengarkan tapi kok banyak bertanya. Bagaimana saya mau menjelaskan dengan sejelas-jelasnya kalau belum apa-apa sudah disela. Saya juga tak habis pikir bagaimana dia bisa bilang kenal saya wong ketemuan juga jarang-jarang, sms-an tidak pernah, telpon apalagi.

Kemudian saya jelaskan segala kisah pendekatan saya sampai kisah penolakan-tak-langsung Cipluk pada Tince. Menurut sudut pandang saya tentunya.

“Tapi kan tidak secepat itu kamu berpaling. Cipluk kan shock juga masak secepat itu kamu berpaling,” kata Tince.
“Lah kamu pikir saya harus menunggu sampai berapa lama? 10 tahun? Setelah apa yang dikatakan Cipluk itu saya harus menunggu juga, mengemis padanya? Maaf ya, cukup sekali saya meminta dan tidak akan mengulanginya. Lalu saat kamu memikirkan Cipluk shock waktu saya jalan dengan gadis lain apa kamu pernah memikirkan bagaimana perasaan saya waktu saya tau Cipluk pacaran dengan lelaki lain saat berhubungan dengan saya? Jadi dia boleh kecewa dan saya harus menerima apa adanya?” saya mulai emosi.

Tince tidak mempertimbangkan sama sekali penderitaan saya selama ini atas perlakuan Cipluk pada saya. Pokoknya saya harus tetap mengejar Cipluk, setia menunggunya. Entah sampai kapanpun itu. Kalau tidak mau menunggunya saya dianggap playboy. Sementara kalau Cipluk dekat dengan lelaki lain (bahkan sampai pacaran dengan lelaki lain) itu dianggap sebagai suatu kewajaran dan tidak perlu dipermasalahkan.

Sampai pada akhirnya Tince menuliskan seperti ini di status pesbuknya.

“Masalah ini bukan koridor saya untuk menjelaskannya, jangan paksa saya untuk bercerita. Semoga hubungan kalian bertiga baik-baik saja.”

Sungguh saya tak habis pikir apa maksudnya. Setelah penolakan tidak langsung Cipluk pada saya apakah masih ada cinta. Saya sudah mengubur kisah saya dengan Cipluk, kok bisa-bisanya Tince menuliskan seperti itu di ranah publik.

Padahal Tince tidak pernah menanyakan bagaimana hubungan saya dengan Cipluk. Tince hanya menjelaskan perasaan Cipluk pada saya setahun lalu dan kini dia tidak terima saya bersama gadis lain. Bahkan Tince tak pernah sekadar menanyakan kabar saya.

Apa dia tidak pernah memikirkan perasaan saya saat mengetahui kenyataan bahwa Cipluk menolak saya? Apa Tince tidak memahami kekecewaan saya saat Cipluk memadu kasih dengan lelaki lain saat masih berhubungan dengan saya tanpa pernah mengatakannya langsung pada saya? Apa Tince tidak menyadari bahwa selama hampir dua tahun saya berhubungan dengan Cipluk dia tidak pernah memberikan tanggapan positif pada saya? Apakah Tince juga tidak mempertimbangkan perasaan Neng saat menuliskan kata-kata itu di status pesbuknya.

Atau barangkali Tince hanya memikirkan kekecewaan Cipluk saat mengetahui saya bersama orang lain?

Ah tipikal orang Endonesa lagi yang solidaritasnya begitu tinggi terhadap sahabat sendiri. Tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Nampaknya benar apa kata Bo,

“Sebenarnya kalau ditilik lebih dalam lagi, sampeyan harusnya introspeksi juga W.. Mana mungkin orang udah ngeliat kakbah kok bisa2nya kena mpitnah, apalagi sama orang2 bibir ndower klewer2 yg ubun-ubunnya ndak pernah nyentuh sajadah.. Itu kan namanya impossible, absurd, ndak mungkin! Emangnya sampeyan berdonga apa selesai sembayang? Apa ndak minta dijauhken dari mpitnah?”

Saya musti banyak introspeksi.

Advertisements

Comments»

1. joesatch yang legendaris - August 8, 2010

tenang boi…
saya juga pernah bilang ke salah 1 gadis saya kenapa saya masih sempat gonta-ganti pacar kalau sedangkan saya masih menaruh rasa padanya:

“adik sayang, kamu sendiri yang bilang kalo kita sampe kapanpun ndak mungkin barengan. jadi ya beginilah saya, adik sayang. saya tiada mungkin bertingkah dengan lagak sinetron-sinetron yang nggak tamat-tamat itu, menunggu dengan setia untuk orang yang dicintainya bahkan kalo perlu sampek matek, adik sayang. saya ini realistis dan logis…sekaligus petualang,” kata saya (2 kata terakhir tentunya cuma diucapkan dalam hati sahaja).

dan dia mendengarkan sambil mengaduk minumannya sambil sesekali menunduk 😀

Kalau yang bertanya semacam itu si Cipluk jelas saya bisa membalikkan segala tuduhan yang mungkin dilayangkannya pada saya. Malah saya bisa bikin dia mati kutu sekaligus menanggung malu atas segala tindak kejahatannya pada saya (nyatanya memang sekarang dia ndak berani mempertanyakan status saya :evil:).

Tapi sekarang masalahnya ada orang ketiga di luar hubungan saya dan Cipluk yang ikut turut campur. Itulah si Tince Sukarti binti Mahmud. Ndak tau masalahnya eh tiba-tiba ikut maksa-maksa. Tince ini yang maksa-maksa kehidupan cinta saya. Disuruhnya saya tetap mengejar Cipluk meskipun dia sudah menolak saya. Lalu saya mesti bagaimana coba? Tince ini kayaknya tipikal orang yang ndak mau tau perasaan orang lain, asal dia senang saja.

2. semuth03 - August 8, 2010

santai saja mas…
go with the flow aja lah…
hidup itu untuk dinikmati…. 😀

3. dian - August 8, 2010

malangnya nasibmu…

4. ernesto tampan - August 9, 2010

jangan jangan tince mas yang sebenernya naksir kamu, dalamnya lobang wanita susah ditebak, eh maksud saya dalamnya hati wanita siapa yang tau..

septoadhi - August 17, 2010

untung le nulis iki sakdurung e poso

5. paris - August 9, 2010

yaaa… begitulah adanya … 😀

6. Cara beli rumah - August 22, 2010

tulisan nya panjang bgt,..
bkin sakit mata klo di aca lama2,…
ke baca buku aja,..
ne kan baca d pc


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: