jump to navigation

Kontemplasi III August 12, 2010

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Di puncak yang sama saat itu kita duduk bersama. Berdampingan. Tidak ada yang memisahkan kita kecuali selembar kabut tipis yang mendinginkan suasana pagi. Di musim hujan seperti sekarang ini, pagi bukanlah saat-saat yang menyenangkan di ketinggian. Asa untuk mendapatkan lukisan mentari di timur seringkali tidak sesuai dengan keinginan hati. Apakah Tuhan akan menunjukkan mendung yang akan menutupi keindahan pagi atau Tuhan akan memberikan keceriaan sang matahari?

Pagi ini, cuaca tidak bersahabat. Jangankan bayangan Arjuna-Welirang, jajaran Pegunungan Wilis di sebelah timur tersamarkan kabut gelap. Bahkan Merapi dan Merbabu enggan untuk menunjukkan kemegahan.

“Pagi yang buruk!” kataku.

Kamu hanya menimpalinya dengan seulas senyum.

“Tidak juga,” balasmu.
“Bagaimana bisa? Seharusnya di sini, di puncak ini, sunrise terlihat dengan indahnya. Tapi Tuhan tidak mengijinkannya,” aku menimpali.
“Ini hanyalah tentang persepsi. Saat kamu menikmati pagi ini dengan senyuman atau kesedihan,” katamu lagi.
“Persepsi? Sudut pandang maksudmu? Seperti kata Elia dalam Gunung Kelima?” tanyaku.

“Kau lihat Gunung Kelima itu?” tanya Elia. “Dari arah manapun kau melihatnya, gunung itu kelihatan beda, padahal dia gunung yang sama. Begitu pula halnya seluruh ciptaan; mereka merupakan cerminan berbeda dari Tuhan yang sama.”

“Iya, Tuhan selalu menciptakan satu hal yang sama. Tergantung bagaimana nanti kita melihatnya. Dari persepsi mana kita menyaksikannya, pengalaman yang memberikan pelajarannya dan kedewasaan kita untuk menilainya,” tegasmu.

Aku mencoba memahaminya.

“Kamu hanya melihat keindahan pagi ini dari kemunculan mentari. Padahal semestinya kamu bisa melihat keindahan lain dari edelweis yang sedang berbunga, dari cantigi yang bersemi ataupun sekadar dari embun yang terbentuk di ujung daun,” katamu.

Ya, ini semua tentang sudut pandang -kataku- atau persepsi -menurutmu-. Saat kamu menikmati pagi ini berdua dengan kekasihmu dan aku menyesali pagi ini dalam kesendirianku.

#puasa kedua – siang hari, menunggu saat berbuka

Advertisements

Comments»

1. Neng - August 13, 2010

sendiri kukemas air mata di pipi,,

mau nyari pasangan atau jodoh?

ketik REG (SPASI) JODOH kirim ke 14045
I’M Loving IT

He? I’m loving you 😆

2. nyept - August 17, 2010

nah kan keluar juga, kontemplasi edisi ke 3, hahay 😆

btw itu header, er… tar saja nek ketemu langsung deh

3. ipe - August 24, 2010

wah, kok pendek critanya, berarti ada yang ke 4 nie,..
bikin kontemplasi the series ajah, Kak We

Moodnya ilang. Nanti ada serialnya, santai sahaja.

4. hans - August 29, 2010

bingung, tiba tiba masuk ke babak ini..

Sudah ndak usah bingung.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: