jump to navigation

Balada 1 Wanita dan 3 Asmara August 17, 2010

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Kemaren-kemaren saya baru dari Bandung dan ngomong-ngomong mengenai Bandung, saya jadi ingat betapa enaknya Bolen Kartikasarinya. Dan ngomong-ngomong tentang Bolen Kartikasari, saya jadi teringat malam yang aneh beberapa tahun silam. Aduh, saya kok jadi cerita kisah cinta masa lalu saya ya? Ah tapi tiada mengapa, daripada disimpan saja nanti bisa terlupa. Ini kan manuskrip langka. Tidak sembarang orang bisa membacanya. Lagipula nanti kalau anak cucu saya bertanya kan bisa saya jawab begini:

“Le, Nduk.. Kalau mau tau masa muda bapakmu ini sana baca blognya bapak. Tapi itu juga kalau domain sama hostingannya masih rajin kalian bayar.”

Tipikal orang yang ndak mau rugi dan ndak mau repot.

Jadi ini sudah saya ingatkan sebelumnya. Sudah saya wanti-wanti kalau ini kisah cinta yang bila dibaca hanya menghasilkan lapar dan dahaga. Jangan protes, jangan komentar, jangan menghina. Ini tulisan tentang kisah yang melegenda: Balada satu wanita dan tiga asmara.

*

Saya ini tipikal orang Jawa kebanyakan. Tiap bepergian, pasti barang bawaan saat pulang kampung jauh lebih banyak dan bervariasi ketimbang barang bawaan saat berangkat ke kota. Tasnya pasti beranak pinak. Dari satu tas bisa berkembang biak jadi dua kardus (ini tipikal Jawa sekali, mengepak barang dengan kardus kemudian diusung di pundak). Sungguh orang Jawa sangat produktif dalam hal menggandakan barang bawaan.

Dan begitulah kenyataannya saat saya baru pulang dari Bandung. Mulai dari membawa titipan kaos ukuran jumbo untuk Sukiman, titipan celana jeans untuk Ucrit hingga titipan bolen Kartikasari untuk Sulastri. Tas saya yang cuma muat seiprit jelas tidak mungkin memuat barang-barang segambreng itu.

Maka keluarlah jurus andalan orang Jawa. bungkus pakai kardus.

Sampai kampung kewajiban pun belum selesai. Barang-barang titipan itu harus dihantarkan kepada yang bersangkutan. Jadilah begitu pulang, demi menanggalkan kewajiban, saya terpaksa berkeliling kampung ke kampung mengedarkan barang. Semacam tukang kredit saja.

Mulai dari menyambangi kediaman Ucrit, berlanjut silaturahmi ke rumah Sukiman dan berujung numpang makan di hunian Sulastri. Habis duit habis bensin.

“Tri, Sudah ya. Saya mau capcus ke kost-an Ciput. Ini masih ada sekotak Kartikasari buat Ciput. Takut saya khilaf malah saya makan sendiri,” saya berpamitan pada Lastri selepas menyerahkan sekotak bolen sebagai upeti..
“Hey? Kamu mau ke kost-an Ciput? Memang sudah janjian? Siapa tau dia tidak di kost,” tanya Lastri.
“Sudah. Janjian jam delapan malam.Ontime,” jawab saya.
“Nah inl kan baru jam setengah delapan,” kata Lastri.
“Memangnya kenapa? Tidak ada masalah kan kalau saya datang duluan? Kalau datangnya belakangan baru masalah,” balas saya.
“Ya tidak ada sih. Tapi kan janjian jam delapan, ini baru jam setengah delapan. Apa tidak kecepetan? Nanti harus nunggu,” Lastri sepertinya berusaha menahan saya.
“Lebih baik datang lebih cepat kan? Tepat waktu. Tidak membuat orang lain menunggu. Kalau saya yang menunggu ya tidak masalah, kan saya yang menjanjikan sama dia mau datang. Lagipula dari sini ke kost-an Ciput kan jauh, ada mungkin setengah jam dengan standar berkendara yang aman sentosa seperti saya,” jawab saya.
“Mmm.. Tapi..,” omongan Lastri tertahan.

Sepertinya ada yang disembunyikan oleh Lastri. Sulastri dan Ciput memang teman dekat. Bisa dibilang sahabat. Maka tidak heran kalau Lastri begitu rapat mengunci mulutnya. Dan itu justru membuat saya curiga sejadi-jadinya.

“Tapi kenapa? Ah ya sudah, saya berangkat dulu!” saya berpamitan.
“Setau saya jam setengah delapan Ciput ada janjian dengan Kodir. Katanya mau keluar, ada urusan. Tapi saya tidak tau apa urusannya. Ururan pasangan yang lagi kasmaran mungkin. Aneh kan nanti kalau kamu ke sana malah ketemu Kodir,” kata Lastri terang-terangan.

Haa.. Bisa-bisanya kok Ciput janjian sama saya dan Kodir dalam waktu yang hampir bersamaan. Bisa dibilang saat itu meskipun saya dekat dan telah ditolak cintanya oleh Ciput namun saya tetap menjaga hubungan baik dengannya. Kata simbok, pantang memutuskan tali silaturahmi. Dan patut diketahui pula saat itu Kodir memang sedang mendekati Ciput. Anehnya, bagaimana mungkin Ciput jam setengah delapan ada janji dengan Kodir dan jam delapannya bilang sudah ada di rumah. Saya musti belajar manajemen waktu darinya.

Tapi, saya tidak mau ambil pusing. Janji ya janji. Harus ditepati. Masalah yang timbul nanti bisa diurus belakangan. Yang penting sama-sama hepi.

“Biarlah Tri, sudah janji juga. Kalau nanti tidak ketemu sama Ciput kan bisa titip ke teman kostnya,” kata saya memutuskan.
“Ya sudah terserah, saya cuma mengingatkan. Saya tidak tanggung kalau terjadi apa-apa. Jangan berkelahi gara-gara wanita. Masih banyak wanita di luaran sana. Jangan gelap mata. Jangan kalap, nanti teman sendiri dibacok lagi,” kata Lastri ngasal sambil terkekeh.
“Eh eh.. Sori sori sori Jek, ku bukan cowok gituan.”

Aha, sial.. Perkataan yang telak. Saya dan Kodir memang teman sepermainan, seperti halnya saya dan Sukiman. Sudah hapal tabiat masing-masing. Maka tidak mungkin lah gara-gara wanita hubungan kami jadi kenapa-napa. Semoga saja tidak ada apa-apa. Sekaki lagi, semoga. Semoga ya Tuhan. Amin..

Saya segera memacu motor ke bilangan barat kota, menuju kost-an Ciput. Dengan kecepatan yang aman untuk berkendara di dalam kota tentunya, saya berusaha untuk santai-santai saja. Nanti kalau memang ketemu Kodir saya harus bagaimana ya? Begitu pikir saya. Pura-pura jaga image? Ngobrol? Atau bagaimana ya? Hew.. Asmara memang membuat hati saya jadi tidak terjaga. Ndak karuan rasanya.

Jam delapan lewat, saya sampai juga di kost-an Ciput. Tidak nampak tanda-tanda kehadiran Kodir. Jadi ada dua kemungkinan, Kodir sudah pulang atau Ciput dan Kodir masih ada urusan di luar, belum pulang. Nampaknya kemungkinan kedua yang paling mungkin. Dengan asumsi mereka baru janjian jam setengah delapan, masak iya setengah jam sudah kelar urusanmya. Berarti mereka masih keluar. Sibuk pasti. Jadi saya tidak menghubungi Ciput. Kartikasarinya mau saya titipkan saja. Lebih aman buat hati saya juga..

Saya mengetuk pintu ruang tamu kost-an. Tok.. Tok.. Spada..

“Masuk aja..Hei, Put.. Ada tamu. Bukain pintunya, paling temanmu yang barusan. Kali aja ada yang ketinggalan,” salah seorang teman kost Ciput berteriak lantang menyuruh saya masuk saja sekaligus memanggil Ciput. Suaranya cempreng hingga kedengaran dari luar.
“Permisi,” saya masuk ke ruang tamu. Clingak-clinguk. Mencari sosok Ciput.
“Loh, kamu? Kirain teman Ciput yang tadi. Hahaha.. Maaf,” kata teman kost Ciput tanpa cela dan tanpa dosa. Nampaknya sudah biasa.

Pasti Kodir maksudnya. Ah biarkan saja, saya tidak peduli. Niat saya kan cuma mau menghantarkan sekotak Kartikasari oleh-oleh dari Bandung. Niat mulia saya tidak bakalan ternoda oleh masalah asmara. Lagipula seharusnya memang tidak boleh ada apa-apa, wong sudah ditolak kok nyatanya. Mau berharap apa?

“Eh ada apa?” tanya Ciput yang keluar dari persembunyiannya.
“Cuma mau memberi oleh-oleh dari Bandung,” kata saya sambil menyerahkan sekotak bolen Kartikasari yang pernah dimintanya saat tau saya sedang di Bandung..
“Oh, makasih. Mmm.. Mau minum apa?” tanya Ciput lagi.
“Air putih saja”

Ciput beranjak ke dapur. Mengambil minum. Saya sebenarnya mau segera pulang saja. Sudah mengantuk. Tapi saya menunggu sebentar, barangkali Ciput mau bercerita tadi baru saja keluar bersama Kodir. Saya juga tidak bakalan keberatan. Kalau sakit hati sedikit kan wajar saja. Namanya masalah hati. Tapi biarlah itu disimpan saja. Tidak usah diumbar sana sini, semacam kurang kerjaan. Cemburu yang tiada guna.

“Mau durian apa tidak? Ada banyak ini, tidak bakalan habis kayaknya. Daripada mubazir bawa saja,” tawar teman kost Ciput.
“Aih.. Hebat benar kalian. Anak kost bisa-bisanya kulakan durian. Perasaan ini akhir bulan. Dapat nyolong dari mana itu durian? Ingat dosa, sudah pada tua juga,” saya bertanya. Bercanda.
“Enak aja. Meskipun kami anak perantauan tidak ada sejarahnya kami terlibat dalam kegiatan kriminal. Ini dari siapa ya? Entah siapa namanya. Pokoknya temannya Ciput tadi siang membawakan ini. Katanya dia baru pulang kampung Duren. Kampungnya kan penghasil durian,” kata teman kost Ciput.

Subhanalo.. ‘Teman’ manalagi ini. Kok baik benar? Jelas tidak mungkin ini dari Kodir. Wong baru-baru ini dia tidak pulang kampung kok. Lagipula dia tinggal di kampung Pelem, kampungnya bukan kampung penghasil durian.

Saya pikir-pikir. Putar otak. Dari mana asal muasal buah durian ini.

“Mau tidak?” tanya teman kost Ciput lagi. Membuyarkan pikiran saya.
“Eh ndak, ndak mau. Ndak suka,” saya menolak.
“Dasar orang bodo.. Makanan enak kok tidak mau. Surga dunia ini..,” lanjut teman kost Ciput sembari bercanda.

Dari mana ya? Pemberian siapa ya? Kampung Duren.. Siapa yang tinggal disana?

Ahaa! Satu-satunya tersangka yang patut dicurigai adalah Widodo.. Dia kan anak Kampung Duren. Keliatannya kemaren dia habis mudik. Ya! Pasti dari Widodo. Tidak salah lagi.

Berarti benar apa gosip yang beredar di masyarakat. Ternyata selain Kodir, Widodo juga mendekati Ciput. Dan lucunya (atau anehnya), saya-Kodir-Widodo adalah teman sepermainan. Tapi tidak pernah ada rasa canggung di antara kami. Masih tidak habis pikir saya. Wanita macam apa yang bisa membuat Kodir dan Widodo (dan dulunya saya) bisa mengejar-ngejarnya.

Namanya juga orang kasmaran. Terbuai cinta.. Cupid sedang melepaskan panah asmaranya.

Ciput kembali dari dapur membawa gelas dan sebotol air dingin dari kulkas. Saya menuangkan air dingin itu ke dalam gelas. Setengah penuh.

Glek.. Glek..

“Put, balik,” saya berpamitan.
“Kok buru-buru?” tanya Ciput.
“Ngantuk, mau tidur. Belum sempat istirahat,” saya ambil tas dan segera kabur pulang.

Sampai rumah ada pesan singkat dari Lastri.

“Ketemu Kodir apa tidak? :evil:”

Sialan si Lastri! Jadi, seharian ini? Siang sama Widodo, lalu dengan Kodir, malamnya saya. Satu wanita, tiga asmara.. Hmm.. Jadi ingat apa kata Ucrit waktu itu.

Advertisements

Comments»

1. Agus - August 17, 2010

ini kisahnya siapa Wid?

http://eryanta.com

Kisah rahasia.

2. Neng - August 18, 2010

jadi kalau sudah begini percaya ga percaya wanita itu lebih banyak di banding laki-laki

🙂

3. adhipras - August 18, 2010

hohoho.. di satu sisi, saya salut dengan kemampuannya dalam hal manajemen waktu dan sumber daya manusia.. 😀

Mau belajar Pras? Sini saya kenalkan.

4. kbp - August 20, 2010

saya tau..saya tau…Pak Guru!! *ngacung
=)) boleh juga ceritanya we.. sampe heran udah kayak shitnetron sahaja, jarang2 di dunia nyata ini terjadi kejadian mistik semacam itu =))

sukses buat kita semua..ole!!

Memang layak dibikin sinetron. Antum berminat jadi salah satu pemerannya? Saya sarankan sih iya. Peran spesial untuk antum seorang 👿

5. undapatie - August 20, 2010

saya berasal dari kampung durian…
tapi saya tidak ingat saya pernah membawa durian dari kampung ke jogja.
padahal nama saya widodo loh…

Jangan-jangan itu dirimu? 😆

6. undapatie - August 20, 2010

saya masih bertanya-tanya…

siapa Kodir!!!!

Kodir adalah teman saya dan teman Widodo.

7. kbp - August 23, 2010

kodir itu bintang pelem yang maen kanan kiri oke itu lhoo.. kodir dan dayak 😀

*we..lebih baik jangan pake nama kodir..takut rancu dengan teman kita dari pedalaman gunung kidul sana, sang dada idaman itu..mending Ken ato Kevin ato apa yang keren gitu wee..

Ah ndak mau, situ bayar dulu sama saya kalau mau nitip nama.

8. nyept - August 25, 2010

^
^
^
ya pake kbp saja, upssssssss 😆 ngahahahahaha

unyuuu unyuuu unyuuu :3

Jangan sebut merek lah 👿

9. Agus - August 27, 2010

eh TSnya mana neh?? kok ga jawab komennya?

Sudah dibilang ini kisah rahasia.

10. sangprabo - August 27, 2010

Hlow hlow hlow? Ini kok pindahan rumah ndak ngundang2?!? Makan2nya udah kelar kah?

*pengen nyolong besek*

Ndak pake besek-besekan. Cuma gunting pita sahaja. Ngirit..

11. cinta - September 3, 2010

AHA!
Aku tau kisah ini 😉

Kisah apa memangnya? Wong ini hanya fiktif belaka kok.

12. neng - September 6, 2010

ini NYATA kuping saya saksinya
anda jangan ngeles kaya BMW (bajaj merah warnanya)

saya tahu ini
dan bila perlu nanti saya rincikan kisah selengkapnya dengan nama tokoh tersangka dan pelaku “TIDAK DISAMARKA”

>:) KETAWA JAHAT

Loh, jangan mereka-reka.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: