jump to navigation

Keping 3 August 20, 2010

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Entah kenapa malam ini mataku terasa amat berat, bagai beribu ton beban tergantung di kelopaknya memaksa untuk memejamkan mata cepat-cepat. Mungkin satu minggu berkutat dengan frame, stage, movie clip dan ctrl+enter telah membuat otak ini menjadi bebal. Semacam akumulasi kelelahan yang tidak tertahankan. Tapi sebelum aku memejamkan mata, seperti malam-malam biasanya, aku ingin menikmati sebongkah rinduku padamu. Semacam ritus sebelum esok aku mesti menantang layar komputer dan kembali berkutat dengan baris-baris kode. Malam ini, selagi masih tersisa sedikit tenaga untuk terjaga, aku ingin menyisiri sebongkah rindu yang tidak akan habis meskipun aku selalu mengambil secuil repihannya. Sebongkah rindu yang justru semakin bertambah tiap hari.

Aku ingin mengenangkan pertemuan di luar kota. Di tirisnya kaki Patuha, 2.194 meter di atas garis pantai, 45 kilometer selatan kota dengan beratus angkotnya, di antara kerumunan cantigi yang tersisa. Pertemuan pertama setelah janji terucap di antara kita. Setahun selepas perjumpaan pertama, perjumpaan yang anehnya tidak mempertemukan kita. Raga berada di sana meskipun hati kita melayang entah kemana. Ya karena saat itu memang hati kita sudah berpunya. Hingga aku tak sempat menyapamu dan kamu pun tak ada kesempatan untuk menjumpaiku.

*sampai sekarang aku masih tak tau mana yang disebut perjumpaan pertama. Pertemuan tahun lalu atau tiga bulan kemarin. Atau malah saat aku menatapmu cemberut imut dengan baju kodok hijau di tepi pantai.

Apabila bisa kuulang waktu, aku ingin terbang kembali. Menemu perjumpaan itu, mengubah alurnya kemudian meluruhkan jarak yang dulu memisahkan. Masa yang tidak berpihak. Supaya bisa berdua. Dan mulai menoreh kisah kita.

Namun aku tahu, seperti yang kamu bilang (atau pembelaanmu :p), kalau dulu kita telah bertemu mungkin semuanya tak akan seperti ini. Aku hanya mengenalmu dan kamu juga cukup mengetahuiku. Sebatas itu. Tak ada yang lebih. Barangkali aku akan menyesalinya karena semuanya hanya akan sekilas, tiga malam, sepintas-waktu dan kenangan. Menyisakan ketiadaan.

Setahun lalu. Aku memilih kesunyian. Membenam dalam kelam.

Saat memacu melintas sepinya perkebunan teh di pegunungan yang membatasi di selatan. Dalam dingin angin. Menyendiri dalam tengah kebun, tepian jalan yang menembus. Duduk diam tenang damai menikmati hijau dan rimbunnya setelah tiga hari mencicipi embun bumi perkemahannya.

“Ah, seandainya ada yang menemani saat ini. Pasti semuanya lebih menyenangkan.” Karena terasa membosankan saat harus melakukan semuanya sendirian. Meskipun tidak semuanya selalu mengasyikkan saat melakukannya bersama, dengan pengecualian: dirimu. Tentu saja, bidadariku.

Kemudian kulanjutkan perjalananku menanjaki Patuha, menyambangi kawah mistisnya. Masih dalam sendiri. Meninabobokan berjuta perasaan. Tak mengijinkan siapapun mendatangi hari-hariku. Tidak ada seorangpun yang boleh menikmati lamunanku. Tidak juga kamu, saat itu.

Itu duabelas-purnama-lalu. Kini, setahun berselang. Kembali lagi ke sini, deja vu, ke kawahnya. Kawah yang sama, turquoise yang serupa, bau belerang yang tetap menyengat, hanya saja kini dengan seseorang lain yang menemani. Itu kamu. Yang telah bermetamorfosa dari tahun kemarin; kini terbalut kerudung biru disertai Kimi-sahabat berjuta malammu.

Tahukah kamu, tentang sedikit gelisahku. Kekalutan mengajakmu ke sana, ke tempat yang dulu pernah kamu hindar untuk didatangi. Bahkan kamu belum mengunjunginya tapi telah menilainya. Bukan salahmu, itu kewenanganmu. Setelah apa yang pernah kamu alami di masa lalu. Sampai kamu begitu enggan untuk sekadar menengok indah kawahnya yang turut menghiasi. Perjalanan ini jauh dan mungkin hanya mendekatkanmu dalam perih. Sementara perihmu berarti duka bagiku. Kawah Patuha, sebuah klise dari berpuluh kenangan yang mungkin turut membuatmu menganggap Agustus-mu selalu kelabu. Yang membuatku selalu cemburu saat kamu bercerita tentang itu: kehilanganmu. Meskipun begitu, aku selalu ingin tahu. Apa yang menjadi kecemasanmu, tentang apapun yang membuatmu tidak bisa tersenyum sehingga aku bisa membuatmu jauh lebih baik. Karena memang aku ingin membuatmu selalu bahagia bersamaku.

Aku takut mengajakmu, takut bayang-bayang itu mengganggu. Membuat kecewa atau mungkin menggoreskan luka yang menganga. Aku khawatir kehadiranku tak cukup menenangkan, meredakan gejolak yang mungkin timbul di hatimu. Pun aku tak mau phobiamu, rasa sebal dan menghindar, terhadap keindahan alam hanya karena seseorang yang pernah membuatmu kecewa dulu semakin meluap. Maka kuberanikan untuk memenuhi janji, menggenggam tanganmu melangkahi tiap jengkal pasir dan kerikil putihnya. Kita berangkat dengan perasaan rawan. Seperti berjudi.

Sebentar kamu tergelak dan sekejap lain terdiam. Melihatmu tersenyum sangat menenangkanku. Menyaksikanmu tertawa begitu menyenangkan bagiku. Bahagiakah kamu? Kawah itu seharusnya tidak lagi menjadi sosok yang menakutkan buatmu bukan?

Tahun lalu aku sudah menikmati indahnya kawah, tapi eloknya tak seindah seperti saat ini. Saat aku menikmatinya bersamamu. Seperti memiliki dunia.

Dan bumi perkemahan di seberang kawah sore itu pun lebih menyenangkan daripada setahun lalu. Ya, meskipun kini harus menukar selembar uang dengan karcis retribusi. Toh kebahagiaan tak selalu diukur dengan materi. Kukira tak perlu kujelaskan kenapa kan? Kamu seharusnya tahu tanpa aku harus menjelaskan bagian mana yang membuatnya lebih menyenangkan. Bukan karena sebungkus Lays yang kita nikmati berdua. Bukan, bukan pula cuanki yang biasa kamu nikmati setahun lalu. Aku bahkan bisa menebus semangkok di alun-alun kota. Cuanki itu hanyalah sepotong kesenangan atas senja. Bukan atas hatiku.

Kenapa? Kamu mau tahu?

Kamu alasanku; perempuanku, gadis ayu yang sering tersenyum malu di hadapku. Bersamamu dan telah mengenalmu yang membuat berada di ketinggian begitu menyenangkan. Setahun lalu bersamamu tanpa mengenalmu membuat senjaku dulu tak seindah senjaku kini. Di tengah kerumunan eucalyptus tua aku merasakan cerianya. Hanya bersamamu; karena hanya kamu yang tahu tentang bagaimana membuatku nyaman. Karena cuma kamu yang bisa menjadikanku bocah saat bersandar di bahumu. Ketika bersamamu tak ada yang harus kulakukan kecuali berada dekat denganmu. Ya, aku selalu menikmatinya. Aku bahkan tak perlu berkata apa-apa. Aku tak butuh kata-kata untuk mengungkapkan. Kata-kata itu mungkin malah hanya akan mengacaukan.

Hingga kuijinkan kamu memasuki hatiku, dari pintu manapun yang kamu mau. Bahkan kamu yang memegang kunci tiap pintu hatiku.

Yang aku sesalkan saat itu mengapa senja enggan menunggu. Begitu cepat fase itu berlalu. Matahari terbenam di balik pegunungan, menyemburat cahaya keemasan di batas langit. Pegunungan itu bisa menyembunyikan matahari tetapi bukan cahaya yang menerangi. Seperti waktu bisa menyembunyikanmu tetapi tidak dengan perasaanmu. Ah, senja, langit merah yang membenamkan dunia. Memberikan pertanda bahwa kita harus kembali. Segera sebelum malam gelap berkabut menyelimuti jalanan. Kamu tau kan mataku minus, kilatan cahaya dari lampu kendaraan yang berpapasan itu nampak lebih menyilaukan. Yah, saatnya kita pulang.

Setahun lalu dan kini. Perbedaan itu ada.

Ya, seperti katamu. Mungkin memang Tuhan merencanakan semua dengan penuh rahasia. Begitupun dengan aku, kamu: kita. Hingga aku selalu mengatakan, tak ada yang kujanjikan padamu. Hanya berusaha menjalankan rencana-Nya dengan sebaik-baiknya. Sembari berdoa tentu saja, mengharapkan Tuhan menunjukkan mana jalan yang sesuai dengan rencana-Nya.

Oh iya, dan semestinya Agustus tak selalu kelabu. Karena Tuhan punya rencana-Nya dengan harapan dan masa depan yang lebih cerah pastinya.

Advertisements

Comments»

1. undapatie - August 20, 2010

apik tenan….
hahahahaha…..
mantabh wid….

Lha wong dibikin dengan sepenuh hati untuk seseorang nun jauh di sana. Based on true story juga šŸ™‚

2. neng - August 22, 2010

aku sakiiiiitttt
mau nyender dibahumu saja šŸ˜¦

Hoo.. Sini sini.. šŸ˜• Cepet sembuh dong.

3. neng - August 22, 2010

jadi inget ega,,ega bilang kita bakal segera bertemu lagi šŸ™‚

šŸ™‚

Oh iya, dan semestinya Agustus tak selalu kelabu. Karena Tuhan punya rencana-Nya dengan harapan dan masa depan yang lebih cerah pastinya.

4. neng - August 22, 2010

trimakasih untuk cintamu yg begitu besar
tapi kukatakan dulu padamu cintaku padamu tak sebesar cintaku Pada ALLAH, Pada Rosululloh, Pada Ibu dan Bapak ku,pada keluargaku
aku tak bisa menjanjikan apa2
tak bisa menjanjikan aku untukmu
tak bisa menjamin bahwa esok aku akan bersanding denganmu
seperti yang ditauladankan Fatimah Az-Zahra Binti Rosululloh SAW
Saya menunggu keputusan bijak dari ayahanda saya,
sungguh saya tidak bisa berbuat apapun
hanya sebuah kesempatan pada anda saya berikan, kenalkanlah diri anda pada beliau,dan biarkan beliau menilai anda

wahai orang yang masih mengisi relung hati,
La Tahzan,
INSYA ALLAH kita akan dipertemukan,apabila kita saling mencintai karena ALLAH,

Amin Ya Allah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: