jump to navigation

Santai August 29, 2010

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Kebetulan semalam saya baru bertemu Paijo yang sedang dapat libur sebelum ditempatkan di ujung Sumatera sana. Tentang Paijo saya jadi teringat banyak hal. Mulai dari Geng Gabrut sampai beberapa perjalanan di masa muda dulu. Dari pelesiran ke propinsi sebelah, pendakian pertama hingga beberapa dosa yang pernah dilakukan saat remaja. Ya ya, di bulan yang suci dan penuh berkah ini saya hendak mengaku dosa. Dosa yang sudah lama terjadi, sekira empat tahun yang lalu. Semoga diampuni. Masa-masa jahiliyah bersama Mardi, Sukiman dan Paijo. Mereka menyesatkan saya. Apa saya yang menyesatkan mereka ya? Ah dosanya kita bagi rata, sesuai berat badan saja.

Empat tahun lalu, sebagai anak muda yang kreatif dan inovatif, kami berempat ingin mengenal bumi Endonesa yang katanya keindahannya tiada duanya. Surga di khatulistiwa. Atas dasar prinsip mulia itu kami mempunyai hajat untuk berkemah ceria di salah satu pantai di kawasan timur kampung.

Dan berhubung saya yang berpengalaman menyusuri pantai di timur kampung, maka Mardi, Sukiman dan Paijo mempersilakan saya untuk memilih tempat tujuan kemah ceria. Maka saya putuskan untuk memilih pantai dengan pasir putih yang luas sebagai lokasi kemah ceria. Selanjutnya, karena sangat sulit mengajak eksekutif-eksekutif muda bertamasya di akhir pekan (ya karena tentunya mereka terlalu sibuk saat hari kerja, maka akhir pekan digunakan untuk santai di kasur berleha-leha), pilihan hari kemping ceria dijatuhkan pada hari Kamis-Jumat. Pilihan hari yang sangat tepat pastinya. Kenapa? Mari saya jelaskan sebab musababnya.

Kamis sore saya, Mardi, Sukiman dan Paijo tiba di pantai pasir luas. Setelah menitipkan motor di salah satu rumah penduduk, kami segera mencari lokasi mendirikan tenda. Memang ada tanah lapang, semacam camping ground yang telah disediakan, tapi jiwa petualang kami berpikir lain.

“Ah kemping kok di camping ground. Tidak ada seru-serunya. Kalau begini namanya tamasya,” begitu pikir kami.

Jadi kami memilih mencari tanah dengan semak-semak yang tidak begitu lebat untuk dijadikan lokasi. Setelah membereskan lokasi dari berbagai macam benda-benda yang mengganggu tidur, kami mendirikan tenda. Kemudian saya dan Paijo bertugas mencari kayu untuk membuat api unggun sementara Sukiman dan Mardi merapikan tenda serta menyiapkan makanan minuman. Sayang sekali Kojrat tak bersedia ikut. Kalau dia ikut bisa dipastikan akan ada ketela, pisang atau kelapa muda. Kami berharap malam itu pantai akan gelap dan dingin hingga api unggun akan berguna malam itu. Dan tentu saja menambah suasana mistis dan romantis.

Tapi apa lacur, tanggal 15 kalender Jawa memberikan purnama dan angin laut yang menggerahkan udara. Sia-sialah api unggun yang telah menyala. Membuat tenda semakin tidak layak untuk dihuni karena panasnya. Malah serangga-serangga yang datang plus kalajengking yang ikut senang mendapat teman.

Maka malam itu berakhir dengan sengsara sejadi-jadinya. Sauna di alam terbuka.

Paginya, masih tidak ceria juga. Perut saya harus mencari lubang pelampiasannya sementara air masih harus menimba. Tidak tau apa ya, perut ini sudah meronta-ronta. Terpaksa saya musti menimba sambil berharap tidak ada yang mengintip di ujung sana dan keluar sebelum waktunya. Mardi, Sukiman dan Paijo lebih beruntung karena hanya dikejar anjing rabies saat beranjangsana ke kampung nelayan di ujung barat pantai pasir luas.

“Sudah sudah, dua hari ini kita banyak sialnya. Lekas kita pungut saja barang-barang kita dan nongkrong di warung yang buka. Kemping ceria yang nyatanya sengsara,” kata Sukiman.

Cacing yang telah berdemo dengan membabi buta membimbing kami untuk silaturahmi ke satu-satunya warung yang buka. Maklum, ini bukan akhir pekan. Tidak banyak warung yang bersedia buka untuk melayani mahasiswa-mahasiswa kere semacam Mardi, Sukiman, Paijo dan saya.

Sampai di warung, sudah kalap semua. Beginilah kalau manusia-manusia yang telah dirasuki nafsu untuk mencerna. Mardi dan Sukiman menghabiskan seporsi nasi goreng dan seporsi mi instan. Sementara saya dan Paijo cukup dengan seporsi nasi goreng dan beberapa camilan. Plus kacang. Plus kerupuk. Plus-plus pokoknya.

“Pak, masjid dekat sini mana ya?” saya bertanya pada si Bapak Pemilik Warung.
“Oh ada dekat kok nak, paling cuma lima kilometer. Ini pada naik motor kan, paling sepuluh menit juga sampai,” jawab si Bapak.

Ini hari Jumat dan sebagai seorang manusia yang beriman dan bertakwa serta berbakti pada keluarga, negara, nusa bangsa dan agama tentunya kami tidak akan melewatkan Sholat Jumat guna menambah pahala. Didekatkan dengan surga dan dijauhkan dari neraka.

“Lima kilometer? Dekat. Kalo kata si Bapak sepuluh menit sampai, limabelas menit paling lama kita bisa sampai di masjid,” kata Paijo.
“Iya, alangkah baiknya kita menikmati indahnya panorama ini dahulu,” sambung Sukiman.

Saya dan Mardi menyetujui. Karena kemarin sore kami tidak sempat menikmati deburan ombak dan pasir putihnya maka pagi ini kami ingin memuaskan hati. Sebenarnya menemani Mardi yang sedang galau hati.

Mendekati jam 11 siang, kami kembali ke warung. Berhaha-hihi hingga jam setengah 12.

“Loh nak? Belum pada berangkat Jumatan,” si Ibu Pemilik Warung bertanya. Istri dari si Bapak tadi.
“Baru jam segini Bu. Nanti sebentar lagi,” saya menjawab.
“Tapi si Bapak sudah berangkat dari jam 11 seperempat tadi Nak,” lanjut si Ibu.
“Loh Bu, memangnya masjidnya jauh? Bapak naik apa Bu?” saya bertanya.
“Ya memang tidak jauh, cuma lima kilo kok. Bapak tadi jalan kaki berangkatnya,” jawab si Ibu.

Lima kilo, jalan kaki. Wajar kalau berangkat jam 11 seperempat. Nah kami kan naik motor, berangkat jam 12 kurang seperempat juga masih dapat adzan Jumat. Santai, wong sudah di pantai.

“Sudah, sana berangkat. Biar saya tunggu di sini,” kata Mardi.
“Sabar lah, orang sabar pantatnya lebar,” balas Sukiman yang pantatnya memang sudah lebar. Alasan saja.
“Telat baru tau! Tidak dapat pahala unta,” Mardi mengingatkan.
“Yah saya ini tidak berbakat jadi penggembala. Kalau saya datang cepat nanti siapa yang akan menggembalakan unta-unta saya. Kandang juga sudah penuh kambing dan sapi. Tinggal kandang ayam yang masih agak lowong dan kolam ikan yang masih tersisa. Jadi nanti saja, mepet-mepet adzan,” saya jawab ngasal.

Nampaknya Mardi sudah malas mengingatkan makhluk-makhluk yang telah dicapnya bejat. Maka dibiarkannya saya, Sukiman dan Paijo berleha-leha sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Di pantai, harus santai. Wajib.

Baru setelah waktu menunjukkan jam 12 kurang seperempat, saya, Sukiman dan Paijo berangkat Sholat Jumat. Saya berboncengan dengan Paijo sementara Sukiman mendapat kehormatan berkendara sendirian dengan alasan berat badan.

Lima kilometer di kota beda dengan lima kilometer di desa. Dengan jalan yang naik turun dan berkelok-kelok, lima kilometer itu tidak bisa ditempuh dalam limabelas menit.

“Jo, ngebut Jo. Sudah hampir telat ini,” saya meminta Paijo untuk mempercepat laju motor.
“Ini juga sudah ngebut. Situ mau kepalanya benjol gara-gara nabrak tebing cadas atau nyungsep di jurang,” balas Paijo.
“Sudah telat ini Jo,” saya berkata.
“Sudah diam! Ini juga sedang berusaha,” kata Paijo.
“Santai coy, kayak di pantai,” Sukiman menyahut.

Sumpah, jangan pernah percaya dengan apa kata penduduk setempat. Terutama mengenai perkiraan jarak dan waktu. Standarnya beda, kadang rancu dan lebih sering menyesatkan umat.

Saya was-was takut tidak kebagian Sholat Jumat dan Tuhan mengabulkannya. Kami sampai masjid saat rokaat kedua telah sampai pada ruku’nya.

“Gimana ini? Masa’ kita ikutan, sudah rokaat kedua. Apa iya jadi makmum masbuk?” saya bertanya dengan ilmu yang dangkal. Akibat sering bolos waktu pesantren ramadhan jaman SMA.
“Memang ada makmum masbuk Sholat Jumat?” Paijo balik bertanya.
“Mana saya tau Jo. Memangnya di antara kita siapa yang nilai agamanya paling bagus? Tidak ada kan? Level kita setara. Setara di bawah rata-rata. Gimana Man?” saya bertanya pada Sukiman.
“Sudah-sudah, daripada malu kita sembunyi dulu saja. Nanti kalau sudah sepi kita baru sholat. Sholat Dhuhur saja. Anggap kita ini musafir,” kata Sukiman.
“Memang kita sudah bisa dianggap musafir?” tanya Paijo.
“Sudah, dianggap begitu saja. Namanya juga halangan. Khilaf,” lanjut Sukiman.

Saya dan Paijo hanya bisa mengamini perkataan Sukiman. Berharap Tuhan memaafkan segala salah dan khilaf.

Selepas salam Sholat Jumat, kami menunggu para jamaah bubaran. Eh tapi apa daya, para jamaah malah ada yang musyawarah di masjid cukup lama. Baru jam satu mereka membubarkan diri dan bertepatan dengan itu pula masjid dikunci.

Ya Tuhan, apa salah kami? Banyak. Memang.

Alhasil Jumat ini kami tak jadi dapat unta, sapi, kambing, ayam ataupun sekadar telurnya. Mungkin hanya mendapat dosa. Dan tentu saja lapar dan dahaga karena siang itu matahari bersinar dengan teriknya. Menyiksa.

Karena kami sembrono, unta-pun ora ono.

Advertisements

Comments»

1. af1a - August 29, 2010

Panjang bgt wid….tulisanne
Paijo kapan berangkat ke Sumatera??

Lha.. Ketoke tanggal 13 September.

2. sangprabo - September 2, 2010

Tulisan2mu gayanya kok sekarang beda W? Apa karena sindrom rumah baru?

Atau… Heh, kamu kemanakan W yg asli?? Ayo ngaku! Dasar alien tukang tiru wajah orang!

Beda dimananya?

3. Mengaku Mardi - September 3, 2010

Lah, salah kamu… bukan 4 tahun yang lalu.. tapi 3 tahun yang lalu.. tepannya tanggal 1 Juni 2007, karena tanggal 19-20 nya kami naik gunung… dan 1 juli kami KKN…

emang saya sedang galau ya??? hahaha….

Ini kan kisah bohongan, bukan berdasarkan fakta πŸ‘Ώ

4. Mengaku Mardi - September 3, 2010

oh iya… apa kabar dengan pulau kikik ya???

hahahaha….

Pulau jadi-jadian.

5. sangprabo - September 5, 2010

Hm.. You tahu lah, macam tulisan yg terbit karena dikejar-kejar editor dan penerbit. Saia rasa Anda sudah mulai tidak pure menulis dari hati kalo begini.. *kabur

Hahay.. Ada banyak yang dipikirkan.

6. neng - September 5, 2010

sekarang jadi males nulis
sudah berapa kali buka blog mu
judul tulisannya belum ada yg baru

πŸ™‚

7. sangprabo - September 6, 2010

@neng
Betul itu, hla ini gejala orang nulis karena ada pamrih, tulisan jadi gak keluar pol

Ingusnya yang keluar pol πŸ‘Ώ

8. neng - September 6, 2010

maklum yang jurnalist sedang menderita pilek stadium 4
tidak bisa mengeluarkan inspirasinya dengan pool
isian kepalanya terbungkus ingus
jadi-e ya ngono memble :p

Inspirasi saya kabur ke Cianjur.

9. neng - September 7, 2010

loh cianjur jakarta bandung sama saja
tetep jauh dari jogja
jangan beralibi

kalau mau datang saja kemari :-*

Kalau datang mau dikasih apa hayo?

10. neng - September 7, 2010

nyamnyam di tangan kiriku
combantrin di tangan kananku

ayo pilih yg mana

-pake tipu tipu-

Mau yang punya tangan sahaja.

11. dragon shiryu - September 12, 2010

@ sangprabo
mohon dimaklumilah, bo. namanya juga perbedaan emosi dan status. jaman dulu itu kan si w belum punya calon istri…beda sama sekarang. jadi ya jelas aja isi kepalanya yg terejawantahkan jadi tulisan juga beda gayanya πŸ˜›


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: