jump to navigation

Takdir October 26, 2010

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Saya punya teman, teman sepermainan. Ah ah ah.. Ucrit dan Jarwo namanya. Ucrit, si penggoda gadis sejati dengan huruf latin B-U-A-Y-A di dahi, tepatnya di antara kedua alisnya yang menunjukkan bahwa dia playboy alami; dan satunya Jarwo manusia ajaib yang pemalu dalam urusan cinta dan asmara. Kata emaknya, dia disekolahkan demi masa depan, kata emaknya lagi : jangan sekali-kali macarin gadis kalo cuma main-main mending jangan. Kualat nanti. Dalil dan prinsipnya kuat, sahih dari emaknya. Sedangkan saya, hmm.. Saya tidak berani menilai diri sendiri. Pamali.. Takut dikira tinggi hati.

Bertiga kami bagaikan tiga menguak takdir, trio libels, three musketeer.

Tapi berani sumpah disambar gadis cantik; saya, Jarwo dan Ucrit lelaki tulen. Kalaulah kami berhubungan dekat, ini semata disebabkan tradisi sekolah kami yang mendoktrin para gadis untuk menjaga jarak dan hubungan dengan para lelaki bujang. Ya ya ya, saya mengaku.. Jarang gadis yang tersesat mau dekat dengan saya, apalagi Jarwo yang suka alergi jika dekat seorang gadis. Mulutnya pasti terkunci, badannya gemetaran, tangan kakinya dingin. Beda dengan Ucrit yang punya seribu cara dan berjuta metode untuk mendekati gadis. Tapi yakin dan percayalah, saya tidak ada kelainan, apalagi dalam orientasi seksual.

Kalau Ucrit punya segmen pasar yang luas dan tersebar, maka segmen pasar saya relatif sempit dengan daya jual yang rendah. Sedangkan Jarwo sama sekali tidak membuka lapak di pasar. Jadi mana ada konsumen yang mau melihat dagangannya, kios saja tiada. Jarwo bagaikan barang kuno nan langka yang eksotis, susah dicari tapi bernilai tinggi.

Maka sekali waktu saya dan Ucrit berinisiatif mencarikan konsumen buat Jarwo. Ucrit menyewakan lapaknya gratisan dan saya bertugas merencanakan strategi pemasaran tanpa imbalan. Kami memang teman yang baik hati. Bahasa kerennya: solidaritas.

Tersebutlah seorang gadis, sebut saja namanya April. Gadis manis berkerudung yang sangat beruntung. Beruntung karena saya dan Ucrit akan menjodohkannya dengan Jarwo. Bujang tampan yang matanya terjaga dan tidak suka jelalatan. Saya dan Ucrit berpikir bahwa April dan Jarwo adalah pasangan yang serasi dunia wal akhirat. Maka dari itu kami mempunyai niat tulus nan mulia guna menjadikan mereka sebagai sepasang kekasih. Lagipula dalam kenyataannya di kelas, teman-teman sering menggoda mereka berdua dan keduanya cuma senyum-senyum saja. Sepertinya sama-sama mau hanya saja sama-sama malu juga. Kompakan.

Suatu malam sabtu yang cerah, saya mengajak Jarwo untuk main dan menginap di rumah Ucrit. Tidak susah mengajak Jarwo menginap di rumah Ucrit, toh dia anak perantauan. Di kos juga tidak ada teman, maka dia pun mengiyakan saja tanpa punya pemikiran negatif. Daripada malam minggu cuma nganggur di kos, mending nganggur di rumah Ucrit. Makanan dan camilan terjamin, begitu mungkin pikir Jarwo. Tipe tipe oportunis.

Padahal dia tidak tau saja kalau saya dan Ucrit sudah menyiapkan rencana besar nan mahadahsyat khusus untuk Jarwo.

“Wo, Crit tidur saja yuk. Besok pagi saya ingin jalan-jalan. Cuci mata. Barangkali banyak gadis yang berpikiran sama seperti saya. Saya liatin mereka, dan mereka ngeliatin saya. Impas. Setimpal,” saya mengajak mereka tidur cepat.
“Astagfirullah,” Jarwo menanggapi.
“Halah, mana bisa impas. Iya kamu dapat anugerah liat-liat bodi bahenol anak komplek sini, lha mereka dapat musibah liat makhluk butut macam kamu,” balas Ucrit.
“Yaelah Crit, ndak bakalan rugi mereka tak liatin. Tetap sehat sentosa tanpa kurang suatu apapun. Ini juga dalam rangka menikmati ciptaan Tuhan,” saya mendebat.
“Astagfirullah.. Astagfirullah,” Jarwo menimpali.
“Ah.. Alasan saja. Hmm.. Saya sih sudah bosan mantengin anak komplek sini. Kalo komplek sebelah sih oke saja. Konon kabarnya di sana ceweknya lebih aduhai,” terang Ucrit.
“Jauh tidak Crit?” saya bertanya.
“Alah dekat, jalan juga sampai,” jawab Ucrit.
“Dari sini ke Ujung Kulon juga kalau jalan bisa sampai. Tapi tepos dah itu sendal. Jadi sejauh apa?” saya menanyakan lagi.
“Sejauh mata memandang. Sudah, ikut saja. Tidak akan lebih jauh dari Anyer ke Panarukan kawan. Setengah jam jalan kaki pun sudah sampai. Santai saja,” terang Ucrit.
“Baiklah kalau begitu. Berangkat kita besok. Jalan-jalan di minggu pagi,” saya menyetujui rencana Ucrit.
“Astagfirullah.. Saya ikut kalau begitu,” kata Jarwo.
“Lah, tumben mau Wo. Kan belum dipaksa buat ikut,” saya bertanya. Berharap Jarwo tidak mau hingga saya dan Ucrit harus memaksanya. Agar nampak ada usahanya.
“Saya sedang dilanda kebosanan. Jenuh tingkat tinggi. Daripada stres,” kata Jarwo.
“Oh oke kalau begitu. Demi kelancaran rencana kita esok pagi mari kita berdoa dan lekas memejamkan mata. Berlayar ke pulau kapuk agar besok bisa bangun pagi-pagi sekali,” kata Ucrit.

Saya dan Ucrit ketawa setan dalam hati. Rencana besar, dahsyat dan mahajahat esok pagi rupanya diridhoi. Buktinya, Jarwo malah bekerjasama dengan senang hati tanpa dipaksa.

Bismillah. Niat baik harus diawali dengan doa yang baik pula.

Paginya semua berjalan sesuai rencana. Jarwo bangun pagi, sementara saya dan Ucrit bangun kesiangan. Tapi pastinya itu tidak akan menghalangi niat baik saya dan Ucrit. Toh gadis-gadis tetap berkeliaran di komplek dan rencana mulia kami memang tidak terikat waktu.

Pagi itu Ucrit sebagai penunjuk jalan mengantarkan saya dan Jarwo ke komplek sebelah. Sementara saya dan Ucrit ketawa ketiwi sembari menikmati ciptaan Tuhan, Jarwo menundukkan pandangannya. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin ulangan besok pagi atau PR yang musti selesai hari ini. Ya bagaimana lagi, orang pintar seperti Jarwo harus mempersiapkan materi esok pagi dari jauh-jauh hari.

Tidak sampai setengah jam, kami sampai ke komplek sebelah. Ucrit menggiring Jarwo, tentunya tanpa sepengetahuannya, ke rumah paling ujung di penghabisan jalan. Di sana Ucrit memencet bel.

Ting tong..

Tak berapa lama seorang gadis membukakan pintu. Saya dan Ucrit tersenyum puas, sementara Jarwo mukanya agak pucat. Penyakit lamanya kambuh. Alergi ketemu gadis.

“Oh jadi juga kalian ke sini, kirain tidak jadi. Saya pikir cuma main-main,” kata si gadis tuan rumah, April, yang nampak sedikit kaget melihat ada Jarwo.
“Jadi dong, cuma tadi ada masalah teknis. Biasa, kami kan menghormati ayam jago di pagi hari. Demi mereka, kami menunda bangun pagi agar mereka tetap merasa berguna bagi manusia,” jelas Ucrit.
“Hu.. Dasar. Sini mari masuk,” ajak April.

Saya dan Ucrit dengan senang hati segera masuk rumah April dan memamah beberapa kue yang telah terhidang. Daripada mubazir. Sementara Jarwo, setelah tadi dipaksa masuk, cuma diam saja. Keringat dingin membasahi tubuhnya.

“Mau pada minum apa?” tanya April.
“Apa aja, asal yang dingin dan tidak bening,” saya menjawab.

April melengos ke dapur, meninggalkan kami di ruang tamunya.

“Crit, pulang Crit!” Jarwo setengah memaksa.
“Baru juga datang, baru dibikinin minum. Masak sudah pulang. Tidak sopan Wo. Kita datang baik-baik, kalau mau pulang ya mesti pamit baik-baik juga,” kata Ucrit.
“Iya Wo, tamu kan harus menghormati tuan rumah. Jangan seenaknya,” saya mengamini ucapan Ucrit.
“Tapi.. Tapi..” Jarwo protes.
“Sudah, diam saja. Sekarang saya dan Ucrit mau makan bubur ayam di depan komplek. Bentar, nanti kami balik lagi. Kalau mau titip nanti sms saja. Jangan kemana-mana, tunggu sini. Jangan kabur, tidak sopan. Kasian April sudah capek-capek bikin minum. Pokoknya I’ll be back,” saya menjalankan rencana berikutnya.
“Tapi..”

Jarwo melanjutkan protes tapi saya dan Ucrit keburu kabur meninggalkan Jarwo terbengong-bengong. Rencana saya dan Ucrit adalah mengantarkan Jarwo berkunjung ke rumah April. Mungkin saja ada jodoh di antara mereka namun jalannya belum ada. Jadi kami berinisiatif mempertemukan mereka, membukakan jalan yang terang nan mudah bagi hubungan mereka. Niat kami baik. Tulus ikhlas demi kebahagiaan Jarwo. Sungguh.

Malam sebelumnya Ucrit telah bilang pada April via sms kalau kami mau berkunjung ke rumahnya. Sekadar main. Minus Jarwo tentunya. Kalau kami bilang akan datang bersama Jarwo, mungkin April tidak akan mengijinkan. Perempuan, jinak-jinak merpati. Setelah Ucrit mendapat alamat rumah April yang untungnya dekat dengan rumah Ucrit, giliran saya yang membujuk rayu Jarwo agar mau menginap di rumah Ucrit untuk kemudian pagi harinya diajak jalan-jalan. Dan puji Tuhan, baik April maupun Jarwo mau bekerjasama dan tidak banyak cingcong. Puji Tuhan..

Di tukang bubur ayam, saya dan Ucrit berhaha-hihi membayangkan apa yang dilakukan April dan Jarwo di rumah April. Mulai dari pikiran bersih hingga pikiran jorok ala anak remaja. Pokoknya kami berharap, setelah pagi ini hubungan April dan Jarwo menjadi dekat dan semakin berkembang ke arah yang diinginkan. Lalu kami bisa menagih makan-makan. Hati riang, semua senang.

Setelah habis dua porsi bubur ayam dan puas menatap gadis-gadis komplek yang berkeliaran, saya dan Ucrit memutuskan untuk menjemput Jarwo. Kasihan kalau lama-lama. Tidak baik juga.

Kami segera kembali ke rumah April untuk menjemput Jarwo dan berpamitan pulang. Begitu sampai di depan rumah April, suasana sunyi senyap. Seakan tidak ada manusia di sana. Saya lihat sendal Jarwo, masih ada. Berarti Jarwo belum pulang. Saya dan Ucrit segera masuk ke ruang tamu dan mendapati April dan Jarwo saling menundukkan kepalanya.

“Jadi, apa yang terjadi,” tanya Ucrit.
“Tidak ada,” kata Jarwo.
“Ah masa? Sekian lama berdua apa iya tidak ada yang diomongkan?” saya penasaran.
“Tidak ada apa-apa, biasa saja,” lanjut Jarwo.
“Ya kami membicarakan ulangan besok, PR untuk lusa dan pelajaran kemarin. Itu-itu saja,” jelas April yang agak cemberut.

Melihat April yang nampak mulai cemberut, Ucrit segera mengambil langkah cepat. Ucrit mengajak saya dan Jarwo sebelum April tambah cemberut.

“Pril, pamit dulu. Kapan-kapan main lagi,” pamit Ucrit sembari mengajak kami pergi.

Dalam perjalanan pulang, tidak ada yang dibicarakan. Sampai rumah Ucrit baru mulut-mulut mereka saling beradu. Bukan bercumbu, cuma saling berdebat menyalahkan.

“Ah payah kamu Wo, masak ya tadi cuma diem-dieman aja. Mbok ya bergerak, pedekate gitu Wo. Kita-kita ini kan udah repot-repot merencanakan kencan pagi ini. Eh kamu malah ngomongin pelajaran. Memangnya ini les privat. Ini hari minggu Wo, saatnya libur..” terang Ucrit.
“Loh, jadi ini sudah kalian rencanakan? Sungguh terlalu. Kalian pikir saya membutuhkannya? Kalian pikir saya tidak laku apa?” tanya Jarwo.
“Mungkin, kami pikir begitu. Namanya juga usaha,” saya ikut nimbrung.
“Ndak, buat apa? Saya sama sekali tidak butuh. Kata emak, sekarang saatnya sekolah. Tidak boleh macam-macam,” Jarwo membela diri menggunakan dalil dari emaknya.
“Ah kamu Wo, makhluk kuno bin ajaib. Sekolah terus, kapan nggak sekolahnya. Kapan pacarannya? Jadi perjaka tua baru tau rasa!” Ucrit seakan mengutuk Jarwo.
“Eh, eh.. Sekata-kata.. Emak nyekolahin saya jauh-jauh dari kampung buat cari ilmu, bukan buat cari pacar. Mending saya, menjaga amanah emak. Sekolah yang bener, ndak kayak kamu. Gebet sana sini, ndak lulus sekolah nanti. Sudah saya peringatkan ya,” Jarwo muntab.

Saya berusaha mendamaikan mereka, tapi apa daya. Egoisme dan prinsip tidak bisa dikompromi. Adu mulut makin sengit dan tidak bisa dihindari.

“He, kutu kupret, kutu buku. Nggak kawin-kawin kamu nanti!” Ucrit muntab.
“He, buaya muara, buaya darat. Nggak bakalan beres sekolahmu nanti!” Jarwo ikutan muntab.

Saya bengong. Tidak tau apa yang harus dilakukan. Rencana mulia nyatanya hanya sia-sia.

“Oh, liat saja nanti Wo! Tak buktikan! Kita lihat siapa yang tertawa paling akhir” kata Ucrit mantab.
“Baik! Liat saja! Kita buktikan siapa yang menangis duluan,” balas Jarwo.

Sama-sama panas, tidak mungkin didamaikan. Jarwo segera mengajak pulang.

Ah nanti juga semua akan baik-baik saja. Paling-paling tiga hari kemudian Ucrit dan Jarwo akan kembali ceria dan bertegur sapa.

Nyatanya tiga hari kemudian memang semua kembali baik-baik saja. Jarwo dan Ucrit melupakan kejadian minggu pagi itu dan tidak pernah dibahas lagi hingga kini.

Kini setelah enam tahun berselang yang terjadi sungguh di luar dugaan. Jarwo, si pintar kutu buku yang kata emaknya tidak boleh pacaran dan kena kutuk Ucrit bakalan jadi perjaka tua itu sekarang sudah punya seorang anak perempuan lucu yang mulai belajar membaca. Sementara Ucrit, si buaya darat penggoda gadis yang didoakan Jarwo bakalan lama lulus pendidikannya itu kini justru melanjutkan studi masternya di luar negeri.

Aih, waktu memang telah menjawab semua. Tidak ada yang menangis duluan dan tidak ada yang tertawa belakangan. Semuanya mesti disyukuri bukan? Dan yang namanya jalan hidup manusia itu memang tidak terduga.. Ya gampangnya, sudah begitu takdirnya.

Advertisements

Comments»

1. Neng - October 27, 2010

Jarwo : nikah dan punya anak
Ucrit : melanjutkan studi master ke luar negri

terus kamu piye mas?

*seneng sudah mulai belajar membaca lagi

2. kbp - October 28, 2010

hahaahhahahaa… kui pertanyaane mak jegler… sadis amat dek mira santika jaya sentosa ini..

si koboi mu itu kan insyaalloh jadi calon taipan minyak dengan stok uang tak terbatas.. hooh ndak pak haji?? jadi sekarang mulai cari2 katalog rumah, perabotan, mobil, baju, dan ndaftar haji, eh hajah.. wokowkwokwok..

3. Neng - November 1, 2010

aku nih baru sadar mas KBP bahwa aku ternyata sungguh2 sangat kaya memiliki mas lebih dari 50kg,
belum lagi harus mulai menyadari realita hidup bahwa sekarang calonku adalah juragan minyak

sok mas nabung minyak tanah 1 hari 1 liter,timbun buat biaya nikah
haikhaikhaik,,,

4. afi - November 1, 2010

huahahahahhahahaha
*ra melu2 ah…hanya turut tertawa saja lah saya* 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: