jump to navigation

Keping 4 November 21, 2010

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Pada suatu hari matahari, pada akhir bilangan ke lima di pertengahan putaran bumi, pada seulas senyum yang menyapa di indahnya pagi, pada sebentuk hati yang memberikan kehangatan. Pada semua itulah aku mulai beranjak merangkai kisah dan menuliskan cerita keping-keping hatiku. Verba volant, scripta manent – karena aku ingin mengabadikannya.

Hidup memang terus menyajikan adegan-adegan yang tidak terduga. Unpredictable. Skenarionya, alurnya tak pernah sama bagi tiap pelakunya. Tiap detiknya. Aku tak pernah menyangka jika alur kita bermuara pada cerita yang sama.

Dan sesungguhnya.. Tuhan telah merencanakan semua dengan begitu indahnya. Hanya saja manusia yang kadang tidak bisa terlalu cepat berputus asa dan enggan untuk menerima.

Semua boleh mengatakan apa yang kita alami adalah amor platonicus, tanpa tatap muka. Tidak ada jumpa. Seperti Kahlil Gibran dan May Ziadah. Yang hanya terukir melalui ucapan dan kata-kata. Namun semestinya sudah tidak bisa dikatakan platonik lagi semenjak pertemuan di suatu hari matahari itu.

Pada perjumpaan pertama yang berlanjut pada perjalanan ke utara kota, ke suatu teratai yang mekar indah di tengah hamparan danau Budha. Oh iya, katanya tempat itu kini terselimuti debu asam gunung di timurnya (aku merindukannya. Hei akupun belum sempat mengajakmu ke lerengnya). Di sudut-sudut batuan kalinya aku mulai menggoreskan tinta merangkai cerita. Merajut kata demi kata. Merekam fragmen-fragmennya.

Ada kelembutan dan kehangatan dalam dirimu. Kurasakan saat jemarimu menarik tanganku. Itulah pertama kali kita saling menggenggam, bergandengan meskipun seakan dipaksakan. Suasana yang menyebabkannya.

Aku bahagia sejak itu. Bahagia atas sipu rona pipimu dan sejuknya tatapan matamu. Atas celoteh-celoteh lucu. Atas senyumanmu padaku. Tulus. Aku agak cemas ketika ada yang menghalangiku untuk melihatmu. Pun aku sedih ketika ada alpaku yang membuat luka di hatimu.

Dan ketika aku menggandeng tanganmu saat terik di jalan tradisional pusat kotaku. Ada hangat yang menyentuh dingin. Ada halus yang kugenggam dalam tangan Sungguh aku tak bermaksud untuk memaksamu. Aku hanya ingin melindungimu dari riuhnya jalanan kotaku. Padahal aku tahu bahwa tak semestinya kamu membutuh perlindunganku. Kamu jauh lebih bisa menjaga dirimu, berlari dalam jalurmu daripada aku yang masih belajar berjalan tanpa arah. Belum bisa aku menafikan egoku.

Yah, kamu sanggup kencang berlari sementara topangan kakiku masih belum pasti. Yang aku sering takutkan genggaman tanganku justru mengurangi laju larimu. Untuk menggapai tujuanmu. Tapi sebenarnya tak ada salahnya kamu sesekali berhenti sejenak. Istirahat. Menikmati sekitar.. Menjadi polikronik.

Dan katamu,

“Aku selalu bahagia ketika bersamamu, bisa menggenggam tanganmu.”

Aku percaya di antara jemarimu diciptakan ruang kosong agar ada tempat yang bisa diisi oleh jemariku.

Kamu bisa seperti matahari yang memancarkan cahaya. Kamu bisa seperti bulan yang menawarkan kehangatan. Kamu bisa seperi bintang yang menunjukkan jalan. Kamu bisa seperi bumi yang menopang. Kamu bisa seperti udara yang memberikan kehidupan. Kamu bisa menjadi waktu yang mengingatkan. Aku belajar banyak darimu, tentang semangat-perjuangan : tentang kesabaran dan keikhlasan.

Adakah yang pernah mengatakannya padamu sebelum aku? Betapa pentingnya keberadaanmu bagi seseorang-yaitu aku dan orang-orang lain di sekitarmu. Begitu cerianya dunia menyambutmu setiap subuh dan senjanya.

Kemudian jawabku,

“Aku bahkan telah bahagia saat tanganmu menggenggam tanganku pada suatu hari matahari, pada akhir bilangan ke lima di pertengahan putaran bumi, pada seulas senyum yang menyapa di indahnya pagi, pada sebentuk hati yang memberikan kehangatan. Pada mekarnya teratai yang menjanjikan kenyamanan.”

Advertisements

Comments»

1. Neng - November 23, 2010

dan aku telah jauh lebih bahagia saat kau marah karena aku enggan untuk kau ajak ke hamparan danau budha itu

tahukah kamu aku telah bahagia saat kau berkata
“tapi aku masih mau mengajakmu jalan2 ke hamparan danau budha hanya kita ber-2″

aku telah jauh lebih bahagia sebelum aku menatapmu di luar statsiun tua
aku telah jauh lebih bahagia sebelum melihat pria berbaju batik,celana pendek dan bersandal jepit yang menjemput wanita cantik tanpa mandi terlebih dahulu

aku sudah jauh lebih bahagia saat mendengar amarah gelimu
walaupun aku disini dan engkau disana

berarti siapakah yang merasakan kebahagiaan lebih dulu?
:”>

2. afi - November 23, 2010

*uhuk* maap numpang batuk bentar gan ๐Ÿ˜†

3. nie - November 23, 2010

heu….speechless ๐Ÿ™‚ jadi iriiii :p

4. nyept - November 28, 2010

ihuuurrr ๐Ÿ™‚


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: