jump to navigation

Kontemplasi IV December 7, 2010

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Kali ini aku ingin bercerita kepadamu. Maaf, kali ini bukan tentang perjalananku, perjalananmu atau tentang perjalanan kita yang selalu kamu sukai. Bukan pula tentang lembut rintik hujan, dingin tanah basah dan harum bau petrichor-nya. Ini tentang sebuah fase dalam hidup. Kamu tidak perlu tahu mungkin. Kalau kamu memang tidak ingin tahu, cukup pejamkan mata rapat, sumpal telinga erat dan bekukan hati cepat. Percayalah racauan ini hanya membuang waktu berharga. Karena ini tidak akan berguna untukmu.

“Masih mau dengar?” tanyaku.

Kamu balas dengan anggukan kepala.

Tentang fase, satu episode dari rangkaian kisah panjang yang entah kapan akan berakhir. Aku cuma menjalaninya sesuai dengan peran yang diberikan hingga waktuku tiba, seharusnya kamu juga. Memainkan peran dengan wajar dan tentu saja sesekali mesti berpura-pura. Berlakon sesuai dengan skenario yang ada, meskipun kita tidak mendapat salinannya.

Oh, aku punya ide. Bagaimana kalau kita bersaing untuk menjadi pemeran terbaik. Kamu berani? Mau taruhan?

“Siapa jurinya? Siapa yang menentukan pemenangnya?” tanyamu.
“Tuhan”

Ya, Tuhan. Karena Tuhan tidak pernah memihak bukan? Biarlah Dia nanti yang menilai siapa yang terbaik di antara kita jika saatnya telah tiba. Ini semacam perlombaan dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Oh dan tentu saja, jangan lupa, kita kan taruhan. Siapa yang kalah nanti harus mentraktir seporsi mi goreng dan sepiring nasi putih di warung langganan pinggir selokan. Janji? Nanti kita kumpulkan kembali remah-remah percakapan kita yang tertunda malam ini dan kita lanjutkan lagi di sana. Kita nikmati sepotong percakapan kita yang tertunda nanti. Percakapan yang tak pernah sia-sia karena ada makna di baliknya.

Sekarang, ijinkan aku bicara. Kuungkapkan perasaanku. Tapi mungkin kata-kata tidak akan cukup menggambarkan apa yang sedang kurasakan. Atau mungkin seperti biasa, kata-kataku akan mengacaukan. Duh, terlalu sering aku bermain kata-kata. Kalau ada waktu, lebih baik mari bertemu. Jadi kamu tau betapa banyak yang bisa kamu lihat dari binar mataku daripada sekadar kata yang keluar dari ucapku.

————————-

Selalu ada bagian hati yang terepih dalam setiap perjalanan. Entah di sepucuk Anaphalis javanica di salah satu lereng Merbabu, di hamparan padang ilalang tinggi yang dibatasi Casuarina junghuniana pada sehampar hijau lembah Argopuro, di rimbunnya pinus kaki Arjuna. Selalu saja ada bagian yang tertinggal, tersembunyi rapat di celah-celahnya. Bagian yang akan tergantikan dengan yang baru.

Tahukah kamu, dalam setiap perjalanan itu selalu ada tempat kembali. Tempat melepas penat. Aku menyebutnya rumah : a place where I belong. Pada setiap perjalanan, aku yakin ada segenap rindu yang akan terobati dalam hangatnya rumah.

Dan selalu ada saatnya ketika harus mulai, menengadahkan kepala melangkahkan kaki memulai perjalanan baru. Yang selalu menyenangkan dan penuh tantangan. Sejejak demi sejejak. Meninggalkan rumah, segala hangatnya. Berat, pasti. Karena ada impian yang harus diraih tidak dengan berpangku tangan dalam kenyamanannya. Setiap orang memiliki mimpi, namun tidak setiap orang bersedia bangun dari tidurnya agar mimpinya itu terwujud. Bukankah setiap langkah besar selalu dimulai dengan langkah yang kecil. Kamu mau mencobanya?

“Bagaimana cara memulainya?” tanyamu.
“Bangun dan mulailah,” hanya itu saranku. Barangkali cuma itu yang bisa kukatakan. Bicara memang mudah.

Selalu enggan ketika harus mulai memunguti sebagian dan membuang sisanya. Mungkin karena backpack-ku terlalu kecil untuk menampung semua kepingan yang ada. Pun daypack yang kugendong di depan tidak sanggup mengepak yang tertinggal Rasanya seperti dipaksa untuk memilah memori-memori lama dan menempatkannya pada laci yang masih tersisa dalam secuil ruang di hati. Padahal semuanya begitu membekas, dalam bentuk goresan tipis maupun sayatan tajam. Yang terukir indah dan pasti ada yang terpahat tanpa arah. Karena kali ini bukan sekadar perjalanan seperti menjenguk edelweis di Merbabu, bukan pula perjalanan menapaki puncak-puncak gersang Argopuro, apalagi perjalanan melintasi embun pagi Arjuna dimana aku tahu kapan harus kembali dan bisa kapanpun kembali saat aku menginginkannya. Karena kali ini adalah petualangan panjang. Jadi aku harus mempersiapkannya dengan matang benar, termasuk semua perbekalannya. Merencanakan tiap detailnya. Sebab ini adalah sebuah langkah besar, tolakan pertama dari perjalanan yang entah kapan kan berakhir. Yang aku tahu, ini sebuah perjalanan yang aku pun tidak tahu kapan bisa kembali. Ke rumah, ke dalam hangatnya.

Sengaja aku tidak mempersiapkan sebuah koper mewah atau tas jinjing glamor. Mahal. Lagipula aku lebih suka backpack kusut teman seperjalanan sejak enam tahun silam. Dengan backpack yang sering kubawa, setidaknya ini bisa mengingatkanku akan perjalanan-perjalanan yang dulu pernah kualami. Menyadarkan atas pelajaran-pelajaran hidup. Darimu, teman, sahabat, keluarga, lingkungan bahkan dari sebongkah batu atau gemericik air. Selalu ada pelajaran pada ciptaan dan aku yakin pasti ada pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan ini. Bahwa hidup tak hanya tentang orang-orang yang mampu membuatmu tersenyum, namun tentang mereka yang mampu membuatmu bahagia.

Aku mau jujur padamu.

Aku baru mengepak barangku tiga jam sebelum keberangkatanku. Sebelumnya aku terlarut dalam kenangan-kenangan masa lalu. Hanya seputar itu. Memainkan rekaman-rekaman usang dalam imaji. Aku berusaha mengabadikannya pada memori yang terbatas. Merekam jejak-jejak lebih dari dua dasawarsa. Sampai aku berpikir bahwa apapun yang ada di dunia ini, tidak ada yang abadi. Jadi tidak ada gunanya kumainkan rekaman-rekaman usang yang telah lusuh itu. Ada yang datang dan ada yang pergi : suatu siklus. Bukan soal siapa dan kapan, karena memang begitulah hidup. Harus siap meninggalkan atau ditinggalkan. Soal waktu dan semua harus siap untuk itu.

Kemudian anganku melayang pada delapan bulan setaun terakhir.

Aku pikir delapan bulan waktu yang terlalu singkat. Tapi nyatanya, itu adalah waktu yang sangat cukup, lebih dari cukup untuk beristirahat. Cuti dari peran yang seharusnya kumainkan dengan elok. Jeda panjang untuk memenuhi nafsu; memuaskan diri; menjadi bebal pada sekitar. Berhenti melangkah. Diam. Alasanku untuk berpangku tangan. Takut untuk bangun dan memulai.

Padahal hidup terus saja berjalan. Bukan berhenti apalagi mundur ke belakang, tidak banyak waktu untuk itu. Itulah mengapa Tuhan memberikan dua mata di depan, untuk melihat ke depan dengan penuh keyakinan.

“Kenapa lama berhenti?” tanyamu.
“Kupikir, aku masih punya banyak waktu untuk menikmati sekitar,” kataku.
“Bukankah kamu sering menikmati sekitar dengan perjalananmu?” tanyamu lagi.
“Iya, tapi aku rasa itu belum cukup. Banyak hal yang masih bisa kunikmati. Kurasa egoku masih besar,” balasku.
“Kamu tidak bisa seperti itu. Hidup ini rumit. Jangan egois. Semua yang kita lakukan saling berkaitan. Terhubung. Sebab akibat : butterfly effect,” ingatmu.
“Ya!”

Memang, darimu aku banyak belajar. Sekarang aku tahu, tidak perlu ego itu. Aku telah menanggalkannya, berusaha menanggalkannya.

Tapi sungguh dalam delapan bulan itu aku belajar banyak. Bukan sekadar diam tanpa arti. Mendapatkan banyak pengalaman-pengalaman yang menjadi nasehat terbaik bagiku. Aku mendapati ada yang hilang dan beberapa yang datang menggantikan. Belajar tentang hidup dan segala yang menyertainya. Tentang seorang lelaki yang habis waktunya. Tentang dua perempuan yang hadir dalam hidupku : si kecil Aira dan dia yang begitu sabar di sampingku.

Kemudian pada enam tahun terakhir.

Tiap pagi kutemukan bungkusan hadiah yang selalu memberikan kejutan. Menikmati pemandangan-pemandangan mengagumkan setiap harinya. Banyak canda dan tawa. Karena semuanya begitu ramah. Hingga tak ada duka karena semua duka tersihir menjadi suka. Yang ada hanyalah senyum yang selalu menyapa. Entah itu saat goncangan melanda ataupun angin menerpa. Semua selalu dihadapi dengan senyuman. Tau kenapa? Karena kotaku, kota paling ramah sedunia. Begitu pula manusia-manusia yang antusias menghidupkan rutinitas di setiap bilik-biliknya.

Semoga kehadiranku bisa menghiasi hidup kalian sebagaimana kehadiran kalian yang menjadi hiasan-hiasan indah dalam perjalananku. Oh iya, pesanku : tolong jaga kehangatan rumah kedua kita. Di bawah tangga, tempat kita biasa bernyanyi berdendang riang.

Lalu dua puluh tahun terakhirku.

Berbagai kisah masa lampau yang menyeruak. Memaksa untuk membuka kembali album foto : kumpulan gambar-gambar rapi yang tersusun dalam tiap lembarnya. Tersimpan rapi dalam laci-laci kenangan. Tentang suka, tentang duka, tentang bahagia, tentang sedih, tentang cinta, tentang putus asa. Deja vu dan fatamorgana yang bersarang dan menetas melahirkan rupa-rupa panorama yang mewarnai hidup. Semuanya yang pernah singgah dan diam lama dalam angan. Nampaknya album usang itu harus dirapikan lagi. Membuang beberapa lembar duka dan menggantinya dengan pelajaran-pelajaran berharga. Bukan saatnya kini kedukaan itu menjadi pertimbangan karena telah kutemukan banyak canda dan tawa dalam enam tahunku dan pengalaman-pengalaman menakjubkan dalam delapan bulanku. Aku harus berdamai dengan masa lalu.

Berat memang mesti meninggalkan. Waktu tidak akan menunggu. Biasanya aku kurang suka jika harus menunggu karena banyak waktu yang terbuang untuk menjumpai sesuatu yang dinantikan, namun kini aku kurang suka menunggu karena aku terpaksa mendapati sesuatu yang tidak kuinginkan. Pada akhirnya memang aku harus meniti batangan besi ganda yang akan membawa melintasi 517 km jarak yang memisahkan. Menuju kota yang dihiasi gegas dan gaduh langkah orang yang berangkat kerja. Kota yang tadinya hanya pantas diimpikan dalam khayal oleh berjuta manusia.

Kuucapkan selamat malam – bukan selamat tinggal. Karena aku tidak mau semua berakhir di malam ini. Selamat malam adalah sebuah cara sempurna untuk mengucapkan, “Aku mengingatmu, selalu, selamanya.”

Itu sudah lebih dari sebulan yang lalu.

Setiap fase; episode kehidupan saling terkait dengan episode sebelumnya dan berikutnya. Dunia ini penuh dengan episode kehidupan yang semuanya menyusun satu film utuh.

Sekarang.

Kelebatan bayangan rumah dan angan pulang di kepalaku.

Di sini ada rumah, tempatku tinggal : a place where I live. Tapi aku sangat merindukan tempatku kembali. Suatu saat aku akan kembali padamu, rumah – hati.

# Melihat senyum manisnya menyambut di ambang pintu. Menemani dan makan masakannya.. Aku menemukan rumah baru, tempatku kembali.

Advertisements

Comments»

1. neng - December 10, 2010

tahu goreng
sayur kangkung
sambel
ikan asin

es jely buah
menunggumu esok ^_^

Nanti akhir April saya disuguh apa ya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: