jump to navigation

Yang Terlupakan February 10, 2011

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Bukan, bukan cerita tentang Iwan Fals dan lagu ciptaannya. Saya terlalu iseng kalau menulis tentang denting piano-nya Iwan Fals. Kenal saja tidak. Apa yang bakalan saya dapat kalau menulis tentang beliau. Salah salah tulis bisa kena somasi, terus dieksekusi, masuk deh di bui. Amit-amit jabang baby.

Ini kisah tentang beberapa anak muda, saya, Ucrit, Jarwo, Bagus, Ahmad dan Luki. Teman sepermainan pada masa pendidikan. Sudah beberapa tahun silam.

Syahdan di suatu Ramadhan, seperti sekolah-sekolah kebanyakan, diadakanlah pesantren kilat. Kalau boleh saya bilang, pesantren “kilat khusus” karena cuma dua hari semalam. Beda dengan pesantren-pesantren yang pernah saya ikuti sebelumnya yang minimal seminggu penuh. Di pondok pula. “Suasana di kota santri, asik senangkan hati”-nya terasa. Tapi kali ini, entah mengapa cuma diadakan di sekolah. Masalahnya, ah tiada usah dipikirkan. Ikut pesantren kilat saja sudah jadi masalah apalagi harus memikirkan masalah dari masalah.

Bagi saya, Ucrit, Bagus, Ahmad dan Luki, ini merupakan kejadian langka dan berat. Bagaimana tidak kalau saat bulan puasa biasanya digunakan untuk menambah pahala, sekarang harus mau tidak mau, mengikuti jadwal yang telah ditetapkan panitia. Kalau tiap harinya biasanya kami menimbun pahala dengan memejamkan mata, kali ini kami dituntut untuk membuka mata lebar-lebar. Mulai dari baca-baca, dengar pengajian, baca lagi, dengar pengajian lagi dan lagi lagi lagi. Jangan harap untuk kabur, bersantai di kamar mandi. Sekadar menguap di pengajian saja bakal kena sanksi karena tindakan indisipliner. Makannya kalau pas pengajian, kami berenam suka bergerombol di pojokan. Siapa yang ngantuk mendapat kesempatan untuk duduk di posisi yang strategis dan tertutupi oleh yang lain. Tapi berhubung posisi ini adalah posisi panas, maka tidak ada yang bertahan lama bertahan di posisi ini.

“Wah wah, bukankah tidak seharusnya ada pemaksaan dalam menjalankan agama. Masak kita harus ikut acara ini,” kata Ucrit.
“Iya ya, sesuatu yang dipaksakan tidaklah baik. Segala yang dipaksakan pasti hasilnya tidak akan memuaskan,” lanjut Bagus.
“Betul juga itu. Segala sesuatu harus dijalankan dengan ikhlas. Kalau tidak ada rasa ikhlas, sama saja. Hanya mendapat lapar dan dahaga. Betul begitu teman-teman?” saya bertanya. Mencari pembenaran dan pengikut golongan pembangkang.

Yah, maklum saja. Di bulan puasa, jam-jam krusial adalah jam menjelang berbuka. Banyak setan-setan yang berkeliaran untuk menggoda umat-umatnya yang tipis imannya. Semacam saya, Bagus dan Ucrit ini.

“Astagfirullah..,” kata Luki.
“Janganlah kalian berpikiran seperti itu. Dalam agama kadang ada yang harus dipaksakan saat seseorang tidak mau menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Apalagi untuk usia orang-orang seperti kalian yang sudah disunat. Kalian jangan mengada-adakan yang tidak ada. Sungguh dosa,” terang Jarwo.

Tau mengapa kami berteman dengan Jarwo? Salah satunya ya ini, ada yang mengingatkan saat kami mulai melenceng dari jalan yang lurus. Entah itu lurusnya ke samping atau lurus miring. Yang penting lurus-lurus saja. Hihihi.. Tapi sesuai logika, kami tidak berteman dengan banyak orang seperti Jarwo. Coba seandainya di antara kami berenam, ada empat orang saja seperti Jarwo, maka pemikiran-pemikiran sesat Ucrit tidak akan mendapat persetujuan dari kuorom. Wong, 2/3-nya golongan-golongan yang benar. Maka dari itu cukup ada satu ‘Jarwo’ di lingkungan kami. Saya yakin pahala Jarwo pasti banyak dan melimpah gara-gara bergaul dengan kami.

“Tapi Wo..” lanjut Ucrit.

Dug dug dug.. Bedug Magrib berbunyi. Ketimbang memperpanjang diskusi dan debat kusir dengan Jarwo, Ucrit lebih memilih membatalkan puasanya dengan berkonsentrasi pada segelas kolak yang telah terhidang di depannya. Dan demi keselamatan kolak-kolak masing-masing pihak, kami kompak mengamankan kolak kami sebelum ada yang kalap menyantap jatah pribadi kami.

Selepas sholat Magrib, acara pesantren kali ini bebas. Intinya ada makanan dan kami dipersilakan makan. Berhubung kali ini pesantren diadakan di sekolah, jadi tiap orang bebas untuk beristirahat dimanapun yang disuka. Boleh di kelas, boleh di ruang ekskul, boleh di ruang OSIS, boleh di atas pohon, boleh dimanapun asal tidak mengganggu kepentingan publik.

Saya, Jarwo, Ucrit, Bagus, Luki dan Ahmad memilih untuk beristirahat di kelas saja. Tentunya setelah ruang kelas di-bedah hingga layak untuk dijadikan tempat meluruskan punggung dan melampiaskan nafsu berbaring. Mau bagaimana lagi, ruang ekskul yang berkarpet pastinya menjadi incaran banyak orang. Hangat meskipun letaknya di ujung. Ruang OSIS sudah pasti jadi jatah pengurusnya. Sementara kami kan hanya siswa kebanyakan, tidak terlalu eksis di sekolah. Jadi ya terima nasib tidur seadanya di mana saja kapan saja.

Satu hal positif yang bisa diambil sehubungan dengan status kami sebagai siswa kebanyakan adalah kami kurang diperhatikan, jadi kalau mau bertindak di luar kewajaran tidak akan dipermasalahkan. Toh kami bukan role model semacam siswa teladan yang harus dijadikan panutan.

“Eh eh, pada tau ndak kalau pas pesantren kilat di sini biasanya sholat tarawehnya dilakukan dini hari,” terang Ahmad.
“He iya? Tau dari siapa kamu Mad?” saya bertanya.
“Ada lah dari kakak-kakak kelas. Dijamin kevalidannya 100%. Dari tahun ke tahun seperti itu. Tidak disangsikan lagi. Kalaulah saya berdusta, saya ikhlas Jarwo mentraktir kita makan mie ayam depan sekolah,” lanjut Ahmad lagi.
“Loh kok jadi saya yang dibawa-bawa?” tanya Jarwo.
“Iyakah seperti itu? Wah wah, bisa berabe ini jam tidur kita kalau seperti itu. Sungguh pelanggaran hak asasi manusia untuk beristirahat,” Ucrit memanasi.
“Maka daripada itu saya punya usul, mumpung ini belum masuk waktu Isya, bagaimana kalau kita keluar. Cari taraweh di masjid luar sekolah. Nanti sekalian witir. Biar kita tidak usah ikut sholat taraweh yang dinihari itu,” usul Ahmad.
“Ide cemerlang!” kata Ucrit.
“Nah tapi masalahnya bagaimana kita keluar dari sini. Kalau masalah masjid, ada di dekat kost-an,” kata Ahmad.
“Itu sih gampang, serahkan pada Ucrit!” Ucrit menepuk dada.

Kost Ahmad memang berada di dekat sekolah, jadi bukan masalah bagi dia untuk mencari masjid ang bisa memenuhi hasrat kamu untuk kabur dari acara taraweh wajib sekolah saat pesantren. Sungguh suatu hal yang sangat menyiksa bagi makhluk-makhluk pecinta bantal seperti saya, Ucrit dan Ahmad untuk meninggalkan sahabat kami di kala hari masih gelap. Di kala tuyul-tuyul baru berkeliaran.

“Siapa yang mau ikut?” tanya Ucrit dan Ahmad.

Saya mengangguk pasti. Dilanjutkan Luki dan Bagus. Sementara Jarwo masih bimbang.

“Janganlah begitu, sholat saat malam hari, di kala orang-orang sedang tidur pahalanya besar,” terang Jarwo.
“Nah masalahnya, kalau kita tidak ikhlas kan sama saja. Tidak akan mendapat pahala,” balas Ucrit.
“Janganlah kalian berpikiran seperti itu. Dalam agama kadang ada yang harus dipaksakan saat seseorang tidak mau menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Apalagi untuk usia orang-orang seperti kalian yang sudah disunat. Kalian jangan mengada-adakan yang tidak ada. Sungguh dosa,” ulang Jarwo.
“Ah..”

Inilah alasan mengapa kami hanya menyertakan seorang ‘Jarwo’ dalam golongan kami. Dia tidak ada pendukungnya. Jadilah mau tidak mau, suka tidak suka, sesuai kesepakatan kaum minoritas harus mengikuti kaum mayoritas. Itu hukum adatnya.

Selepas makan buka, kami berenam dengan tekad bulat segera keluar dari kompleks sekolah. Alasannya: mengisi perut yang belum kenyang. Kami mau mampir ke burjo depan sekolah dan pihak keamanan sekolah percaya saja. Karena kami tidak mau berbohong, maka kami pun menyempatkan diri untuk mampir sejenak ke warung burjo. Memang kenyataannya kami lapar jadi mau bagaimana lagi. Seporsi mi goreng pun ludes masuk ke perut kami, plus beberapa gorengan, semangkok bubur kacang hijau sebagai makan pencuci mulut serta tiada lupa dua gelas minuman setiap orangnya.

Setelah itu begitu mendengar adzan Isya kami segera bergegas ke masjid di dekat kost-an Ahmad. Seperti santri teladan saja. Tentunya dengan pura-pura tidak tau kalau di sekolah taraweh bakal dilaksanakan dini hari. Kan niat kami baik, sholat di awal waktu. Hihihi..

Segalanya berjalan lancar. Begitu kami kembali ke sekolah, pihak keamanan menanyai kami. Habis dari mana dan sebagainya. Tapi tentu saja dengan juru bicara ulung seperti Ucrit segalanya bisa diatasi. Kembalilah kami ke kelas tempat kami beristirahat setelah melihat jadwal yang mengharuskan kami tidur cepat. Kami sudah tau kenapa kami harus tidur cepat, ya karena nanti malam bakalan ada taraweh dinihari. Entah kalau disambung dengan pengajian ini itu.

Kami kan sudah taraweh, ditutup witir pula. Tidak boleh sholat malam lagi. Pamali.

Maka malam itu kami lanjutkan dengan ngobrol, ketawa-ketiwi hingga larut malam. Toh nanti kami tidak perlu bangun buat taraweh lagi. Jadi santai saja.

Dini hari.

“Mas-mas, bangun mas. Taraweh,” seseorang membangunkan saya. Dari pihak panitia tentunya.
“Oh, eh. Iya. Eh tapi kami tadi sudah taraweh di masjid seberang sekolah. Bagaimana dong, sudah witir pula. Masa iya kami masih harus sholat taraweh lagi. Kan tidak boleh mas? Kan sudah witir,” saya menjelaskan. Mencari pembenaran.
“Iya. Kalau mas-mas yang lain ini bagaimana?” tanya si panitia lagi.
“Mereka juga sudah taraweh bareng saya mas,” saya jawab lagi.
“Oh ya sudah kalau begitu, terima kasih ya mas,” si mas panitia pamit.

Saya melanjutkan tidur. Tidur bahagia tanpa dosa.

Kemudian samar-samar saya mendengar kegaduhan. Kucek-kucek mata kemudian terbangun dengan malasnya.

“Ada apa ini kok pada ramai-ramai. Tidakkah kalian tau mengganggu orang tidur itu jahat hukumnya,” saya protes.
“Jam empat, jam empat. Makan apa kita. Sahur pakai apa kita?” Jarwo kalap.
“Hah, masak iya sudah jam empat. Perasaan baru jam dua,” kata Ucrit santai sambil menggeliat.

Jarwo menyalakan lampu kelas yang dari semalam sebelum tidur kami matikan.

“Itu lihat!” Jarwo menunjuk jam.
“Wow.. Jam empat. Eh sudah jam empat? Imsak kan jam empat lebih seperempat. Waduh gawat ini,” Ahmad panik.
“Hah jam empat? Sudah sudah santai saja. Masih seperempat jam lagi. Kita tinggal turun ke bawah, minta makanan, terus dimakan. Gampang kan. Sini biar saya saja yang minta makanan ke panitia,” kata Ucrit.

Ucrit mengajak Jarwo yang mukanya tampak paling alim untuk menemaninya menggambil jatah makanan di sekretariat panitia.

Kami berempat, menunggu.

“Gawat.. Makanan sudah habis! Tadi katanya sudah ada yang membangunkan kita untuk ikutan taraweh,” Jarwo kembali dari ruang sekretariat panitia dengan paniknya.
“Hah masak iya? Harusnya kan ada jatah kita,” kata Bagus.
“Tadi memang ada yang membangunkan saya, tapi jam satu pagi. Masak iya kita makan sahur jam satu pagi. Belum juga imsak, makanan sudah tercerna habis di perut kita,” saya membela diri.
“Tadi soalnya sehabis taraweh langsung dilanjutkan sahur bersama. Dan dikiranya sudah pada sahur semua, jadi sisa makanan diberikan ke yang lebih membutuhkan. Habislah jatah makanan kita. Mau sahur pakai apa kita?” Jarwo masih kalut.
“Sudah sudah, santai saja. Kita bisa ke warung burjo depan. Tinggal pesan makanan beres deh. Lima menit kalau kepept juga bisa kan. Mi instant ini, kalau menurut aturan penyajian, dua menit sudah layak makan. Mari-mari kita turun ke bawah,” ajak Ucrit.

Kami berenam segera bergegas ke warung burjo. Lebih bergegas daripada saat semalam tadi ketika ke masjid untuk taraweh. Urusan perut dan imsak tidak bisa menunggu lagi.

“Mas mi gorengnya enam,” Ucrit memesan.
“Wah mi-gorengnya habis A’,” kata Aa warung burjo.
“Ya kalau gitu mi rebus deh,” pesan Ucrit lagi.
“Itu juga habis A’,” balas si Aa lagi.
“Hah habis juga? Burjo kalau gitu A’. Enam porsi ya, jangan lupa sama teh manis angetnya,” kata Ucrit.
“Teh manis anget aja ya A’. Kalau burjonya sudah habis juga,” terang si Aa menyelesaikan masalah.

Jarwo bingung, Ucrit santai.

“Ya sudah, kalau memang terpaksanya hari ini kita tidak sahur terus tidak kuat puasa mau dibilang apa. Yang penting kan dalam menjalankan perintah-Nya mesti ikhlas. Tidak boleh ada paksaan. Kalau memang tidak kuat ya jangan dipaksakan,” kata Ucrit.
“Janganlah kalian berpikiran seperti itu. Dalam agama kadang ada yang harus dipaksakan saat seseorang tidak mau menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Apalagi untuk usia orang-orang seperti kalian yang sudah disunat. Kalian jangan mengada-adakan yang tidak ada. Sungguh dosa,” ulang Jarwo.

Ah.. Nasib.. Terlupakan gara-gara tidak ikut sholat malam..

Advertisements

Comments»

1. neng - February 14, 2011

seperti blog ini
“yang terlupakan”

Yee.. Sedang berusaha tidak melupakan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: