jump to navigation

Kabar March 15, 2011

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Rasa-rasanya saya mulai merindukan masa-masa kuliah. Menikmati kampus dan isi di dalamnya. Memang benar kata orang kebanyakan, masa kuliah adalah masa yang menyenangkan. Tiada kisah paling indah, kisah kasih di kuliah. Aduhai, saya kok jadi sentimentil begini. Ah biar saja. Protes bayar! Satu milyar.

Sudah tidak terasa hampir lima bulan saya tidak eksis di kampus, padahal dulu hidup tanpa kampus bagai mawar tak berbunga, hai begitulah kata para pujangga. Pasti capcay langganan sudah kangen untuk saya makan. Yah namanya juga putaran jaman, kalau eksis di kampus terus jaman tidak bakalan berputar. Masa iya saya mesti merelakan hidup saya menjadi penjaga setia ruang hima di bawah tangga? Jadi mahasiswa jujur berbakti tanpa henti? Sori sori sahaja yey.. Atau mau jadi pengajar berdedikasi tinggi seperti Ibu Rosi? Saya belum merasa punya bakat menjadi Oemar Bakri. Kasihan juga kalau tiap hari saya bilang gini ke mahasiswi.

“Maaf ya anak-anak, bapak hari ini mau berburu. Jadi kuliah ditiadakan.”

Lalu besoknya,

“Kuliah tiga sks dijadikan satu setengah jam saja. Soalnya jadwal kuliah tabrakan sama jadwal aerobik saya.”

Duh saya tidak mau membuat alumnus hima yang bermarkas di ruang bawah tangga itu semakin tercoret namanya.

Tapi bagaimanapun juga ruang itu telah mengajarkan banyak hal. Dari yang berbau akademis – sumpah ini jarang sekali, ‘sejarang’ Paijo – hingga kasus-kasus misteri yang menyerempet dunia mistis – asuhan Ki Kusumo. Dari derita asmara yang senantiasa dikeluhkan Kojrat, sampai cìnta level buayanya Joko. Dari alimnya Dibyo sampai brutalnya Sukiman. Khusus untuk alimnya Dibyo dan brutalnya Sukiman, silakan dipersepsikan sendiri. Saya tak tega untuk menjelaskan persepsi saya Tidak etis. Biarlah ini tetap menjadi dapur rumah tangga kita bersama.

Eh, tentang mereka, saya jadi teringat tentang the fellowship of gabrut; Persaudaraan gabil. Sudah lama pula saya seakan menjadi antipati dan acuh pada rekan-rekan beda nasib dan beda perjuangan itu. Telah lupa saya menanyakan bagaimana kabar masing-masing personelnya. Semacam teman durhaka saja saya, sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah jauh tiada pernah nanya kabar berita. Entah sudah berapa puluh balada yang tidak saya ikuti kisahnya. Mungkin saya terlalu meratapi keadaan saya yang kini tengah jauh dari sanak keluarga. Padahal kan ada media telekomunikasi, internet dan telepon. Meskipun koneksinya kadang putus dan sinyalnya suka jual mahal, ya paling tidak kan masih ada hubungan ke dunia luar. Saya masih tau kalau Widodo kemaren habis merasakan dahsyatnya gempa nun jauh di sana.

Kesibukan menjadi seorang teknisi pemula yang tengah merintis karir di dunia kerja membuat saya acuh pada beberapa teman di kampung. Di tempat kerja, saya berasa seperti lelaki panggilan yang siaga, siap antar jaga melayani tanda-tangan fans (baca: ucapan terima kasih dari user karena masalahnya telah teratasi). Heboh. Wara-wiri sana sini. Bahkan mungkin saya tidak butuh Gerakan Hidup Sehat karena jarak tempuh saya di kantor tiap hariya sudah di atas rata-rata. Maka dari itu, jangankan untuk eksis di dunia maya mengumbar sapa, kursi saya saja jarang dapat belaian manja. Kalau kursi saya itu dijual sepertinya bakalan balik modal, busanya masih tebal. Malahan saya lebih sering menduduki kursi orang ketimbang kursi yang dialokasikan buat saya seorang. Beruntunglah beberapa hari terakhir saya sempat duduk manis di depan komputer sambil ngemil ciki, ngobrol via messenger dengan mereka yang lama tidak berjumpa. Mengingat posisi saya sekarang yang tengah dinas menggembalakan buaya raksasa di kampung tetangga – dimana tiki dan jne butuh empat hari untuk menyambangi daerah ini – salah satu media yang efektif efisien murah meriah untuk menjalin silaturahmi ke teman di pelosok negeri ya messenger itu tadi. Satu per satu saya mulai menelusuri.

Pertama, Dibyo, lelaki berkasta komodo, entah bagaimana nasibnya sekarang. Dibyo suka memutarbalikkan fakta kalau ditanya. Terakhir masih berjuang di tengah kerasnya ibukota sembari menunggu lotere untuk masuk di salah satu perusahaan internasional di kampungnya. Jadinya sering bolak-balik kampungnya-ibukota. Wah, semoga keterima di perusahaan internasionalnya. Siapa tau nanti lapangan perusahaan kita tetanggaan, bisa main barengan.

Paijo masih bingung dengan dunia kerjanya. Maklumlah, kerja di instansi plat merah yang mengurusi masalah rupiah memang lumayan susah. Di satu sisi idealisme musti dijaga, tapi di sisi lain budaya memang sulit untuk dirubah. Hidup di kampung yang katanya menjunjung tinggi adat dan budaya setempat ternyata tidak bisa menjamin untuk mengubah budaya oknum berkerah. Sabar saja ya, Insyaallah nanti antum jadi bos trus jadi suri tauladan yang baik bagi bawahan. Jangan lupa nanti kalau sudah kaya, traktir nasgor Bu Minah seperti biasa.

Sukiman, saya khawatir kalau-kalau nanti gara-gara kebanyakan mikir badannya tinggal segelintir. Lemaknya disedot penjajah dari Perancis, gitu kata Joko. Jadi antek-anteknya Michel Guillemot. Saya bisa membayangkan betapa malangnya keypad handphone yang imut-imut itu musti digerayangi jempol berukuran maksi demi mencari bug aplikasi. Yah mau bagaimana lagi, begitu susahnya kerja di kampung. Nikmati saja dulu, mumpung masih di kampung. Mumpung masih bisa sering-sering ngopi tiap malam minggu. Kalau mau nyoba peruntungan coba saja ke ibukota. Tanya pada Mat Kodir yang sudah berpengalaman di sana.

Saya yakin Joko tidak akan seantusias ini kalau tidak disuruh bapak atau mamaknya daftar beasiswa di kampung orang. Yakin, demi.. Demi.. Demikianlah adanya! Apa kata Ratna Sumirah kalau sampai kakak tingkatnya ini diekspor ke kampung Miyabi atau negerinya Merci. Tapi saya doakan deh kalau situ memang kepincut pengen ketemu Sora Aoi, semoga lancar tesnya. Tapi mbok ya ilmu buayanya diturunkan dulu ke murid-muridnya. Biar ajaran ajian buaya tidak akan sirna.

Terakhir Kojrat.. Bagaimana kabar pejuang cinta kita ini ya? Butuh klarifikasi dan notifikasi -pesbuk efek. Saya kok tiada pernah mendapat kabar beritanya. Apa jangan-jangan impian mendapatkan berlian di lemarinya sudah menjadi nyata. Amin dah amin. Jangan lupa kalau sudah beli google dan microsoft, syukurannya. Tapi jangan di burjo saja.

Duh nampaknya lain kali kalau kita sama-sama di kampung, kita bisa nostalgia. Reuni, sekalian menuntaskan rencana yang tertunda sebelum nanti diminta kesaksiannya.

“Pasang pengumuman tentang Paijo di papan berita kampus.”

*belajar membaca dan menulis yang mulai terlupa

Advertisements

Comments»

1. mono - March 15, 2011

kangen kampus wid?

😀

Sudah lama ndak mudik nox.

2. kayaknya paijo - May 5, 2011

kalo pengumumannya dipampang sekarang tiada yang paham..
hehe.. sori teman.. ikhlaskan, biar saya terbebas dari ingkar..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: