jump to navigation

Service Desk March 25, 2011

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Nampaknya lima setengah tahun masa pendidikan saya berasa kurang berguna ketika saya menyadari jauh di daerah remote seperti ini mesti menghadapi pekerjaan yang jauh dari bayangan sebelumnya. Tadinya saya berpikir bahwa nantinya saya akan duduk manis di depan komputer sambil menikmati secangkir teh manis dan sepiring pisang goreng, menatap layar monitornya, membuka text editor dan memencet tombol-tombol di keyboard, membuat baris-baris kode. Tapi kenyataannya di sini saya lebih berguna menjadi teknisi dibanding tukang buat kode. Yah meskipun sesekali masih menyempatkan diri menulis baris-baris kode namun porsi lebih banyak digunakan untuk melayani user dan tentu saja menulis baris-baris instant messenger – silaturahmi kan penting πŸ˜† Di sini saya harus menjadi customer service, help desk, service desk sekaligus teknisi dalam waktu bersamaan yang mesti standby 24 jam 7 hari non stop. Eits, tapi tentu saja, jam tidur tidak bisa diganggu. Jadi waktu standby 24 jam dikurangi waktu tidur yang tidak bisa dipastikan dan waktu-waktu lain yang tidak bisa diganggu gugat. Seperti waktu bobogohan.

Jadinya di kantor saya lebih sering nongkrong di kursi orang dan di pantry. Dari kursi Pak Bos sampai kursi sopir. Belum beres satu pekerjaan, panggilan lain sudah berdatangan. Semacam orang beken saja saya di kantor. Orang paling dicari.

Parameter teknisi beres pekerjaannya ya saat saya bisa duduk santai di depan komputer sambil main game online. Tanpa ada dering telepon dan user yang mengapel ke bilik teknisi. Pokonya tidak ada yang mencari. Namun kenyataannya tidak pernah ada dalam sejarahnya seorang teknisi bisa duduk santai. Minimal tiap hari pasti ada saja lambaian tangan ataupun telepon dari user. Jadilah saya sering jalan kemana-mana. Dan bawaan saya yang penting, di samping bawa diri tentunya, adalah kertas dan pensil, mirip waiter. Kalau waiter mencatat pesanan dan tinggal menyerahkannya ke koki, saya mencatat panggilan dan mengerjakannya sendiri. Yah kertas itu digunakan untuk mencatat karena saking banyaknya panggilan. Biar tidak lupa.

Semacam almarhum Meggy Z saja yang catat catat sendiri, kerja kerja sendiri.

Dan pantry adalah tempat alternatif untuk bersembunyi di samping kamar mandi. Untuk menghindari komplain user yang tidak terkendali. Wajar kan sesekali istirahat. Sesekali tapi sering. Sering tapi sesekali. Hihi..

Tapi ambil positifnya lah. Paling tidak dengan sering beranjangsana ke berbagai fungsi, nafsu ngemil saya terpenuhi. Tiap fungsi kan biasanya punya stok makanan pribadi. Mau tidak mau, suka tidak suka sebagai seorang tamu saya mesti dilayani dengan baik. Alhasil mulai dari sekaleng minuman bersoda, minuman rasa buah, bakpia, wafer, biskuit kelapa, jajan pasar, semuanya sudah pernah dicicipi.

Kerja di sini, di daerah seperti ini mesti tahan banting. Siap menghadapi ancaman, tantangan, gangguan dan hambatan. Kalau kata si Dadan Galau, rekan sekamar saya yang tidak jelas dari mana asal usulnya, “setiap orang yang ditempatkan di sini sepertinya sudah siap angkat senjata dan ditugaskan di Libya.”

Mesti bandel. Plus kuping yang tebal dan muka tembok dalam menghadapi atasan. Mau bagaimana lagi. Kalau tidak begitu bisa-bisa depresi. Semua mesti dibawa hepi. Apalagi kalau mengingat rekam jejak pekerja di sini. Kata salah seorang senior, “Siap-siap saja, kerja di sini berat. Kalau di perusahaan distribusi itu kerja satu orang bisa dikerjakan hingga empat orang sementara di perusahaan produksi seperti ini beban pekerjaan empat orang harus dikerjakan seorang. Banyak-banyak berdoa saja.”

“Kenapa mesti banyak berdoa Pak?” saya bertanya.
“Ya biar bisa cepat pindah ke tempat lain,” kata si senior.

Waduh.. Dan saya mulai menyadari pentingnya punya kuping tebal dan muka tembok beberapa waktu lalu.

Syahdan di tengah kesibukan saya wara wiri sana sini, ada panggilan dari salah seorang user yang bertugas mengawasi kerapian kantor. Di saat saya masih bingung mengapa jaringan di kantor sedang kacau-kacaunya, ada yang iseng bertanya.

“Mas, masnya teknisi kan. Itu lubang di plafon sepertinya bekas speaker. Kemaren kayaknya masih ada, masih rapi. Jangan suka copot-copot gitu seenaknya. Walaupun sudah mati ya tetep pasang aja. Yang penting enak dilihatnya. Tolong dirapihin ya mas. Kan tidak enak di mata. Pak Bos kan paling detail masalah beginian,” kata Pak User sambil menunjuk lubang di plafon berdiameter 10 sentimeter.
“Oh, gitu ya Pak. Baik saya tampung dulu, nanti saya tanya ke teman-teman kalau ada yang merasa nyopot. Tapi setahu saya beberapa hari belakangan tidak ada yang merapikan sound di kantor,” saya membalas.
“Bener ya mas, pokoknya saya nggak mau tau. Minggu ini mesti beres,” lanjut Pak User.
“Iya Pak, siap.”

Yang penting user senang dulu. Puas. Motto teknisi kan : “User puas, kita lemas, pokoknya weekend bebas”. Masalah kapan dikerjakan itu urusan nanti. Ini hari jumat, sudah sore pula. Kalau mesti selesai hari ini, berarti akhir pekan mesti lembur. Ah nehi lembur hari sabtu. Menyalahi motto teknisi. Wong hari sabtu saatnya libur main ke kota. Kapan lagi saya bisa beli camilan, nyetok cokolatos atau fullo buat seminggu ke depan? Pokoknya, iya dulu saja. Nanti kalau memang terpaksanya komplain user lama dikerjakan, pintar-pintar teknisi mencari sebab serta alasan. Bagi saya itu bukan masalah yang rumit, teman-teman Geng Gabrut sering mengajari saya membual.

Oh iya, saya lupa menjelaskan. Di sini selain bertindak sebagai teknisi komputer, saya juga merintis karir sebagai teknisi sound system. Mungkin nanti kalau akhir pekan saya bisa nyambi cari tambahan modal kawin di kondangan-kondangan. Jadi sound engineer electone.

Begitu ada komplain dari user baru, maka komplain dari user lama pun lupa sudah. Maklum kapasitas penyimpanan memori saya terbatas. Itulah gunanya kertas dan pensil. Dan saya ini juga tidak begitu ahli dalam hal multitasking. Cukup satu pekerjaan dalam satu waktu. Maklum, namanya juga laki-laki. Tidak seahli perempuan dalam hal nyambi pekerjaan.

Ah saya kok minta banyak dimaklumi. Maklum ya pembaca yang budiman, saya ini manusia maklum. Maklum saya manusia. Maklum saya ganteng. Harap dimaklumi ya. Hehe..

Begitu kembali ke basecamp teknisi, saya bertanya pada rekan sesama teknisi.

“Pak, kemaren ada yang lembur kah? Itu kok plafon ada yang berlubang. Kata Pak User itu dulu bekas speaker,” saya bertanya. Saya kan masih berstatus magang di sini. Jadi tidak sedemikian rupa paham seluk beluk instalasi jaringan komputer dan jaringan sound system.

“Wah, nggak ada mas. Nggak ada yang lembur nyopot speaker di kantor. Adanya kemaren lembur memperbaiki telepon dan tivi kabel. Sama pasang toa di masjid,” kata bapak teknisi.

Nah sudah sahih kan apa yang saya bilang tadi. Empat beban pekerjaan dikerjakan seorang: teknisi komputer, teknisi jaringan, teknisi telepon, teknisi tivi kabel plus tukang panjat bila harus memasang antena ataupun toa masjid. Khusus untuk masalah panjat memanjat, saya tidak menguasai. Saya suka deg deg ser kalo ada di ketinggian.

“Oh, gitu ya pak. Kalau gitu lubang itu kenapa ya?” saya bertanya.
“Kalau ga salah dulu ada speaker di situ. Tapi udah mati dari lama. Mungkin jatuh ya? Saya juga nggak tau mas. Yang biasa bersih-bersih kantor pasti lebih tau,” jelas bapak rekan teknisi.

Hmm.. Jadi kalau orang-orang teknisi tidak ada yang merasa mencopot, berarti kemungkinannya kalau tidak dicuri orang berarti jatuh. Tapi untuk kemungkinan dicuri sepertinya tidak mungkin. Mau dijual dimana speaker di daerah pelosok begini? Speaker rusak pula. Masak iya mau diekspor ke kampung saya, dijual di Klithikan? Ongkos kirimnya saja bisa buat beli seloyang pizza. Tidak bakalan balik modal itu makelar speaker rusak.

Jadi kemungkinan kedua yang diambil. Speakernya jatuh dan dibereskan sama cleaning service kantor.

Apakah saya sudah seperti Sherlock Holmes dalam memainkan logika? Atau Detektif Conan?

Mumpung saya masih ingat dan banyak waktu kosong (tepatnya biar keliatan sibuk), saya menelusuri kasus ini. Dan sampailah saya di pantry. Sumpah, tujuan utama saya bukan untuk bikin susu, tapi untuk bertemu dengan Pak Jono, cleaning service kantor.

“Pak Jono, Bapak pernah menemukan speaker yang jatuh beberapa hari ini tidak?” saya bertanya.
“Speaker apa mas, tidak ada,” kata Pak Jono.
“Itu pak, speaker yang di depan. Kan ada lubang itu. Kata Pak User itu bekas speaker. Mari saya tunjukkan,” kata saya sambil mengajak Pak Jono keluar dari pantry, tempat bersembunyi.
“Oh itu,” kata Pak Jono.
“Loh, nemu pak? Sekarang di mana speakernya?” saya menyelidik.
“Tidak tau mas,” kata Pak Jono.
“Kok tidak tau pak?” tanya saya.
“Lah mas, lubang itu sudah lama. Sudah dari pas kantor ini direnovasi,” terang Pak Jono.
“Memangnya kapan direnovasi pak?” saya bertanya.
“Ya kira-kira empat tahun lalu mas. Jadi ya memang sudah lama lubang seperti itu. Kalau mas nanya apa ada speaker jatuh ya mungkin ada, tapi empat tahun lalu. Masih mau dicari mas?” tanya Pak Jono balik.

Wah entah saya dikerjai atau karena beban kerja Pak User yang sudah tidak terkendali. Nasib jadi teknisi yang berdedikasi. Apapun keadaannya ya mesti disyukuri.

Advertisements

Comments»

1. nyept - March 31, 2011

wkwkwkwk speker mistik πŸ˜†

belum ketemu spikernya ini πŸ˜†


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: