jump to navigation

Koneksi March 27, 2011

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Saya mengaku dosa. Saya autis. Suka sibuk sendiri kalau sudah disodori dengan komputer beserta koneksi internetnya. Bikin lupa mandi, lupa belajar, lupa gosok gigi, lupa diri tapi tidak akan melupakan kewajiban perut terisi. Urusan perut bisa bikin bacok-bacokan, maka sedapat mungkin dihindari berurusan dengan perut. Syukurlah tidak sampai seperti hikikomori yang bisa sampai lupa anak istri. Tapi sejujurnya saya suka kalap kalau sudah di depan perangkat. Bahkan sempat pula akibat kecanduan menatap layar monitor, mata kanan saya pernah dioperasi. Sungguh cukup sekali, tak mau terulangi.

Apa yang saya lakukan di depan komputer itu biar saya dan Tuhan yang tau. Tapi demi Tuhan saya bukan jenis orang yang aktif berinteraksi dengan jejaring-jejaring sosial. Saya kurang suka situs-situs yang bikin ketagihan seperti pesbuk, tuiter, suka bikin lupa sodara dan keluarga. Sumpah mati, itu situs benar-benar mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Saya cenderung lebih aktif mengikuti kuskus.us – the smallest indonesian community, meskipun cuma sebagai kuskuser aktif dan lebih seringnya latihan mengetik di yuhuu messenger. Eh tapi kok sama saja ya, sama-sama bikin lupa kanan-kiri. Memang semua yang ada kaitannya sama koneksi membuat orang-orang lupa diri.

Saking kecanduannya sama komputer dan koneksinya, kemaren saya sempat kelabakan begitu menyadari telah melakukan kesalahan fatal. Tanpa sengaja saya menganiaya charger komputer saya. Dasar charger yang memang sudah mulai soak beberapa bulan sebelumnya, begitu terinjak ngambeklah dia. Dari yang sebelumnya masih mau mengisi baterai meskipun mesti dipaksa dan dikasih sesaji, kini mati sama sekali. Memang sudah seharusnya charger diganti dari dulu, tapi karena alasan ekonomi saya sengaja belum beli sampai titik darah penghabisan. Sayang, mahal.

Tapi mau bagaimana lagi, memang sudah saatnya si charger pensiun dini. Tabungan untuk bayar panjar liburan ke Tahiti pun terpaksa dikorbankan 😆 Sekarang masalahnya dimana mau beli charger untuk komputer lama punya saya. Kalau di kampung atau di kota besar pasti banyak yang punya stok. Nah di sini? Cari beng-beng saja susah, bensin antri, dimana yang jual perangkat komputer? Saya saja sangsi, kalaupun ada harganya bakal kena inflasi 20%.

(Baru saja saya tahu di sini ternyata ada toko komputer, meskipun harganya mencekik bikin susah nafas dunia akhirat)

Jadinya ya separuh jiwa saya pergi. Apa jadinya saya bila charger tidak ada. Analoginya seperti Valentino Rossi yang dijatah motor Ducati tanpa ada bahan bakar di tangki. Mentok-mentoknya Rossi cuma bakal mengelap motornya, cek busi, membersihkan karburator. Apa iya dia mau menuntun motornya keliling lintasan balap? Bisa, tapi mirip orang gila saja. Begitu pula saya. Saya juga tidak bakalan ikut-ikut gila nenteng komputer yang tidak bisa nyala. Sudah berat ditambah tidak bermanfaat. Saya kasih si komputer cuti sambil usaha cari charger pengganti.

Beruntung Dadan Galau dan Koh Lono meminjamkan komputernya bergantian. Mereka kan orang lapangan, jadi jarang kerja kantoran. Komputer sering nganggur. Jelas komputernya tidak akan saya pakai buat bekerja. Spesifikasinya beda. Kalau dipaksa memakai komputer teman buat bekerja, waktu buat adaptasi bakal lama. Belum instalasi software yang dibutuhkan. Pokoknya tidak bakalan ekonomis, efektif dan efisien. Ya ya ya.. Memang kebanyakan alasan. Intinya saya malas. Suasana hati saya tidak akan bagus kalau charger baru belum didapatkan.

Maka saya pakai saja komputer mereka buat mencari abang-abang tukang jual charger di internet. Via kuskus.us pastinya. Lapak segala macam benda. Tapi berhubung kuskus diblok sewaktu jam kerja, jadi mau tidak mau saya merepotkan abang saya di kota besar sana.

“Permisi nih Abang agan, ane minta tolong cariin charger komputer ane. Nanti duitnya ane transfer kalo ga lewat rekber. Nanti ane kasi ijo-ijo deh bang. Ga pake tipu-tipu, kalo tipu ane bata.”

Abang saya memang baik hati. Tidak perlu sampai minta memelas merana si abang udah dapat suppliernya. Sudah dibayar, tinggal kirim. Cuma ongkos kirimnya saja yang kelewat rentenir, mahal dan lama pula. Tapi mau bagaimana lagi, demi kelangsungan hidup saya.

Muka saya murung. Harap-harap cemas. Empat hari saya paten nongkrong di situs kurir, cek nomer resi. Kerja harian, dilupakan sejenak. Empat hari saya jadi pengangguran tidak resmi. Luntang lantung sana sini. Hampa, hidup saya hampa tanpa komputer yang punya koneksi.

Empat hari berselang sampailah paket dewa. Charger baru buat mengisi tenaga komputer saya. Sungguh bahagia tiada tara begitu tau colokannya pas di komputer. Ah indahnya dunia. Cerianya hidup ini.

Nah giliran charger tiba, komputer menyala gantian koneksinya yang bermasalah. Memang yang bermasalah cuma di rumah saja, sementar di kantor semuanya masih oke-oke. Cuma masalahnya di kantor kan jatahnya kerja. Saya sibuk kalau di kantor. Tiada sempat berleha-leha menikmati koneksi. Malah kadang cuma sempat menyalakan komputer saja terus terpaksa ditinggal karena banyak keluhan dari pelanggan (bukan pelanggan dalam konteks negatif ya. Tolong yang punya pikiran jorok, disapu dulu. Tobat sana). Belum lagi pekerjaan empat hari yang sempat tertunda. Duh Gusti, kok nampaknya musibah tiada henti mendera. Apa jadinya Valentino Rossi menaiki motor Ducati dengan bahan bakar di tangki tanpa ada sirkuit yang bisa dilintasi. Ujung-ujungnya Rossi cuma memanasi mesin kan. Begitu pula saya, menderita. Sudah hidup di remote area fasilitasnya apa adanya. Bagaimana mau betah kalau begini.

Saya gelisah. Orang gelisah pasti banyak berkeluh kesah. Sering protes sana sini. Memang saya manusia tidak tau diri. Sudah dikasih banyak rejeki kok masih saja sering merasa sakit hati.

Dan beruntunglah, teman kita semua, Ucrit bersedia atau entah terpaksa mau mendengar keluh kesah saya. Puji Tuhan pula layanan GPRS operator hape tumben lagi bersahabat masih mau memfasilitasi yuhuu messenger dari hape dan buntungnya bagi Ucrit yang harus menjadi tempat sampah saya. Namanya teman kan harus begitu. Iya kan?

“Wah Crit, tobat saya dapat kerja di sini. Repot repot repot,” keluh saya pada Ucrit.
“Kenapa memangnya kawan? Kamu ada masalah apa?” tanya Ucrit.

Oh iya, sudah lama saya tidak menceritakan bagaimana kabar Ucrit sekarang. Ucrit, si mantri kesehatan ini sedang mengambil kuliah masternya di universitas yang sama setelah sebelumnya sempat pertukaran pelajar ke negaranya Mas Van Basten. Sebenarnya saya curiga apa yang dia lakukan di Belanda. Pikiran saya kok melanglang buana ke Paijo dan Kojrat dengan poto nakal mereka berdua sedang pangku-pangkuan mesra di lobi kampus. Jangan-jangan Ucrit main mantri-mantrian.

Astagfirullah.

Di sela-sela kesibukannya mengambil gelar master, praktek mantri dan mengajar anak didiknya; dia masih selalu menyempatkan memberikan waktunya buat saya.

“Begini Crit, sedang sial saya. Sudah kemaren charger sempat ngadat eh sekarang giliran koneksinya yang mampat. Butuh tukang sedot WC biar koneksinya lancar ini. Tinggal di pelosok, apalagi sih hiburan yang bisa dinikmati? Apa iya saya mesti mendengarkan kicauan burung di pagi hari, ataupun rumput yang menari-nari?” saya melampiaskan duka saya pada Ucrit.
“Nah kan malah enak kawan, asri. Alami,” balas Ucrit.
“Enak apanya? Bosan sekali. Masak iya mau beli nasi padang saja mesti ke kota. Setengah jam kalau mau ngicip rendang. Pitsa? Mekdi? Kaepsi? Nehi!” saya melanjutkan.
“Lah kan malah ngirit. Sehat pula,” sambung Ucrit.
“Teman macam apa kamu! Mbok iya solider sedikit, dihibur gitu temanmu ini,” saya protes.

Saya sudah mau muntap. Kalau ada di hadapan saya, bakalan saya gilas si Ucrit pakai moto-grader pinjaman dari bagian produksi. Atau saya pinjam hoist bagian well service biar dia tau rasa.

“Sabar lah boi.. Dinikmati kerjaannya. Dulu siapa yang pengen bekerja di situ? Siapa yang dulu berjuang mati-matian buat bisa jadi pegawai situ? Kamu kan? Ya sudah disyukuri apa yang didapat. Jangan kebanyakan protes, itu lihat banyak yang pengen menggantikanmu,” kata Ucrit.

Memang dari dulu saya berkeinginan bekerja di sini. Entah kenapa, kok seakan-akan jiwa saya berada di sini. Meskipun di perusahaan ini statusnya cuma sebagai pendukung tapi saya cukup senang.

“Lalu dulu siapa pula yang ingin bekerja di daerah? Siapa yang pengin mencicipi hutan? Siapa juga yang pengen melihat orang utan di alamnya?”, lanjut Ucrit.
“Saya…” merasa terpojok.
“Ya sudah, disyukuri saja. Berarti semua keinginanmu tercapai kan. Sudah bekerja di situ, ditempatkan di hutan. Berada di kawasan konservasi orang utan. Kurang baik apa Tuhan sama kamu?” Ucrit membentak.

Loh kok jadi Ucrit yang marah.

“Ingat boi, kata-kata adalah doa. Jadi hati-hati kalau bicara. Ngomong yang baik-baik saja. Syukuri apa yang ada, jangan banyak protes, jangan banyak ngeluh. Dasar manusia!” Ucrit malah muntap.

Sedari dulu saya juga ingin sekali mencicipi rasanya bekerja di pulau terbesar di negri ini. Bosan juga hidup di kampung. Rasa-rasanya sudah sampai berkerak di kampung. Pengen keliling negeri. Selain itu, dulu saya sempat pula bilang ke Mardi.

“Besok kapan-kapan kalau ada waktu saya pengen lihat penangkaran orang utan. Di tempat kamu ada kan Di?” tanya saya pada Mardi.
“Ada, main saja ke rumah,” kata Mardi.

Bedanya Mardi tidak tinggal di pulau ini, tapi di pulau seberang. Tapi sama-sama di tempat Mardi ada penangkaran orang utan, di sini pun ada juga. Malahan dekat.

“Iya ya.. Saya kok kurang bersyukur gini. Mesti dirukyah apa ya?” tanya saya pada Ucrit.
“Memang, kamu sungguh manusia tidak tau diuntung,” kata Ucrit.

Kadang-kadang mulutnya Ucrit memang suka seenaknya saja.

“Tapi Crit, masak iya sekarang ini. Sudah di pelosok, sinyal hape ngap-ngapan masih ditambah koneksi yang tidak tahu diri. Apa jadinya orang IT tanpa komputer yang terkoneksi? Saya kan jadi tidak bisa buka kuskus.us, tidak bisa yuhuu messenger-an pakai komputer. Bukannya saya bosan pakai hape buat internetan, cuma takut jempol saya nanti kapalan,” saya bertanya sekaligus berkeluh kesah.
“Itu di statusmu. Kata Om Eric Schmidt : ‘Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu dan perhatikan manusia di sekelilingmu’,” kata Ucrit.
“Masalahnya manusia di sekeliling saya pada mainan komputer sama ponsel Crit,” saya bilang.

Ucrit sign out.

Teman tanpa solusi.

Advertisements

Comments»

1. neng - March 27, 2011

ucrit say- TTN
teman tukang ngeluh

Saya teman paling kasep nan bageur.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: