jump to navigation

Keping 5 April 5, 2011

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Kita bertemu terakhir sehari selepas Natal tahun lalu. Itu hampir empat purnama. Setelah menghabiskan donat Dunkin’s dan segelas kopi di kios kecil terminal dua. Pada deru mesin pesawat dan riuh ramai orang yang lalu lalang mengejar impian. Banyak yang telah aku lewatkan bukan? Entah sial atau kurang beruntung ketika aku mendapati harus jauh meninggalkanmu. Banyak yang harus aku syukuri, itu yang kusimpulkan dari nasehatmu. Tidak ada di dunia ini yang membuat kita bersedih, Hanya tentang perasaan yang kita ciptakan. Ah aku beruntung memilikimu yang selalu mengingatkanku pada segelas teh manis, semangkuk sup buah cinta dan ruang tamu.

Pagi ini aku terbangun di atas tempat tidur dengan beberapa jarum menusuk di kepala dan panas yang mendera di ujung tenggorokan. Udara memang tidak sedang bersahabat akhir-akhir ini. Atau kurasa aku terlalu memaksakan diri? Kuharap ini tidak akan menjadi virus yang menyerang dengan membabi buta. Namun tetap kuusahakan senyum menghias wajahku. Sedikit, tapi bisa kamu rasakan ujung bibirku tersimpul membentuk seutas lengkungan kan? Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku selalu ingin menjumpaimu – seorang yang aku sayangi, perempuan yang menjadi semangat tiap hariku. Mendengar celoteh malas bangun pagimu.

Karena semua akan kembali lagi pada hari-hari melelahkan. Menyeret langkahku, tertatih dan kadang ingin menyerah. Tapi kamu tidak sependapat denganku. Kamu menginginkanku untuk menghadapinya. Dengan senyummu tentu saja, tidak ada yang berat dalam hidupku. Namun kadang bibir lembutmu juga butuh istirahat kan. Maka aku pun tidak akan memaksamu untuk terus-terusan tersenyum saat kamu tidak menginginkannya. Bukannya aku sudah bosan pada senyummu, tapi aku pikir memang sesekali kamu perlu egois padaku. Tidak melulu memanjakan.

Aku sebenarnya sudah mengirimkan sebuah pesan pendek untukmu, tadi pagi. Tapi sampai sekarang pesan itu belum ada balasan. Barangkali sibuk atau masih terlelap? Mungkin; kamu yang mengajarkanku untuk selalu memberikan nilai positif dalam hidupku. Padahal aku cuma sekadar menyapa. Berterima kasih karena telah memberikan senyum manismu semalam. Aku tidak mengundangmu hadir dalam mimpiku, tapi kamu memberikan kejutan yang begitu indah alam bawah sadarku. Hatur nuhun nya neng geulis.

Adalah menyenangkan, seperti yang selalu aku bayangkan, saat-saat membaca pesan pendek darimu. Setidaknya hariku tidak akan berubah menjadi semakin kompleks, selalu saja ada semangat dalam tiap pesan pendekmu. Ya, meskipun kamu tidak pernah mengatakannya tapi aku merasakan besarnya perhatianmu terselip dalam tiap kata-katamu. Entah itu rasa sayang yang begitu dalam atau cinta yang enggan memudar atau keduanya sekaligus, meringankan langkahku.

Semakin aku tidak sabar menunggu hari ini berlalu – ketika mendapati pagi cepat beranjak siang kemudian siang lekas menata kelam dan mengirim senja pada gelap – begitu pula esok, hari-hari berikutnya hingga sembilanbelashari ke depan. Sembilanbelashari paling lama yang kurasakan hingga kini aku duduk terdiam dalam balutan jaket biru tua tebal di depan layar yang berpendar ditemani alunan gitar akustik L’Arc~en~Ciel memainkan Honey (hey, inilah ringtone spesial untukmu). Meringkuk kedinginan. Bahwa kini seonggok tubuh terperangkap di sini sementara sebongkah hati tertinggal sejak tahun lalu dalam rajutan cintamu. Ah, andai saja bisa kupinjam sedikit hangat tubuhmu.

Sembilanbelashari; yang separuhnya kurasakan berat karena semakin tak kuasa kutahan rindu sementara separuh sisanya kurasakan begitu bahagia karena semakin dekat aku akan saat pertemuan denganmu. Ironi dan karunia pada saat yang bersama.

Mengumpulkan beribu-ribu kesepian yang tidak akan bisa kumasukkan ke dalam tas-tas kusutku. Sepi yang menghasilkan rindu yang makin membuncah. Sejenak akan kutinggalkan remahan rindu itu di sini saja, kutinggalkan dalam keheningan diam dan dinginnya malam. Aku tidak akan menitipkan sepi dan sedihku padamu. Kuberaikan itu di sini, di tempat persembunyian bintang. Nanti aku ajak kamu ke sini, melihat bintang-bintang itu sembunyi dari hiruk pikuk dan temaram kota.

Sebagai buah tangan, akan kubawa berjuta-juta cinta dan sayang dalam kehangatan kebersamaan dan cerahnya pagi saat aku menjumpai kilasan bayang yang semakin nyata saat aku melompat bahagia dan setengah berlari menghambur ke arahmu. Melepaskan kerinduan yang hanya bisa diungkapkan dengan pelukan dan kecupan. Atau mungkin kamu yang berjalan cepat menyeruak ke arahku – karena aku membayangkanmu memakai high heels. Jelas aku tidak akan mengijinkanmu berlari memakai sepatu hak tinggimu.

Aku membayangkan betapa hangatnya pelukmu yang selalu meredakan setiap kegelisahanku. Saat tanganku melingkar di pinggulmu sedang tanganmu mendekap erat punggungku. Merasakan nafasmu yang memburu di dada dan mencium rambutmu yang wangi. Tidak akan lama lagi. Sembilanbelashari.

Nanti, ijinkankanlah aku mengecup keningmu. Bukan hanya di dalam angan yang selama ini kulakukan tiap malam redup berhiaskan bintang-bintang dan ketika pagi saat matahari mulai berdendang. Lebih dari seratus hariku terlewati tanpa kecupan hangat bibirmu, tanpa wangi lembut pelukan tubuhmu, tanpa genggaman erat dari tanganmu.

Inginku kembali seperti akhir tahun yang berlalu. Saat kulihat kau tersenyum sesekali sembari lepas tawamu menghiasi pertemuan kita. Rasanya ingin selalu bersamamu, menghitung tiap detik waktu yang berlalu. Menghabiskan jam-jam untuk mengobrol, bercerita dan berbagi tanpa pernah merasa bosan. Membuatku ingin memiliki semua waktu agar aku bisa bersamamu lebih lama. Menggoreskannya dalam lembaran kejadian dan peristiwa yang bisa kita ceritakan pada dunia. Pada orang-orang yang senantiasa memandang rendah pada indahnya kisah kita. Mendongengkannya pada anak-anak kita kelak.

Aku mulai bosan bercumbu dengan bayang-bayangmu. Seperti halnya kamu yang senantiasa mengatakan kerinduan yang semakin membuatku terpapar diam. Tapi sejenak, sembilanbelashari bantulah aku untuk menyambut pagi yang selama ini hanya membuaiku dalam sepi. Tanpa ada sejumput senyummu yang menyapa di ambang pintu. Lesung pipimu yang muncul ketika kamu tersenyum. Kombinasi anggun yang selalu mengajakku untuk kembali, memandangi garis tipis senyum bulan yang menghiasi binar wajahmu dan sebuah lekukan kecil di sudut bibirmu. Mungkin kamu tidak pernah menyadari betapa pesona senyummu mampu membuat seorang lelaki mencintai dengan sepenuh hati. Bahwa senyummu selalu membawa rasa nyaman bagiku. Semakin dalam setiap saatnya.

Kadang aku terlalu hiper-imajinatif membayangkanmu. Kadang aku terlalu hiper-realistik kepadamu. Duh, aku mungkin menjadi salah satu fans beratmu, Miramania atau Miraholic. Mungkin kamu bilang berlebihan meskipun aku katakan itu yang kurasakan.

Aku verbophobia. Merangkaikan kata-kata suatu hal yang sangat rumit bagiku. Ketika harus mengalirkan bergumpal ide dan menuliskannya. Berusaha memberikan arti dan nyawa pada setiap kata, kalimat, paragraf dan cerita. Tapi untuk seorang perempuan yang kucintai ingin menuliskan kata-kata. Saat ini dari suatu titik pada tempat terdalam di hati.

Aku merindukanmu: sangat. Sungguh.

Ijinkanlah aku membelai hitam rambutmu. Ijinkanlah aku menikmati apa yang tersimpan di matamu. Ijinkanlah aku merasakan kedalaman cinta yang selama ini kamu berikan begitu indah. Ijinkan aku merindukanmu..

Berharap kerinduanku ini akan terobati, bukan hanya jadi fantasi semu di atas mimpi. Bukan sekadar gumaman tentang perempuan manis pemilik keindahan senyum dan lesung pipi. Sembilanbelasharilagi.

Esok pagi saat kamu membuka matamu, kamu akan mendapatiku hadir di hadapanmu. Dan saat bulan beranjak berakhir maukah kamu menjemputku dengan senyum terindahmu seperti saat kamu mengantarkanku dalam riuh sebuah bandara di barat kota?

Dan apakah kamu akan mengijinkanku kecup manis keningmu?

Advertisements

Comments»

1. mira - April 5, 2011
2. kbp - May 11, 2011

woh.. salah kamar ki, kampret..

3. neng - July 14, 2011

datanglah,,,akan ku berikan semua yang kau pinta :’)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: