jump to navigation

Bargaining Position June 30, 2011

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Meskipun keseringan bergaul dengan mesin-mesin sejenis komputer, telepon dan benda sekeluarganya yang tidak punya hati, toh saya ini tetaplah manusia biasa. Setidaknya butuh pengakuan dan perhatian juga. Kan teknisi juga manusia, punya rasa punya hati. Jadi jangan disamakan dengan pisau belati apalagi dipaksa sampai kerja rodi. Kami juga punya emosi.

Tapi kenyataannya memang beberapa buruh lain menganggap buruh teknisi selayaknya pisau belati. Suka minta teknisi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan semau hati. Hal-hal yang dikerjakan kadang tidak sesuai dengan gambaran yang dijanjikan semasa pendidikan. Kata Pak Bos Besar Teknisi, kami ini direkrut bukan untuk sekadar menjalankan rutinitas yang ada, tetapi untuk membuat kreasi dan inovasi. Kenyataannya? Di lapangan saya lebih sering melakukan pekerjaan di luar perkiraan. Mana sempat berkreasi dan berinovasi. Mau istirahat saja sulit. Kata Pak Bos Teknisi di lapangan sini ya saya disuruh sabar saja melakukan pekerjaan yang tidak bermutu dan kasar. Katanya lagi, banyak ilmu yang bakal didapatkan di lapangan, yang penting sabar. Saya nurut saja apa kata orang tua. Entah itu benar ataupun sekadar membesarkan hati saja.

Sesabar-sabarnya orang pasti ada batasnya. Saya sudah biasa disuruh-suruh ini itu dan karena itu pekerjaan yang memang bagian saya, sedapat mungkin saya berusaha menjalani dengan sepenuh hati dan berdedikasi tinggi. Selama yang menyuruh masih sopan, melihat keadaan dan beban pekerjaan. Tahu diri lah, jangan sampai kelewatan dan berlebihan.

Sekali waktu masak iya jam 11 malam waktunya orang istirahat ada yang minta dinyalakan konsole game, malah minta disettingkan tampilannya di layar besar. Atau misal saya tidak boleh pulang kantor gara-gara disuruh standby mematikan proyektor yang notabene cuma pencet tombol on/off saja. Sampai diminta memindahkan mesin potokopian yang besarnya naudzubilah. Sori dori mori, selama tidak ada hubungannya dengan produksi lapangan di sini: nehi!

Syahdan dulu sewaktu masih magang dan belum menjadi pegawai tetap di kantor ini, saya sudah diserahi beberapa tanggung jawab. Mulai dari tukang jaga rental gratis konsole game, tukang beres-beres kabel, sampai tukang setting karaoke. Saya patut berbangga karena tidak semua buruh punya hak untuk mengakses fasilitas itu. Cuma beberapa teknisi saja, dan saya salah satu diantaranya.

Konsekuensi logis dari hak akses yang terbatas itu pasti ada. Tiap rabu dan sabtu malam musti standby jaga buat acara rutin buruh di lapangan sini. Karena memang sudah tugas mingguan, tidak boleh keberatan. Tapi kalau sudah di luar tugas rutin mingguan bolehlah saya sungkan.

Menjelang masa berakhirnya magang, ada beberapa orang baru yang magang di kantor. Sesama peserta magang, kami ditempatkan di mess yang sama. Peserta magang baru berjumlah sembilan orang, lima pria dan empat wanita. Yang pria, saya sudah lupa namanya. Hehehe.. Kan tidak penting. Sedang yang wanita, kata Dadan Galau, ada cantik, ada yang semok, ada yang manis, ada yang imut. Ah, saya tidak peduli. Pasti cantik, semok, manis dan imutan neng saya satu-satunya. Mesti jaga hati, jangan dikotori. Ini godaan mahadahsyat..

Tidak semua, tapi beberapa peserta magang itu kadang tidak sopan. Saya belum pernah merasakan ketidaksopanan mereka, namun dari beberapa pengalaman teman magang seangkatan, mereka memang sedikit keterlaluan. Yah, saya tidak ambil pusing. Selama mereka tidak menunjukkan sikap mereka yang tidak berkenan, saya santai-santai saja.

Di akhir masa magang, saya disibukkan dengan pengerjaan laporan. Bingung mengurus ini itu. Saya, Slamet dan Nurlela sedang ngobrol di depan aula mess, bingung dimana dan kapan mau mencetak laporan kami. Jadwal pengumpulan laporan sudah di depan mata. Kalau terlambat mengumpulkan bisa terancam tidak jadi diangkat jadi buruh tetap.

“To, jadi kapan mau cetak laporan?” saya bertanya.
“Siang ini saja, Saya mau ke kantor bareng Nurlela. Mau nitip?” tanya Slamet.
“Punya saya belum jadi To, besok saja bagaimana?” saya memohon.
“Ah tidak mau, biar cepat beres,” kata Nurlela.

Tiba-tiba dari balik pintu aula, seorang peserta magang baru keluar.

“Lela, pasangin karaoke,” kata si pria magang baru agak kasar memaksa. Saya tidak suka.
“Saya tidak bisa. Ini minta tolong teknisinya saja,” kata Nurlela sambil menunjuk saya yang masih takjub dengan perilaku si mas-mas tadi.

Saya sudah sungguh tidak suka dengan orang ini. Tidak sopan sekali.

“Bisa pasangin karaoke? Kami mau nyanyi,” kata si pria.
“Bisa, tapi males,” saya jawab sambil ngeloyor pergi. Tidak peduli. Nurlela dan Slamet cekikikan. Entah si pria magang.

Saya emosi. Minta tolong kok tidak sopan. Saya balik ke kamar, ambil posisi membelakangi pintu, tiduran di depan komputer sembari mengerjakan laporan. Sementara rekan sekamar tapi beda ranjang, Dadan Galau, duduk manis menghadap pintu, sama-sama menyelesaikan laporan. Sebelum balik ke kamar, dari jendela aula saya sempat melihat peserta magang baru ini sedang mengutak-atik peralatan karaoke. Entah siapa yang mengajari mereka.

Sebenarnya saya agak takut juga membiarkan mereka mengutak atik peralatan karaoke. Bagaimanapun juga itu inventaris teknisi, barang mahal. Uang bulanan saya setahun pun kayaknya tidak bakalan sanggup mengganti. Kalau sampai kenapa-napa ya kami para teknisi yang dikenai sanksi. Apalagi posisinya sekarang saya yang sering standby. Tapi biar sajalah, saya sudah terlanjur emosi tingkat tinggi.

Pintu kamar diketok, tok tok tok. Dadan Galau membukakan pintu, Dari layar komputer saya melihat bayangan tiga perempuan peserta magang yang baru di depan pintu. Saya tidak peduli, pura-pura tidak tau.

“Bisa minta tolong pasangin karaoke nggak?” tanya si semok.

Dadan Galau rupa-rupanya tidak mampu menolak permintaan si semok. Apalagi ditambah senyuman si cantik dan kerlingan mata si imut, luluh lantah dan hancurlah imannya. Saya masih tidak peduli, sok sibuk pura-pura tidak tau. Saya biarkan saja Dadan Galau beraksi. Toh sudah saya privat dia buat jadi teknisi meskipun sebenarnya dia berprofesi sebagai tukang inspeksi. Dadan Galau dan para permaisurinya berlalu, menutup pintu.

Setengah jam kemudian Dadan Galau kembali dari aula.

“Tolong dong, saya tidak bisa menyalakan karaoke. Nggak enak ini,” Dadan Galau minta tolong.
“Yaelah Lau, tadi kenapa kamu mau? Saya kan sudah kasih kode buat diam saja,” kata saya.
“Mana saya tau, kamu tidak bilang. Lagipula mana sanggup saya menahan godaan tiada tara ini,” balas Dadan Galau.
“Ya sudah ya sudah,” saya mengakhiri pembicaraan.

Kalau bukan Dadan Galau yang minta tolong, saya tidak bakalan mau. Apalagi demi kesenangan peserta magang baru itu. Saya masih emosi, tidak ridho teman saya diperlakukan kasar. Sungguh kasian Dadan Galau, tiada mampu menahan bujuk rayu para perempuan peserta magang baru. Memang dasar taktik mereka jitu.

Saya masuk ke aula mess bareng Dadan Galau, pria-pria peserta magang baru sedang bermain bilyar. Sementara perempuannya masih mengutak-atik peralatan karaoke. Ya ampun, kasian itu mbak-mbak kalau sampai kesetrum.

“Ini lelakinya yang tidak tau diri atau mereka sengaja menyuruh para perempuan untuk membujuk rayu kami?” saya bertanya dalam hati. Wah Dadan Galau kalah strategi.

Tanpa pikir panjang saya segera menyalakan peralatan karaoke. Utak atik dikit bersama Dadan Galau sementara para perempuan mengerubungi kami. Setelah ketemu solusi permasalahannya, saya bisik-bisik ke Dadan Galau untuk memencet salah satu tombol di amplifier. Biar dia jadi pahlawan. Hehe..

“Silakan coba dites,” saya meminta si cantik mencoba microphone dan peralatan karaokeoya.

Di tangan teknisi, syukurlah semua bisa diatasi. Paling tidak Dadan Galau tidak kehilangan muka di depan para peserta magang dan mereka juga tidak menyuruh seenak hati lagi. Begitu semua selesai, saya dan Dadan Galau segera kembali ke kamar. Menyelesaikan laporan yang mesti dikumpul esok harinya. Tentunya dengan tetap tenang dan kalem. Sok cool gitu, jaga image.

“Terima kasih ya,” kata si cantik dan si semok sembari mengantar sampai pintu aula. Si manis dan si imut tidak lupa mengucapkan terima kasih pula lengkap dengan senyuman manis mereka. Sementara para lelaki tersenyum mengangguk ramah.

Sampai di kamar saya tertawa, kemudian Dadan Galau curhat berbusa-busa pada saya.

“Wah, sebelumnya mereka tidak pernah seperti ini loh,” kata Dadan Galau.
“Kenapa Lau?” saya bertanya.
“Sebelumnya kalau mereka minta pasang karaoke, mana pernah mereka bilang terima kasih. Senyum saja tidak. Biasanya cuma pada duduk manis, pegang microphone, tunggu semua beres, terus pada nyanyi. Mana inget sama saya. Saya salut sama kamu bisa bikin mereka seperti itu,” kata Dadan Galau ketawa ketiwi dapat senyum dari si cantik, si semok, si manis, si imut plus bonus senyuman centil lima lelaki.

Hehe.. Dadan Galau mesti diajarkan teori tarik ulur, bagaimana caranya mendapatkan bargaining position yang baik dan benar. Atau mungkin Sang Master mau memberikan tips dan trik buat teman saya ini.

Advertisements

Comments»

1. bunga bukan nama sebenarnya - June 30, 2011

” Saya salut sama kamu bisa bikin mereka seperti itu ” <—- semoga Mas Dadan Galau dalam keadaan sadar saat berbicara demikian dan terimakasih….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: