jump to navigation

Nasib March 4, 2012

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Stok coklat Monggo saya habis. Kalau berdasar teori Nurlela yang menyatakan bahwa jika marshmellow-nya sudah menipis saatnya pulang ke ibukota, berarti jika coklat saya ludes – saya mesti pulang ke kampung. Padahal coklat yang cuma selembar seukuran iphone itu sudah saya irit-irit semenjak dua bulan lalu. Dua bulan? Wah sudah lama juga saya tidak melihat mall dan peradaban.

Namanya juga tuntutan pekerjaan buruh yang baru diterima. Sudah cuti belum punya, juga tidak bisa seenaknya minta tugas ke luar kota. Kadang iri juga sama Joko Buras yang jarang lembur tapi dinas makmur. Terus Dadan Galau yang meteran kunjungan luar kotanya lancar sentosa. Belum Koh Lono yang rutin dapat panggilan. Apalagi Nurlela yang bisa sekali anjangsana bisa sampai dua minggu. Saya kan juga pengen merasakan keluar dari hutan dengan nyaman dan tenteram. Pulang ke pulau seberang.

Kenapa ya saya kok bisa nyasar di sini?

Di tengah kegalauan yang melanda, kok saya ingat akan Paijo dan pulsa telepon yang masih lumayan. Sepertinya dia masih bekerja di ujung Endonesa. Ah, iseng-iseng saya telepon Paijo daripada saya gundah gulana. Lagipula sudah hampir dua tahun kami tidak bersua.

Tuut.. Tuut.. Tuut..

“Halo, ada apa ya. Tumben-tumbenan. Mau kirim undangan?” tanya Paijo dari ujung sana.
“Sompret, dari mana-mana urutannya juga yang paling tua,” kata saya.

Paijo cengengesan di ujung sana. Saya dan Paijo mulai bercerita. Mulai dari Geng Gabil dan turunannya sampai kisah gadis berjaket oranye yang jadi idola. Dari gadis Persia yang tertinggal di ujung Endonesa hingga cerita cinta remaja yang melegenda. Ya memang sudah lama dan banyak yang bisa digosipkan buat kemaslahatan umat.

“Gimana Jo, enak di sana,” saya bertanya.
“Ya lumayan lah. Dibawa enak, kalau dibawa stres bisa jadi gila. Eh kapan terakhir pulang ke kampung?” Paijo balik tanya.
“Akhir taun kemaren Jo. Pas ada acara di Jogja. Sekalian jadi irit ongkos. Kamu sendiri gimana?” saya balik tanya lagi.
“Bulan kemaren. Sama, sekalian ada acara. Kalau pakai uang sendiri sayang. Bisa habis 3000 bungkus nasi kucing,” jelas Paijo.

Waow, sekali mudik bisa beli nasi kucing 3000 bungkus (kurs tahun 2010) sementara saya kalau mau mudik cuma butuh setengahnya. Memang di sana dekat bandara, mau pulang tinggal ngesot. Tapi transitnya itu bo.. Dua kali kata Paijo dan paling cepat lima jam naik pesawat. Ya beda dikit sama dari pabrik saya ke kampung, tujuh jam darat dan dua jam pesawat. Sama-sama capeknya.

“Kerjaan ngapain aja Jo?” saya menyelidik.
“Ya gini-gini aja, pemeriksaan, bikin laporan. Standar saja. Kalau mau berinovasi juga bisa. Tapi belum lah, mikir laporan yang setahun tiga kali saja sudah bikin pusing setengah mati,” kata Paijo.

Saya dulu sempat pengen bekerja di pabrik tempat Paijo bekerja sekarang. Saya ingat dulu menemani Paijo mengirim berkas lamarannya di pabrik cabang kampung saya. Waktu itu saya belum lulus. Saya sempat daftar tahun berikutnya, cuma tidak diterima.

“Kamu sendiri gimana? Masih sibuk ngetik?” tanya Paijo.
“Endak lah Jo. Di sini lebih ke masalah support aja. Jadi tenaga bantu-bantu benerin mesin. Urusan ngetik biasanya di-tender kantor ibukota. Duduk manis ngawasin mesin jalan aja sambil sesekali ngecek,” saya menjelaskan.

Untungnya di pabrik tempat saya bekerja masih ada sangkut pautnya sama mesin sementara Paijo berurusan sama kertas-kertas laporan.

“Di sana makan gimana Jo? Dapet rumah tidak?” saya bertanya, membandingkan.
“Mahal, lebih mahal daripada ibukota. Standarnya tinggi. Rumah tiada dapat, jadinya di sini ngekost. Ndak mahal-mahal banget lah, tapi ndak ada dapurnya jadi ndak bisa masak. ndak bisa ngirit,” terang Paijo.

Untuk ukuran makan, sama antara tempat Paijo dengan daerah pabrik saya. Tapi dari segi fasilitas dan akomodasinya jauh beda. Alhamdulillah yah, sesuatu.. Eh maksudnya Alhamdulillah di pabrik saya hampir semua ditanggung. Mulai dari rumah, listrik yang hobi mati, air distilasi dari sungai yang terkontaminasi pipis buaya, keringat biawak dan kobokan orang utan. Belum lagi jatah preman yang datangnya suka tiba-tiba kalau lagi ada pembagian : snack, makan, panci, pakaian pantas pakai dan sebangsanya. Ah, ternyata betapa enaknya kerja di pabrik saya.

“Yo wis, sini aja Jo. Lagi ada lowongan besar-besaran di pabrik tempat saya kerja,” saya ajak Paijo.
“Saya sih pengen kerja di pabrik kamu. Uang jajannya gede, fasilitas oke. Tapi apa daya ijazah saya masih ditahan empat tahun ke depan. Diterima dan disyukuri saja, rejeki dan nasibnya orang kan beda-beda,” Paijo berceramah.

Adzan magrib berkumandang, dan saya sebagai orang tampan dan beriman mesti segera menunaikan ibadah untuk daerah pabrik saya dan sekitarnya. Terpaksa sambungan telepon interlokal itu saya matikan.

Benar juga kata Paijo, rejeki dan nasib orang beda-beda. Kalau liat Joko Buras, Dadan Galau, Koh Lono dan Nurlela pasti saya tidak bakal ada rasa puas dan bersyukurnya.

Mesti sering-sering ngobrol sama teman-teman sepermainan waktu Geng Gabrut dan Geng Gabil berjaya agar dapat pencerahan.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: