jump to navigation

Mimpi June 10, 2012

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Saya merindukan masa-masa kuliah. Bukan bermaksud melankolis untuk mengenang kisah cinta remaja, akan tetapi saya rindu menabung uang jajan, membuat tulisan-tulisan yang disetor ke panitia lomba buat cari tambahan tabungan untuk akhirnya dipakai buat jalan-jalan. Serasa ada semangat dalam memperjuangkan kenikmatan yang dinamakan jalan-jalan.

Saya sedang butuh jalan-jalan. Bukan untuk menapakkan kaki di tempat-tempat eksotis di penjuru dunia, tapi sekadar bertemu orang-orang baru untuk belajar tentang realita kehidupan dunia. Yah, meskipun kata Dadan Galau “gencring-gencring” pundi-pundi uang mengalir, tapi sama saja kalau ditempatkan di pelosok hutan tanpa ada jaminan keluar melihat peradaban ya sungguh memilukan.

Alhasil saya mengemis kepada bos buat dikasih kesempatan melihat peradaban dan puji Tuhan itu dikabulkan.

Syahdan saya tiba di bandara ibukota ketika malam tiba dan saya mesti segera melanjutkan perjalanan karena esok pagi-pagi sekali ada acara di Kota Hujan selatan ibukota. Berbekal tekad dan semangat saya menaiki bus jurusan selatan ibukota. Nanti menginap dimana, itu urusan belakangan yang penting jalan-jalan. Hore..

Duduklah saya di bangku nomor dua dari belakang deretan supir memangku dua tas mirip TKI yang akan mudik ke kampung halaman. Seorang bapak-bapak berbadan subur duduk di samping saya. Tergencet, dari atas dan samping.

“Mau kemana Mas?” tanya si bapak-bapak berbadan subur.
“Mau ke kebun raya Pak, ada acara,” saya menjawab sekenanya.
“Oh dari mana? Kerja atau kuliah?” tanyanya lagi.
“Dari pulau sebrang, lagi kerja Pak. Sedang ada tugas negara,” jawab saya.
“Sendiri saja? Kerja dimana?” si bapak menyelidik.
“Iya, kerja di pabrik Pak”. Saya takut, curiga akan dijadikan korban human-trafficking atau seperti Paijo yang diprospek untuk bekerja di rumah bordil.

Dan saya mulai berpikir yang tidak-tidak. Jarang-jarang di ibukota orangnya ramah-ramah. Biasanya cuek dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Kalaupun ada yang ramah maka patut dicurigai keberadaannya. Saya berjanji dalam hati bahwa saya tidak akan menerima tawaran makanan ataupun minuman sekalipun saya ditawari seloyang pizza yang sangat saya idamkan.

“Saya punya adik di pabrik itu juga. Namanya Solikin. Nanti dicek saja, dia sudah manajer di ibukota. Kalau ada apa-apa misal ingin dimutasi ke kota hubungi dia saja,” katanya bangga.
“Oh, iya Pak.”

Saya masih curiga meskipun suasana sudah mulai mencair. Si bapak berbadan subur mulai bercerita panjang lebar mulai tentang pekerjaannya yang berkecimpung di bidang hukum dan pendidikan, kondisi ibukota yang mulai semrawut, anak-anak kecil yang cepat dewasa hingga Piala Eropa. Si bapak juga bercerita kalau dia baru pulang dari mengurusi urusan hukum di salah satu propinsi di pulau tetangga. Saya agak kurang percaya kalau bapak ini seorang pengacara meskipun sempat menunjukkan potonya berdua dengan Dewi Persik saat di persidangan kasus penganiayaan dengan Julia Perez beebrapa waktu silam. Masak seorang pengacara naiknya bus kota?

“Wah, enak kerja di pabrik ya. Fasilitas dan pendapatannya oke. Beruntung kamu bisa kerja di sana,” kata si lelaki subur.
“Iya Pak. Dulu memang sempat pengen kerja di pabrik makannya saya bercita-cita kuliah di ilmu pabrik. Liat anak-anak pekerja pabrik kok pada makmur hidupnya. Dulu saya punya pacar anaknya pekerja pabrik, enak sekali kelihatannya. Mantan calon gebetan saya kemudian teman-teman saya yang bapaknya kerja di pabrik kok pada enak hidupnya. Tapi nasib berkata lain, saya tidak masuk jurusan ilmu pabrik karena alasan pribadi. Saya mengambil kuliah di jurusan teknisi. Eh, tapi kok kebetulan ujung-ujungnya masuk pabrik juga. Padahal saya sudah mencoba daftar di bank, tapi ditolak. Di perusahaan manufacturing, ditolak juga. Di perusahaan IT, belum rejeki. Di telekomunikasi dan energi, dua-duanya pengumumannya telat, keburu saya diterima di pabrik dulu,” saya menjelaskan.
“Oh, itu bukan kebetulan. Kalau kamu punya keinginan harus tetap dijaga. Suatu saat pasti kamu bisa meraihnya. Ya meskipun jalannya tidak sesuai yang kamu inginkan dan tujuannya agak melenceng sedikit. Itu kamu sendiri mengalaminya,” si bapak berbadan subur balik menjelaskan.

Saya mulai tertarik.

“Maksudnya?” saya meminta penjelasan lebih lanjut.
“Jadi kalau kamu punya keinginan kuat dan tertancap lekat di hati dan pikiranmu entah disadari atau tidak kamu akan berupaya mewujudkannya dengan bantuan apapun yang ada di sekitarmu,” jelas si bapak.

Saya manggut-manggut.

“Saya dulu waktu SD sering main ke daerah kampus ibukota. Apalagi waktu bulan puasa, hampir tiap malam saya selalu menyempatkan sholat terawih di masjidnya bersama teman-teman. Saya bilang ke teman-teman, ‘Liat saja nanti saya bakal sekolah di sini‘. Teman-teman saya ketawa. Saya tau itu kampus yang terkenal se-Endonesa sementara saya anak kampung yang ke sekolah cuma punya satu kemeja. Tapi siapa sangka beberapa tahun berselang saya betul-betul kuliah di sana? Walaupun bukan di sana dalam arti sebenarnya karena sebagian gedung kampus ibukota dipindahkan ke daerah selatan ibukota. Ya tetap saja saya kuliah di kampus ibukota meskipun gedung kuliah saya ikut yang di selatan ibukota, iya kan?” cerita si bapak sambil mempertanyakan kebenaran pendapatnya.

Saya masih manggut-manggut.

“Itu baru cerita pertama, selanjutnya waktu kuliah saya sempat ambil dua jurusan. Hukum di kampus ibukota dan komputer di kampus swasta. Kuliah saya selesai dengan hasil memuaskan di kampus ibukota meskipun cuma sampai semester lima di kampus swasta. Satu waktu, saya sempat tanya ke teman saya : ‘Bank mana di Endonesa yang paling bagus? Besok saya bakalan kerja di sana. Jadi manajernya!‘. Teman saya menyebutkan nama salah satu bank, dan beberapa tahun setelahnya tanpa saya rencanakan saya bekerja di sana atas rekomendasi seorang teman. Saya tidak memintanya untuk memasukkan saya ke bank tersebut namun dia merasa saya bisa menerima pekerjaan dan tanggung jawab itu. Saya yang memegang sistem komputerisasi perbankan bank tersebut. Siapa sangka? Toh walaupun pada akhirnya saya memutuskan keluar karena hasrat saya bukan di perbankan tapi di pendidikan,” si bapak menjelaskan panjang lebar.

Saya melongo, manggut-manggut.

“Nah terkait dunia pendidikan ini saya juga punya cerita. Dulu sewaktu tamat SMA ibu saya pengen agar saya kuliah di kampus swasta dekat rumah. Kampusnya bagus, termasuk kampus dengan akreditasi baik. Untuk jurusan hukum selevel sama kampus ibukota. Hanya saja biaya kuliahnya mahalnya minta ampun. Saya kasihan sama ibu saya, jadi saya tolak tawaran ibu saya dengan halus dan memilih kuliah di kampus ibukota yang jauh dari rumah. Dan siapa sangka juga saya akhirnya ke kampus swasta itu? Bukan sebagai mahasiswa tapi menjadi salah satu tim pengajarnya. Siapa yang menyangka?” jelas si bapak.

Saya mendengarkan dengan seksama. Ini yang saya suka dari jalan-jalan: bertemu orang baru dan mendapat cerita baru buat ditulis. Hehe..

“Jadi jangan meremehkan keinginan-keinginan dan perkataanmu sekarang. Entah beberapa tahun lagi pasti ada peristiwa yang terjadi karena keinginan dan perkataanmu sekarang.”

Saya mulai bercermin, kira-kira apa yang dulu sempat saya inginkan dan kini kesampaian.

Oh iya, saya dulu pernah punya keinginan untuk berkunjung ke kampung si Bo. Ternyata sekarang saya mencari beras dan sebongkah berlian di kampung Bo meskipun dalam peta kampungnya ada di ujung barat sementara saya ada di ujung sebaliknya.

Pun saya pernah ingin menyambangi kampung Mardi untuk sekadar melihat penangkaran orang utan yang ada di dekat kampungnya dan siapa mengira sekarang saya justru tinggal di taman nasional habitat orang utan?

Bus melaju pelan ke terminal selatan ibukota. Saya berpisah dengan bapak pengacara setelah bertukar nama. Pak Somad namanya.

Beberapa hari berselang saya kembali dari Kota Hujan selatan ibukota ke pabrik di pelosok hutan dan Dadan Galau bertanya.

“Dari mana?”
“Dari Jerman!”

Besok saya pasti ke negaranya Om Klaus Meine, kalaupun melenceng-melenceng dikit bolehlah berkunjung ke negara kelahiran Om Jim. Terus sepertinya berdasar keinginan saya di tulisan terdahulu nampaknya saya juga akan ke Kilimanjaro. Amin.

*belakangan saya tau ini yang dinamakan law of attraction dan diadaptasi oleh Prof. Yohannes Surya menjadi semesta mendukung.

Advertisements

Comments»

1. sangprabo - June 13, 2012

Ke pulau saya sih pulau saya W, tapi saya orang Barat. Kamu orang Timur. Jauh syekali…

Kan cuma beda arah saja Bo 😀

2. neng - June 13, 2012

beuh, kalo nulis seneng banget bawa2 mantan gebetan :p
segitunya bangga punya “mantan gebetan” yang pandai bersosialisasi
kanan kiri ok :p

Xixixix.. Ini kan tulisan, harus dilihat dalam kacamata tulisan sahaja :p

3. undapatie - June 17, 2012

ehm…. Tetap saja kamu belum melihat Orang Utan di kampungku. Mimpimu belum sempurna, W.
Ehmm… Kamu sedang menjalani mimpiku, W. Sedangkan aku sedang menjalani mimpi entah siapa.
Mungkin kadang kita memimpikan yang tidak seharusnya kita mimpikan :).
Atau ini hanya sebuah penundaan akan mimpi-mimpi kita.
Mari kita nikmati saja. Berserah dan ikhlas akan memberikan efek yang lebih baik daripada terus bersungut-sungut :).

Sip 🙂

4. si.tam.pan - June 22, 2012

Perasaan…ortunya mantan gebetannya si W berprofesi sebagai dosen, deh. Ini, kok, tautau diklaim bekerja di pabrik ya? Saya laporkan ke Pogung ini nanti, biar jadi perkara 😈

Di Pogung ada siapa ya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: