jump to navigation

Tukang Tipu July 29, 2012

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Tukang poto itu penipu nanggung kalo penulis baru penipu ulung, kata Ucrit sekali waktu.

Ya saya memang mengagumi Ucrit yang pandai memainkan lensanya untuk menghasilkan gambar-gambar yang membuat orang jatuh hati pada objek yang diabadikannya. Jika itu poto lanskap pemandangan maka orang-orang akan segera membuat rencana kunjungan. Jika itu poto makanan maka orang-orang akan beranjak mencicipi sesuapan. Dan jika itu poto perempuan maka orang-orang akan antusias mengajak kenalan. Ucrit memang diangerahi sepasang mata yang lihai menangkap objek yang mengagumkan plus sepasang tangan kokoh yang siap menggenggam kamera dan lensa. Karena itu saya yakin kalau dia melanjutkan pendidikannya menjadi mantri bedah maka sodetannya di kulit manusia akan sangat presisi dan mengandung karya seni. Hehehe..

Maka dari itu tidak heran jika Ucrit mempunyai sekumpulan grupis perempuan (dan Puji Tuhan laki-laki juga ada) yang menanti untuk dipoto sesekali. Ucrit juga menjadi langganan tukang poto untuk setiap wisata yang diadakan oleh teman-teman dengan dibebaskan biaya makan, transportasi dan penginapan jika diperlukan.

Ucrit memang inspirasi saya membeli kamera, saya ingin belajar darinya dulu. Dulu sekali sebelum banyak anak remaja menenteng kamera-kamera berbodi tambun yang dikalungkan dengan mantap. Ketika itu saya membeli sebuah perselingkuhan kamera pocket dan SLR yang kondang dinamakan prosumer. Sementara Ucrit masih menggunakan kamera SLR dengan film kodaknya. Canggih waktu itu. Sementara saya jepret bolak balik hasilnya bisa langsung dilihat dan mengecewakan karena selalu saja ada yang berbayang, gelap ataupun terpotong objeknya, Ucrit dengan santai menekan tombol shutternya dan seminggu kemudian saya akan dibuat terpana dengan 36 objek potonya yang aduhai.

Saya memang kurang diberkati dalam dunia fotografi. Jadilah kamera digital saya sering dipakai Ucrit sementara saya mengalah untuk menjadi objek potonya. Sayangnya satu kelemahan Ucrit saat menggenggam kamera adalah Ucrit tidak pernah bisa membuat poto diri saya nampak mengagumkan. Nilai minus yang sangat menyedihkan. Kutukan sang pejuang cinta yang tidak bisa dihilangkan.

Terkadang saya iri pada Ucrit, kemanapun dia pergi pasti membawa oleh-oleh segepok mahakarya bernilai seni tinggi yang terwujud dalam kumpulan album potonya yang unik sementara saya hanya membawa sekelumit cerita yang saya nilai tidak menarik. Tidak bisa dibandingkan dengan dokumentasi apik milik Ucrit. Terlebih lagi ketika Ucrit sukses mengkonversi kamera analognya dengan kamera digital hasil tabungannya dari menjual karya dan jasa potonya. Semakin jauh kasta kami berdua. Saat Ucrit digilai oleh para perempuan saya menjadi penonton yang bertepuk tangan.

Sekali waktu saya pernah ngobrol santai dengan Ucrit di sebuah warung burjo.

“Crit, gimana sih cara bikin poto yang aduhai,” tanya saya menyelidik sambil mencomot bakwan.
“Gunakan instingmu kawan, cari momen-momen yang tepat plus sudut pandang yang tidak biasa. Jangan lupa belajar mengenai teknik dan penggunaan kamera termasuk di dalamnya pencahayaan yang sempura. Tetap belajar, tambah pengalaman kawan,” terang Ucrit sambil tersenyum bangga.
“Saya kurang apa sih Crit, saya sudah berguru padamu sejak dulu juga tidak ada peningkatan. Sudah belasan purnama saya mengabdi padamu, apa iya air cucian kakimu harus saya minum,” saya protes sambil mencomot sepotong mendoan. Lapar.
“Ya jangan cepat menyerah. Kamu terlalu cepat menyerah kawan,” nasehat Ucrit.

Setengah hati. Saya akui memang saya sangat cepat bosan dan menyerah pada keadaan apabila mentok pada suatu bidang. Bukan artinya saya tidak mau berusaha tapi saya merasa passion saya bukan di bidang tersebut. Saya bukan mundur untuk menyerah kalah tapi saya mengalah untuk memberikan kesempatan bagi orang lain untuk mengisi posisi saya tersebut. Buat apa melakukan sesuatu jika tidak ada gairah? Dan itu yang saya rasakan ketika bergumul dengan kamera.

Bahwa terkadang saya tidak habis pikir bagaimana seseorang yang jauh-jauh datang ke Jogja untuk menikmati senggol-senggolan di Sekaten malah nangkring di tower listrik untuk mendapatkan momen yang tepat. Bagaimana bisa seseorang bisa begitu mengkhawatirkan kameranya terkena percikan air sementara mengikhlaskan dirinya diguyur hujan. Sungguh saya kadang tidak habis pikir.

“Crit, saya iri sama kamu”

Kalimat itu spontan keluar dari mulut saya. Padahal sebenarnya saya gengsi jika harus mengaku iri padanya. Bisa malu tujuh turunan. Dimana nanti muka saya dan anak cucu saya kalau saya sampai iri pada si tukang poto sableng macam Ucrit. Bisa jatuh harga diri saya.

Ucrit tertawa sejenak kemudian menyeruput segelas kopi hitam panas yang masih mengepul. Saya makan burjo, seakan-akan tidak peduli apa yang akan Ucrit katakan nanti.

“Saya yang iri sama kamu kawan,” Ucrit menanggapi serius. Tumben. Ada setan lewat mungkin.

Saya menunggu ledakan tawa menghinanya. Namun tidak ada hinaan selanjutnya. Ucrit serius nampaknya. Saya menunggu apa yang akan dikatakan selanjutnya.

“Kamu bisa menulis dan saya selalu iri pada penulis. Mereka punya imajinasi yang luar biasa, khayalan yang tiada tara,” kata Ucrit.
“Kok bisa,” saya penasaran dan menghentikan menyantap semangkok burjo dengan ketan hitam warung mamang-mamang dari Sunda yang legendaris di kampung saya.

Saya memang sudah mulai menulis waktu itu. Ya, memang bukan bidang saya untuk menulis sajak yang puitis tapi setidaknya saya lumayan ahli dalam mengarang hasil ujian dan sekelumit cerita untuk dibagikan. Saya biasa menulis untuk buletin kelas rutin tiap bulan.

“Pernahkah kamu bayangkan bahwa saat Tolkien menulis bukunya para kurcaci itu memang ada di dunia? Bagaimana dia menggambarkan Middle Earth begitu nyata. Imajinasi yang luar biasa bukan? Belum lagi banyak penulis yang menginspirasi pembacanya. Bagaimana Max Havelaar mampu membuat banyak orang menjadi simpatik akan perjuangan kaum yang tertindas di negaranya. Kemudian Krakauer yang menuliskan kisah Alexander Supertramp yang membuat orang tergila-gila untuk menikmati petualangan alam bebas. Kitab suci mana ada yang berupa sekumpulan poto? Kitab suci itu tulisan,” jelas Ucrit.
“Penulis tidak pernah bisa menggambarkan secara indah mengenai suatu lanskap pemandangan yang cantik, beda dengan tukang poto yang bisa menggambarkan birunya langit dan hijaunya sabana,” saya melawan.
“Justu sebaliknya, fotografi itu dibatasi oleh objeknya. Saat berada di tepi laut mana mungkin tukang poto bisa merekam momen indah tentang pawai warna-warni di pusat kota. Saat malam gelap gulita dan ada sebuah bintang jatuh yang berkelebat sekian detik jarang ada tukang poto yang bisa mendokumentasikannya. Seorang penulis ketika berdiam di dalam rumah pikirannya bisa melanglang buana hingga kemana saja kawan. Bahkan ke tempat yang tidak tersentuh sekalipun. Imajinasi penulis tidak ada batasnya sementara tukang poto terbatas pada pandangan matanya. Karena imajinasi itulah kita tidak akan pernah bisa menyalahkan seorang penulis ketika menggambarkan sebuat lanskap pegunungan yang indah dengan sangat mengagumkan sehingga tiap orang yang membacanya akan mengkhayalkan sebuah pemandangan sesuai dengan interpretasi mereka masing-masing. Tidak ada yang sama, semua sesuai dengan sejauh mana penikmat tulisan bisa berimajinasi. Seorang petualang akan mengkhayalkan sebuah sabana hikau dengan pohon cemara yang membatasi di ujungnya dengan latar belakang sebuah punggungan yang hijau berkabut. Sementara seorang pekerja kantoran akan membayangkan sebuah klise hijau di antara gedung-gedung bertingkat yang menyejukkan. Sementara ketika seorang tukang poto mendokumentasikan sebuah lanskap pegunungan maka itulah yang ada di benak para penikmat poto. Tidak lebih dan tidak kurang. Ketika suatu saat ada yang ingin membuktikan lanskap asli dari poto tersebut ada dua kemungkinan : mereka bisa tersenyum menikmati kebenaran yang ada atau memberengut mendapati keadaan tidak seperti yang digambarkan. Dan yang terakhir yang lebih sering dirasakan,” jelas Ucrit lagi.

Ucrit diam sejenak, mengambil nafas panjang.

“Penulis itu mau tidak mau harus luas pengetahuannya kawan. Bagaimana mungkin seorang penulis bisa menceritakan tentang setiap jengkal tanah Indonesia ketika dia tidak pernah menyelaminya. Bergaul dengan masyarakat di sekitarnya. Mendapatkan informasi dari setiap hal yang ditemuinya,” kata Ucrit.
“Tukang poto juga iya Crit. Mereka harus sampai ke tempat yang sama untuk menangkap momen yang diinginkannya,” saya mencoba berargumen.
“Tapi apakah mereka sempat dan mau untuk berinteraksi kepada lingkungan kawan? Jarang. Tukang poto tidak membutuhkan informasi sampai sedalam itu untuk menghasilkan suatu momen yang indah. Tukang poto hanya membutuhkan waktu dan kesempatan yang tepat. Sementara penulis harus mengetahui detail untuk membuat suatu tulisan yang indah. Seorang tukang poto tidak harus mempelajari tentang asal muasal Candi Prambanan ketika akan mengabadikannya sementara penulis mau tidak mau harus belajar mengenai sejarahnya untuk menggambarkannya dalam bentuk tulisan,” jelas Ucrit.

“Satu yang mesti kamu ingat kawan,” kata Ucrit.

Ucrit kembali menghela nafas panjang.

“Seorang tukang poto dengan sudut yang tepat bisa menghasilkan momen seorang perempuan cantik tersenyum manis tanpa menunjukkan bahwa ternyata ada tompel besar di salah satu bagian wajahnya atau totol-totol panu di lehernya. Akan tetapi perempuan itu memang ada di dunia nyata kawan, setidaknya perempuan itu pernah ada di dunia. Sementara penulis mampu menggambarkan seorang perempuan berambut panjang hitam pekat dengan mata bulat, hidung mancung, bibir mungil ditopang oleh leher yang jenjang; tubuh sempurna dengan dada yang montok, bokong yang bahenol dan kaki fotomodel kombinasi sempurna antara body Farah Quinn dan muka Siti Nurhaliza tapi toh kenyataannya perempuan itu disangsikan pernah ada,” tutup Ucrit.

Dan keluarlah fatwa Ucrit :

“Tukang poto itu penipu nanggung kalo penulis baru penipu ulung”

Advertisements

Comments»

1. artisans - August 5, 2012

Kalo saya paling iri dengan pelukis, gabungan keduanya saya rasa. ^^

Oke, inspiratif. Menyukai tulisan ini. Terus berkarya. 🙂

Terima kasih

2. Menjemput Impian « modaldengkoel - October 20, 2012

[…] memang, saya menyukai dunia jurnalistik, terutama dalam hal potret-memotret dan tulis-menulis. Menyoal tulis-menulis. Saya termasuk orang yang moody jika dalam menulis, bisa sehari timbul ide […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: