jump to navigation

Perjalanan August 15, 2012

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

“Bagaimana kalau kita ke Rinjani tahun depan, perjalanan ke Lombok. Bagaimana Man?” ajak Slamet.
“Oke, tahun depan! Kita sambangi Gili, Kuta dan Rinjani,” kata Man melirik saya.

Saya terdiam. Saya suka perjalanan, pikiran saya melayang.

Pernah dalam suatu waktu saya merasa lelah dengan montonnya hidup yang saya jalani. Sekolah, ngemil di kantin, main ke rumah teman kemudian pulang ke rumah dan berlanjut ke rutinitas yang sama keesokan harinya. Sesuatu yang menyenangkan pada awalnya akan tetapi menjadi begitu menjemukan selanjutnya. Memang sesekali ada insiden maupun kejutan kecil yang menjadi warna baru dalam rutinitas yang menjemukan itu, tapi toh itu hanya terjadi jarang. Jarang sekali. Rasa-rasanya ada yang salah dengan rutinitas tersebut, pikir saya suatu waktu.

Belum lagi tentang balada asmara pemuda yang baru mengenal dunia, ah rasa-rasanya semakin merana hidup saya saat itu. Mau bagaimana lagi jika pergaulan bebas (mencaci) di antara Joko, Sukiman, Kojrat, Dibyo dsb bukannya menguatkan mental akan tetapi justru semakin membuat hati yang tengah remuk redam menjadi semakin menderita.

Kombinasi yang menakjubkan antara rutinitas yang menjemukan dan hati yang tengah rindu dendam semakin membuat saya bertanya-tanya. Ada yang tidak beres dengan hidup saya, minimal pikiran saya.

Saya bukanlah tipikal orang yang pemberani, seringkali saya memilih untuk menghindar dari suatu konflik ketimbang menghadapinya secara jantan. Atau setidaknya berusaha untuk menghindari percikan-percikan yang bisa memicu timbulnya suatu chaos yang lebih besar. Karena itulah pada penghujung tahun 2007 saya memutuskan untuk mencari dunia baru, pribadi-pribadi yang tidak mengetahui dan tidak peduli akan asal usul saya. Menghindari rutinitas hidup yang menjemukan dan balada asmara.

Saya berpikir bahwa perjalanan adalah suatu pelarian sempurna untuk menghindar dari permasalahan yang saya sendiri enggan untuk menyelesaikannya.

Bertemulah saya dengan suatu komunitas yang mencuci otak saya untuk melangkahkan kaki ke penjuru dunia. Cerita-cerita tentang perjalanan yang begitu glamor. Betapa gagahnya mendengar cerita seorang pejalan mengangkat ranselnya dan menapaki jalan setapak melewati padang edelweis untuk menuju puncak-puncak yang jarang dikunjungi. Betapa kerennya potret-potret seorang pejalan melakukan penyelaman di laut-laut yang tak terjamah manusia pada umunya. Saya ingin menjadi pejalan! Saya ingin melakukan perjalanan!

Perlahan saya memberanikan diri untuk mengikuti salah satu perjalanan yang diadakan komunitas tersebut. Melangkahkan kaki melalui jalur pendakian terpanjang di Pulau Jawa. Sangat menakjubkan, pikir saya waktu itu. Tidak sembarang orang yang mampu menapaki jalan ini. Bahkan saya menganggap perjalanan ini begitu suci layaknya umat Muslim yang menziarahi Tanah Haram ataupun Sun Go Kong yang pergi ke timur untuk mengambil Kitab.

Mendapati teman-teman baru, para pejalan, pertanyaan yang seringkali muncul adalah: Sudah kemana saja? Berapa puncak yang telah ditaklukan? Berapa pulau yang telah dijejaki?

Pertanyaan yang menjerumuskan.

Kemudian saya berpikir bahwa perjalanan adalah cerita sombong jejak kaki di suatu tempat yang jarang terjamah dan rekam peristiwa dalam secarik potret yang mensketsakan pemandangan indah.

Selanjutnya yang terjadi memang mudah ditebak, saya berusaha menasbihkan diri sebagai seseorang yang telah menaklukkan lebih banyak gunung, menjejakkan kaki di lebih banyak pulau. Kemudian saya mengabadikan potret diri saya di puncak dengan sebuah carrier besar yang ada di punggung. Angkuh. Atau memperlihatkan potret-potret bermandikan air biru dan pasir putih pada jejaring sosial kemudian mempertontonkannya pada semua daftar teman. Tidak ada yang lebih membanggakan kecuali saat ada teman yang memberikan komentar : Bagus sekali! Dan saya akan menjawab : Terima kasih (yang jika diucapkan langsung akan menimbulkan kesan sombong dan meremehkan). Kemudian saya akan menceritakan begitu berkesannya perjalanan saya dan orang lain akan antusias mengikuti cerita yang saya sampaikan. Semakin banyak yang memperhatikan, semakin puja dan puji dari sekitar maka semakin jumawa saya di depan mereka.

Saya berlomba dengan waktu untuk mengejar ketertinggalan saya dengan rekan komunitas lain. Tentunya dengan konsekuensi begitu banyak materi dan waktu yang mesti dikorbankan.

Namun ini belum berakhir. Saya berpikir bahwa perjalanan adalah catatan runtut mengenai suatu destinasi yang bisa memacu orang lain untuk menziarahi perjalanan tersebut.

Tulisan-tulisan melengkapi keindahan potret-potret tempat yang saya pikir paling eksotis. Membuat definisi-definisi cantik yang mampu menggugah orang lain untuk mengunjungi apa yang ada dalam potret tersebut. Membuat catatan persuatif yang mampu membius pembaca menjadi terpacu adrenalinnya untuk membuat potret diri yang sama seperti yang saya tunjukkan kepadanya. Dan ketika orang lain mulai bertanya bagaimana cara menuju ke sana, mulailah kepongahan saya.

Semenjak orang-orang mulai berlomba mengunggah potret dan catatan perjalanan mereka, saya mulai sadar bahwa tidak ada artinya potret diri dan tulisan indah yang selama ini saya buat. Saya menyadari sudah sekian lama waktu yang saya habiskan untuk memuaskan hasrat pribadi, mencari aktualisasi diri yang semu. Bersaing dengan pejalan-pejalan lain untuk mendapatkan tempat yang paling disegani. Ya, karena kini perjalanan sudah menjadi gaya hidup baru yang disebut dengan travelling, backpacking. Orang-orang semakin rajin mengunggah potret diri bersama sahabat terdekat mereka kemudian berharap mendapatkan sanjungan, puja dan puji yang juga saya anggap buah kesuksesan seorang pejalan. Kini yang muncul adalah upaya untuk sombong-sombongan yang tidak disadari merasuk ke dalam pikiran pejalan.

Saya berpikir buat apa selama ini saya berjalan ke berbagai tempat tanpa pernah berpikir mengenai sisi-sisi humanisme yang tidak pernah saya sentuh sama sekali. Tentang tragedi dan ironi yang mengiringi. Bagaimana saya melupakan tanggung jawab dan kewajiban yang mestinya bisa saya laksanakan dan selesaikan dengan sebaik-baiknya.

Perjalanan bukan sekadar potret dan tulisan yang kemudian terlupakan begitu saja seiring perjalanan baru yang dihadapi. Perjalanan tidak sedangkal itu.

Saya berpikir bahwa perjalanan adalah mengenal sisi-sisi tak terdefinisikan dari potret dan tulisan, tentang peristiwa yang mampu mengubah cara pandang kita dalam menjalani hidup. Perjalanan adalah sesuatu yang jauh lebih personal daripada yang selama ini saya bayangkan.

Ya, selanjutnya saya lebih betah untuk duduk berjam-jam di tepian danau kecil di Kebun Raya Bogor untuk menertawakan betapa bodohnya hidup yang tengah saya jalani dibandingkan dengan seorang bapak tua yang berjualan balon. Setidaknya bapak tua itu mempunyai tujuan untuk berjuang dengan jalan menghidupi keluarganya sementara saya masih berkutat pada simbol-simbol dunia yang tengah berusaha saya gapai. Pun saya bisa mematung di stasiun kota hanya sekadar menikmati lalu lalang manusia yang menghambur untuk mencapai tujuan mereka. Sesekali saya tersenyum miris ketika mendapati saya belum menempatkan arah dan tujuan tiket hidup saya. Atau kemudian saya lebih memilih untuk melakukan perjalanan solo tanpa kawan untuk mendapatkan lebih banyak pelajaran ketimbang obrolan berulang bersama sahabat.

Sudah lama saya tidak mengabadikan diri dalam potret diri, meskipun sampai sekarang saya masih menulis. Sekadar catatan yang bukan bertujuan untuk melakukan hasutan tapi sebagai pengingat di masa mendatang.

Kemudian semenjak bapak saya beristirahat dengan tenang dan simbok saya tinggal sendiri di kampung, saya berpikir bahwa perubahan persepsi mengenai perjalanan adalah perjalanan itu sendiri. Bahwa perjalanan yang paling megah, ziarah yang paling indah adalah ketika hati mampu diselami dan seharusnya mampu menjadikan seseorang menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, bijak dan rendah hati dalam menghadapi hidup ini. Bahwa sebenarnya kita tidak perlu berjalan begitu jauh untuk mendapatkan makna dari suatu perjalanan.

“Bagaimana? Jadi ke Rinjani kita?” tanya Slamet.

#proses yang masih berjalan

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: