jump to navigation

Musik (1) August 29, 2012

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Belakangan internet di pabrik saya diblok sehingga semua situs unduhan tidak bisa diakses sama sekali. Berhubung saya yang bertindak sebagai buruh teknisi, muncullah pertanyaan dan komplain yang bertubi-tubi dari buruh-buruh lain yang tidak rela situs unduhan tadi diblok.

“Bagaimana ini, kita tidak bisa mengunduh lagu-lagu baru lagi dong?,” tanya salah satu buruh.
“Bakalan ketinggalan jaman,” komplain salah satu buruh.

Bagi saya, dengan adanya pengeblokan situs-situs ini tidak ada masalah. Toh saya juga tidak pernah memeperbaharui daftar lagu saya, sudah cukup saya mengunduh banyak lagu ilegal (semoga nanti segera ada kesempatan untuk membeli – atau dihadiahi – CD Favorit saya). Kalau untuk urusan film tinggal menunggu kapan ada acara di pulau sebrang dan menjadwalkan untuk nonton di bioskop dengan si cantik. Kalau memang tidak ada bisa juga nonton di HBO atau Fox Movies atau siaran televisi lokal. Kalau tidak ada ya sudah, terima nasib.

“Memangnya bisa tidak memperbaharui daftar lagu? Payah, tidak mengikuti perkembangan jaman,” komentar Dadan yang turut protes karena tidak bisa mengikuti tren musik Indonesia.

Sejujurnya saya tidak anti dengan lagu-lagu baru, saya masih mengikuti Daradam-Daradam-nya Radja atau Pujaan Hati-nya Kangen Band. Pun dengan lagu rock Tong Setan-nya Sangkakala ataupun goyangan nanggung di lagu dangdut Alamat Palsu-nya Ayu Ting Ting. Belakangan malah kita dihadapkan pada fenomena boysband dan girlsband yang menjadi tren di kalangan anak muda. Kemudian pemuda-pemudi yang tidak mau dibilang alay kemudian beralih untuk mendengarkan musik-musik berlabel indie. Kepada semua itu saya tidak anti, hanya membatasi. Saya tau diri.

Jika mengikuti perkembangan yang ada, terlebih televisi dan media sosial kita seakan-akan tidak sadar bahwa kita dipaksa untuk selalu berpacu mengikuti irama dunia yang berjalan dengan cepat. Mulai dari hal remeh temeh seperti fenomena Norman Kamaru dengan Chaiya-Chaiya-nya hingga Heavy Rotation-nya Keluarga Idol 48. Kemudian serbuan aliran “Pop Melayu”, dengan kontingen macam ST 12, Wali, D’Bagindas, Armada, Ungu, dkk. Sekali lagi saya tidak anti, cuma membatasi diri. Jika ada ya didengarkan, jika tidak ada ya tidak perlu dicari. Wong sekali dua kali dengar sudah hapal di luar kepala baik lirik maupun iramanya.

Namun ada beberapa grup musik yang tidak pernah hilang dari daftar lagu yang sering saya putar.

Selera musik saya ternyata tidak buruk, buktinya musik pilihan saya mirip dengan yang dipilih Pak Jan Djuhana yang juga sukses mengorbitkan Sheila on 7 dan Cokelat. Terlebih lagi suara vokalis yang saya dengar juga masuk dalam daftar 50 Greatest Indonesian Singers (Versi Majalah Rolling Stone Indonesia).

Ini merupakan alasan kenapa saya tidak pernah bosan mendengarkan musik yang selalu ada dalam daftar lagu saya.

——————————————–

Sekali waktu seorang musisi jalanan membawakan lagu Bunga dari album Pandawa Lima ketika saya dan si cantik sedang makan siang di area Punclut. Saya masukkan lembaran uang ke dalam kaleng yang dibawanya sekalian meminta satu lagu lagi.

“Satu lagi Mas, Sembilan Hari bisa?”.

Semenjak Once keluar dari posisinya sebagai vokalis Dewa 19, Ahmad Dhani menyatakan: “Saya memutuskan band Dewa itu adalah band nostalgia. Jadi kalau main itu dalam konteks reuni. Kalau pun membuat album lagi adalah dalam bentuk Dewa 19 band nostalgia.” Akan tetapi bagi saya band ini telah bubar sejak tahun 1999 tepatnya semenjak Ari Lasso resmi dikeluarkan dari Dewa 19. Walaupun semenjak Ari Lasso keluar digantikan oleh Once – Dewa 19 mencapai puncak karir melalui album kelimanya (minus The Best of) yang bertajuk Bintang Lima menjadi album tersukses sepanjang karir Dewa namun bagi saya tidak ada album Dewa 19 yang lebih menarik ketimbang album-album mereka yang dirilis tahun 1990-an.

Entah kenapa semenjak album The Best of Dewa 19 saya mulai kurang suka dengan lagu Persembahan dari Surga yang mulai menggunakan kata-kata berbau agama terutama dengan penggunaan kata ganti -Nya yang cukup intens. Terlebih lagi ketika Once mulai menjadi pemegang microphone di Dewa, rasa-rasanya musikalitas Dewa 19 pada masa remaja mulai berkurang dan berubah menjadi dewasa ditandai dengan lirik-lirik yang mempunyai filosofi tinggi khas sufi yang sering diangkat pada album-album berikutnya. Belum lagi ketika banyak isu sara yang dialamatkan pada Dewa yang mengakibatkan Dewa juga terkenal karena kontroversinya. Saya kurang suka dengan musikalitas tinggi, telinga saya terkadang susah mencernanya. Saya kurang suka kontorversi. Titik.

Juga saya sempat mengintip Mahakarya Ahmad Dhani 2012 di yutub yang membawakan karya lawas Dewa 19. Megah, namun tidak membawa kegembiraan ala remaja 90-an.

Dan rasa-rasanya semenjak musik Indonesia begitu dipengaruhi oleh pasar, Dewa mulai membuat lagu-lagu yang mempunyai potensi untuk laku di pasaran. Tidak ada lagi inovasi-inovasi dan eksperimen yang menjadi ciri khas Dewa 19 ketika melantukan Kirana yang kental nuansa jazz dan swing. Serta musik sederhana Kamulah Satu-Satunya yang justru dengan kesederhanaannya menjadi mudah diterima tanpa mengurangi kekuatan liriknya. Tidak ada lagi kreativitas seperti pada album Pandawa Lima yang merevolusi musik Dewa 19 dengan eksperimen bunyi yang cukup radikal.

Siapa yang tidak kenal single Kangen dan Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi dari album Dewa 19 (1992) yang keduanya dinyanyikan ulang lagi oleh Chrisye-Sophia Latjuba dan Duo Ratu? Kemudian Aku Milikmu dan Takkan Ada Cinta yang Lain – yang dirilis ulang oleh Titi DJ – pada album Format Masa Depan (1994). Selanjutnya Cukup Siti Nurbaya, Satu Hati (Kita Semestinya) dan lagu balada legendaris Cinta Kan Membawamu Kembali di album Terbaik-Terbaik (1995). Serta Kirana, Aku Di Sini Untukmu dan Kamulah Satu-Satunya yang dirilis dalam Pandawa Lima (1997). Plus Elang dan Persembahan dari Surga yang dibawakan dalam album The Best of (1999). Semua lagu di atas menjadi lagu-lagu hits hingga saat ini.

Di luar lagu-lagu yang menjadi hits di panggung musik Indonesia tersebut sebenarnya banyak lagu lain yang tidak kalah bagusnya. Hanya saja karena keterbatasan promosi album maka hanya lagu-lagu yang mayoritas bernuansa cinta saja yang akrab di telinga penikmat musik. Pada masa itu memang hanya lagu-lagu tersebut yang rutin diputar di radio-radio ataupun dibuat video klipnya. Belum ada yutub yang bisa mengorbitkan cuap-cuap hore ala Sinjo. Padahal jika dicermati lebih lanjut banyak tema yang diangkat dalam setiap album yang dirilis oleh Dewa 19. Mulai dari kritik sosial, deskripsi narasi sampai ajaran humanis. Bahkan beberapa ada yang sebenarnya layak untuk dijadikan lagu andalan dan dibuatkan video klip.

“Liriknya bercerita tentang nasib anak-anak jaman sekarang yang masih banyak terlalu diatur dalam memilih jodoh. Masak jaman udah maju begini masih mengikuti aturan di jaman Siti Nurbaya. Lagunya nggak sengaja gue temukan waktu sedang iseng-iseng pegang gitar.” (Dhani)

Ada beberapa single yang menyampaikan kritik sosial dan protes terhadap lingkungan sosial yang berkembang pada masa itu. Beberapa saja yang menjadi top hits seperti Cukup Siti Nurbaya yang berada di peringkat 20 dalam daftar “150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa” oleh majalah Rolling Stone edisi Desember 2009. Memang Dewa 19 jauh dari potret musisi frontal seperti Iwan Fals yang dikenal tukang protes lewat lagu-lagunya, seperti Oemar Bakrie (1981) dan Bento (1991). Akan tetapi beberapa lagunya jika disimak lebih dalam menghadirkan kritik dalam batasan dan dengan gaya bahasa yang tidak terlalu vulgar (atau cenderung sopan).

Kritik sosial pada penguasa yang cukup tajam disuarakan pada beberapa lagu. Aspirasi Putih memberikan kritik tajam mengenai penguasa yang berkuasa pada jaman tersebut dan berupaya untuk membangun suatu dinasti yang kuat sementara di sisi lain rakyat dibatasi sempitnya ruang gerak untuk mengajukan kebebasan berbicara di muka umum.

Dalam Liberty, lagu yang menjadi salah satu favorit Andra, Dewa 19 menggambarkan perjuangan untuk mendapatkan hak-hak asasi yang sering dibungkam pada jamannya. Sesuai dengan judulnya, Liberty, Dewa 19 menghendaki kebebasan. Kritik sosial juga bisa didengar dari Dewa & Si Mata Uang dan Format Masa Depan.

Melalui Mahameru dan Selatan Jakarta, Dewa 19 mendeskipsikan dengan apik kedua daerah tersebut.

Pada Mahameru, Dhani dan Ari Lasso menggambarkan pengalaman mereka dengan penjelasan runtut jalur pendakian Gunung Semeru lengkap dengan suasana romantis khas anak-anak pendaki gunung. Dewa 19 mampu membuat lagu ini seperti cerita pendakian yang persuasif. Mungkin sembilan dari sepuluh pendaki gunung pasti menjadikan track yang dipenuhi petikan gitar Andra yang top ini menjadi salah satu lagu wajib mereka.

Selatan Jakarta mendeskripsikan kawasan Jakarta yang menjadi kiblat pergaulan pada masa tersebut (dan mungkin hingga kini?). Mulai dari Mahakam, Mall Pondok Indah dan Kemang menjadi kata-kata yang digunakan dalam syair lagu ini. Lagu ini juga merupakan kritik sosial dan humanis, mempertanyakan mengenai remaja-remaja gaul yang senantiasa berkeliaran di Selatan Jakarta terhadap kehidupan di luar kemapanan yang tergambar di Selatan Jakarta.

Bagaimana Dewa 19 menggunakan kata-kata yang kurang lazim digunakan untuk lirik sebuah lagu; merupakan sesuatu yang umum di masanya. Penggunaan kata-kata dari bahasa Indonesia yang halus, yang banyak digunakan pada medio 1990-an. Simak lirik “Bersama sahabat mencari damai – Mengasah pribadi mengukir cinta” dalam Mahameru mampu disusun begitu indah meskipun menggunakan kata-kata yang jamak digunakan dalam keseharian. Kemudian “Lagu ini elus hati – Timang segala sedihmu- Sebagai satu redam perih – Sebagai sampul diriku” dalam Sebelum Kau Terlelap yang disusun dari frase yang jarang dipakai. Memang belum mampu menandingi Kla Project yang sangat pandai dalam penggunaan kata-kata puitis nan sarat makna. Meskipun begitu, Dewa 19 juga tidak anti menggunakan kata-kata yang berkonotasi negatif seperti “menjilati” pada Petuah Bijak dan “kujilati” dalam Restoe Boemi. Karya Dewa 19 merupakan mahakarya. Sulit untuk mencari lagu dengan ritme yang eksotis, lirik yang luar biasa puitis serta otak yang kreatif.

Alhasil, tipe-tipe lagu seperti ini tidak akan mudah untuk dicerna dua hingga tiga kali dengar. Bukan sejenis musik-musik instan yang sekali lihat dan dengar bisa menghibur diri. Tipe lagu yang layak jadi karya sastra.

Cerita humanis dapat disimak pada lagu Petuah Bijak dan Hitam Putih yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang sarat makna filosofis. Di samping itu Dewa 19 juga menggunakan nama perempuan dalam beberapa lagunya, yakni kisah kelam perempuan dalam Cindi (Pandawa Lima), kisah percintaan dalam Deasy (Format Masa Depan) serta kisah kerinduan yang mengharu biru dalam Rein (Dewa 19). Jangan lupa tengok Hanya Satu dan Jangan Pernah Mencoba yang membawa pemahaman tentang menerima dengan ikhlas. Ya, Dewa 19 dibalik lagu-lagu cinta romantisnya juga terdapat banyak pelajaran yang bisa diambil.

Namun sekali lagi, dengar berulang kali sampai bisa mendapatkan nilai di dalam lagu tersebut. Ini bukan tipe lagu Bang Toyib yang dalam sekali dengar kita tahu bahwa istri Bang Toyib kesepian.

Erwin memainkan komposisi harmoni bass yang begitu indah pada track Sebelum Kau Terlelap dilengkapi dengan bass drum berukuran kecil oleh Wong Aksan. Vokal yang tadinya diisi oleh Dhani digantikan oleh Ari Lasso yang lebih luwes. Dalam IPS, Andra memainkan gitar akustiknya dengan sangat menarik. Kedua lagu ini sangat berpotensi menjadi lagu lembut pengantar tidur karena kehebatan sang pembetot gitar dalam membuat harmoni indah pada masing-masing lagu. Cakupan musik Dewa 19 saat itu begitu luas, mulai dari Pop, Rock, Jazz hingga Swing meskipun sebelumnya Dewa 19 mengidolakan permainan keras Slank yang saat itu sedang mulai berjaya.

Dalam lima album pertama, Dewa 19 menyertakan dua buah lagu yang ditulis dengan Bahasa Inggris yaitu Swear dan Still I’m Sure We’ll Love Again dengan penyanyi latar almarhumah Nita Tilana. Swear (Dewa 19) dan Still I’m Sure We’ll Love Again (Format Masa Depan) merupakan lagu-lagu rock ballad era 90-an yang dicirikan dengan musik awal yang cenderung lembut kemudian menghentak di tengah dan berakhir dengan manis. Semacam Stairway To Heaven-nya Led Zepellin.

Pada tahun 2008, majalah Rolling Stone memasukan Dewa 19 ke dalam “The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa”. Ahmad Dhani juga menjadi salah satu artis dalam daftar tersebut. Sementara itu, Andra Ramadhan berada dalam daftar “50 Gitaris Indonesia Terbaik Sepanjang Masa”.

Dewa 19, menurut saya dan terlepas dari arogansi personelnya, merupakan grup musik pop rock jenius pada masanya. Mereka bisa membuat dan membawakan lagu balada cinta yang romantis sementara di waktu yang sama juga bisa meneriakkan kritikan sosial dalam koridor kesopanan. Penggunaan kata-kata yang puitis mampu dibawakan dengan baik oleh Ari Lasso yang menguasai ambitus tertinggi sampai pada level Castrato dengan iringan musik yang dibawakan dengan ciamik oleh masing-masing personelnya.

Kamulah satu-satunya.. Hulalala..

#jangan dibahas teori, ini opini semata. Kalau salah mohon dikoreksi.

Advertisements

Comments»

1. Ricky Brahmana - May 31, 2015

review yang kritis haha, thanks bro.. kebawa suasana bacanya..
coba denger lagu Queen-Long Away yang punya aransemen serupa sama Sembilan Hari,, Satu Sisi dan Kirana lagu yg paling jempol buat gw

Mirip ya, malah baru tau

2. Ichsan Agung - May 21, 2016

baca review diatas membuat semakin semangat untuk mencari tahu lebih banyak tentang musik 90-an. Btw Dewa 19 dengan vokalis Ari Lasso yang terbaik terbaik 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: