jump to navigation

Mamak September 3, 2012

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Beberapa hari ini saya tidak enak tidur. Rasanya ada yang mengganjal di hati. Sudah rebahan di kasur, pikiran tidak tenang. Jadinya hanya menatap langit-langit kamar. Mencoba menutup mata, guling kanan kiri, menghitung domba juga tidak membuat mata ini terpejam. Saya bikin susu. Katanya kalau habis minum susu tidurnya bakal nyenyak. Eh bukannya tidur nyenyak malah mata semakin segar. Kalau sudah begini seringnya saya ambil duduk di kursi depan rumah, melihat jalanan yang lengang dan jejeran komplek perumahan yang sepi sunyi ditenami suarai jangkrik dan kodok serta sesekali burung hantu di kejauhan.

Mau telpon si neng kok sudah malam. Kasihan beberapa bulan terakhir kecapekan karena banyak pekerjaan lembur yang harus dia selesaikan. Ya sudah saya diam sendirian.

Dulu waktu jaman sekolah di kampung, tiap malam saya hobi sekali nongkrong di depan kamar yang langsung menghadap pohon mangga yang daunnya cukup lebat. Apalagi kalau suasana hati sedang tidak tenang. Malam gelap rimbun tenang. Ya mau bagaimana lagi, daripada keluyuran tidak jelas yang jatuhnya malah buang-buang duit, mending di rumah merenungi hidup sambil menemani simbok yang di rumah tinggal sendiri. Belum lagi saya agak alergi angin malam, suka masuk angin kalau kelayapan hingga larut malam.

Kembali ke depan rumah. Pikiran saya melayang. Teringat simbok saya di rumah.

***

Tahun ini saya diberi kesempatan mandor untuk pulang merayakan lebaran di kampung halaman. Saya senang bukan kepalang mengingat tahun kemarin saya tidak ada kesempatan untuk mudik lebaran. Sebagai kuli baru yang belum memenuhi masa pengabdian selama satu tahun, saya belum diperkenankan untuk meninggalkan pabrik kecuali untuk urusan pribadi yang mendesak.

Jadilah saya pulang ke kampung, sungkem sama mbok, mbakyu, kangmas dan saudara tercinta. Tidak lupa ketemu sama teman-teman sepermainan semacam Sukiman, Paijo, Ucup dan Ipin. Kembali ke kampung, bertemu teman-teman lama memang menyenangkan. Banyak bahan pembicaraan yang tidak habis diobrolkan.

Saya pun menyempatkan diri untuk bertemu kawan lama, Ucrit yang gagal menjadi Bang Toyib karena pada lebaran tahun ke-tiga dia menyempatkan pulang ke Indonesia setelah dua tahun sebelumnya menjadi imigran di Eropa. Saya bertandang ke rumahnya, silaturahmi sekalian menagih oleh-oleh.

Dulu saya suka main ke rumah Ucrit, apalagi kalau sedang menginap. Tiap pagi selalu dimasakkan Mamaknya sarapan nasi goreng yang rasanya top. Kalau saya tanya resep, katanya rahasia anggota keluarga perempuan. Ucrit saja tidak dapat bocorannya kecuali dia mau merubah gendernya. Belum lagi perhatian Mamaknya pada teman-teman dekat Ucrit yang rutin main ke rumahnya. Saya sudah dianggap sebagai anaknya sendiri meskipun tidak mendapat jatah uang saku bulanan seperti yang didapat Ucrit. Maklum, meskipun Ucrit mempunyai dua saudara lain namun keduanya saat itu tidak tinggal di rumah. Kakaknya yang pertama, Usro bekerja sebagai PNS di sebrang pulau sejak sepuluh tahun lalu sementara kakanya yang ke dua, Meilan, ikut suaminya di Kota Besar sejak enam tahun lalu. Jadilah tinggal Ucrit, bapak dan Mamaknya yang tinggal di kampung bertiga. Kemudian tinggal berdua sejak bapaknya Ucrit meninggal mendadak dua tahun lalu.

“Sabar ya Crit,” hibur saya waktu itu untuk menguatkannya.

Ucrit sekarang nampak lebih terawat, kulitnya pucat kemerahan mirip bule. Mukanya jauh lebih dewasa. Pembawaannya lebih kalem, meskipun masih ada sisa-sisa kenakalan masa remaja. Rambutnya masih disisir basah, tipe playboy sejati.

“Halo kawan, gimana kabarnya,” saya menyapa Ucrit yang membukakan pintu. Dari belakang rumah, Mamak dan kedua saudaranya beserta keluarga juga datang menghampiri.

“Eh nak, gimana kabarnya. Lama tidak pernah main ke sini,” tanya Mamak Ucrit.
“Hehe.. Lagi cari nafkah di sebrang pulau Mak,” saya jawab sopan.
“Ooo.. Pantas lama tidak keliatan. Tapi masih sering pulang nengokin rumah kan? Jangan kayak Ucrit yang lupa pulang. Sekalinya pulang tidak bawa calon mantu pula. Padahal Mamak kan sudah pengen gendong cucu dari Ucrit,” kata Mamak tertawa sambil mencolek Ucrit.

Saya tersenyum kecut. Pertanyaan yang menohok. Saya menghitung-hitung berapa kali dalam setahun saya pulang ke rumah. Tidak banyak. Jarang. Ucrit sendiri juga nampak tersenyum lebih kecut, dia jauh lebih durhaka daripada saya. Selepas lulus jadi mantri, sekolahnya memberikan kesempatan untuk melanjutkan studi ke luar negeri untuk memperdalam ilmunya. Dasar Ucrit yang mungkin sudah bosan dengan gadis lokal, diterimalah tawaran itu meski dengan konsekuensi meninggalkan kampung untuk waktu yang lumayan lama. Waktu itu pikirannya pendek.

“Lumayan kawan, jalan-jalan sekalian icip-icip gadis betambut pirang,” katanya waktu itu.

Jadilah selepas Ucrit lulus jadi mantri berangkatlah dia ke Eropa meninggalkan kampung halaman tercinta. Dari ceritanya lewat dunia maya, sekarang di sana dia lumayan sukses. Risetnya lancar dan kerja sambilannya juga menguntungkan. Setidaknya tiap dua bulan Ucrit selalu mengunggah foto-foto wisatanya ke berbagai belahan Eropa. Kadang saya iri, tapi mencoba untuk mensyukuri.

“Ya sudah, Mamak tinggal dulu ke dalam,” kata Mamak meninggalkan kami berdua dengan minuman dan camilan lebaran yang melimpah ruah.

“Kawan, ke depan yuk. Nongkrong di pos ronda. Cari angin,” Ucrit mengajak saya ke pos ronda yang ada di sebrang rumahnya, di bawah pohon mangga.

Ucrit mengambil nafas panjang.

“Kawan, saya sedih,” kata Ucrit.
“Sedih kenapa? Sekarang kamu sudah sukses, sebentar lagi dapat gelar master. Masalah pekerjaan? Kan kamu sudah sukses di sana Crit. Kalau toh harus pulang ke kampung jangan khawatir, lulusan master dari Eropa seperti kamu bakal banyak peminatnya. Dibayar mahal pula,” kata saya.
“Bukan itu kawan,” sambung Ucrit murung.
“Masalah gadis? Kamu ada masalah gadis? Mustahil. Tidak mungkin. Di sana kan banyak gadis-gadis bule yang doyan lelaki Asia. Katanya lelaki Asia romantis dan eksotis. Ah mana mungkun seorang Ucrit, playboy cap kuda lumping kesandung masalah perempuan? Pacar kamu pasti banyak kan di sana? Atau jangan-jangan kamu sudah beranak cucu?” saya bertanya menyelidik.
“Bukan itu juga kawan,” kata Ucrit lagi.

Ucrit menghela nafas panjang lagi. Wajahnya murung. Ucrit terdiam, saya pun jadi ikut diam. Tidak biasanya Ucrit yang pembawaannya ceria menjadi pemurung.

“Mamak saya kawan,” kata Ucrit memecah kesunyian.
“Kenapa dengan Mamak Crit?” saya bertanya kebingungan.
“Mamak pengen masuk Panti Jompo,” kata Ucrit dengan mata berkaca-kaca. Matanya menerawang jauh.

Saya kaget. “Kenapa?”

Ucrit kemudian cerita tentang Mamaknya yang sekarang tinggal sendiri di rumahnya. Meskipun kedua kakanya, Usro dan Meilan sering menjenguk Mamak namun ada sesuatu yang dirasa Mamak berbeda. Keduanya hanya berkunjung sebentar, menanyakan kabar Mamak, menanyakan kebutuhan dan keinginan Mamak kemudian memenuhi apa yang diinginkan Mamak. Saat Mamak bilang pengen mengenang masa-masa nostalgia di Kota Besar tempat dulu Mamak dan bapak Ucrit pacaran, dibelikanlah tiket ke Kota Besar kelas eksekutif lengkap dengan akomodasi hotel bintang empat oleh Usro. Tidak lupa orang kepercayaan Usro didaulat menemani Mamak kemanapun Mamak pergi sekaligus memenuhi semua keinginannya. Dengan jabatan Usro yang cukup tinggi di kantornya tidak sulit untuk memberikan kemewahan itu pada Mamak.

Saat Mamak ingin makan di warung pecel di kampung sebelah, dipesankanlah pecel dengan porsi besar. Lengkap dengan lauk pauk yang tersedia di warung tersebut. Semuanya tanpa terkecuali. Bahkan sampai minuman juga dipesankan dan diantar sampai rumah.

“Mamak bilang begitu sama saya kawan. ‘Mamak pengen tinggal di panti jompo.’ Iya saya tau Mamak tidak pernah kekurangan suatu apapun. Uang pensiun bapak lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belum lagi Usro dan Meilan yang selalu memenuhi apa keinginan dan kebutuhan Mamak tidak kurang suatu apapun. Dari segi materi Mamak tidak kekurangan tapi di luar itu Mamak kesepian. Mamak butuh teman ngobrol, terlebih semenjak bapak meninggal. Sayangnya Usro dan Meilan menilai kebahagiaan Mamak cukup sebatas materi,” kata Ucrit.

“Saat Mamak bilang pengen mengenang masa nostalgia di Kota Besar, Mamak sebenarnya cuma ingin berkumpul jalan-jalan sebentar dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Tidak usah jauh-jauh, sekadar ke supermarket membeli kebutuhan sehari-hari juga cukup. Semenjak bapak tidak ada Mamak kan memang tidak pernah mau keluar rumah sendiri untuk alasan bersenang-senang. Kalau ke luar paling ke pasar atau ikut pengajian. Begitu pula saat Mamak ingin makan warung pecel di kampung sebelah. Mamak cuma pengen makan bareng keluarga besarnya sambil mengobrol ringan tentang keluarga. Bahkan mungkin obrolannya jauh lebih penting dari sekadar makan. Tapi yah..,” lanjut Ucrit.

“Mamak bilang tidak akan menyalahkan kami kalau Mamak nantinya tinggal di panti jompo karena ini semua murni kemauan mamak,” tambah Ucrit.

Ucrit kemudian menjelaskan keinginan Mamaknya yang ingin tinggal di panti jompo bukan karena Mamaknya kurang kasih sayang. Mamaknya justru tidak ingin merepotkan anaknya dengan pemberian-pemberian mereka yang berlebihan. Mamaknya masih bisa hidup mandiri. Bagi Mamak, Usro, Meilan dan Ucrit tetap anak-anaknya yang manja. Mamaknya cuma membutuhkan teman untuk berbagi cerita dan berkeluh kesah. Mamak merasa di panti jompo banyak teman senasib yang bisa diajak bercengkrama tanpa merepotkan sanak saudara sementara anak-anaknya mulai sibuk dengan keluarga dan pekerjaan masing-masing.

“Dulu saya masih bisa menemani Mamak ke pasar sekalian minta dibelikan kue pukis – dan Mamak pasti membelikan banyak jajan pasar yang banyak, mendengarkan Mamak cerita tentang masa indahnya bersama bapak, tertawa bersama saat mengingat masa-masa kecil anak-anaknya yang nakal. Tapi sekarang semua hal yang sepele itu menjadi begitu mahal kawan. Kalau mau, saya ajak Mamak ke Eropa biar tinggal sama saya. Tapi Mamak tidak mau meninggalkan kenangan bersama bapak di kampung kawan. Semakin dipaksa semakin enggan Mamak meninggalkan rumah,” Ucrit tersenyum getir. Matanya sembab. Giginya gemertak seakan menahan marah yang begitu tak termaafkan.

Segera dihapus air yang mulai membasahi sudut matanya ketika Mamak memanggil kami untuk makan bersama. Bukan nasi goreng warisan keluarga mamak memang, tapi lontong opor ayam yang juga jempolan.

“Iya mak! Sebentar kami ke sana.”

Saya turut tersenyum menikmati kebersamaan Ucrit dan Mamak yang cuma berlangsung beberapa hari.

Hari ini Ucrit kembali ke Eropa, menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Semoga Ucrit lekas kembali.

Advertisements

Comments»

1. neng - September 3, 2012

hay mas ucrit,
butuh pundak? 🙂

bilang mamak, aku mau jadi temen ngorolnya mamak 🙂
nemenin mamak jalan2 ke pasar
maen masak2an, coba resep kue ini itu 🙂

Nanti saya bilangin 🙂

2. sangprabo - September 4, 2012

Seandainya kamu jadi Ucrit, apa yang kamu lakukan, W?

Saya kabur dan tidak menjawab pertanyaan ini 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: