jump to navigation

Menunggu Aliranmu October 8, 2012

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
Tags: , ,
trackback

Ketika menandatangani surat perjanjian kontrak kerja dengan salah satu perusahaan swasta, saya tidak membayangkan akan ditempatkan di lokasi yang bisa dikatakan cukup terpencil. Meskipun tidak seterpencil daerah perbatasan yang aksesnya sangat sulit, namun lokasi yang saya tinggali berada sekitar satu jam dari kota terdekat, Sangatta, yang lebih cocok disebut kota kecamatan di Pulau Jawa. Akses jalan yang dilalui masih berupa jalan tanah merah dengan kanan kiri berupa jurang dan hutan tanpa penduduk. Penerangan jalan? Nihil.

Tentunya setelah lebih dari 20 tahun tinggal di salah satu kota besar di Pulau Jawa, tinggal di Desa Sangkima, Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur bisa dikatakan suatu kemunduran. Bagaimana tidak? Di Sangkima tidak ada pusat perbelanjaan berlabel -mart yang masif menyerbu penjuru Indonesia. Hanya pasar tradisional dan toko kelontong yang memasok kebutuhan sehari-hari. Jangan pula bayangkan ada restoran fast food yang merajai kawasan perkotaan besar, di Sangkima hanya ada beberapa warung makan yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari yang menyediakan menu seadanya. Padahal dengan adanya perusahaan swasta tempat saya bekerja dan jumlah penduduk yang lebih dari 400 KK semestinya pemerintah memperhatikan infrastruktur di kawasan ini. Belum lagi adanya potensi wisata kawasan Pantai Teluk Lombok dengan pasir putihnya yang cukup terkenal di Kutai Timur semestinya menjadi nilai tambah bagi pembangunan daerah Sangkima.

Dan yang membuat lokasi ini semakin terpencil dan terisolir adalah tidak adanya jaringan listrik PLN. Listrik di Sangkima semata-mata bergantung pada genset yang dimiliki bersama-sama oleh kelompok tertentu, biasanya per-RT atau per kampung. Efek dari penggunaan genset tentu saja bahan bakar, solar yang mesti ditebus tiap malam untuk menerangi kampung. Itupun terbatas untuk aliran listrik dari jam enam sore sampai enam pagi. Listrik yang dihasilkan juga naik-turun voltasenya, berakibat langsung pada peralatan listrik yang mesti dikorbankan jika ingin merasakan kenyamanan. Listrik mati sehari dua kali, itu istimewa. Semalam mati listrik dua kali saja itu sudah hebat karena jika dalam jam sinetron tayang di televisi, kelebihan beban menjadi suatu rutinitas yang tidak bisa dihindari. Belum termasuk jika ada kerusakan genset ataupun kelangkaan solar, biaya yang dikeluarkan bisa meningkat dan aliran listrik sudah pasti tersendat. Biaya yang dikeluarkan untuk kemewahan semu ini? Dua ratus lima puluh ribu rupiah per bulan!

Konon kabarnya Kalimantan Timur merupakan salah satu lumbung energi di Pulau Kalimantan seperti halnya Sumatera Selatan di Pulau Sumatera. Namun kenyataannya? Provinsi ini masih layak mendapat cap “ayam mati dalam lumbung”. Sangatta yang terkenal akan Kaltim Prima Coal – penghasil batu bara yang cukup besar di Indonesia – hanya menikmati ampas dan sisa dari lahan bisnis pengusaha tambang. Listrik yang tidak sampai ke pemukiman pedalaman Sangkima dan bahan bakar minyak – utamanya solar non subsidi untuk kebutuhan genset – yang tidak bisa diprediksi ketersediaannya seakan menasbihkan Sangatta sebagai kota cap “ayam mati dalam lumbung” mewarisi citra Kalimantan Timur sebagai provinsi cap “ayam mati dalam lumbung”.

Sempat terhembus angin surga bahwa dalam waktu dekat jaringan listrik PLN akan menembus kawasan ini seperti halnya jaringan telepon dari perusahaan telekomunikasi negara yang sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Namun, nampaknya wacana yang berhembus bak angin surga sejak setahun silam ini masih dalam taraf wacana dan belum dikembangkan hingga kini meskipun jarak antara Sangkima dengan Jalan Poros Bontang-Sangatta yang menjadi akses utama ke Sangatta dan Sangkima hanya sekitar delapan kilometer. Harapan sistem interkoneksi yang saat ini sudah terbangun hingga Kota Bontang terhambat oleh ijin pembebasan lahan Taman Nasional Kutai.

Pun dengan rencana proyek gas metana batubara (coal bed methane/CBM) di West Sangatta I di Kalimantan Timur yang diprediksi bisa memproduksi listrik sebesar 1,5 megawatt (MW) pada tahun ini tidak jelas juga karena terhambat ijin pemerintah dan aturan larangan penjualan listrik ke PLN.

Dengan adanya jaringan listrik PLN yang masuk ke Desa Sangkima tentunya akan berdampak positif pada pemberdayaan warga yang saat ini tengah mengembangkan krupuk kepiting dan cumi-cumi yang sangat diminati masyarakat. Di samping itu, keberadaan jaringan listrik PLN juga akan mewujudkan tujuan nasional untuk memberikan kesejahteraan yang merata pada masyarakat. Warga berharap apabila memang jaringan listrik PLN dari interkoneksi di Bontang tidak bisa sampai ke Sangkima, kiranya ide-ide brilian dari Bos PLN terdahulu, yakni Dahlan Iskan yang akan membangun PLTGB (Pembangkit Listrik Tenaga Gas Batu Bara) di Buol atau rencana mini LNG di Lombok bisa terwujud di Sangkima dengan alternatif yang tidak memberatkan semua pihak.

Advertisements

Comments»

1. trihans - October 8, 2012

kangen tulisanmu mas gembus… semoga Listrik murah untuk seluruh Rakyat Indonesia segerta terealisasi……

Wah sekarang tulisan saya menyebar, mulai dari blog ini, blog sebelah, buletin kantor.. Nanti saya mau banting stir jadi wartawan saja kayaknya 😀

2. zoro - October 11, 2012

Ternyata memang pembangunan di negri ini lemot juga ya, kota tempat berlabuhnya perusahaan2 besar minyak dan gas macam Sangatta kok ya masih saja minim penerangan. Huft, mau dibawa kemana Endonesia ini ni kalo kayak gini… Sudah semestinya PLN mampu memberikan solusi yang solutif atas masalah yang diurai artikel di atas. Tentu saja ini juga tujuan dari diadaknnya lomba blog ini kan? Dari sini setidaknya PLN mampu untuk menampung masukan dan tentu saja mengatasi keluhan masyarakat, macam artikel ini. Smg PLN bisa menjadi perusahaan yg bonafit dan mampu melayani masyarakat dgn seyogyanya. Sip, artikel yang informatif dan inspiratif.

Sepertinya selama ini PLN melihat keberhasilan terbatas pada aspek-aspek tertentu, misal penerangan di kota kabupaten atau malah penerangan di kota terluar. Sementara untuk daerah-daerah yang “nanggung” seperti Sangkima ini kurang mendapat perhatian.

Semoga ke depannya ada solusi untuk permasalahan ini meningat di Sangkima di samping lokasinya agak terpencil juga terkendala pada pembebasan lahan Taman Nasional Kutai.

3. neng - October 13, 2012

Mengenai PLTGB, si Bapak Superhero Listrik Sementara yang kini menjadi eyang buyutmu itu, pernah berkata mengenai alasan kegagalannya untuk merealisasikan project tersebut, antara lain dan tak bukan karena batu bara kita sudah di kontrak, di charter atau di booking oleh asing hingga beberapa tahun mendatang. sehingga “No Way For Indonesia”

Lalu kemudian Si Bapa yang dulunya terkenal sebagai wartawan anti PLN ini, dengan segudang tulisan-tulisan bernada kritik keras atas PLN dan mati lampunya, PLN dan infrastrukturnya, konon pernah melihat celah dari seorang pengusaha asal kalimantan yang memiliki batu bara yang cukup untuk memenuhi project tersebut, namun si pengusaha yang konon katanya betina kaya ini memasang harga jual tinggi untuk batu bara yang dimilikinya, dengan alasan “pihak asing sudah berani menawar dengan harga tinggi, jadi ya kalau mau beli dengan harga yang sama atau lebih tinggi dari harga yang ditawarkan asing, silahkan borong batu bara saya”
Kemudian si Bapa yang pernah menjalani operasi transparansi eh transplantasi hati, (apalah namanya itu, susah sekali mengejanya) mengurungkan niatnya mengingat, menimbang uang saku yang di jatahi endonesa untuk project tersebut jauh dari mencukupi.

Oh Dunia, kalau saya jadi si bapak, berkatalah saya pada si betina kaya, “apakah yang ada di dalam otak anda itu, sepertinya tak lain dan tak bukan: otak kanan dihuni oleh materi dan otak kiri dihuni oleh kekayaan, sehingga otak anda seimbang matrelialistisnya.
Mungkin rumah si betina “terang sendiri” kanan kiri, atas bawah, depan belakang gelap semua.

Kalau saya penulis, saya akan menuliskan harapan saya kepada Perusahaan Listrik Negara, supaya banyak-banyak bersodaqoh pelita kepada pelosok-pelosok rumah anak-anak yang kalau malam hari belajar menggunakan lampu minyak,

Coba itu adakan lomba gambar tower PLN atau Lomba Puisi tentang PLN, terus iming-imingi hadiah “listrik geratis untuk rumah selama menjalani masa pendidikan wajib” pasti
anak-anak yang maju kedepan adalah anak-anak pelosok yang sejatinya memiliki potensi yang kalau ditaksir “keberhargaannya” bisa melebihi harga batu bara milik betina kaya.

Tapi sayang saya bukan penulis, dan saya malas banyak berkomentar.

Bagi saya to be silent is the biggest art in a conversation

Kalau urusannya sudah sama politik memang lebih baik diam karena banyak permainan di dalamnya. Kita cuma bisa sekadar memberikan saran dan kritik yang entah kapan mendapat tanggapan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: