jump to navigation

Media dan Bahasa October 13, 2012

Posted by superwid in Bukan Saya.
Tags: , , ,
trackback

Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan Bulan Bahasa dan Sastra 2012

Pemakaian bahasa yang tepat dalam media massa adalah guru yang paling berpengaruh dan akan memiliki dampak yang positif dalam pemakaian bahasa masyarakat. Sebaliknya, jika bahasa dalam media massa kacau, akan memberikan pengaruh yang negatif, terutama bagi mereka yang tidak tahu akan kaidah bahasa.
Kiki Zakiah Nur, S.S.

Media memainkan peranan penting pada masa sekarang ini. Dalam era globalisasi dimana informasi berputar dengan sangat cepat dan bebas, media memiliki pengaruh yang sangat besar dalam merubah tatanan dan pola pikir masyarakat. Biasanya apa yang menjadi tren di satu komunitas atau daerah kemudian melalui media menyebar dengan cepat sehingga menjadi tren di komunitas atau daerah yang lebih luas. Inilah yang sering disebut dengan budaya popuper – yang sering disingkat dengan budaya pop. Jika diibaratkan budaya pop sebagai Tuhan maka media menjadi kitab suci sekaligus nabi yang membawa berbagai macam nilai-nilai yang masuk ke dalam kehidupan masyarakat.

Media memiliki berbagai macam bentuk dalam kesehariannya. Saat ini mungkin media yang paling berpengaruh dalam penyebaran budaya pop adalah media televisi dan media internet. Media televisi melalui berbagai tayangannya, seperti sinema elektronik dan tayangan musik, menyasar golongan menengah ke bawah sedangkan media internet melalui Facebook dan Twitter mengambil pasar menengah ke atas; meskipun kini kenyataannya masyarakat berbagai golongan mulai ‘melek internet’. Media televisi yang dimiliki seluruh lapisan masyarakat kini mulai tersaingi oleh media Internet yang cepat mengambil tempat sehingga kduanya sekarang memiliki pengaruh yang luas di masyarakat.

Melalui berbagai media tersebut budaya pop berkembang. Sayangnya budaya pop yang kini berkembang dengan luas di masyarakat Indonesia tidak mencerminkan budaya masyarakat Indonesia itu sendiri. Apa-apa saja yang dianggap unik, lucu, nyleneh kemudian berkembang menjadi suatu topik bahasan yang ramai dibicarakan. Terutama dengan adanya media internet yang bisa diakses oleh banyak orang melalui telepon genggam. Masyarakat cenderung latah untuk mengikuti apa yang banyak dibicarakan. Padahal yang banyak belum tentu benar kan?

Perkembangan budaya pop ini sejalan dengan berkembangnya budaya instan dimana pada akhirnya semua yang unik akan menjadi topik yang hangat dibicarakan tanpa perlu tahu latar belakang topik ini menjadi tren di masyarakat.

Cius dari serius; Miapah dari demi apa (apakah ‘demi apa’ merupakan kalimat baku pula?) merupakan contoh kata yang mungkin unik. Sesuatu yang mungkin dianggap lucu namun disadari atau tidak merubah struktur dan pola pikir masyarakat. Media yang mempopulerkannya? Internet. Melalui Facebook dan Twitter kata-kata yang jamak disebut kata gaul ini beredar. Anak-anak usia remaja bahkan orang dewasa dan profesional muda seakan-akan berlomba untuk ‘memasarkan’ kata-kata gaul seperti ini yang dianggap keren. Bayangkan jika kata-kata itu disampaikan langsung dalam percakapan sehari-hari? Aneh bukan? Namun ini telah menjadi budaya pop yang beredar luas dan sulit untuk dihambat penyebarannya. Bagaimana perasaan J.S. Badudu menyikapi masalah ini ya?

Kata-kata seperti di atas sejatinya timbul karena keterbatasan ruang untuk menulis. Twitter membatasi ruang menulis sepanjang 140 karakter, SMS membatasi sepanjang 160 karakter sehingga penyingkatan kata seakan jadi wajar dilakukan. Kenapa? Agar semua informasi bisa tertampung dalam 140 atau 160 karakter tersebut. Kemudian ditambah dengan kecenderungan masyarakat sekarang yang terlalu sibuk dan enggan untuk mencermati kata per kata karena budaya pop tadi telah mempopulerkan kata-kata singkatan atau kata-kata gaul tersebut. Lagipula kecenderungan masyarakat merasa sudah paham dan menguasai bahasanya sehingga malas untuk sekadar membuka kamus ataupun melakukan studi tata bahasa. Facebook dan blog mempunyai permasalahan yang sama ketika budaya instan menginginkan segala yang singkat dan instan justru menjadi topik yang menarik dan informatif.

Selanjutnya pengunaan kata ganti orang pertama “gue” dan kata ganti orang kedua “lu” yang kini banyak digunakan oleh berbagai pihak. Menjadi sesuatu yang aneh saat ini ketika percakapan dalam Bahasa Indonesia mayoritas menggunakan kata “gue” dan “lu”. Untuk kasus ini televisi memainkan peranan penting dalam penyebarannya. Televisi, utamanya melalui sinema elektronik, sangat intens menggunakan kedua kosakata ini. Hampir semua sinetron dalam jam tayang utama menggunakan kedua kata ini dalam naskahnya. Dua kata yang masif beredar di masyarakat metropolis ini menjadi budaya pop yang mempengaruhi masyarakat Indonesia. Miris juga ketika anak-anak di daerah yang seharusnya memakai “aku-kamu” dalam percakapan Bahasa Indonesia atau “ikam-ulun” dalam percakapan bahasa daerah justru menggunakan kata “gue-lu” dengan cengkok bahasa daerahnya dalam percakapan sehari-hari. Seakan-akan gaya bahasa “Jakarta” dianggap seksi dan keren.

Belum lagi bahasa prokem yang sempat populer digunakan dalam pergaulan anak muda Jakarta pada era tahun 80-an hingga awal 90-an atau bahasa gaul ala Debby Sahertian yang mengacak-acak tatanan Bahasa Indonesia. Kemudian bahasa gaul tulisan yang kerap disebut ‘bahasa alay’ yang sering menimbulkan salah paham dalam penafsirannya. Ditambah dengan (maaf) bahasa banci yang cukup sering digunakan dalam percakapan sehari-hari entah dengan alasan lucu, unik atau memang identitas diri.

Saya sendiri risih membaca linimasa jejaring sosial Facebook yang entah bahasa, tanda baca atau penggunaan hurufnya kurang sesuai. Apalagi menggunakan kata-kata yang merusak tatanan bahasa, entah itu Bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah yang baik dan benar. Belum lagi di linimasa Twitter yang dibatasi karakternya. Media telah menjadi mesin pembunuh tatanan bahasa yang baku.

Padahal selayaknya media membantu dalam menjaga dan mengembangkan bahasa sesuau dengan kaidah yang ada.

Tapi kembali lagi kepada pepatah lama.

Pisau tidak punya tendensi benar atau salah, tapi penggunanya yang mempunyai kepentingan. Media hanya alat, manusia sebagai pelaku semestinya lebih bijak dalam menggunakan alat ini.

Memang bahasa selalu berkembang, menerima masukan dan tambahan dari bahasa lain. Dan melalui media seharusnya kita bisa menambah kosakata dan kekayaan Bahasa Indonesia sesuai dengan tatanan bahasa dengan memperhatikan masalah bahasa sebagai sarana pertukaran informasi yang efektif dan efisien.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: