jump to navigation

Sekadar ‘Sekedar’ October 17, 2012

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
Tags: , , , ,
trackback

Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan Bulan Bahasa dan Sastra 2012

Semasa masih sekolah saya pernah mendapat tugas pelajaran Bahasa Indonesia untuk membuat esai. Berhubung saya kurang mahir dalam memuat esai maka saya meminta seorang kawan untuk membaca esai saya dan memberikan koreksi apabila ada kata, kalimat dan paragraf yang kurang sesuai. Tentu saja kawan saya itu tidak memberikan jasanya secara cuma-cuma. Sebagai imbalannya, saya juga diminta untuk memberikan koreksi atas esainya.

Berselang sehari, kami bertemu kembali untuk mendiskusikan esai kami masing-masing. Tentu saja esai yang saya buat kembali dengan banyak coretan yang menandakan banyak kesalahan yang saya lakukan dan harus segera diperbaiki. Mulai dari paragraf yang tidak terkait satu sama lain, pemilihan kata yang kurang tepat hingga susunan kalimat yang acak-acakan. Maklum saja, saya kan bukan tipikal orang yang bisa menyampaikan pendapat dalam bentuk esai yang baik dan menarik.

Setelah esai saya dikoreksi habis-habisan, giliran saya memberikan koreksi atas esainya. Esai yang dibuat kawan saya itu sungguh menarik, pemilihan kata dan rangkaian kalimatnya begitu mengalir menyusun sebuah esai yang runtut dan lugas. Pokoknya esai sekelas kolom di halaman surat kabar. Namun ada satu koreksi yang saya berikan: penggunaan kata ‘sekedar’.

“Kawan, kalau tidak salah kata ‘sekedar’ itu tidak baku, yang baku adalah ‘sekadar’,” saya memberikan koreksi pada esai kawan saya.
“Memangnya begitu? Ah itu tidak mungkin. Saya sering membaca tulisan dan artikel, semuanya menggunakan kata ‘sekedar’ bukan ‘sekadar’,” sang kawan membela diri.
“Yakin? Kata ‘sekedar’ dan ‘sekadar’ bedanya tipis lho. Banyak orang yang membaca kata ini sepintas lalu,” saya berargumen.
“Ah cuma sekadar ‘sekedar’, bukan masalah yang penting,” kata sang kawan.

Saya menjelaskan mengenai penggunaan kata ‘sekadar’ yang berasal dari kata ‘kadar’ yang jika dicari dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki berbagai macam arti sesuai dengan konteks kalimatnya . Kata ‘kadar’ mendapatkan imbuhan se- kemudian menjadi sekadar juga memiliki berbagai macam arti sesuai dengan penggunaannya dalam kalimat. Kemudian saya membandingkan dengan kata ‘sekedar’ yang tidak mempunyai arti. Bahkan jika imbuhan se- dihilangkan dan menjadi kata ‘kedar’ tetap tidak ada artinya.

Saat itu saya merasa jago sekali dalam berbahasa.

“Ah tidak perlu dipikirkan. Ini kan sekadar ‘sekedar’. Pak Guru pasti juga tidak begitu memperhatikan. Hanya orang-orang iseng saja yang memperhatikan,” kata sang kawan mengakhiri diskusi kami.

Sangat miris saat mendengar kesalahan sederhana seperti ini ditanggapi sebagai suatu kesalahan yang bisa dimaklumi. Permasalahannya bukan sekadar ‘sekedar’, tetapi sampai sejauh mana kita mau untuk belajar dan mencari tahu. Mungkin benar adanya bahwa masyarakat Indonesia sudah merasa paham mengenai bahasanya sehingga kurang memiliki perhatian untuk menjaga Bahasa Indonesia.

Sebenarnya banyak sekali kosakata dalam Bahasa Indonesia yang salah kaprah namun masih diterapkan secara luas. Contohnya di samping kata ‘sekedar’ tadi adalah kata ‘silahkan’. Kata ‘silahkan bukan merupakan kata baku, yang tepat adalah ‘silakan’ berasal dari kata ‘sila’ yang berarti ‘sudilah kiranya (kata perintah yg halus)’. Coba kita tanya pada diri kita masing-masing, apakah kita masih sering menggunakan kata-kata yang tidak baku ini.

Ditambah lagi dengan banyaknya kesalahan dalam membedakan penulisan ‘di-‘ sebagai imbuhan yang semestinya disambung dan ‘di’ yang menunjukkan tempat yang semestinya dipisah. Hal ini sudah menjadi ‘kesalahan yang dimaklumi’ dalam bahasa tulis.

Jangan sampai kita membenarkan yang biasa. Kita semestinya membiasakan yang benar agar tidak ada lagi kalimat:

“Ah, sekadar ‘sekedar’.”

Advertisements

Comments»

1. zoro - October 18, 2012

saya suka tulisan ini, ringan tapi membimbing….

Terima kasih 🙂

2. Azriza - October 24, 2012

Memang kita sering membenarkan hal yang (sudah dianggap) biasa. Tugas kita sekarang adalah membiasakan hal yang benar, walaupun pasti banyak tantangannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: