jump to navigation

Cinta Indonesia, Cintai Bahasanya October 18, 2012

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
Tags: , , , ,
trackback

Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan Bulan Bahasa dan Sastra 2012

Bahasa merupakan rangkaian kata-kata yang menunjukkan identitas dan jati diri sebuah bangsa. Tanpa bahasa, suatu negara tak akan menjadi istimewa karena kehilangan ciri khasnya. Bahasa di samping berperan sebagai alat komunikasi juga menunjukkan tinggi rendahnya identitas dan karakter seseorang. Kualitas komunikasinya juga tercermin dari bahasa yang digunakan.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang kaya, berakar dari Bahasa Melayu-Riau yang disempurnakan menjadi bahasa yang lebih halus. Berasal dari sebuah bahasa Austronesia dari cabang bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi yang digunakan sejak abad-abad awal penanggalan modern, Bahasa Indonesia tumbuh dan besar sejalan dengan perkembangan budaya kerajaan di Nusantara. Dimulai dari Kerajaan Sriwijaya kemudian Kesultanan Melaka, Bahasa Melayu yang banyak digunakan di kerajaan tersebut merupakan cikal bakal Bahasa Indonesia terbentuk. Ditambah dengan keterbukaan Bahasa Indonesia dalam menyerap dan mengadaptasi beberapa bahasa asing seperti Bahasa Belanda, Bahasa Arab, Bahasa Cina dan lain sebagainya menjadikan Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang kaya. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang hidup dan berkembang menghasilkan kata-kata baru.

Di samping terbuka terhadap bahasa asing, sebenarnya banyak unsur-unsur puitis yang memang dari dulunya melekat dalam Bahasa Indonesia. André Möller, Penyusun Kamus Swedia-Indonesia, mengamini pernyataan ini. Dalam kajiannya André mengambil contoh ‘matahari’ yang dianalogikan sebagai ‘matanya langit’, sebuah jasad besar di langit yang mencerahkan kehidupan kita. Kemudian André juga mengambil contoh ‘kaki langit’ untuk menjelaskan horizon. Kaki langit ini diibaratkan sebagai kaki-kaki yang berada jauh di sana yang menerima beban dari langit yang tidak ada batasnya.

Ada juga kata yang berdiri sendiri yang tak kalah puitisnya. ‘Saujana’ yang memiliki arti sejauh mata memandang. Begitu pula dengan romansa. Masuk dalam kategori ini juga ‘diamankan’ untuk menggantikan kata ‘ditahan’ atau ‘ditangkap.. Begitu indahnya Bahasa Indonesia yang jarang dieksplorasi saat ini.

Meskipun saat ini Bahasa Indonesia dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa Ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu yang sering digunakan dalan percakapan sehari-hari dengan sesama warga daerahnya. Namun ketika sampai ke lingkup masyarakat nasional, Bahasa Indonesia lah yang digunakan luas. Di perguruan, sekolah, media massa, sastra, surat menyurat resmi, dan berbagai forum dalam skala nasional, Bahasa Indoesia tidak tergantikan.

Sangat disayangkan ketika Bahasa Indonesia mulai tergusur oleh berbagai macam bahasa lain yang kini mulai menyeruak masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam dunia yang semakin terbuka dan kehilangan batas-batasnya, berbagai macam budaya berinteraksi satu sama lain dimana budaya yang terkuatlah yang akan memang dan bertahan. Seperti salah satu mitos yang dikatakan Charles Darwin: “Hanya yang terkuat yang bisa bertahan”, seperti itulah bahasa di dunia ini. Banyak bahasa daerah yang punah dikarenakan penuturnya yang semakin berkurang sehingga lambat laun bahasa ini mulai terlupakan.

Tercatat sudah 700 bahasa daerah di Indonesia yang punah. Akibatnya daerah yang kehilangan bahasanya ini otomatis akan kehilangan identitas dan karakter unik kesukuannya.

Bahasa Indonesia nampaknya mulai mengalami fenomena ini ketika banyak generasi muda, utamanya remaja yang mulai menganggap Bahasa Indonesia bukanlah sesuatu yang penting untuk dipelajari. Memang realitanya untuk menuju ke arah kepunahan ini masih jauh mengingat masih banyak penutur Bahasa Indonesia namun sudah mulai timbul gejala-gejalanya.

Banyak orangtua yang sejak kecil mengajarkan kepada anaknya untuk berbahasa asing dengan alasan untuk kemudahan mendapatkan pendidikan atau pekerjaan nantinya. Anak remaja menggunakan bahasa gaul dan bahasa prokem dalam kesehariannya. Profesional muda mencampuradukkan penggunaan Bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam berbagai aktivitasnya. Fonologi dan tata Bahasa Indonesia yang dianggap mudah karena berbagai kelebihannya seperti tidak adanya tenses (perubahan bentuk karena waktu) dan gender serta pembentukan katanya yang sederhana membuat banyak warga Indonesia yang apatis dan enggan untuk berpartisipai dalam mengembangkan Bahasa Indonesia. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk memperbanyak sumber rujukan juga menjadi masalah mendasar dalam berbahasa. Disadari atau tidak dari hal-hal kecil seperti ini Bahasa Indonesia nantinya bisa termarginalkan, menjadi asing di negara sendiri untuk kemudian lama-kelamaan mulai tergantikan oleh bahasa asing yang sejatinya tidak mencerminkan budaya Indonesia.

Bahasa Indonesia sedang mengalami masa kritisnya.

Bahasa Indonesia diakui resmi sebagai bahasa persatuan sebagaimana dulu diakui dalam Sumpah Pemuda tahun 1928. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan merupakan identitas, ciri khas yang tidak mungkin tergantikan dalam mengawal persatuan Indonesia. Bersama identitas negara lainnya seperti bendera dan lambang negara, Bahasa Indonesia merupakan tali pengikat ribuan pulau yang tersebar luas dari Sabang sampai Merauke. Bahasa Indonesia adalah wadah besar yang menampung berbagai bahasa suku dan ragam dialeknya ke dalam satu kesatuan yang sama rata.

Bisa dibayangkan nanti apabila Indonesia sudah kehilangan bahasanya sehingga harus menggunakan bahasa asing untuk berkomunikasi dalam skala nasional? Bagaimana masing-masing warga harus belajar bahasa baru lagi yang tidak memiliki akar budaya bahasa nasional? Bagaimana generasi mendatang kehilangan identitas dan jati dirinya?

Sudah selayaknya kita semua, entah itu kaum muda atau kaum tua, harus mencintai dan melestarikan Bahasa Indonesia dengan jalan menggunakannya secara baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya agar Bahasa Indonesia selalu terjaga, tumbuh dan berkembang dalam dunia yang semakin luas tanpa batas.

Cinta Indonesia, cintai bahasanya, jangan malu berbahasa Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: