jump to navigation

Sastra Nada October 19, 2012

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
Tags: , , , , , ,
trackback

Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan Bulan Bahasa dan Sastra 2012

Di Indonesia jenis-jenis karya sastra dipilah menjadi beberapa bentuk. Menurut Jakob Sumardjo dan Saini K.M, karya sastra terbagi atas sastra non-imajinatif dan sastra imajinatif. Sastra imajinatif sendiri terbagi atas beberapa bentuk lagi, yakni esai, kritik, biografi, otobiografi, sejarah, memoar, catatan harian, dan surat-surat. Sedangkan karya imajinatif terdiri atas puisi, cerita pendek, dan novel.

Sementara A. Teeuw membagi karya sastra menjadi dua bagian, yaitu karya sastra tulisan dan karya sastra lisan. Karta sastra tulisan adalah segala sesuatu yang tertulis dan tercetak, sedangkan sastra lisan adalah ketika sastra tulisan tersebut disampaikan melalui komunikasi secara langsung dengan berbicara.

Ada juga yang membagi karya sastra di Indonesia menjadi tiga bagian, yaitu drama (termasuk naskahnya), prosa dan puisi. Prosa sendiri terbagi menjadi beberapa jenis yang di dalamnya termasuk novel, esai, cerita pendek, dan roman. Sementara puisi merujuk pada karya sastra yang berisi pesan yang memiliki arti yang luas yang mencakup sajak, pantun, dan balada.

Terlepas dari pembagian jenis karya sastra oleh beberapa pihak, ada satu hal yang agak sulit dimengerti ketika lagu tidak dimasukkan ke dalam karya sastra.

Lagu merupakan gubahan seni nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal (biasanya diiringi dengan alat musik) untuk menghasilkan gubahan musik yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan (mengandung irama). Lagu memiliki dua komponen dasar, yakni musik dan syair. Musik merepresentasikan bahasa, sedangkan syair mewakili sastra. Jadi sudah selayaknya lagu masuk ke dalam karya sastra meskipun sebenarnya hanya diwakilkan pada syair lagunya.

Lagu merupakan bentuk karya sastra yang diterima banyak pihak. Mungkin banyak orang yang enggan untuk membaca novel, menonton drama atau memahami puisi. Namun hampir sebagian besar orang pasti mendengarkan lagu tanpa mengenal latar belakang pendidikan, gender, umur atau suku. Bahkan tidak cuma banyak dinikmati, banyak orang yang mampu menciptakan lagu: syair dan musiknya.

Sayangnya seperti permasalahan bahasa pada umumnya, lagu telah menjadi bentuk karya sastra yang tergerus oleh perkembangan zaman. Dari segi musik, memang tidak banyak yang bisa dikombinasikan dari tujuh tangga nada sehingga banyak musik yang itu-itu saja. Mirip satu sama lain. Namun dari segi syair, sebenarnya banyak yang bisa digali. Banyak yang bisa dipelajari dan dieksplorasi untuk menghasilkan karya yang beragam dan tentu saja puitis. Karya sastra seharusnya puitis bukan? Minimal memiliki makna yang tersirat atau tersurat yang memberikan pelajaran dan pengalaman bagi penikmatnya.

Ironis ketika saat ini banyak lagu-lagu yang hilir mudik di belantika musik Indonesia tidak memberikan efek positif kepada pendengarnya. Padahal dulu lagu sempat menjadi alat pemersatu bangsa. Salah satu yang populer, tentu saja lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ yang pertama kali dikumandangkan oleh komponisnya, Wage Rudolf Soepratman, pada tanggal 28 Oktober 1928 pada saat Kongres Pemuda II di Batavia. Namun sayang, kini dengan semakin banyak munculnya grup band ataupun solois tidak dibarengi dengan bobot syair lagu yang dibawakan. Kualitas tidak sebanding dengan kuantitas. Kebanyakan hanya tebar pesona demi mendapatkan popularitas. Peran musik sebagai alat pemersatu bangsa mulai redup dibawah bayang-bayang konsumerisme dunia. Lagu-lagu perjuangan seperti ‘Indonesia Raya’ atau ‘Tanah Airku’ hanya diperdengarkan sebagai lagu pembuka dan penutup siaran televisi saat orang masih atau sudah terlelap sementara lagu-lagu pop tebar pesona diperdengarkan sepanjang hari.

Lagu adalah suatu karya yang universal. Lagu adalah bentuk nasionalisme dan pemersatu bangsa sehingga setiap negara di dunia ini pasti memiliki lagu nasional sebagai wujud identitas, karakter, dan jati diri bangsa.

Di samping lagu ‘Indonesia Raya’ tentunya masih banyak lagi lagu-lagu perjuangan yang membangkitkan semangat nasionalisme, sebut saja ‘Maju Tak Gentar’, ‘Berkibarlah Benderaku’, dan masih banyak lagi. Bahkan lagu ‘Sepasang Mata Bola’ atau ‘Rayuan Pulau Kelapa’ yang musiknya mendayu-dayu pun mampu memberikan sentuhan kebangsaan dan cinta tanah air yang begitu besar. Sedangkan untuk lagu masa kini tercatat ada sedikit yang membawa semangat nasionalis, sebut saja ‘Bendera’ yang dilantunkan Cokelat atau ‘Dari Mata Sang Garuda’ yang dibawakan oleh Pee Wee Gaskins. Sayangnya lagu-lagu seperti ini sekarang jumlahnya tidak banyak.

Sebagai contoh mari kita simak penggalan lagu berikut:

Aku Jodi jomblo ditinggal mati
Jadi pacarku tak rugi
Aku Jodi jomblo ditinggal mati
Pokoknya buy one get one free
Aku Jodi jomblo ditinggal mati
Yang pasti ku setia sampai mati

Coba bandingkan syair lagu di atas dengan syair lagu berikut.

Merah Putih teruslah kau berkibar
di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini
Merah Putih teruslah kau berkibar
di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini
Merah Putih teruslah kau berkibar
ku akan selalu menjagamu

Bagaimana menurut Anda? Keduanya syair lagu yang berarti keduanya karya sastra meskipun dari segi pemilihan kata mungkin belum bisa dikatakan puitis. Mana karya sastra yang menunjukkan mutunya? Mana yang bisa memberikan semangat persatuan?

Bagaimana jika seorang anak SD diperdengarkan kedua lagu tersebut? Bagaimana tanggapannya dan bagaimana konsekuensi logis akibat diperdengarkannya lagu tersebut.

Tidak bisa disalahkan memang sekarang ketika popularitas dan konsumerisme menjadi acuan dalam menghasilkan karya sastra yang harus disesuaikan dengan selera pasar. Akibatnya? Banyak karya sastra yang tidak memberikan suatu nilai positif pada penikmatnya dan lagu menjadi salah satu bukti nyatanya. Tak terhitung berapa banyak lagu yang muncul tiap harinya namun hanya segelintir yang bisa disebut karya sastra berkualitas.

Musik sebagai bahasa yang mudah diterima dan syair lagu sebagai karya sastra yang mudah dicerna semestinya bisa memberikan nilai lebih pada pendengarnya.

Advertisements

Comments»

1. offshore bank - October 22, 2012

Sastra mengandung eksplorasi mengenai kebenaran kemanusiaan. Sastra juga menawarkan berbagai bentuk kisah yang merangsang pembaca untuk berbuat sesuatu. Apalagi pembacanya adalah anak-anak yang fantasinya baru berkembang dan menerima segala macam cerita terlepas dari cerita itu masuk akal atau tidak. Sebagai karya sastra tentulah berusaha menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan, mempertahankan, serta menyebarluaskannya termasuk kepada anak-anak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: