jump to navigation

Kuli Kontrak October 23, 2012

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Di kantor saya ada tiga jenis kuli: kuli tetap, kuli kontrak, dan kuli lepas. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Mari kita mulai penjelasannya dari kuli lepas terlebih dahulu. Kuli lepas tidak mempunyai ikatan kerja jangka panjang dengan pabrik. Kalaupun ada ikatan kerja hanya sepanjang ada proyek yang sedang berjalan. Latar belakang pendidikan, kesehatan, dan kedisiplinan tidak begitu dihiraukan karena jika kuli lepas membuat masalah tinggal diputus kontrak secara sepihak dan berlaku sebaliknya pula. Jika si kuli lepas malas bekerja, bisa kabur seenak udelnya juga. Tapi ingat, alangkah lebih baiknya jika kaburnya setelah mendapat bayaran. Kasihan anak istri dong kalau tidak diberi jatah makan. Tidak ada fasilitas yang didapatkan dan bayarannya juga pas-pasan. Kalau sudah begini, jenjang karir dan masa depan jelas suram.

Kuli yang kedua adalah kuli tetap. Kuli tetap mempunyai ikatan kerja jangka panjang dengan pabrik, biasanya sampai kepala lima atau sampai masa pensiun tiba. Seleksinya lumayan ketat, berlapis-lapis bagaikan kue lupis. Ada syarat pendidikan, kemampuan, dan kesehatan yang harus dipenuhi. Konon kabarnya dulu untuk menjadi kuli tetap tidak begitu sulit asalkan punya kenalan orang dalam. Nepotisme. Namun kini tindakan semacam ini sulit dilakukan karena peraturan dan seleksi yang sangat ketat. Harus menaati peraturan kontrak yang mengikat. Tanggung jawabnya cukup besar. Enaknya, bayaran kuli tetap ini di atas bayaran kuli pasaran. Plus bonus, plus fasilitas, plus pembagian, dan plus plus lain asal tidak macam-macam semisal punya istri simpanan; dijamin hidupnya tidak akan kekurangan. Jenjang karir kuli tetap ini jelas dan masa tuanya dipastikan aman asal itu tadi, tidak punya istri cadangan.

Kuli yang terakhir adalah kuli kontrak. Ini tipikal kuli yang berada di dua alam: antara kuli tetap dan kuli lepas baik dari sisi persyaratan kerja dan fasilitas yang didapatkan. Masuknya tidak susah tapi tidak mudah juga. Syarat menjadi kuli kontrak haruslah putra daerah yang ditunjukkan dengan kepemilikan KTP setempat. Seleksi masuk tidak begitu berat selama memiliki surat wasiat dari lembaga berkedok adat yang harus ditebus dengan berbagai syarat. Ini tidak semuanya, tapi mayoritas mewajibkan memberi upeti dalam jumlah yang telah ditentukan untuk mendapatkan surat wasiat. Inilah jalan pintas yang diambil banyak pihak untuk mendapatkan pekerjaan. Fasilitas yang didapatkan seperti gaji dan jaminan kesehatan lebih baik daripada kuli lepas namun masih di bawah kuli kontrak. Nah tipikal kuli ini jenjang karirnya untung-untungan. Kalau kinerjanya bagus bisa ikut seleksi dan dipromosikan menjadi kuli tetap namun harus sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Kuli kontrak ini yang sekarang jamak disebut dengan tenaga outsourcing.

Ini cerita tentang pabrik saya. Bukan di pabrik lain.

Di pabrik saya, jumlah kuli kontrak lebih dari tiga kali jumlah kuli tetap. Jika kuli kontrak ini mogok kerja bisa dipastikan kerja pabrik berhenti. Bisa dibilang keberadaan kuli kontrak merupakan penggerak utama bisnis pabrik.

Banyak persyaratan untuk menjadi kuli kontrak. Standar orang mencari kerja, mulai dari Surat Kelakuan Baik, Surat Keterangan Sehat, Riwayat Hidup, dan Ijazah. Namun surat wasiat yang dikeluarkan oleh lembaga adat merupakan rekomendasi yang sangat bermanfaat untuk mencari kerja di pabrik. Dengan surat wasiat tersebut, latar belakang pendidikan, pengalaman, keterampilan, kedisiplinan, dan kesehatan bisa dikesampingkan. Orang yang lulusan sekolah kejuruan, punya sertifikat las nasional, pengalaman segudang, dan keterampilan menawan bisa dinomorduakan oleh orang yang mempunyai surat wasiat lembaga adat. Ini lembaga adat atau lembaga penyalur tenaga kerja sebenarnya? Lembaga adat ini seperti memfasilitasi orang dengan tingkat pendidikan dan keterampilan yang kurang untuk mendapatkan jaminan pekerjaan meskipun tidak tetap.

Memang di luar logika tapi itulah kenyataannya. Maklum, pabrik saya berada di pelosok hutan dimana tingkat pendidikan dan keterampilan bisa dibilang kurang. Alhasil untuk mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan yang layak agak susah, apalagi jika mesti bersaing dengan penduduk kota. Jadilah pabrik saya yang mayoritas sahamnya dikuasai kantor alias pemerintah membuka lapangan kerjanya untuk putra daerah sekaligus mendukung program pemerintah untuk memberdayakan warga sekitar.

Bang Paul, personalia di pabrik saya bilang, “Kita tidak keberatan mempunyai kuli kontrak dengan kualifikasi yang kurang selama dia mau belajar dan berusaha untuk jadi lebih baik.”

Namun kenyataannya banyak kuli kontrak yang bekerja semaunya. Jika jam kerja mulai jam delapan pagi hingga lima sore maka kuli kontrak baru masuk jam setengah sembilan pagi, duduk leyeh-leyeh hingga jam sembilan kemudian baru mulai bekerja. Istirahat siang yang seharusnya satu jam mulai pukul 12 siang, dimulai setengah jam lebih cepat dan diakhiri setengah jam lebih lambat. Pulangnya? Jam setengah lima. Termasuk saya di dalamnya walaupun diskonnya tidak sebanyak itu. Hehehe..

Diskon dua jam per harinya. Memang tidak bisa dipungkiri banyak juga kuli tetap yang berperilaku demikian.

Ancaman pemutusan hubungan kerja alias PHK juga tidak begitu dipusingkan kuli kontrak. Mungkin hanya di pabrik saya dimana seorang pimpinan kuli tetap bisa dibentak-bentak oleh kuli kontrak karena ada kesalahpahaman. Kalau mau masalah diperpanjang, siap-siap saja si pimpinan hidupnya tidak tenang. Kuli kontrak ini punya solidaritas dan backup yang kuat.

Untuk masalah gaji, untuk kuli kontrak yang lemburannya gila-gilaan, pendapatannya bisa melebihi kuli tetap. Giliran lemburan ditertibkan, banyak suara sumbang yang bersahutan. Dengan berbagai alasan kuli kontrak membuat pekerjaan di luar jam yang telah ditentukan.

Menjadi semakin rumit ketika di Jawa sana, pekerja outsource melakukan demonstrasi menuntut agar diterima sebagai kuli tetap. Memang sesuai peraturan yang ada, kuli kontrak tidak boleh bekerja pada tempat yang sama lebih dari dua tahun. Toh ini tidak menghalangi akal-akalan pabrik untuk mengoper kuli kontrak mereka ke lembaga penyalur tenaga kerja yang berbeda. Orangnya sama, lembaganya berbeda. Apa sih yang tidak bisa diatur di negri ini?

Dan tentu saja demonstrasi ini berkaitan dengan masalah jaminan kesejahteraan. Dengan diangkat sebagai kuli tetap bisa dipastikan ada ikatan kontrak yang saling mengikat kedua belah pihak sehingga pabrik tidak bisa menghentikan kuli tetap seenak jidat. Belum lagi fasilitas kesehatan dan jaminan hari tua yang sangat didamba oleh kaum pekerja. Kuli tetap menjadi solusinya.

Demonstrasi yang marak di Jawa ini sempat menjadi perbincangan hangat di pabrik saya yang nun jauh di pelosok. Perkembangan teknologi menyebarkan informasi melewati ruang dan batas.

Sekali waktu ada demo serupa yang menuntut hal yang sama. Penerimaan kuli kontrak menjadi kuli tetap. Security yang notabene merupakan kuli kontrak juga tidak berbuat apa-apa. Di satu kaki mereka bertugas menjaga keamanan dan ketertiban namun satu kaki lainnya mendukung demonstrasi tersebut.

Bang Paul selaku personalia pabrik maju berunding dan meredam demonstrasi yang terjadi di pabrik. Tidak berapa lama, demonstrasi itu bisa diatasi Bang Paul meskipun banyak suara sumbang yang bersliweran. Saya penasaran, sepulang kerja, saya bertemu Bang Paul.

“Bang Paul, tadi bisa beres gitu diapain Bang?” tanya saya heran.
“Saya bilang ke anggota supaya kerja saja yang bagus. Sesuai dengan peraturan yang ada. Pabrik toh tidak buta, kalau kerja kalian bagus pasti dipertimbangkan untuk diterima jadi kuli tetap. Tidak perlulah ikut-ikutan demo begituan. Nanti kuli kontrak sendiri yang repot,” kata Bang Paul.
“Kok bisa gitu Bang? Mereka kan memperjuangkan kesejahteraannya,” saya masih penasaran.
“Memangnya mau diterima sebagai kuli tetap tidak ada syaratnya? Mereka yang di Jawa enak saja minta diangkat sebagai kuli tetap karena mereka punya latar belakang pendidikan, keterampilan, dan kepribadian yang mungkin cukup untuk dijadikan patokan pengangkatan. Tapi di sini? Berapa persen yang Belum lagi aturan baru pabrik yang menyatakan bahwa kuli kontrak yang habis masa kontraknya tidak boleh diganti dengan kuli kontrak baru, jadi tidak ada lagi namanya bapak diganti anak. Posisi yang kosong tetap kosong, kalau memang perlu bisa diganti dengan kuli kontrak dari posisi lain,” jelas Bang Paul.

Memang kuli kontrak di sini kualifikasinya tidak jelas. Kadang ada seorang bapak yang bekerja sebagai kuli kontrak karena sudah merasa tidak mampu maka digantikan anaknya. Kuli kontrak di sini di samping mewariskan tanah juga mewariskan pekerjaan. Padahal pendidikan dan kemampuan sang anak belum tentu sebanding dengan sang bapak.

“Saya bilang, ‘Kalau mau jadi kuli tetap harus ikut prosedur. Keluar dari posisi sebagai kuli kontrak, daftar sesuai peraturan. Lengkapi syarat-syaratnya. Tapi saya tidak menjamin kalian akan diterima jadi kuli tetap karena bukan saya yang menentukan. Yang menentukan dari pabrik pusat’. Sekarang coba lihat, berapa di antara mereka yang kualifikasinya memenuhi persyaratan yang ada. Kerja lapangan saja kadang minimal mesti lulusan SMA. Pabrik tidak keberatan jika mereka mau keluar dari kuli kontrak dan mendaftar seleksi kuli tetap, personalia buka lowongan pasti banyak yang mendaftar. Tapi jangan kemudian disalahkan kalau banyak yang tidak diterima karena kualifikasinya tidak sesuai persyaratan dan terpaksa pabrik mengambil tenaga dari luar daerah. Atau bisa saja pekerjaan pabrik dikontrakkan kepada pihak ke tiga. Pabrik tinggal bayar dan terima beres semua pekerjaan, ” terang Bang Paul.

Saya manggut-manggut.

“Mereka yang di Jawa berada di lingkungan dengan kualitas pendidikan yang tinggi. Mereka minta penghapusan kuli kontrak wajar karena mereka punya kualifikasi untuk diterima sebagai kuli tetap. Tapi di sini dengan kualifikasi kuli kontrak yang tidak semuanya memenuhi persyaratan mau digimanakan?” kata Bang Paul geram memikirkan nasib kuli kontraknya yang kebanyakan tidak memiliki pendidikan.

Advertisements

Comments»

1. Neng - October 23, 2012

saya berada di posisi bendera yang banyak di demo masa untuk di bubarkan,
saya outsorching
tapi apa yang saya lihat dengan mata telanjang saya berbeda dengan apa yang sering orang beritakan, termasuk dengan tulisan anda
pun saya pernah merasakan jadi “kuli kontrak”
tapi nyatanya latar pendidikan yang anda sebut2 sebagai syarat utama
nyatanya tidak demikian saya temukan dilapangan
buktinya kuli kontrak naungan saya yg backgroundnya SMA ada yg sekarang di angkat “kuli tetap” malah naik jabatan s/d level supervisor
karena memang ybs telah menunjukan kemampuan yang mumpuni
pun juga “kuli kontrak kasta ksatria yg notabene di rekrut dari universitas bonafid di ibu kota, masih ada yg betah berada di zona ketidakpastiannya”
yg setelah direview tak lain karena ybs tidak menunjukan kemajuan yg signifikan, hanya bersifat support tidak bersifat controler dalam pekerjaannya.

dan saya juga berada di level pergaulan “kuli lepas”
entah sekarang sebagai pengkoordinir atau pun pernah sebagai pemeran.
tidak benar adanya bahwa ada pembenaran pemutusan kerja sepihak
bahkan outsorching sendiri sebagai konsultan hrd, ya harusnya lebih paham dibanding hrd itu sendiri mengenai uud ketenagakerjaan, outsorching lah tempat hrd itu bertanya, meminta solusi, kita ada prosedur untuk sampai pada tahap pemutusan kerja, kita ada surat peringatan pertama hingga terakhir, dan kita punya tenggang waktu untuk karyawan bisa memperbaiki kinerja dan habit kerjanya.
pun juga sebagai karyawan lepas, tidak benar adanya kita bisa kabur seenak udel apalagi jauh sampai berfikir yang penting dapat bayaran kemudian bisa kabur begitu saja. saya pikir itu perilaku oknum perseorangan bukan “semua dari orang yang berkasta “kuli lepas”.
jadi saya harap tidak ada penyamaan, jangan dipukul sama rata
sama seperti halnya kartika sutindja berkata bahwasanya “semua gadis sunda itu matre”, padahal gadis beranah jawa kental yang kini menggaet duda asal tanah sunda itu, kalau berantem sedikit sama aa-nya, syarat syah rujuknya haruslah sajen sejenis perhiasan 23 karat”

jadi itu bukanlah sifat dari “semua orang yang berprofesi kuli lepas”
saya yakin semua orang yang berangkat bekerja, itu didasari dari rasa tanggung jawab penuh, entah itu tanggung jawab atas dirinya sendiri ataupun atas nasib orang2 yang dicintainya. jadi sekecil apapun yang ia dapatkan, “serendah apapun” jabatannya dimata “kuli tetap”, tentulah dia memulai dan menjalani atas tanggung jawab. jadi miring sekali timbangan bila semua kuli lepas diukur seperti itu.

mudah-mudahan kuli-kuli yang sudah tetap lebih meningkatkan kesyukurannya, karena tanpa harus peras otot gantung tulang tentu pasti kepantasan akan didapat. tinggal pertanggung jawabannya kepada TUHAN
Jati tak semestinya merasa begitu gerah terhadap berapa yang didapat “kuli berakasta lain dan dengan gaya macam apapun”
saya rasa cukup konsentrasi terhadap tanggung jawabnya sendiri, karena haknya sudah pasti terjamin.
masalah gaya kerja orang lain, biarlah menjadi pertanggungjawaban antara insan dengan tuhannya.

sekian
salam
perwakilan outsorching


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: