jump to navigation

Bahagia: Relatif October 25, 2012

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Bahagia itu relatif. Setiap orang berhak menentukannya dan mereka akan merasakannya sendiri.

Malam ini simbok saya telepon. Saya tidak berani mengangkat. Bukannya saya durhaka, tapi saya sadar kondisi jasmani dan rohani saya kurang baik. Daripada saya angkat telepon dan simbok mendapati saya sedang malas untuk berbicara lebih baik tidak perlu berbicara sekalian. Nanti simbok berpikir macam-macam dan malah susah tidur. Semoga simbok berpikir seperti biasa: kalau telepon tidak saya angkat berarti saya sudah tidur dan besok pagi saya akan menelpon balik.

Tapi simbok pasti tahu kalau anaknya sedang kurang enak badan. Semacam ada telepati antara ibu dan anak. Mudah-mudahan kali ini telepatinya kurang lancar.

Entah kenapa badan saya agak kurang enak belakangan ini. Seringkali nyeri yang saya rasakan ketika dulu menemani simbok menunggui bapak di rumah sakit hadir kembali. Begitu pula migrain yang awet menyapa kepala saya. Satu bulan yang lalu saya bermimpi bapak datang dan tidak terasa air mata saya menetes. Kemudian saya terbangun dan tidak dapat memjamkan mata hingga pagi. Saya juga tidak berani bilang ke simbok, takut simbok malah menangis sejadi-jadinya. Di antara anak-anaknya memang saya yang sering didatangi di mimpi.

Lebaran ini adalah lebaran ketiga saya lalui sendiri, tanpa keluarga. Lebaran Idul Adha yang di Indonesia kurang dirayakan besar-besaran, bagi saya tetaplah Lebaran yang patut dirayakan dengan kebahagiaan. Ya, selalu ada yang berbeda ketika mendengarkan anak-anak berkeliling melakukan takbiran. Biasanya saya merasakan bahagia, berkumpul dengan keluarga, saudara, dan orang-orang terdekat namun sudah kali ketiga getir yang terasa. Ini malam lebaran ke tiga yang saya habiskan di pelosok hutan, tanpa siapa-siapa, meskipun ada beberapa yang menanti kehadiran saya.

Saya selalu sedih ketika mendengar ada yang merindukan sementara saya belum bisa pulang.

Bukannya saya pelit tidak mau pulang demi orang-orang yang merindukan tapi ada beberapa pertimbangan yang harus saya pikirkan masak-masak. Di samping tentunya ongkos pulang yang cukup lumayan, waktu yang diperlukan juga tidak sebentar. Tujuh jam perjalanan roller coaster bus melewati tanjakan dan turunan jalanan aspal yang berlubang di sana-sini plus dua jam perjalanan udara bukanlah perjalanan yang menyenangkan. Ketika sampai ke Jawa biasanya badan terasa segar bugar namun ketika harus kembali ke pelosok hutan ini badan remuk redam. Paling bagus dua hari capek, pegal, dan pusingnya hilang. Rekornya? Dua minggu leher bagian kanan saya tengeng ngilu setengah mati yang merambat sampai tangan, bangun tidur harus mencari sadaran dan tangan kanan tidak bisa digunakan. Untuk sekadar mandi saja, tangan kanan saya tidak kuat untuk mengangkat gayung.

Kalau di pelosok sini ada yang mengurusi sih tidak masalah, lha ini apa-apa sendiri.

Banyak yang beranggapan dengan posisi saya sekarang ini semuanya serba enak. Hidup bahagia. Menjadi kuli dengan pendapatan yang bisa dibilang lebih dari sekadar lumayan kadang menjadi patokan kebahagiaan. Padahal sebenarnya bukan sekadar pemasukan yang menjadi patokan. Uang bukanlah segala-galanya meksipun segalanya memerlukan uang; begitu kata pepatah.

Hidup di lingkungan seperti ini jauh dari kehidupan yang saya bayangkan. Bergaul dengan kuli-kuli yang hidup di pelosok dengan pendapatan yang lebih dari sekadar lumayan itu menimbulkan cara hidup dan cara pandang terhadap lingkungan sosial itu berubah drastis. Ketika jauh dari keluarga dan tidak ada hiburan yang bisa dinikmati sesuka hati maka materi yang dijadikan patokan atas kepuasan diri. Gadget baru, baju bermerk, dan jalan-jalan ke luar negeri adalah indikator kebahagiaan dan keberhasilan di sini. Semuanya dipandang atas dasar materi.

Jadilah banyak hal-hal remeh yang wajar dilakukan oleh kebanyakan menjadi sesuatu yang tabu untuk dikerjakan. Saya heran ketika makan nasi sisa semalam yang dimasukkan ke kulkas itu dijadikan topik pembicaraan yang tak henti-hentinya untuk mengejek. Ketika membersihkan got yang penuh dengan rumput itu merupakan pemandangan langka. Saat memakai baju bekas dan kaos kaki yang berlubang itu dianggap murahan. Dan telepon genggam yang tidak bisa Internetan itu ketinggalan jaman.

Semuanya dinilai atas dasar materi. Kebahagiaan itu didasarkan pada kecukupan kebutuhan material.

Padahal bapak dan simbok saya dari kecil mengajarkan kebahagiaan itu ketika merasa cukup, bersyukur, dan bisa tersenyum ketika melakukan sesuatu.

Dulu, simbok saya sering menghangatkan sisa nasi semalam dan saya makan dengan lahap keesokan paginya. Kata simbok, “Tidak baik membuang makanan,” dan saya merasa cukup meski hanya makan dengan nasi semalam. Bapak membetulkan genteng yang bocor sendiri dan saya disuruh mengamati. Saya tersenyum, kadang ikut naik ke atas genting dan berjalan senang di antara genteng-genteng yang tersusun. Kata bapak, seorang lelaki, kepala keluarga mesti bisa mengurusi rumah, sekitarnya dan tentu saja anak istri.

Saya merindukan beberapa tahun silam ketika kakak saya membeli sepatu atau tas baru, sehingga saya bisa menggunakan sepatu dan tas bekasnya dengan sedikit modifikasi di sana-sini. Menjahit sedikit lubang di tasnya atau mengganti tali sepatu dengan yang lebih baru agar kelihatan sedikit ‘wah’. Atau ketika kakak saya yang lain dengan pendapatannya mampu membeli sebuah telepon genggam baru dan saya mengais telepon genggam bekas yang sudah kumal di laci paling dalam dengan harapan bisa digunakan.

Saya merasakan suatu kebahagiaan yang teramat sangat meskipun mendapatkan barang bekas yang ‘baru’. Ketika kemudian mendapati bapak atau simbok saya menghampiri saya dan berkata:

“Le, arep tuku sik anyar po?”

Dan saya hanya bisa tersenyum kecil dan menggelengkan kepala kemudian masuk ke kamar dan meneteskan air mata mengingat begitu besarnya perhatian mereka. Perhatian yang entah kapan bisa saya berikan dalam jumlah yang setimpal.

Sekarang saya tidak begitu peduli makan sisa semalam atau memakai baju berlubang selama bisa memberikan apa yang simbok saya mau meskipun terlambat untuk memberikan bapak saya apa yang beliau mau.

***

Ya, lebaran ini saya sendiri lagi. Besok pagi saya telpon simbok dan semoga simbok tidak lebaran sendiri. Barangkali saya bisa lebih bahagia.

Advertisements

Comments»

1. trihans - October 26, 2012

Kangen tulisanmu sing koyo ngene le….. Bahagia itu sederhana tapi kadang tidak sesederhana merasakanya. Tahun ke 15 di perantauan…hanya bisa menyapa simbok di Telpon…mendengarkan sapanya yg seperti biasa…”wis maem kowe…..maem karo opo?”….pertanyaan yg sama tapi selalu saja menimbulkan rasa bahagia…..

Bahagia selalu yo le……sing sabar urip neng rantau 😉


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: