jump to navigation

Om Gondrong November 22, 2012

Posted by superwid in Cerita.
trackback

Semenjak menjadi kuli di pelosok hutan, saya jadi jarang jalan-jalan. Memang benar kata bijak : masih sekolah waktu banyak duit cekak tapi waktu kerja duit ada kesempatan tiada. Padahal saya suka jalan-jalan, melihat keindahan alam dan yang paling penting: interaksi sosial dengan pribadi-pribadi yang ditemui dalam perjalanan. Ya, gunung atau pantai masih tetap di sana sampai kapanpun. Tidak akan lari dikejar, seiring waktu perubahannya pun seharusnya tidak signifikan. Tetapi kisah perjalanan dan pribadi yang ditemui selalu unik untuk diceritakan. Bahkan tidak akan bosan untuk diperdengarkan. Itulah yang membuat saya suka jalan-jalan; terutama tiap langkah perjalanannya. Perjalanan itu seharusnya bisa mendewasakan bukan?

Coba lihat, Biksu Tong dan murid-muridnya yang berubah menjadi sosok yang lebih bijak ketika mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran selama Perjalanan Suci ke Barat untuk mengambil kitab suci. Kemudian persaudaraan erat yang tercipta ketika Nabi Muhammad berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Selanjutnya Sidharta Gautama yang keluar dari istana untuk mengembara dan berakhir di bawah Pohon Bodhi untuk mendapatkan Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha). Semua diawali dengan perjalanan yang berakhir dengan pelajaran yang mendewasakan dan penuh hikmah.

Bagi saya, setiap perjalanan itu menyenangkan. Bahkan jika tidak bisa mencapai tujuan. Kata pepatah lama : it’s not the destination, but the journey inside. Jadi setiap perjalanan itu menyimpan kisah-kisah menarik yang bisa diceritakan dan diambil pembelajaran yang justru didapatkan saat mulai melangkahkan kaki keluar rumah dan berakhir ketika ketika kaki itu kembali melangkah ke dalam rumah. Bukan hanya saat sampai ke tempat tujuan. Perjalanan itu bukan sekadar jepret foto kemudian mengunggahnya ke media sosial sembari sedikit (atau banyak) menyombongkan diri: Ini lho saya pernah ke sana!

Alhasil karena sekarang saya punya komitmen dan tanggung jawab menjadi kuli, otomatis kesempatan saya menjadi tiada untuk melakukan perjalanan meskipun dalam setahun masih ada jatah cuti yang bisa dimanfaatkan. Kalau dipakai semua buat jalan-jalan kapan saya bikin rencana pernikahan? Hehehe.. Untuk mengurangi kejenuhan karena kesempatan yang berkurang, saya punya hobi baru untuk mengurangi kepenatan: berkebun dan bercocok tanam di halaman. Halaman rumah selama ini hanya ditumbuhi rumput dan gulma jadinya banyak hewan yang berkeliaran di sana. Kodok, luwing, kecoa, dan kalajengking pernah masuk ke rumah saya karena saya malas bersih-bersih halaman.

Lagipula kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya kan saya juga sudah menempuh perjalanan jauh dari kampung di kota sampai ke desa di pelosok belantara. Maka seharusnya saya bisa mengambil pelajaran daripadanya. Sekarang saya sedang menjalaninya saja.

Hobi saya berkebun tentu saja menjadi bahan olokan di antara teman-teman. Ini kan hobi orang tua, kata mereka. Tapi ya bagaimana, saya menikmatinya. Mempersiapkan media tanam yang jauh lebih sulit daripada di kampung-maklum tanah di sini sifatnya asam dan banyak mengandung batu bara jadi harus dinormalkan terlebih dahulu, menyemai bibit, menunggu tunas tumbuh dari biji kemudian merawatnya hingga besar menimbulkan keasyikan tersendiri. Melihat biji bunga matahari saya mulai tumbuh besar, umbi binahong yang mulai menjalar mencari rambatan, tunas pepaya bangkok yang lama munculnya atau pohon cabe kampung yang semakin siap ditanam di halaman. Menyenangkan, melatih kesabaran.

Belum lagi kalau cabe saya panen, bisa menambah penghasilan. Minimalnya saya tidak perlu ikut-ikutan pusing kalau harga cabai melambung. Kemudian jika terong saya berbuah bisa saya goreng sebagai camilan dan lauk makan. Investasi buah saya juga aman pada tunas pepaya. Di samping itu saya juga turut andil dalam menjaga lingkungan, setidaknya saya menjaga media tanah dan mengurangi populasi gulma yang berpotensi menimbulkan pemandangan yang kurang rapi.

Namun tiba-tiba di tengah kesenangan merawat tanaman yang tak kunjung menghasilkan, ada yang menyedihkan ketika saya membaca timeline jejaring sosial yang mengangkat diskusi tentang kerusakan alam yang terselubung jambore salah satu produk outdoor di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Jambore yang mengambil tempat di Ranu Kumbolo, salah satu spot menarik saat mendaki Gunung Semeru, menyisakan sampah organik dan non organik yang menumpuk dan mengkhawatirkan. Akibatnya, demi alasan perbaikan ekosistem dan mungkin karena dimulainya musim penghujan yang menimbulkan cuaca yang kurang bersahabat, pendakian ke Gunung Semeru ditutup entah sampai kapan. Saya sedih, Semeru merupakan gunung impian. Dulu ketika masih sekolah, kesempatan ada tapi ongkosnya yang tidak tersedia sementara sekarang kebalikannya.

Duh, jangan sampai waktu saya ada waktu dan kesempatan ke sana ternyata perijinan pendakian menjadi sulit sekali untuk didapatkan.

Diskusi hangat menjurus panas muncul di kalangan komunitas Pecinta Alam mengenai kasus luar biasa ini. Saya bukan yang termasuk di dalamnya jadi tidak merasa berhak untuk angkat suara. Saya hanya teringat sama Om Gondrong, seorang kenalan di kampung waktu saya masih sekolah dulu. Dulu sekali.

Om Gondrong anggota salah satu komunitas Pecinta Alam (PA). Wajahnya sangar dengan rambut gondrong berkibar namun hidupnya sederhana dan bersahaja. Badannya tinggi kekar namun halus tutur katanya. Muka preman tapi berhati nyaman. Tipikal PA yang ideal mengusung semangat “Jangan membunuh apapun kecuali waktu, jangan ambil apapun kecuali foto dan jangan tinggalkan apapun kecuali jejak”. Cocoklah jadi suami idaman pagi perempuan-perempuan yang masih buka lowongan.

Saya dan Om Gondrong pernah terlibat perbincangan menarik.

“Percaya nggak kalau nanti gunung-gunung itu bakal seperti Malioboro? Orang-orang akan berlomba-lomba mendatanginya dan bukan lagi menjadi tempat yang menyenangkan untuk melakukan perjalanan panjang. Tidak lagi menyenangkan untuk mengenal pribadi-pribadi yang berbagi tenda dalam dinginnya. Bukan lagi menjadi tempat yang nyaman untuk melepas penat karena hijau hutannya dan segar udaranya?” kata Om Gondrong menerawang.
“Ah masak sih Om, orang-orang juga pasti bakal mikir kalau mau naik gunung Om. Sudah capek, bawaannya berat dan banyak, dingin lagi. Orang juga males pada ke sana Om?” saya berkomentar.
“Mau taruhan?” kata Om Gondrong lagi.
“Taruhan kan dilarang Om. Jangan taruhan kita memprediksi saja. Kalau ngeramal kan tidak ada alasan dan sumber-sumber data dan fakta yang jelas terpercaya makannya dilaknat Tuhan. Kalau memprediksi kan berdasar data dan fakta yang ada sekarang. Jadi semoga Tuhan tidak melaknatnya. Amiin,” kata saya asal.
“Hehehe.. Yo wis. Taruhan beberapa tahun lagi yang namanya gunung itu bakal kayak Malioboro ya. Paling nggak sampai lima tahun lagi kamu udah susah cari babi hutan atau edelweis di hutan-hutannya,” kata Om Gondrong pasti.
“Oke Om. Nanti yang kalah jajanin mi goreng dobel di warung burjo. Boleh nambah kalau mau,” kata saya.
“Oke. Inget ya!” kata Om Gondrong yakin sekaligus menampakkan kesedihan karena taman bermainnya akan dijamah ribuan kaki-kaki yang menikmati tanpa melestarikannya.

Saya jadi heran, kok Om Gondrong bisa yakin seperti itu ya. Maka saya pun bertanya kepada Om Gondrong.

“Sebaik-baiknya seorang yang menyebut dirinya traveller atau pecinta alam pasti melakukan kerusakan di muka bumi. Dengan sekadar menjelajahi alam untuk keperluan eksplorasi, minimal akan ada ekosistem yang rusak dan terganggu walaupun itu jumlah dan sebarannya sangat kecil. Sangat kecil dan bisa diperbaiki. Namun tetap ada yang berubah bukan? Satu ranting yang tidak sengaja tersangkut pada carrier atau hampar rumput yang terinjak jejak sepatu. Semakin banyak eksplorasi dan ekspose mengenai keindahan alam semakin banyak kerusakan yang ditimbulkan. Saya bukan antipati pada mereka toh saya juga salah satu oknum di dalamnya dan ada kebanggaan tersendiri menjelajah kemudian memperkenalkan keindahan alam dan budaya yang dimiliki negri ini.

Kamu tau nggak kalau komunitas traveller punya peran pertama dan utama dalam menjadikan gunung menjadi Malioboro. Mengenalkan gunung pada masyarakat umum seperti makan buah simalakama. Dilema. Di satu sisi traveller ingin memperkenalkan keindahan alam yang dimiliki negri ini namun di sisi lain traveller harus siap berbagi dan menanggung akibatnya. Mengunggah potret gunung di pesbuk, media sosial, itu memperkenalkan sekaligus bikin orang jadi penasaran!

Orang Endonesa itu latah. Ketika sesuatu menjadi tren, berduyun-duyun orang mengikuti tren itu. Saat film Soe Hok Gie laris manis di pasaran berapa orang yang latah mengunjungi memoriamnya, menapaktilasi perjalanannya, menganggapnya sebagai dewa. Padahal sebelumnya hanya segelintir orang yang mengacuhkannya. Kemudian ketika travelling menjadi menarik saat teknologi yang bernama kamera digital mendokumentasikannya dalam bentuk lembaran foto, berapa orang juga yang lantas travelling dengan membawa kamera. Harus membawa kamera untuk mengambil potret diri dengan alasan eksistensi. Belum lagi banyak buku-buku travelling yang beredar luas di pasaran dengan seribu janji manisnya.

Dokumentasi baik tulisan atau potret itu penting untuk catatan pribadi sebagai pengingat di kemudian hari. Ketika sudah dipublikasi, esensinya menjadi bias. Apakah itu dokumentasi atau mulai menunjukkan eksistensi bahkan menyombongkan diri.

Dan dua tren di atas nanti akan menjadi kombinasi yang hebat dalam mewujudkan gunung seperti Malioboro. Orang-orang berpikir naik gunung itu sesuatu yang keren, gampang, dan untuk membuktikannya harus ada kamera. Lihat saja, tidak lama lagi gunung akan penuh lalu lalang wisatawan berduit menenteng kamera segede batu bata dengan porter sewaan, warung berdiri berjejeran, sampah menumpuk berantakan. Orang-orang yang berwisata tanpa mempunyai rasa tanggung jawab dan kesadaran untuk melestarikan alam. Tunggu saja,” jelas Om Gondrong.

Saya kurang setuju dengan argumentasi Om Gondrong. Naik gunung itu capek, dingin. Tasnya berat. Jangankan bawa kamera batu bata, bawa diri saja sudah merana. Siapa juga yang mau repot-repot ke sana malah bikin warung segala.

***

Ah, tapi belum sampai lima tahun kemudian saya kalah. Saya salah. Antusiasme orang-orang yang dulu sempat dikatakan Om Gondrong terbukti. Bahkan saya semakin berpikir kembali, setelah film 5 cm dirilis nanti bakal gimana nasib Tanjakan Cinta nanti?

Suatu saat kelak saya harus menepati janji mi goreng dobel saya pada Om Gondrong.

Sementara itu saya mau berkebun lagi. Semoga orang-orang juga latah mau berkebun seperti saya biar dunia ini menjadi hijau mempesona.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: