jump to navigation

Hak Asasi November 25, 2012

Posted by superwid in Cerita.
trackback

Setiap orang itu punya hak asasi. Seingat saya, hak asasi adalah hak mendasar yang dimiliki manusia sejak lahir dan melekat hingga mati. Hak asasi dimiliki oleh siapa saja, sepanjang ia bisa disebut sebagai manusia. Manusia betulan, yang masih hidup. Bukan manusia jadi-jadian. Manusia boleh melaksanakan hak asasi sesuai dengan keinginannya. Tentu saja hak asasi tiap manusia dibatasi oleh hak asasi manusia lainnya. Jadi sebebas-bebasnya manusia tetap harus memikirkan hak-hak orang lain juga. Jenisnya juga ada macam-macam. Itu yang saya pelajari dulu pas pelajaran PMP, jaman saya masih pakai sepatu warrior seragam dan celana biru tua sepaha.

Hak asasi ini berlaku di mana saja tanpa memandang waktu, tempat, golongan, keturunan, jabatan, suasana, dan orientasi seksual; termasuk di pabrik tempat saya menggantungkan hidup untuk bekerja.

Pabrik tempat saya bekerja merupakan kluster yang terdiri dari beberapa bangunan yang menyebar di beberapa area. Ada bengkel tempat kuli mekanik bongkar mesin pabrik. Ada gudang tempat menyimpan barang-barang. Ada workshop untuk bagian kesehatan dan keselamatan. Ada pula kompleks pembangkit listrik untuk menyuplai daya ke pabrik. Ada kantor security yang mengawasi keamanan pabrik. Ada control room untuk mengawasi koneksi dan jaringan. Serta tentu saja ada kantor tempat pabrik menjalankan kegiatan administrasi dan operasional sehari-hari. Di sini meja tempat kerja saya berada.

Sebenarnya saya sudah diminta untuk pindah ke bangunan lain, control room, satu kilometer dari pabrik utama oleh bos besar saya. Maklum, saya juga punya tanggung jawab untuk menjaga antena, kabel, dan tower di sana. Saya sih mau-mau saja, cuma mandor saya keberatan dan dari lubuk hatinya yang paling dalam ternyata masih sayang sama saya. Padahal saya ikhlas diasingkan di sana.

Siapa nanti yang bakal ngurusin administrasi harian, kata Mandor. Maka saya tetap tinggal di kantor utama.

Kantor pabrik saya ini ukurannya tidak begitu besar, satu lantai berukuran sekitar seperempat lapangan bola dengan beberapa ruangan di sekelilingnya tempat mandor-mandor; atasan para kuli bekerja. Sementara saya bersama sekitar 30 kuli hore lainya bekerja di tengah ruangan dengan kubikal-kubikal yang tersedia. Masing-masing kubikal ukurannya satu setengah kali satu setengah meter dengan sekat pemisah berupa kayu lapis dengan ketinggian satu meter.

Tentu saja dengan kondisi kantor pabrik yang seperti ini ada kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, jika ada makanan, akan cepat ketahuan karena bisa dipastikan ada kerumunan orang yang ngantri jatah makanan. Jadi tidak perlu repot-repot absen ke masing-masing ruangan, baunya sudah tercium sampai kejauhan. Kekurangannya, privasi jadi kurang terjaga. Gosip cepat beredar. Karena tidak ada sekat yang mengisolasi, apa yang digosipkan di satu kubikal otomatis akan menyebar ke kubikal sebelah kanan, sebelah kiri, depan dan belakang. Kemudian waktu jam kerja tidak bisa berleha-leha. Tidak enak kalau ketahuan malah berselancar di dunia maya.

Kalau saya sih masih bisa disambi baca-baca blog tetangga. Kalau ditanya bos alesannya:

“Ini Pak, saya lagi ngecek koneksi pabrik.”

Terkait dengan kondisi kantor pabrik dan hak asasi ada satu hal yang membuat saya kadang belingsatan kurang nyaman, yakni suasana kantor yang sudah seperti klub malam. Macam pasar malam. Bagaimana tidak seperti klub malam jika masing-masing pekerja sama-sama saingan memutar musik di komputernya dengan volume yang kadang tidak toleran. Saya bukannya tidak suka, tapi kalau kubikal depan saya memutar lagu dangdut versi Rhoma & Soneta hingga dangdut hore ala Agung Hercules, kubikal sebelah kanan memainkan lagu baru Endonesa yang diputar berulang-ulang sepanjang hari tanpa henti, kubikal belakang saya menggeber musik dugem dengan setelan bass treble maksimal dan sebelah kiri khusyu mendengarkan lantunan ayat suci Al Qur’an plus pengajian kan jadi bingung mau mendengarkan yang mana. Belum lagi samar-samar dari kejauhan terdengar lagu campursari yang didendangkan selayaknya ada kawinan.

Masak iya syair lagu yang tertangkap di telinga saya jadi begini:

Iwak peyek iwak peyek.. Dengarkan aku.. kumerindukanmu.. Oppa Gangnam Style.. Amiin..

Saya heran. Padahal tiap kubikal sudah punya earphone atau headphone yang bisa digunakan. Minimalnya kalau memang mau mendengarkan via speaker volume suaranya direndahkan agar tidak bersahut-sahutan. Ini malah pada saingan kayak kenek bus cari penumpang. Tapi dengan alasan hak asasi dan kebebasan saya juga tidak enak menyalahkan. Wong saya bukan yang punya pabrik. Salah-salah saya bisa dilaporkan ke Komnas HAM terus diracun waktu mau ke Jerman. Gawat kan? Biasanya kalau sudah keterlaluan biasanya saya pasang headphone gede di telinga kemudian memainkan lagu instrumentalia ala Kitaro yang menenangkan. Sayangnya kalau sudah pakai headphone, saya terisolasi. Benar-benar tidak bisa mendengar dunia luar. Kalau bos atau mandor manggil dan tidak menjawab bisa jadi masalah. Kena setrap di pojokan.

Mentok-mentoknya headphone dipasang tanpa lagu yang diputar.

Dan kemarin ketika kubikal depan saya sedang bertaubat tidak mendengarkan lagu dangdut, kubikal sebelah kiri saya sedang pergi ke lapangan seharian dan kubikal belakang sedang dinas ke luar kota; sedangkan kubikal sebelah kanan saya konsisten memutar lagu yang sama dari pagi sampai siang. Bikin saya stres. Cupet. Masak iya dari pagi yang kedengaran cuma

Ku berlari kau terdiam
Ku menangis kau tersenyum
Ku berduka kau bahagia
Ku pergi kau kembali

Ku coba meraih mimpi
Kau coba ‘tuk hentikan mimpi
Memang kita takkan menyatu

Sekali putar masih oke, tapi begitu sudah lima kali non stop bolak balik tanpa jeda lagu lain kepala saya jadi berputar. Saya terhipnotis. Tak terasa bibir mulai melantunkan lagu yang sama sementara jari mulai mengetik liriknya. Padahal seharusnya saya bikin kontrak pekerjaan yang harus diselesaikan segera. Tersadar begitu kubikal sebelah kiri mulai melantunkan ayat-ayat Al Qur’an, sudah kembali dari lapangan ternyata. Penasaran dan gerah mendengarkan saya tanya ke kubikal sebelah.

“Itu lagu siapa yang dimainkan?” saya bertanya.
“Oh ini lagunya Cakra Khan, judulnya ‘harus terpisah’. Kenapa? Suka ya?” tanyanya balik dengan muka sumringah seperti manajer si artis begitu tahu lagunya laris di pasaran.
“Cakra Khan? Siapanya bintang pilem India Shah Rukh Khan? Saudaraan sama Norman Kamaru jangan-jangan,” saya bertanya lagi.
“Enak saja, ini lagu yang lagi hits belakangan ini. Idola remaja. Enak kan didengar. Mau dengerin lagi?” tawarnya.
“Nggak ada lagu lain apa? Bosan dengernya,” saya protes. Balik bekerja dan memasang headphone di telinga. Tanpa lagu tentu saja. Sekadar mengurangi polusi suara.

Satu jam berikutnya. Saya buka headphone di telinga. Sudah tidak ada suara serak-serak becek Cakra Khan dari kubikal sebelah kanan berganti dengan

Because you naughty, naughty, Hey! Mr. Simple
Because you naughty, naughty, Suju kanda!

Yang diputar dari siang hingga petang. Duh Gusti paringono arto..

Advertisements

Comments»

1. neng - November 27, 2012

ah masa sih ga suka lagu cakra khan,
itu kan RBT ku,
buktinya kamu tidak pernah absen nge call aku setiap harinya :”>

Itu kan karena aku mencintaimu :”> Ihuiii..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: