jump to navigation

Mbak Tince December 25, 2012

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Saya dan Ucrit punya kesenangan yang sama, mendengarkan radio. Radio membiarkan kami untuk membuat gambaran-gambaran yang tidak dibatasi oleh ukuran layar. Gambaran yang dibuat saat mendengarkan radio hanya dibatasi oleh imajinasi, tergantung pada apa yang kami ingini. Radio juga memberikan kejutan-kejutan yang kadang tidak kami pikirkan.

Meskipun kami sama-sama suka mendengarkan radio, namun genre musik yang kami dengarkan berbeda. Akan tetapi kami menghargai dan menghormati satu sama lain. Ketika lagu campursari diperdengarkan Ucrit di radionya, saya dengan senang hati turut menyumbangkan jempol untuk bergoyang. Pun ketika saya mengubah channel radio dan mendapati lagu dangdut diputar, Ucrit turut berdendang ria. Biar kata orang selera kami kampungan, kami tidak peduli. Tidak usah malu, kami kan orang Endonesa kebanyakan yang suka bergoyang berdendang riang.

Kalau ada orang yang jijik dan anti mendengarkan lagu dangdut ataupun lagu campursari, maka menurut riwayat Ucrit, dia bisa dikatakan belum menjadi orang Endonesa sepenuhnya. Masih ada yang kurang. Layaknya Lionel Messi, meskipun sudah berkali-kali angkat tropi dan jadi pemain terbaik sejagat raya namun belum bisa dikatakan legenda karena belum pernah membawa Argentina juara dunia.

Di luar perbedaan jenis musik yang suka kami dengarkan, kami memiliki kesamaan. Kami suka mendengarkan Mbak Tince ketika membawakan acara Dunia Dalam Derita – yang nanti cukup disingkat DDD – di salah satu stasiun radio favorit kami. Mbak Tince yang penyiar radio, bukan Tince Sukarti binti Mahmud. Apalagi Tince yang kalo siang namanya jadi Tino.

Suara Mbak Tince yang lembut nan merdu membuat pendengarnya, yakni saya dan Ucrit terhipnotis akan cerita-cerita yang disampaikannya. DDD sendiri merupakan acara favorit di stasiun radio tersebut, seperti halnya Cinta Fitri di SCTV. Konsep acara DDD sebenarnya sederhana, namun cukup menyentuh pendengarnya. Di sini Mbak Tince akan membacakan surat-surat yang dikirim dari pendengar radio yang berisikan tentang kisah kerasnya hidup di dunia. Mulai dari kisah asmara yang tidak terbatas tentang cinta remaja, namun cinta secara universal. Tentang cinta yang terpisahkan jarak, asmara yang terhalang orang tua, cerita macarin suami tetangga, sampai cinta pada anjing peliharaan. Sampai kisah mahasiswa dengan IPK di bawah dua yang tak kunjung diwisuda sehingga malu untuk kembali ke kampung halaman tercinta.

Sebenarnya saya dan Ucrit kadang tidak percaya cerita yang sering dibacakan di DDD itu nyata adanya. Bagi kami, kisah-kisah seperti itu hanyalah karangan belaka. Bahkan kami curiga cerita macam ini direkayasa dan yang mengirimkan akan mendapat imbalan sepantasnya. Kadang kami ingin mengirimkan roman picisan yang kami reka dan karang sendiri dengan lebih dramatis, ironis, dan menguras hati tapi apa daya karena membaca saja kami sulit, apalagi bikin karangan sekelas karya sastra. Sudah pasti tidak lolos sensor tahap pertama. Pernah sekali waktu kami ingin mempublikasikan perjuangan cinta Jarwo ketika mengharap cinta April, tapi sekali lagi bukannya jadi cerita indah nan mengharu biru malah jadi cerita lawakan penuh canda.

“Cerita macam ini mana bisa masuk program DDD Crit, yang ada masuk siaran humor ceria yang tayang saban malam Minggu,” kata saya pada Ucrit.
“Coba dulu kawan, barangkali nanti bisa lolos ke DDD. Jarwo tenar, siapa tau kita dapat limapuluhribuan barang selembar,” balas Ucrit.

Toh kenyataannya cerita tersebut tidak pernah sampai ke DDD karena keburu dibaca Jarwo yang langsung mencak-mencak dan menghancurkan karya terbesar saya dan Ucrit. Musnah kesempatan Jarwo untuk diorbitkan jadi pejuang cinta. Kasihan dia telah melewatkan kesempatan langka menjadi idola remaja.

Terlepas dari itu semua, saya dan Ucrit sangat hobi mendengarkan radio. Bisa dibilang ketagihan. Bagi kami, lagu The Bugles yang berjudul Video Kills The Radio Star hanya ramalan kosong belaka. Radio akan selalu mendapatkan tempat yang spesial bagi pendengar setianya.

Ya, video klip dengan televisinya merupakan antitesis bagi radio seperti halnya sinetron dan film bioskop yang menjadi antitesis sempurna bagi buku cerita. Sudah sering imajinasi saya terpaksa dibentuk oleh film-film yang dibuat berdasarkan buku. Mulai dari Him Damsyik sebagai Datuk Maringgih dalam Siti Nurbaya sampai ke Indra L. Bruggman sebagai Anton Rorimpandey dalam Cintaku di Kampus Biru – menggantikan Roy Marten di versi film layar lebarnya. Padahal dulu ketika membaca novelnya, saya membayangkan Anton Rorimpandey tidak setampan Indra L. Bruggman ataupun segagah Roy Marten. Malahan saya memikirkan sepertinya Joko dengan muka pas-pasan dan ‘sesuatu’-nya yang berlebihan tapi sok kepedan yang pantas memerankan tokoh Anton Rorimpandey yang agak urakan sesuai dengan gambaran cerita novelnya yang saya imajinasikan. Tapi karena ada visualisasi cerita, saya malah membayangkan nantinya Paijo cocok menggantikan Him Damsyik sebagai Datuk Maringgih versi Jawa karena dari segi postur dan muka bagai pinang dibelah dua. Hehehe..

Begitu pula yang terjadi pada video klip yang tayang di televisi. Semuanya seakan membuyarkan imajinasi saya tentang penyanyinya. Padahal untuk ukuran kesuksesan lagu sebenarnya dinilai dari suara dan musiknya kan? Bukan tampang ganteng dan goyangan bahenol pria-pria berbaju seksi.

Saya yakin, haqul yaqin seyaqin-yaqinnya, seandainya Kangen Band tidak membuat video klip ataupun keseringan manggung pasti sampai sekarang mereka menjadi band papan atas Endonesa. Mengalahkan boyband dan girlband yang kebanyakan bermodalkan tampang terawat, baju ketat, dan joget dahsyat. Saya yakin sang vokalis, Andika, juga tidak akan dikeluarkan dari band, masuk pesantren, dan ketauan main sama anak di bawah umur.

Video klip, sinetron, dan film bioskop telah membuyarkan imajinasi liar terdalam yang dimiliki manusia. Jadilah nanti generasi mendatang pemikirannya gampang disetir oleh pemilik media.

Kembali lagi ke kasus Ucrit, Mbak Tince, dan saya.

Sekali waktu, Ucrit mengajak saya nongkrong di warung burjo sepulang sekolah.

“Kawan, ke stasiun radio yuk. Ngapelin Mbak Tince. Sudah nggak kuat nih pengen ketemu sama si mbak bersuara merdu itu,” kata Ucrit kebelet.
“Ngapain Crit, besok kita ada ujian. Biologi. Inget ujian kemaren saya dapet nilai empat. Itupun sudah nyontek, ketauan pula, dikorting nilai saya. Saya kan mau memperbaiki posisi tawar saya di mata Pak Guru. Biar nanti tidak dapat nilai merah lagi di rapot,” jawab saya.
“Ayolah kawan, sekali ini saja. Saya penasaran. Besok saya kasih contekan deh kalau ujian,” rayu Ucrit seakan menghembuskan angin surga.

Ucrit memang jago dalam ujian hapalan, apalagi urusan sama makhluk hidup dan anatominya. Lha kenyataannya ke depan memang dia melanjutkan pendidikan di bidang kemantrian. Lanjut pendidikan master malahan.

“Mana bisa Crit, kamu duduknya di bangku depan dan saya paling belakang. Rayuanmu palsu, gombalanmu tidak laku,” jawab saya.
“Nanti saya bayarin bakwan kawi, seminggu full,” rayu Ucrit lagi.

Saya suka tidak kuat iman karo mendengarkan tawaran makan gratis. Bakwan kawi pula, seminggu full lagi. Serasa masuk surga. Oh indahnya dunia ketika merasakan bakwan kawi bercampur dengan kuah kaldu plus cincangan daun bawang. Hmm.. Maknyus pokoknya pemirsa.

“Baiklah Crit, tapi berhubung Mbak Tince siarannya masih nanti malam, saya mau pulang dulu. Ganti baju,” kata saya sembari berkemas untuk pulang.

Ucrit bahagia, saya pun gembira.

Sebagai informasi saja, Mbak Tince ini menurut apa yang sering dia katakan di radio, masih kuliah semester awal di salah satu universitas di bilangan utara kota. Ya kalau masih semester awal otomatis beda umur dengan saya dan Ucrit tidaklah lebih dari lima tahun. Kata Ucrit, selisih lima tahun itu masih bisa ditolerir. Masih masuk dalam kriteria dan spesifikasi untuk dijadikan gebetan. Bahkan menurut penyelidikan mendalam yang dilakukan oleh Ucrit, konon kabarnya Mbak Tince habis putus cinta.

Malam yang dinanti pun tiba. Saya datang ke rumah Ucrit dengan alasan mau belajar buat ujian di rumah Ucrit. Ucrit pun berpamitan yang sama ke ibunya kalau mau belajar ujian di tempat Jarwo. Sedangkan Jarwo pasti tidak mungkin belajar buat ujian.

“Nak, wangi betul mau ke tempat Jarwo. Mau belajar buat ujian apa mau pacaran?” selidik Mamak Ucrit.
“Belajar buat ujian dong Mak. Kalau wangi kan wajar saja, wangi itu sebagian dari iman,” kata Ucrit bersemangat.
“Oh ya ya. Belajar yang rajin ya nak!” kata Mamak Ucrit.
“Baik Mak!” kata kami barengan.

Sejak kapan ada pepatah wangi itu sebagian dari iman? Setau saya kebersihan yang sebagian dari iman. Mamaknya Ucrit kok mau-maunya juga dikadalin sama Ucrit. Ya Tuhan, dosa.. Dosa..

“Bagaimana kawan? Sudah siap?” tanya Ucrit.
“Oh tentu saja. Saya sudah bawa buku paket Biologi, begitu pula potokopian milik Nur sang bintang kelas yang catatannya dijamin paten membimbing kita mendapatkan hasil ujian yang memuaskan. Tinggal nanti bagaimana eksekusi pelaksanaannya waktu ujian. Asal jangan ketauan,” kata saya.
“Bukan itu! Rencana kita ngapelin Mbak Tince,” kata Ucrit mengerutkan dahi.
“Oh itu, yuk mari! Kemon.”

Ucrit membonceng saya ke arah selatan Jogja tempat stasiun radio berada. Sampai di sana sekitar setengah jam sebelum siaran DDD mengudara. Kami kebingungan, apa yang harus kami lakukan. Rasa-rasanya kalau cuma duduk di sadel motor kok ya keterlaluan, bisa disangka maling cari santapan. Tapi kalau mau masuk ke stasiun radio ditanya keperluan, kami juga tidak tau apa yang harus dikatakan.

“Bagaimana Crit, harus bagaimana ini,” tanya saya panik.
“Santai saja kawan, semuanya aman terkendali. Nanti kita pura-pura saja mau kirim salam. Ini, saya sudah siapkan kertas sama pulpen buat nulis salam-salaman,” kata Ucrit.

Jaman itu belum banyak telepon genggam jadi kirim salam masih manual lewat tulisan. Bisa juga lewat telepon, tapi kadang suka grogi kalau pas telepon pas disiarkan langsung.

“Tulis apa Crit?” tanya saya kebingungan harus mengirim salam pada siapa. Pacar tiada, gebetan pun tidak punya. Masak buat simbok saya?
“Udah ayo ikut saja,” kata Ucrit sambil menyeret saya ke dalam stasiun radio.

Sesampainya di lobi stasiun radio.

“Mbak, mau nitip salam bisa?” tanya Ucrit.
“Oh bisa, silakan tulis saja di kertas ini kemudian pengen dibacakan di program apa, dan hari apa,” kata Mbak penjaga.
“Siaran DDD sudah mulai ini mbak?” tanya Ucrit.
“Belum, baru juga jam setengah sembilan. Penyiarnya juga belum datang,” kata si Mbak penjaga.

Ucrit kemudian menyuruh saya untuk menuliskan pesan sementara matanya jelalatan. Berharap Mbak Tince melintas tebar pesona dan Ucrit segera meminta kontaknya. Urusan malu? Jangan tanya Ucrit. Ucrit tidak punya kemaluan, kalau urusan perempuan apapun halangan dan rintangannya pasti akan dihadapi sepenuh hati.

“Kalau cuma minta kontak dan ditolak itu sudah terjadi banyak, minimalnya kita dapat perhatian dari perempuan yang kita suka. Itulah ujian cinta, deritanya tiada akhir,” begitu kata Ucrit menyitir ucapan legendaris Pat Kai, sang pejuang cinta yang selalu dirundung derita.

Sepuluh menit berlalu dan saya masih bingung mau menulis apa di kertas salam.

“Mbak Tince, selamat malam. Ayo mbak cepet ke ruang siaran, sudah ditunggu untuk acara DDD di dalam,” kata si Mbak penjaga memecah suasana.
“Oh, iya nih, tadi agak telat gara-gara ada urusan,” kata Mbak Tince sambil melemparkan senyumnya kepada Mbak Penjaga dan tentu saja kepada playboy tercinta kita, Ucrit.

Ucrit terpana menyaksikan Mbak Tince, segala imajinasi dan gambarannya liarnya tentang bodi Mbak Tince yang seksi nan bahenol bak gitar Spanyol dengan muka cantik dan menarik hati musnah seketika ketika mendapati Mbak Tince dengan suara merdunya melintas sekilas di hadapannya. Sementara saya memandang sepintas kemudian mulai menulis salam saya dalam kertas ucapan.

“Kawan, ayo lekas pulang!” kata Ucrit buru-buru ingin segera pergi.
“Kenapa Crit? Ini saya sedang mulai nulis salam,” tanya saya.
“Ayo pulang saja, belajar buat ujian!” paksa Ucrit.

Saya hampir tidak sempat mengembalikan kertas salam saya kepada Mbak penjaga karena membuntuti Ucrit yang masih syok entah kenapa.

“Kenapa Crit?” tanya saya.
“Sudah ayo pulang saja!” kata Ucrit dengan tatapan hampa.

Ah entahlah, bukan urusan saya. Yang penting besok saya dapat traktiran bakwan kawi seminggu full.

***

Besoknya selepas ujian, di rumah saya merana. Saya merana karena nilai ujian cuma dapat lima sementara Ucrit terakhir sepulang sekolah masih dengan pandangan hampanya. Sayup-sayup di stasiun radio kesayangan saya terdengar suara,

“Yak ada salam buat Amoeba dan saudara se-Protozoa, jangan lupa membelah diri ya! Dari Ucrit”

Advertisements

Comments»

1. siganteng - March 3, 2013

gembus!
pancen bangsat kowe, w!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: