jump to navigation

Cinta Minggu Pagi November 4, 2014

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Kami tahu, dalam diamnya, Jarwo sangat mendamba April untuk menjadi kekasih. Maka dari itu, sebagai teman sepermainan, kami mati-matian mencari jalan agar mereka berdua bisa bersama.

Setelah rencana pertama, mempertemukan April dan Jarwo dalam Minggu pagi yang romantis gagal total, saya dan Ucrit segera bergerak cepat merencanakan strategi Minggu pagi berikutnya.

“Crit, bagaimana kalau besok sehabis pulang sekolah kita ajak saja mereka nonton bioskop. Saya ajak Jarwo dan kamu ajak April. Nanti pas sudah masuk kita tinggal mereka berdua?” usul saya.
“Hmmm.. Ide bagus. Tapi masak sudah beli tiket nonton terus ditinggal begitu saja? Alangkah sia-sia perbuatan kita. Tuhan membenci hamba yang menghambur-hamburkan harta,” Ucrit berargumen.
“Yaelah Crit, berapa puluh ribu saja,” kata saya.
“Uang segitu cukup untuk mencegah cacing di perut demo selama seminggu,” Ucrit menambahi.

Kami berpikir, memutar otak, mencari solusi yang terbaik dan murah meriah guna mendekatkan Jarwo dan April. Ya, kami memang teman yang baik dan solider. Yang ikut senang saat teman kami senang dan tambah senang saat teman kami susah 😀

“Crit, kita ajak saja April jalan-jalan Minggu pagi. Modalnya cuma bangun lebih pagi dan uang seikhlasnya untuk makanan yang dibeli,” usul saya lagi.
“Itu lebih berat lagi kawan. Bangun pagi adalah satu-satunya kelemahan saya. Janganlah. Cari ide lain,” saran Ucrit.
“Ya ampun, nanti saya bangunin. Saya jemput, saya bayari beli makanan. Kurang apalagi?” tanya saya.
“Kalau kamu memaksa ya bagaimana lagi?” kata Ucrit.

Saya harus mentraktir Ucrit jajan? Nehi.. Itu bisa dibicarakan baik-baik dengan Jarwo nanti. Orang yang sedang kasmaran semuanya bisa dilakukan. Urusan traktir makan itu tak seberapa. Jarwo kan kesengsem berat sama April, hanya saja dia bingung cara mengungkapkannya. Bimbang katanya, tidak ada ide yang unik. Betapa baik hatinya kami sebagai temannya, mencarikan solusi bagi Jarwo untuk mendekati April.

“Tapi kita harus cari cara elegan untuk mengajak April jalan Minggu pagi. Jangan tiba-tiba kita datang ke rumahnya kemudian pergi begitu saja. Itu tidak ada gregetnya,” kata Ucrit.

Betul juga. Kami harus memikirkan sesuatu yang romantis. Kalau sudah begini Jarwo mesti terlibat dalam merencanakan strategi Cinta Minggu Pagi ini.

Besoknya, saya dan Ucrit langsung mengekor Jarwo pulang ke kosnya. Strategi Cinta Minggu Pagi akan kami bahas dengan seksama dan sedetail-detailnya agar sukses menjerat cinta April dengan pesona Jarwo. Tapi saya dan Ucrit bingung, bagian mana dari Jarwo yang mempesona. Perawakan Jarwo tidaklah kekar bak Agung Hercules, mukanya pun bisa dibilang standar pasaran rakyat Indonesia. Satu-satunya yang menarik untuk dilihat adalah cara berpakaiannya. Jarwo gemar memakai celana cutbray plus dandanan ala remaja 70-an. Menurut saya dan Ucrit, itulah yang akan kami eksploitasi untuk menampilkan kelebihan Jarwo agar April terkesima.

“Wo, gimana kalau pas Minggu pagi kamu bawa gitar terus nyanyi ala Rhoma Irama di depan rumah April sepertinya bagus juga. Jarang-jarang kawula muda masa kini nyanyi buat pujaan hatinya. Siaran langsung lagi, di depan rumahnya. Jangan lupa goyangannya biar lebih hot,” kata Ucrit sambil makan biskuit simpanan Jarwo.
“Benar juga Wo. Pasti yang melihat akan terpesona,” tambah saya turut menyomot biskuit.
“Kamu nyanyi lagunya Rhoma yang judulnya Ani. Pas giliran kata ‘Ani’ kamu ganti jadi ‘April’. Wuih pasti kalau April dengar akan klepek-klepek,” Ucrit membayangkan Jarwo joget khas Soneta.

Jarwo hanya tersenyum kecil. Nampaknya pikirannya sudah melayang jauh. Membayangkan dirinya dan April sedang berdendang dan menari India di antara pohon akasia.

“Tapi Crit, kamu kan tahu kalau saya tak bisa bermain gitar. Suara saya pun tak semerdu Rhoma Irama. Terakhir kali saya dipaksa ikut lomba menyanyi sewaktu masih duduk di sekolah dasar. Kelas dua. Itupun juri sampai tak tega hati mengumumkan dimana peringkat saya,” Jarwo bersedih.
“Santai Wo, apalah gunanya kami berada di sampingmu,” kata saya.
“Kalian berguna buat menghabiskan biskuit saya. Sudah simpan itu biskuitnya. Jatah sampai minggu depan,” Jarwo melotot.
“Kita buat saja rekaman lagunya. Minta tolong Agus buat bikin rekamannya. Besok Minggu pagi kita bawa tape player bututmu ini Wo, pasang baterai biar bisa portable. Aman disembunyikan di balik pagar rumah April,” usul saya.

Agus, teman sekelas kami, jagoan dalam bidang musik. Maklum saja, dia kan salah satu gitaris plus vokalis band sekolah yang rutin pentas dan latihan. Rasanya rekaman lagu dan suaranya cukup untuk meluluhkan hati April.

Minggu pagi, selepas Subuh, saya sudah mangkal di rumah Ucrit untuk berangkat menjemput Jarwo. Sekalian mau bawa tape Jarwo yang segede kardus mie plus gitar pinjaman dari Agus. Tadinya untuk mempermudah mobilitas, ukulele yang akan kami gunakan. Tapi kok suaranya “kencring-kencring” kurang sinkron dengan rekaman gitar “jreng-jreng” Agus.

Sebelumnya Ucrit sudah memastikan kalau Minggu pagi April bisa diajak jalan santai.

“Siap Wo? Sudah dandan maksimal?” tanya Ucrit.
“Aman! Lihat jambul saya sudah tegak gini, rambut klimis, badan wangi,” terang Jarwo mencium ketiaknya.
“Baguslah. Jadi rencananya kamu siap-siap di depan pintu rumahnya April, Wo. Saya bertugas menjadi operator tape di balik pagar tanaman itu sedangkan Ucrit akan menjadi pengamat kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” jelas saya pada Jarwo.
“Sip!,” kata Jarwo.

Tidak berapa lama sampailah kami di rumah April. Lampunya masih menyala tanda sang tuan rumah sepertinya belum banyak beraktivitas. Langsung saja kami bergerak ke posisi yang telah ditentukan sedangkan Jarwo siap untuk pasang aksi di depan juwita hati.

“Oke, siap semua?” tanya Jarwo.
“Siap!”

Saya pencet tombol play di tape Jarwo.

“Jreng..
April… Ooooo.. April..
Sungguh aku tau…Kau rindu padaku..”

Jarwo mulai menyanyi lipsync dengan sepenuh hati.

Setelah dua bait Jarwo menyanyi, begitu memasuki bagian refrain, seorang perempuan keluar dari rumah.

“Ini Mas,” kata si perempuan sambil memberikan uang recehan kepada Jarwo.

Jarwo bingung.

“Pagi-pagi kok sudah ngamen sih Mas?” tanya si perempuan yang ternyata adalah pembantu April.

Jarwo keki.

“Saya bukan pengamen, saya teman April. April-nya ada?” tanya Jarwo.
“Oh Mbak April tadi pagi keluar beli bubur di depan. Katanya mau ada temannya datang jadi mau dibelikan makanan. Mungkin sebentar lagi udah pulang. Nah itu dia Mbak April sudah datang,” jelas pembantu April sambil menunjuk ke arah jalan.

Dari jauh saya liat April sedang ngobrol dengan Ucrit, sambil menertawakan polah saya dan Jarwo. Memang kurang ajar si Ucrit, tertawa di atas penderitaan teman-temannya. Namun setidaknya Jarwo telah mendapat perhatian dari April, satu langkah di depan untuk mendapatkan cintanya.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: