jump to navigation

Menyanyi July 23, 2015

Posted by superwid in Cerita.
trackback

Saya sering iri dengan teman-teman saya yang suaranya merdu, kalaupun tidak serenyah lantunan biduan minimalnya enak untuk didengarkan. Bagaimana tidak iri, saya rasa menyanyi merupakan bentuk kesenian yang relatif mudah dilakukan yang tidak mahir saya kerjakan. Prakteknya banyak. Ada undangan kondangan keluarga, bisa menyumbangkan suara. Ada acara tahun baru, silakan melantunkan lagu. Ada kumpul-kumpul teman sepermainan, lanjut genjreng gitar dan nyanyikan. Masak iya ada kondangan kita mau baca puisi, tidak salah cuma tidak wajar. Apalagi yang dibacakan puisi tentang buruh-nya Om Wiji Thukul. Memangnya mau kawinan apa demo besar-besaran? Atau sewaktu berkumpul bersama teman kita tiba-tiba menari jathilan? Disangka orang kesurupan.

Apakah tidak ada jenis kesenian lain yang bisa menggantikan menyanyi untuk segala macam kegiatan di atas? Sungguh saya tidak pandai bernyanyi, suara saya pas-pasan menuju sumbang. Tapi apa daya, kesenian lain pun saya tidak mahir. Keahlian saya dalam bidang kesenian adalah diam memperhatikan. Cukup diam memperhatikan, jangan disuruh mempraktekkan.

Perihal suara yang fals dan sumbang ini juga pernah dikomentari dan diamini oleh jamaah masjid di kampung saya dulu kala. Akibat kalah taruhan sepakbola dengan sang muazin masjid, saya ditugaskan untuk menggantikan jatahnya mengumandangkan adzan sehari semalam. Lima kali sehari, plus iqomat. Namun baru sekali adzan waktu sembahyang saya sudah undur diri. Saya keki, soalnya ada jamaah yang bertanya pada si muadzin reguler.

“Siapa tadi yang adzan, kok suaranya beda. Agak kurang enak.”

Saya pensiun dini jadi muadzin masjid kampung. Saya trenyuh, iba pada diri saya sendiri. Kalau bukan saya, lalu siapa lagi yang hendak mengasihani?

***

Sekali waktu saya pernah diundang seorang rekan untuk menghadiri acara nikahannya. Sesuai adat budaya di kampung teman saya itu, tiap tamu yang ditunjuk oleh sang mempelai diwajibkan untuk menyumbangkan suara. Tidak terkecuali saya.

Saya jadi teringat cerita 15 tahun lalu.

Saat masih sekolah, ada pelajaran kesenian. Isinya? Mulai dari menari, bermain alat musik dan gamelan, menggambar dan tentu saja menyanyi. Hampir semua bidang kesenian dipelajari dan tentu saja dipraktekkan. Untuk menari, gerakan saya lumayan. Jaman itu tulang dan persendian saya masih luwes belum kaku macam robot sakit pinggang seperti sekarang. Apalagi menarinya tidak pernah sendirian, sengaja saya cari teman yang pintar menari biar fokus penonton teralihkan. Pilih partner yang berparas manis dan berbodi semlohai, dijamin Anda akan dilupakan. Dianggap sebagai properti tambahan. Bermain alat musik dan gamelan, saya bisa. Minimal menguasai icik-icik dan gong. Jangan salah, dibutuhkan sense of art yang tinggi untuk memainkan alat musik ini. Salah sedikit bisa berantakan semua nada yang telah dimainkan. Di bidang menggambar, masak pada tidak kenal dengan yang namanya kertas karbon? Jadi, masih aman.

Untuk menyanyi, ini yang jadi persoalan.

Suatu waktu, Ibu Guru Kesenian begitu mendekati jam akhir pelajaran memberikan tugas kami untuk tampil menyanyi. Cuma di depan kelas. Kami diberikan waktu seminggu untuk melakukan segala persiapan. Segala teknik menyanyi sudah diajarkan. Jadi Ibu Guru ingin melakukan tes. Ujian.

“Ah paling-paling minggu depan sudah lupa,” pikir saya waktu itu tanpa menghiraukan.

Ibu Guru ini memang kadang harus diingatkan apabila sempat memberikan tugas tambahan. Seringkali tugas yang sudah disiapkan dengan susah payah tidak dikumpulkan karena kelupaan. Saya hanya bisa berdoa dan berharap semoga Ibu Guru nanti juga terlena. Semoga saja, amiin.

Saya masih tenang, masih bisa melupakan beban pikiran tugas pelajaran untuk menyanyi minggu depan. Tapi sebenarnya apa sih susahnya menyanyi? Semua orang bisa menyanyi, anak kecil saja bisa. Apalagi saya yang sudah susah-susah disekolahkan. Namun tetap saja, karena saya tidak pernah menyanyi di depan umum ada perasaan yang mengganjal dalam hati. Terlebih lagi ditambah kasus adzan karena kalah taruhan. Saya makin rendah diri.

Tidak terasa seminggu berlalu dan pelajaran Kesenian kembali datang. Saya tetap berdoa dalam hati, merapal segala bacaan, berharap Ibu Guru lupa dan melewatkan tugas penilaian bernyanyi ini. Sepuluh menit pertama masih membahas teori seni tari, dilanjutkan 15 menit membahas gaya tari dari berbagai daerah dan 20 menit berikutnya praktek perbedaan gaya tari nusantara. Saya sudah bernafas lega, sepertinya semua berjalan sesuai rencana. Tuhan memang bersama orang-orang yang teraniaya.

Namun tanpa saya duga, Ibu Guru duduk ke kursinya. Mulai membuka daftar absen di mejanya dan menyebutkan nama salah seorang teman.

“Mul, ayo silakan maju. Jam pelajaran kedua ini kita lakukan penilaian menyanyi,” kata Ibu Guru.

Mulyadi, lelaki flamboyan berparas lumayan yang memang pemain gitar dan vokalis andal tidak keberatan. Malahan sambil gaya dia mau pinjam gitar dulu di ruang Kesenian, katanya biar lebih kelihatan penjiwaannya. Saya mulai gemetaran, doa yang saya panjatkan sejak awal pelajaran tidak mempan sementara Mul mulai beraksi melantunkan lagu Mahadewi dari grup band Padi. Dimana yang lain khusyu’ mendengarkan saya tambah keringatan. Begitu selesai, semua bertepuk tangan menunjukkan kekaguman. Ah si Mul, muka pas-pasan kok bisa membuat perempuan kegirangan.

Saya mulai berpikir dan berencana. Ini masalah yang teramat sangat pelik dan harus segera dibuat rencana penanggulangannya. Dengan satu jam pelajaran adalah 45 menit dan jatah menyanyi per orang adalah lima sampai tujuh menit maka untuk minggu ini ada enam sampai sembilan orang yang dapat jatah. Sejujurnya, saya masih belum siap mental dan materi lagu yang dibawakan. Lagu-lagu papan atas yang dinyanyikan oleh grup band tenar semisal Sheila on 7, Dewa ataupun grup vokal Westlife pasti sudah banyak yang menyanyikan. Lagipula lagu-lagu mereka bagus, kalau saya nyanyikan makin kelihatan suara saya yang bagaikan remah gorengan sisa Lebaran.

“Kalau satu-satu sepertinya bakalan lama ya. Begini saja, silakan nanti bisa duet atau trio. Yang pasti diatur jatah menyanyinya masing-masing biar Ibu bisa menilai penampilan kalian,” Ibu Guru memberikan kemudahan.
“Selanjutnya Wulan, silakan maju. Mau sendiri atau berdua silakan,” kata Ibu Guru.

Wulan, versi perempuan dari Mul – yang jago berdendang, maju ke depan kelas seorang diri dan mulai bernyanyi. Semoga saja nanti pada bernyanyi sendiri-sendiri dan semoga saja Ibu Guru silap matanya sewaktu melihat nama saya di daftar absen, begitu pikir dan harapan saya. Namun tentu saja saya harus punya rencana cadangan di samping mengandalkan teman-teman yang mulai dipanggil satu per satu untuk unjuk kebolehan.

Saya diskusi dengan Darto, teman sebangku yang sering saya perdaya dan manfaatkan. Suaranya lumayan, setingkat dibawah Mul dan Wulan. Saya berencana mengajaknya duet guna mengalihkan fokus Ibu Guru, seperti yang saya lakukan sewaktu penilaian seni tari. Trik yang terjamin tokcer.

“To, Darto. Nanti kita duet saja bagaimana To? Biar beban ini kita tanggung bersama,” tawar saya.
“Boleh. Saya juga malas kalau menyanyi sendiri. Tapi lagu apa ya yang kira-kira cocok? Kamu sudah ada rencana?” tanya Darto.
“Apa ya To lagu duet yang lagi ngetren? Nike Ardilla dan Dedy Dores? Melly GOeslaw dan Ari Lasso?” saya bertanya balik.
“Lha kalau lagu-lagu itu nanti siapa yang berperan jadi vokalis perempuannya? Jangan ah, bisa disangka homo nanti kalau terlalu dalam penghayatannya,” kata Darto setengah menolak.

Kami berpikir keras lagu apa yang akan kami nyanyikan secara duet sementata satu per satu teman kami yang lain mulai dipanggil Ibu Guru untuk dinilai.

“Color Me Badd gimana? Grup vokal yang lagi terkenal. Close to Heaven?” tanya Darto sambil mulai bersenandung.
“Jangan ah, bahasa Inggris To. Ngomong saja belepotan apalagi disuruh nyanyi?” jawab saya yang masih kelimpungan.

Tidak terasa dalam diskusi hangat kami, jam pelajaran menyisakan 10 menit lagi. Di dalam hati saya berdoa agar minggu ini bukan jatah saya untuk menyanyi. Semoga minggu depan, kalau bisa bulan depan, kalau Tuhan mengijinkan semoga Ibu Guru alpa.

“To, nyanyi lagunya P Project saja bagaimana? Kop and Headen?” tanya saya pada Darto.
“Yang mana lagunya itu?” Darto penasaran.

Kemudian saya mulai menyanyikan lagu Kop and Headen racikan P Project dengan menggubah lagu Color Me Badd yang berjudul Close to Heaven sesuai usulan Darto tadi.

“Ini kan lagu yang tak usulkan tadi, cuma lagu aslinya tidak seperti ini,” kata Darto.
“Memang To, ini namanya lagu parodi. Yang menyanyikan P Project, Iszur Muchtar-Denny Chandra-Daan Aria-Joehana-Iang Darmawan-Wawan Hanura. Enak kan lagunya, yang lain pasti pada penasaran. Kita buat tren To, gaya baru bernyanyi. Kalau lagu-lagu pasaran kan sudah biasa. Kalau yang ini pasaran tapi berbeda. Banyak kritik sosialnya juga,” saya mulai berorasi panjang lebar sok-sokan macam kritikus musik kawakan.

Darto mulai tertarik dan mulai bertanya-tanya mengenai kisah lagu ini. Maklum saja, waktu itu saya baru saja membeli kaset The Best of P Project, jadi saya hapal lagu-lagu parodi legendaris grup lawak asal bumi Parahyangan tersebut.

“Jadi gini To, nanti kamu jadi suara pertama dan saya jadi suara kedua. Pas bagian It’s gotta be love, saya sambung love, trus giliranmu lagi sweet love trus lanjut saya lagi sweet love. Cuma nanti liriknya jadi Sadarilah.. Lah.. Bila.. Biila.. Besok saya bawa kasetnya ke rumahmu, kita belajar bareng,” kata saya.
“Siap, asal tidak dipanggil hari ini saya siap,” kata Darto.
“Mudah-mudahan To, ini tinggal lima menit lagi. Paling-paling habis ini sudah selesai dilanjut minggu depan,” kata saya.

Saya sudah ongkang-ongkang kaki, menunggu jam pelajaran berakhir. Masalah nyanyi, urusan nanti toh masih seminggu lagi dan ada Darto yang siap pasang badan membantu temannya yang tidak tahu diri ini.

Empat menit sebelum bel akhir pelajaran berbunyi, si Ibu Guru masih santai. Belum beres-beres modul dan buku pelajaran yang masih berserakan di atas mejanya, begitu juga daftar absen yang belum ditutup tanda pelajaran belum akan diakhiri.

“Ya anak-anak, masih ada waktu sebentar dan berhubung setelah ini jam istirahat jadi satu lagi Ibu minta tolong agar maju ke depan untuk bernyanyi sekaligus menutup pelajaran hari ini,” kata Ibu Guru.

Saya masih leyeh-leyeh sambil bercanda dengan Darto ketika si Ibu Guru memanggil nama saya. Saya pura-pura tidak dengar. Dan kapur kecil melayang ke arah saya – ini bukan saya anggap kekerasan dalam pendidikan tapi lebih pada latihan ketangkasan, ketangkasan menghindar dari lemparan.

“Lho Bu, kok saya Bu. Bagaimana jalan ceritanya ini Bu? Ini sudah mendekati jam istirahat, pantang hukumnya memperpanjang jam pelajaran demi mengorbankan hak pelajar untuk mengistirahatkan badan dan pikiran,” saya coba mengelak.
“Sudah sini maju ke depan. Menyanyi. Jangan banyak protes. Makin lama mengulur waktu makin lama pula teman-temanmu bisa beristirahat. Sini lekas maju,” suruh Ibu Guru.
“Yah Bu, minggu depan saja. Saya janji bakal menampilkan performa yang luar biasa Bu. Tapi minggu depan. Saya latihan dulu. Konser saja butuh latihan, apalagi ujian penilaian menyanyi,” saya masih coba menghindar.
“Kan minggu kemarin sudah diingatkan bahwa minggu ini kita ada penilaian menyanyi. Kemarin tidak latihan kemana saja? Konser ke 100 kota? Ayo sini cepat, daripada kelamaan,” kata Ibu Guru.

Teman-teman sekelas juga ikut bersekongkol memaksa saya untuk maju ke depan kelas dan mulai bernyanyi. Apalah daya dari seorang murid yang tak berdaya ini untuk mendapatkan kelonggaran dari pelajaran menyanyi.

Akhirnya dengan berat hati, saya maju ke depan. Meninggalkan Darto, calon duet maut saya, untuk memamerkan suara emas dari mulut saya yang mahal harganya. Lagunya, Kop and Heaven tentu saja, yang berhasil membuat teman-teman sekelas melongo dan tak tahu harus berkata apa.

Sekilas saya dengar samar-samar mereka bertanya-tanya, ini lagu siapa? Kok liriknya aneh? Kok suaranya fals? Kok penyanyinya ganteng? – yang terakhir pasti sedang khilaf.

Yang pasti terdengar satu suara tawa kecil yang disambut tawa riuh sekelas ketika saya menyanyikan bait terakhir.

Paling top adalah Abdul Kadir
Mencetak gol dari pinggir
Kipernya pun terjungkir

Menahan tendangan bagaikan petir
Jala terkoyak, penonton sorak
Kiper terkilir

Saya malu setengah hati, rasanya ingin lari ke hutan atau ke pantai kemudian menyanyiku. Ditertawakan di depan kelas itu lebih menyakitkan ketimbang dihukum lari keliling lapangan ataupun puting dipelintir sampai kepanasan. Di sela-sela tawa teman sekelas, Ibu Guru masih sambil tersenyum kecil berkata,

“Ya, cukup sekian pelajaran kali ini. Kita sambung lagi minggu depan”

Hikmahnya, akhir catur wulan, nilai kesenian saya bisa dibilang lumayan. Ada peningkatan, entah karena kemampuan suara saya yang memang aduhai mempesona atau keahlian menghibur saya yang tidak seberapa. Pastinya sebagai anak yang baru beranjak dewasa saya trauma dan malu setengah mati, tak mau menyanyi lagi.

***

Dan kali ini saya dipanggil lagi untuk menyumbangkan suara, di acara pernikahan rekan kerja. Jadi saya harus duet dengan siapa? Dan lagu parodi P Project manalagi yang harus saya bawakan?

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: