jump to navigation

Usaha July 31, 2015

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Saya dan Paijo sama-sama berada dalam kondisi dilematis meskipun dalam konteks yang berbeda. Kami sama-sama sudah berkeluarga dengan kewajiban memenuhi nafkah lahir batin anak dan pasangan sementara kami harus meninggalkan mereka dengan alasan pekerjaan. Iya, konteksnya berbeda karena saya bekerja di pabrik dimana jatah berkumpul dengan keluarga adalah tujuh hari setelah dua minggu bekerja. Sedangkan Paijo benar-benar harus meninggalkan keluarga merantau ke pulau sebrang karena menjadi abdi negara.

Paijo memang sedang menjalani beasiswa pendidikan untuk melanjutkan studi di salah satu sekolah master di kampung, namun jatah maksimalnya hanya dua tahun saja. Selepas itu Paijo harus bersiap kembali menyerahkan sebagian waktu, tenaga, dan pikirannya untuk menjadi pelayan masyarakat dengan gaji yang sungguh memikat. Bisa jadi bertugas di propinsi lain yang ditentukan oleh bagian kepegawaian atau harus kembali ke pulau sebrang dimana perempuannya wajib berhijab – yang setau saya selera Paijo. Tapi semoga dia ingat telah memiliki Dibyo – sebagai teman yang belum beruntung untuk menginjak pelaminan sebagai manten.

“Lumayan lah walaupun cuma dua tahun tapi bisa menemani anak istri, daripada tidak sama sekali,” begitu kata Paijo dua tahun lalu. Saat istrinya mulai mengandung buah hati pertama hasil pernikahannya.

Begitulah nasib Paijo. Begitu pula saya. Kami bekerja pada orang lain yang memiliki aturan serta kebijakan yang harus dipenuhi. Tidak bisa seenak hati. Ada yang harus dikorbankan demi masa depan.

Sekali waktu, ketika saya pulang kampung, saya janjian untuk bertemu tatap muka dengan Paijo – bukan lewat dunia maya. Kebetulan Paijo tinggal mengerjakan tugas akhir untuk menyelesaikan pendidikannya. Jadi cukup banyak waktu luang. Sebenarnya saya juga kurang enak apabila hendak mengajaknya menikmati angin malam seperti saat kami masih bujangan. Nanti disangka istrinya saya tidak tahu aturan. Tapi syukurlah justru Paijo yang mengajak saya untuk keluar makan, jadi kalau ada apa-apa Paijo yang bertanggung jawab dan berhak untuk disalahkan.

“Nanti malam ya, kamu yang jemput saya atau saya yang kamu jemput?” tanya saya memastikan janji nanti malam dengan Paijo.
“Gembel kamu. Sudah, nanti siap-siap jam delapan malam,” kata Paijo.

Saya sudah rapi tepat pukul delapan malam. Versi rapi tiap orang kan berbeda-beda. Setidaknya aurat tertutup dan kaki tidak telanjang itu sudah rapi menurut saya. Saya tunggu Paijo di pinggir jalan depan. Jam delapan lewat belum kelihatan kriwel rambutnya. Setengah sembilan sudah habis kesabaran, saya masuk ke rumah. Tiduran. Ada yang mengetuk pintu. Dari baunya, pasti Paijo.

“Maaf, maaf. Tadi menidurkan anak dulu,” kata Paijo cengengesan.
“Menidurkan anak apa meniduri yang lain,” tanya saya bercanda melihat rambut kriwelnya yang masih basah sekilas.

Paijo hanya cengar-cengir. Saya maklum, toh saya juga tahu kebutuhan alamiah Paijo. Di satu sisi saya bersyukur juga Paijo telah berubah. Dulu saya takut kalau-kalau Paijo itu menyukai Joko atau Sukiman, lha kemana-mana mereka selalu bersama. Bukankah cinta itu karena biasa. Witing tresno jalaran ora ono liyo, waktu itu tiada perempuan yang dekat dengan Paijo. Untunglah Paijo telah membuktikan kejantanannya dan kembali ke khittahnya, sementara sekarang saya justru curiga pada Sukiman dan Joko, jangan-jangan mereka terlena di Ibukota dan nantinya berakhir di Singapura atau Belanda. Hihihi..

Malam itu kami mengenang masa muda kami dengan berjalan-jalan keliling kota. Menyusuri sudut-sudut jalanan tempat kami menghabiskan akhir pekan. Membicarakan tentang masa-masa remaja yang seru, seram, mengggairahkan yang sekarang justru kami tertawakan. Sesekali ada juga yang membuat kami terpaksa membuka luka lama. Tapi begitulah ketika kami berjumpa, semuanya menjadi cerita yang senantiasa memberi makna. Ketika lapar melanda kami memutuskan untuk mencicipi masakan khas kampung yang diatur dengan rasa pedas yang luar biasa di pinggiran kota.

“Jo, kamu memang tidak ingin tinggal bersama keluarga?” saya membuka pertanyaan.
“Siapa yang tidak mau. Namanya sudah berkeluarga ya harus bersama. Komunikasi harus dijaga sebaik mungkin, interaksi langsung itu penting. Sebenarnya, kalau bisa memilih, saya ingin mengajak keluarga kemanapun saya bekerja. Tapi mau bagaimana, istri saya bekerja sementara saya tidak bisa memilih ditempatkan dimana. Saya bekerja sama negara, ada aturannya. Tadinya saya sering mengeluh, merutuki nasib, tapi apa gunanya? Tidak ada yang berubah kalau kita tidak bergerak. Ya begini konsekuensinya. Kalau mau enak ya kerja sendiri, jangan kerja sama orang apalagi negara. Kamu sendiri bagaimana? Betah seperti ini?” jawab Paijo bijak.
“Jawabannya sama Jo, kalau bisa mengajak keluarga tentunya saya ingin berkumpul bersama. Tapi apa daya Jo, saya ini bekerja di pabrik orang, Harus ikut aturan yang punya pabrik, harus siap ditempatkan di seluruh Endonesa, mungkin malah dunia. Resiko di awal yang sudah saya sepakati bersama dengan bos pabrik,” jawab saya.

Kami pun merenung kembali. Ternyata menjadi kepala keluarga seperti sekarang ini tidak sesederhana dulu ketika kami membayangkan saat muda. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Saat itu mungkin kami hanya memimpikan indahnya bercinta.

“Jo, kamu tidak pernah kepikiran untuk mengundurkan diri jadi abdi negara. Sekarang kan sedang jaman-jamannya menjadi pengusaha. Barangkali kamu ada bakat, bukannya dulu kamu sempat membuka warung bersama teman sekampung? Dengan penghasilanmu yang lumayan tentu saja sudah ada modalnya kan?” tanya saya.
“Bikin usaha itu tidak semudah yang dibayangkan,” kata Paijo.
“Lihat itu Jo, si Om Mark bisa bikin pesbuk waktu kuliah. Sekarang tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah. Enak kan Jo? Kalau di Indonesia kita bisa lihat Mbak Merry yang sukses mengumpulkan satu juta dolarnya saat muda. Sekarang, hidupnya mulia,” jelas saya pada Paijo.
“Memang benar. Tidak usah jauh-jauh, teman sekolah saya juga ada yang buka bisnis dan sekarang tinggal leha-leha. Tapi kita harus berpikir cerdas juga,” kata Paijo.

Saya bingung maksud perkataan Paijo.

“Begini, kamu tau berapa perbandingan pengusaha yang sukses dan tidak sukses? Kalau perbandingannya 9 pengusaha sukses dan 1 yang tidak sukses maka saya siap untuk buka usaha. Tapi kenyatannya? Ada hukum pareto 20% vs 80%, artinya hasil usaha 20% orang sukses akan berbanding terbalik dengan 80% yang gagal atau bisa dikatakn belum meraih keberhasilan. Sekarang kita harus rasional, bolehlah kita resign untuk fokus bisnis, tapi kalau gagal bagaimana? Siapa yang menjamin kita akan sukses buka usaha? Penduduk dunia ini berapa? Berapa yang sukses berwiraswasta? Sisanya bagaimana? Banyak yang jadi nine to five worker. Malahan banyak juga yang jadi pengangguran. Kalau semua jadi bos, pengusaha, siapa yang mau bekerja? Dunia usaha itu dunia yang keras, seperti halnya kita bekerja. Berapa jumlah staff yang ingin jadi manager? Begitu pula berapa jumlah pengusaha yang ingin jadi milyuner dunia?” jelas Paijo.

Saya diam mendengarkan sekaligus berpikir, Paijo makin pintar dan cerdas saja.

“Saya juga realistis, sekarang ini saya punya anak istri yang harus dihidupi. Kalau saya sukses, anak istri saya hidupnya semakin enak. Tapi kalau saya gagal bagaimana? Ditambah lagi misal saya sudah tidak bekerja jadi abdi negara, keluarga mau dikasih makan apa?” jelas Paijo lagi.
“Jadi kamu tidak mau meninggalkan zona nyaman Jo? Bukannya kalau kita berada di zona nyaman justru mengerdilkan pikiran dan perilaku kita. Jadinya kita tidak berkembang,” saya menyanggahnya.
“Sekarang kalau kamu punya penghasilan rutin per bulan 100 juta, terus tiba-tiba mengundurkan diri untuk berwiraswasta yang otomatis tidak ada pemasukan lain selain dari keuntungan usaha tersebut, terus bagaimana kamu mencukupi nafkah lahir yang sebelumnya dipenuhi oleh 100 juta tadi? Yakin usahamu bisa menghasilkan keuntungan di atasnya? Bukannya malas bergerak dari zona nyaman, tapi sekali lagi kita harus rasional dan realistis. Misal saya masih bujang, saya bisa seenaknya. Kalau sekarang mau main-main, bisa digorok mertua. Dicap jadi suami yang menelantarkan keluarga,” kata Paijo menjelaskan.

Benar juga yang dikatakan Paijo. Selama ini saya hanya membaca dan mendengar kisah-kisah pengusaha muda yang sukses meskipun sebelumnya pernah malang berulang-ulang. Saya pikir ini sangat memotivasi remaja dan anak muda untuk mengatur masa depannya.

Sayangnya saya jarang mendengar berita kejatuhanan para perintis bisnis diekspose di media massa. Berapa banyak artikel yang mengulas bisnis gagal dan pelakunya? Jadinya saya hanya mendapatkan informasi mengenai keberhasilan dan keberhasilan saja. Hidup ini harus rasional dan realistis. Bisa jadi ada juga pengusaha yang berkali-kali gagal mencoba dan sekarang berakhir tuna wisma. Gambaran-gambaran kandasnya impian (mungkin banyak) para eksekutif muda yang tertutup oleh keberhasilan segelintir saudagar kaya raya.

“Saya bukannya tidak ingin punya usaha. Malahan saya sangat ingin. Hanya saja saya juga belum berani melepaskan pekerjaan saya sebagai abdi negara. Mungkin nanti keduanya bisa berjalan beriringan, dan ketika usaha saya sudah menghasilkan jauh lebih besar dari yang diharapkan saya baru bisa berhenti dibayar oleh pajak rakyat Endonesa,” kata Paijo dengan bijaknya.

Malam itu kami merenung bersama, sepertinya kami masih belum bisa melepaskan zona nyaman kami untuk mulai bertarung di rimba bisnis dan wiraswasta. Ya, kami masih harus berpikir rasional dan realistis meskipun memang ada indikasi untuk membela diri.

***

Belum lama ini, Bapak Paijo meninggal dunia. Saya teringat betapa baiknya keluarga Paijo ketika saya bertandang ke rumahnya, tidak terkecuali almarhum Bapaknya. Semoga Beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Amiin..

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: