jump to navigation

Tentang Rantang August 7, 2015

Posted by superwid in Cerita.
trackback

Saya pusing. Baru masuk kerja di pabrik sudah banyak masalah yang datang silih berganti. Mulai dari kabel yang dicuri hingga salah satu rekan kerja yang mengundurkan diri. Kabel yang dicuri mungkin bisa segera diganti mesipun butuh biaya yang cukup tinggi, tapi masalah rekan kerja yang tidak bersedia masuk kembali itu yang cukup membingungkan saya. Kalau dia tidak masuk lagi, otomatis pekerjaan yang harus dia selesaikan kembali kepada saya dan rekan-rekan lain. Masalahnya, dengan tidak diijinkannya penambahan kuli untuk sementara ini yang berarti meningkatkan tuntutan rodi kami.

Di lokasi pabrik sekarang, dengan sistem kerja yang agak berbeda, beban kerja kami cukup membuat tidur tidak nyaman. Kelihatannya saja kuli-nya banyak, namun secara nyata di lapangan hanya setengahnya saja yang efektif bekerja. Sisanya, libur kerja.

Namun dibanding itu semua, tidak ada apa-apanya dibandingkan masalah rantang. Iya, rantang untuk tempat bungkus makan. Jadi, saya mau cerita tentang rantang. Kisah yang sangat membuat kerja di pabrik menjadi tidak tenang.

***

Syahdan, kantin pabrik kami punya aturan baru demi meningkatkan kepedulian dan kesadaran karyawan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Ceritanya pabrik sedang ikutan kampanye Go Green yang sedang menjadi tren. Untuk mengurangi limbah kertas dan plastik yang sering digunakan untuk membungkus makanan yang dibawa pulang, bos kantin mengeluarkan aturan tidak mengijinkan makanan yang dibawa pulang dibungkus dengan plastik dan kertas makan. Selanjutnya apabila kuli pabrik hendak makan silakan makan di kantin, apabila hendak dibawa pulang silakan bawa rantang.

Sebenarnya saya tidak keberatan dengan aturan ini, toh sebelumnya saya memang sudah mempersiapkan kotak makan. Dua malahan, jaga-jaga kalau satu kotak makan tidak sanggup memenuhi nafsu makan saya yang kadang kelewatan. Bahkan, untuk minum saya juga sudah sedia botol minum satu literan. Sebagai kuli yang hemat dan cinta lingkungan, membawa kotak makan dan botol minum sendiri merupakan salah satu jalan untuk meminimalkan pengeluaran. Ya, saya tidak harus beli air minum botolan yang harganya sekarang sudah makin mahal saja. Sementara uang jajan juga bisa ditekan karena bekal makan sudah disiapkan.

Masalahnya tidak semua kuli pabrik memiliki persiapan membawa rantang seperti saya. Banyak yang baru masuk kerja dan mendapati aturan yang baru dikeluarkan pagi sudah berlaku pada sore hari. Berarti makan malam nanti tidak diijinkan untuk dibungkus dengan plastik dan kertas makan seperti biasanya. Untuk kuli pabrik yang kerja kantoran bukan masalah yang besar, dari komplek ke kantin tinggal jalan selemparan. Namun untuk yang bekerja di lapangan 24 jam tentu saja ini menjadi masalah yang tidak bisa dianggap sepele. Aturan memang dibuat seharusnya untuk dipatuhi, namun tidak semestinya membunuh nurani.

Aturan yang sudah disetujui Bos Besar Pabrik ini ditempel di kantin pabrik. Karyawan kantin pun sudah dihimbau untuk tidak membungkus makanan dengan plastik dan kertas. Haram hukumnya. Sehabis makan siang, semua plastik dan kertas makan disita paksa. Tidak tersisa.

“Bagaimana coba kalau kita tidak boleh bungkus lagi, masak iya saya lagi di lapangan balik ke pabrik hanya untuk makan?” tanya Badrun, rekan se-kuli-an yang sedang bertugas di lapangan.
“Iya juga ya Drun, apa kamu mau saya pinjami rantang? Saya punya dua,” tawar saya mencoba menyelesaikan permasalahan.
“Masalahnya bukan hanya saya saja, teman-teman yang lain bagaimana?” tanya Badrun menerawang.

Benar juga apa kata Badrun. Saya tidak sanggup jika harus menyediakan rantang untuk ratusan karyawan di sini.

“Bukan masalah rantang, tapi masalah aturan yang tidak disosialisasikan. Masak aturan pagi keluar, sore langsung dilaksanakan? Memangnya ini di kota, cari rantang tinggal ke pusat perbelanjaan? Mending kalau bos kantin mikirin buat bagiin rantang, lha ini asal jalan aja itu aturan,” keluh Badrun memprotes aturan.

Memang pabrik saya sekarang lokasinya agak kelewatan di pedalaman. Belum lagi angkutan juga susah didapatkan. Untuk urusan beli rantang lima-puluh-ribuan saya yakin semua karyawan di sini sanggup untuk membawa, hanya saja dimana belinya? Jangankan rantang, yang jual odol sama sabun saja jarang.

“Tolong lah kamu bilang ke Bos Kantin itu buat dipikirkan terlebih dahulu masalah rantangan ini, minimalnya beri waktu untuk persiapan. Saya enak besok pulang, bisa siapin rantang dari rumah. Kalau yang baru masuk kerja bagaimana?” tanya Badrun.

Saya dan Badrun merupakan rekan kerja, bedanya saya sering duduk di belakang meja sementara Badrun selalu cek kondisi lapangan. Jadilah Badrun tipikal kuli yang tertempa kehidupan keras lapangan. Badrun takut kalau bicara langsung ke Bos Kantin emosinya memuncak karena jawaban yang tidak enak. Jadilah demi solusi terbaik saya diminta Badrun untuk bernegosiasi dengan Bos Kantin. Apabila tidak bisa membagikan rantang, minimalnya waktu pelaksanaan aturan ditunda sampai batas waktu yang ditentukan.

Ketika ada waktu senggang, saya pun menyempatkan diri berkunjung ke kantin karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak yang bakal merasa teraniaya.

“Bos, masalah rantang bagaimana. Apakah memang tidak bisa ditunda lagi penerapannya di lapangan? Kasih waktu Bos,” pinta saya.
“Nggak bisa. Ini sudah aturan perusahaan. Itu Bos Besar Pabrik sudah tandatangan. Tidak ada pengecualian, pokoknya mulai nanti pas makan malam sudah tidak ada acara bungkus-bungkusan kecuali pakai rantang,” kata Bos Kantin.
“Kan namanya aturan perlu ada waktu untuk sosialisasi. Apakah tidak bisa dibuat kebijakan untuk sementara. Ini tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba langsung dilarang bungkus, pakai kertas dan plastik. Lagipula di surat edaran tidak ada tanggal mulai berlaku aturan. Apakah tidak bisa dipertimbangkan? Teman-teman pada protes Bos, terutama yang kerja di lapangan,” sanggah saya.
“Ini kan kabarnya sudah beredar sejak lama, masak kamu dan teman-teman kuli lain tidak dengar,” tanya Bos Kantin dengan nada sedikit tinggi.

Memang saya sempat dengar kalau masalah pelarangan bungkus makan kecuali pakai rantang akan dilarang. Namun karena tidak pernah ada aturan tertulis dari Bos Pabrik ya saya anggap saja selentingan ini hanya kabar burung belaka. Tidak perlu ada yang dipikirkan. Kalau tiba-tiba ada aturan, justru saya senang karena ada kepastian. Yang jadi masalah itu tidak pernah ada penjelasan dan waktu untuk persiapan.

“Ya kan kasian Bos teman-teman yang belum punya rantang. Masak mau bungkus makan pakai daun pisang,” saya protes.
“Itu salah mereka kenapa tidak dipersiapkan, kamu lah belikan untuk teman-teman yang di lapangan,” jawab Bos Kantin.
“Itu tidak masalah Bos, hanya saja kan ini sudah siang. Kalau saya ke kota buat beli rantang paling baru bisa berangkat pulang kerja. Sampai sini malam, bagaimana nasib teman-teman yang harus keliling lapangan? Masak iya makannya ditunda. Kalau keburu kehabisan bagaimana?” tanya saya.
“Ya sudah biar mereka kembali ke Pabrik, makan dulu baru lanjut kerja lagi di lapangan,” jelas Bos Kantin.
“Lha, kerjaan di lapangan bagaimana Bos, siapa yang mau menggantikan,” tanya saya.
“Ya itu urusan kamu, pintar-pintarnya kamu dan kuli-kuli yang lain,” tutup Bos Kantin mengakhiri pembicaraan.

Tidak ada solusi. Amburadul. Pada prinsipnya Bos Kantin tetap pada pendiriannya. Mulai malam ini tidak ada makanan yang dibungkus kecuali menggunakan rantang. Urusan penyediaan rantang, Bos Kantin sudah memberikan solusi yang tidak solutif.

Saya pun makin pusing tujuh keliling. Bagaimana nasi Badrun dan rekan-rekan yang lain di lapangan. Jika mereka tidak diijinkan membungkus makanan dengan plastik dan kertas makan berarti tidak ada jatah makan. Berarti jika mereka hendak makan, harus kembali ke pabrik untuk makan kemudian lanjut kerja di lapangan. Masalahnya, dari lapangan ke pabrik dan sebaliknya butuh waktu yang tidak sebentar. Bagaimana dengan pekerjaan lapangan yang tertunda?

Saya jelaskan permasalahan ini ke Badrun, untunglah Badrun mau mengerti dengan syarat saya meminjamkan satu rantang cadangan saya. Urusan Badrun sudah bisa diredam namun tidak dengan teman kuli lain di lapangan.

Sore hari, sepulang kerja ketika saya sedang mandi di bawah pancuran, tiba-tiba air mati. Saya bingung, kelimpungan. Saya ambil handuk, membersihkan sisa sabun di muka kemudian mengambil telepon genggam, hendak bertanya pada Badrun untuk mencari akar permasalahan.

Ternyata Badrun sudah mengirimkan pesan.

“Air dimatikan karena kuli jaga tanki air tidak diberi jatah makan bungkusan. Kuli jaga pompa air juga ikutan protes tidak dapat makan.”

Saya masygul. Heran. Kok karena urusan rantang, suplai air dihentikan..

Besoknya, aturan bungkusan makanan direvisi. Baru berlaku sebulan lagi. Dan dari selentingan yang beredar di lingkungan pabrik, Bos Besar Pabrik protes karena saat mandi air tiba-tiba mati.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: