jump to navigation

Mengakrabi Tanjung Kutai August 16, 2015

Posted by superwid in Jalan.
Tags: , , , ,
trackback

Semasa era kejayaan Majapahit, kawasan Borneo atau Kalimantan lazim dikenal dengan Tanjungnagara. Istilah Tanjungnagara berasal dari Tanjungpura, yakni salah satu negeri yang berada di daerah barat daya Kalimantan. Tanjungpura sendiri merupakan nama Melayu dari Bakulapura, sebutan Kerajaan Singasari terhadap daerah kekuasaannya di barat daya Kalimantan. Bakula dalam bahasa Sansekerta berarti pohon tanjung (Mimusops elengi) sehingga wajar jika Bakulapura pada akhirnya mendapatkan nama Melayu : Tanjungpura – yang berarti negeri Tanjung. Sementara Tanjungnagara digunakan untuk menyebut daerah yang lebih luas daripada Tanjungpura.

Sumber lain menyatakan bahwa Tanjungnagara mendapatkan namanya dari Hikayat Banjar, sebuah naskah kuno dari Kalimantan Selatan. Tanjungnagara berarti pulau yang berbentuk tanjung/semenanjung. Sesuai dengan bentuk geomorfologi kawasan Tanjung Selatan/Tanjung Silat yang sekarang menjadi bagian dari Propinsi Kalimantan Selatan, daerah yang bersetentangan langsung dengan wilayah utama Majapahit di Jawa Timur.

Gambar diambil dari https://saripedia.wordpress.com

Gambar diambil dari sini

Tanjung Kutai – salah satu lokasi tujuan Terios 7-Wonders Borneo Wild Adventure – merupakan sebutan lama dalam Kakawin Negarakertagama untuk menyebut pesisir timur Tanjungnagara. Dalam karya Empu Prapanca tersebut, Tanjung Kutai bersama dengan beberapa kawasan lain di Tanjungnagara termasuk juga Kepulauan Sulu termasuk dalam Mandala III, salah satu dari Hasta Mandala Dwipa yang dipersatukan oleh Mahapatih Gajah Mada ke dalam wilayah Nusantara. Tanjung Kutai berbatasan dengan Tabalong (Amuntai) di sebelah selatan dan Sambaliung – Berau di ujung utara.

Saat ini kawasan Tanjung Kutai terhampar dari Balikpapan hingga Sangatta, dimana di dalamnya terdapat beberapa kota besar seperti Samarinda, Tenggarong, dan Bontang. Wilayahnya cukup luas, meliputi Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, Kota Balikpapan, Kota Samarinda dan Kota Bontang. Sebagian kecil lagi berada di Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Penajam Pasar Utara, dan Kabupaten Paser.

Tanjung Kutai menyimpan banyak potensi wisata yang tersebar luas, seperti penangkaran buaya di Teritip, Bukit Bangkirai, Penangkaran Orangutan dan Beruang Madu di Samboja – Kutai Kartanegara, Islamic Center di Kota Samarinda dan beberapa lokasi lain yang memanjakan mata. Akan tetapi, di samping semua itu ada satu lokasi wisata yang harus dikunjungi ketika bervakansi ke Tanjung Kutai, yakni Taman Nasional Kutai (TN. Kutai).

Taman Nasional Kutai Gambar diambil dari sini

Taman Nasional Kutai
Gambar diambil dari sini

Taman Nasional Kutai meliputi area di wilayah Kabupaten Kutai Timur, sebagian kecil Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Bontang. Per tahun 1995, kawasan TN. Kutai memiliki lahan seluas 198.629 hektar dimana kantornya berada di Kota Bontang. Untuk mencapai kawasan ini ada beberapa alternatif yang bisa ditempuh. Selain menggunakan perjalanan darat juga bisa menggunakan perjalanan udara dari Bandara Sepinggan menuju bandara di Kota Bontang atau Kota Sangatta.

Sejatinya perjalanan udara merupakan cara cepat dan termudah untuk menuju kawasan tersebut, namun terbatasnya jumlah penerbangan dan kapasitas tempat duduk pesawat menjadi nilai minus perjalanan udara. Perjalanan darat dari Balikpapan menuju TN. Kutai merupakan alternatif yang relatif murah dan banyak dijumpai, baik itu menggunakan bus antar kota atau travel resmi maupun tidak resmi. Dalam perjalanan darat dari Balikpapan menuju TN. Kutai, kita akan disuguhi oleh keteraturan Kota Balikpapan, rimbunnya Bukit Soeharto, megahnya Sungai Mahakam, riuhnya Kota Samarinda, serta lanskap lain yang tak kalah mengagumkannya sepanjang perjalanan.

Sebagai catatan saja, perjalanan darat dari Balikpapan ke TN. Kutai bisa memakan waktu enam sampai tujuh jam tergantung keadaan lalu lintas dan kondisi jalan. Padatnya lalu lintas menjadi hal yang wajar dikarenakan jalan lintas Kalimantan yang belum memiliki jalur alternatif. Semua kendaraan – termasuk kendaraan tambang dengan timbangan yang berlebihan – yang akan bepergian di timur Kalimantan pasti melalui jalan yang sama. Jalan tol Balikpapan-Samarinda yang diharapkan bisa sedikit mengurai beban lalu lintas belum rampung hingga sekarang dikarenakan rumitnya permasalahan pembebasan lahan. Alhasil, dampak dari situasi ini adalah kondisi jalan yang tidak selebar dan semulus jalan tol Trans Jawa.

Daihatsu-Terios-R-Adventure Gambar diambil di sini

Daihatsu-Terios-R-Adventure
Gambar diambil di sini

Jalan lintas timur Kalimantan dibangun di atas lahan gambut yang setiap hari dilintasi banyak kendaraan dengan tonase yang bervariasi. Akibatnya, di beberapa titik kondisi jalan bergelombang dan rusak. Aspal terkelupas dikarenakan genangan air yang sering terjadi jika hujan turun juga menjadi salah satu tantangan tersendiri melalui jalan lintas timur Kalimantan. Belum lagi kontur tanah Kalimantan yang tidak rata berakibat langsugng pada jalan yang berkelak kelok dan naik turun. Di sini dibutuhkan pengemudi dengan kelihaian tingkat tinggi dan tentu saja kendaraan dengan kenyamanan yang mumpuni. Benturan pasti sering terjadi saat perjalanan dan New Daihatsu Terios 2015 dengan keunggulan Side Impact Beam tentunya sangat bermanfaat dalam melindungi pengemudi dan penumpang dari benturan yang berasal dari samping. Fitur baru ini melengkapi keunggulan Terios sebagai jenis SUV yang tangguh dalam menjelajah alam liar.

Jalan lintas timur Kalimantan sebagian besar merupakan jalanan yang menembus hutan dimana pemukiman hanya ditemukan sporadis di beberapa titik. Akibatnya tentu saja penerangan jalan yang kurang dibandingkan jalanan di perkotaan. Terios menyiasati ini dengan melakukan perubahan pada projector head lamp dengan LED position lamp dan LED rear combi lamp yang di samping membuat Terios semakin stylish dan modern juga memiliki keunggulan dalam memberikan pencahayaan saat berkendara.

Setelah melalui jalanan yang cukup melelahkan, bersiap-siaplah ketika sudah bertemu pertigaan masuk Kota Bontang. Di pertigaan ini apabila kita memilih jalan lurus maka kita akan menuju Kota Bontang. Salah satu kota industri yang cukup kaya di Indonesia karena dihuni oleh perusahaan gas alam, pupuk dan batubara. Kota dimana kantor atau balai TN. Kutai berada. Jika kita berbelok ke arah utara atau belok kiri di pertigaan, di sinilah eksplorasi Taman Nasional Kutai dimulai.

TN. Kutai memiliki dua resor yang cukup favorit bagi wisatawan dan peneliti yakni Wisata Alam Sangkima dan Prevab. Kawasan Sangkima tepat berada di jalan lintas timur Kalimantan, tepatnya di jalan poros Bontang-Sangatta sehingga mudah diakses oleh siapapun. Lokasi tepatnya berada sekitar 40 kilometer dari Kota Bontang ke arah utara menuju Kota Sangatta. Luasnya sekitar 300-an hektar. Kawasan Sangkima ini merupakan area hutan yang masih alami dengan keanekaragaman hayati dan vegetasi yang cukup lebat. Namun jangan khawatir karena sudah ada akses jalan setapak dari papan kayu ulin yang membelah area ini.

Diambil dari http://sains.kompas.com/read/2015/03/20/21312761/Ulin.Terbesar.di.Dunia.Ada.di.Sangkima;

Gambar diambil dari sini

Tentunya kita bertanya-tanya, seberapa lama kayu ulin bisa bertahan di dalam kelembaban hutan tropis? Ulin (Eusideroxylon zwageri), dikenal juga sebagai Belian, Bulian, Bulin, Ungalin, Onglen, Tebelia, Balian, Kayu Taba, Lampahang, Tabalien, Tabulin, Tadien, Taliun, Taluin, Tawudien, Telian dan di luar negeri dikenal sebagai Borneo ironwood (Inggris), Bois de Fer (Prancis), Borneo Eisenholz (Jerman), Belian (Malaysia), dan Tambulian (Filipina). Pohon ulin mempunyai habitat terbatas dimana hanya tumbuh di hutan dataran rendah sampai dengan ketinggian 500 m. Kayu ulin di dunia hanya terdapat di Indonesia, Malaysia dan Filipina saja. Kayu ulin – yang juga dikenal sebagai kayu besi – merupakan pohon berkayu khas Kalimantan. Kayu ulin memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki kayu lain. Kayunya bisa tumbuh dengan diameter yang cukup besar, lurus namun juga cukup tinggi, serta memiliki sifat yang sangat keras dan juga tidak mudah di makan rayap.

“Kayu ulin apabila terkena air bukannya busuk Mas, tapi semakin kuat,” jelas Pak Muji, salah satu pendatang Sangkima yang berasal dari pulau Jawa sekitar 20 tahun lewat ketika menanggapi pertanyaan saya mengenai kondisi rumah di Sangkima yang sebagian berdiri di atas rawa dengan menggunakan pondasi penopang dari kayu ulin.

Ya, saya beruntung pernah tinggal di dalam kawasan TN. Kutai. Patut diketahui bahwa TN. Kutai tidak melulu berisi hutan dan rawa. Area TN. Kutai sebenarnya sudah terjepit. Di dalamnya banyak pemukiman penduduk dengan beberapa perusahaan yang mengeksploitasi sumber daya alamnya. Setidaknya ada 16.000 penduduk yang tinggal di dalam kawasan TN. Kutai. Beberapa perusahaan migas dan batubara juga memiliki area operasi yang bersinggungan langsung dengan taman nasional. Belum lagi perkebunan sawit dan hutan tanaman industri yang juga berada di kawasan TN. Kutai sehingga kesan taman nasional yang lantai hutannya tidak tertembus sinar matahari hanya ditemui di beberapa lokasi.

Kawasan Sangkima memiliki vegetasi ulin yang masih cukup banyak, bahkan ada satu pohon ulin raksasa yang akan kita temui setelah berjalan 800 meter melalui area trekking yang telah disediakan di Wisata Alam Sangkima. Ulin raksasa setinggi 20 meter ini memiliki diameter 2,47 meter dan dengan pertumbuhannya yang cukup lambat (Dalam satu tahun, pertambahan diameter pohon kurang dari 1 cm) diperkirakan usianya sudah mencapai 1.000 tahun. Konon kabarnya ini merupakan pohon ulin terbesar di dunia. Dengan usia 1.000 tahun semestinya tinggi pohon ini lebih dari 20 meter. Diperkirakan sebelumnya tingginya bisa mencapai 40 meter, namun patahan di ujung atas pohon menunjukkan bahwa dulunya pohon ini mungkin sempat disambar petir.

Pohon Ulin Raksasa - Dok. Pribadi

Pohon Ulin Raksasa – Dok. Pribadi

Pohon ulin raksasa ini merupakan salah satu ikon Wisata Alam Sangkima, bagian terluar dari TN. Kutai yang masih bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat luas.

Selepas bertemu pohon ulin raksasa ini, jalur trekking masih berlanjut dengan jalan tanah yang memicu adrenalin. Jalur trekking sepanjang 3 kilometer dengan kontur yang berbukit masih menanti untuk disinggahi melalui rimbunnya hutan yang masih alami. Di ujung perjalanan kita akan disuguhi dengan Pemandian 7 Puteri dan rumah pohon setinggi 15 meter. Total dibutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk mencicipi trekking Wisata Alam Sangkima TN. Kutai ini.

Di TN. Kutai ini jika beruntung kita bisa menemukan satwa eksotis penghuni hutan hujan tropis Kalimantan yang terlihat di kejauhan semisal beruang madu, macan dahan, buaya, kancil, rusa, rangkong, elang bondol, musang, kukang, landak, ular kobra, sanca, biawak dan tentu saja orangutan Morio (Pongo pygmaeus morio).

Pongo pygmaeus morio Gambar diambil dari sini

Pongo pygmaeus morio
Gambar diambil dari sini

Saya sendiri selama tinggal di kawasan pemukiman Sangkima belum pernah melihat semua satwa tersebut, paling-paling rangkong, elang bondol, musang, ular kobra dan sanca, serta biawak. Plus buaya muara Sangkima yang terkenal karena ukuran dan kebuasannya yang saat itu tengah tertangkap setelah menyambar salah satu warga yang tinggal di area sungai habitatnya.

“Dulu, sekitar 15 tahun lalu masih sering ada orangutan berkeliaran. Kadang masuk ke dalam rumah untuk mencari makanan di dapur. Beberapa kali sempat diusir warga Mas, lha mengganggu. Bahkan di jalan poros juga sering ada orangutan menunggu di pinggir jalan. Menanti ada mobil yang melempar makanan,” jelas Pak Muji lagi.

Itu cerita beberapa tahun yang lalu, sebelum terjadi penjarahan masif sebelum tahun 2000 dan kebakaran hutan yang pernah terjadi pada tahun 1998. Kayu ulin memang sangat mahal, per kubiknya bisa dijual sampai Rp7 juta. Maka tak heran jika illegal logging sangat marak.

“Saat itu banyak penjarahan hutan Mas, kayu ulin dulu banyak di sini. Pada ditebangi, dijual nggak tau kemana. Makannya sekarang di Sangkima ini hutannya sudah pada gundul. Efeknya ya orangutannya pada nggak mau ngumpul. Entah lari ke mana. Apalagi ada kebun sawit yang menganggap orangutan sebagai hama, jadi makin susah menemukan mereka,” kata Pak Muji.

Tapi bukan berarti orangutan benar-benar sirna dari kawasan Sangkima. Beberapa kali kehadirannya masih sempat ditemui oleh kawan yang kebetulan sedang bertugas di area pinggiran hutan. Apabila hendak mencari orangutan dengan probabilitas pertemuan yang lebih besar, kawasan Prevab Mentoko adalah salah satu tujuan.

Konflik kawasan menjadi salah satu permasalahan utama kawasan taman nasional. Potensi bisnis di kawasan hutan membuat taman nasional dikepung oleh beberapa perusahaan yang mengeksplorasi hutan. Efeknya tentu saja semakin mengecilnya area konservasi flora fauna di TN. Kutai. Konsekuensi logis yang didapat tentunya persaingan antara manusia dan alam.

Beberapa kali terdengar berita warga yang disambar buaya di Sungai Sangkima dikarenakan beraktivitas di tepiannya. Kejadian ini merupakan efek berantai dari berkurangnya area konservasi yang mengakibatkan mangsa buaya berkurang karena tidak lagi mendapatkan kebutuhan pakan dan papan untuk tinggal. Terlebih lagi manusia dengan segala ego dan kekuatannya menganggap orangutan, buaya, dan satwa lain merupakan ancaman yang membahayakan sehingga harus dimusnahkan apabila terjadi perseteruan. Padahal jika ditilik lebih lanjut, fauna tersebut lebih dulu mendiami kawasan ini yang berarti manusia yang menjadi pengganggu habitat alami.

Pelestarian hutan merupakan salah satu cara untuk mengatasi permasalahan yang tengah dialami oleh TN. Kutai. Solusi pelepasan sebagian kawasan (enclave) TN. Kutai memang berakibat positif dalam proses pembangunan wilayah namun berdampak negatif pada luas area konservasi yang semakin menipis. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya fungsi hutan serta keberlangsungan hidup flora fauna di dalamnya merupakan kewajiban kita semua.

home-header2

Melalui Terios 7-Wonders Borneo Wild Adventure, Daihatsu mencoba mengenalkan eksotisnya alam liar Kalimantan kepada masyarakat luas. Setelah mengangkat tema kopi Indonesia melalui Terios 7-Wonders Sumatera Coffee Paradise pada tahun 2012, eksplorasi destinasi tersembunyi di 7-Wonders Hidden Paradise pada tahun 2013, tema budaya pada Terios 7-Wonders Amazing Celebes Heritages pada tahun 2014, kini di tahun 2015 Daihatsu kembali mengadakan petualangan baru yang menawarkan keindahan alam Indonesia. Tentu saja, dengan adanya program ini kita berharap tidak hanya menghasilkan pengalaman bagi pemenangnya. Namun tentu saja pesertanya harus mampu membuat sesuatu yang bisa meningkatkan kesadaran manusia untuk hidup sejalan dan berdampingan dengan alam.

TN. Kutai sebenarnya tidak melulu hutan. Beberapa lokasi menghadirkan pengalaman lain yang menakjubkan. TN. Kutai berbatasan langsung dengan Selat Makassar sehingga memiliki beberapa lokasi pantai yang cukup menyegarkan. Salah satu di antaranya adalah Pantai Teluk Lombok.

Pantai Teluk Lombok - Dok. Pribadi

Pantai Teluk Lombok – Dok. Pribadi

Pantai Teluk Lombok merupakan salah satu pantai pasir putih yang berada disalah satu kawasan perusahaan migas di Sangatta. Untuk masuk ke lokasi pantai tersebut, kita harus melalui jalan lokasi yang awalnya dibuat untuk memudahkan operasional perusahaan. Karena lokasinya yang berada di dalam kawasan taman nasional, maka jalan tersebut tidak diaspal hitam, cukup dikeraskan.

Jalanan tanah merah yang harus ditempuh saat mengunjungi pantai Teluk Lombok memaksa kita untuk lebih cermat dan berhati-hati dalam membawa kendaraan. Rute bergelombang menjadi santapan di perjalanan bukan hambatan bagi Terios. Ground clearance yang tinggi memudahkan Terios untuk melahap medan tersebut. Khusus untuk varian R dan R Adventure, Terios melengkapi dirinya dengan DRL (Daytime Running Light) yang membantu fog lamp Terios menembus pekatnya debu yang muncul seiring gesekan ban dengan jalan tanah. Keberadaan GPS Built In tentunya juga sangat membantu pengendara untuk melintasi medan yang belum dikenal. Mobil Terios ini memang sangat cocok dengan slogannya “New Terios Spirit Sahabat Petualang”.

Hutan Bakau Sangkima - Dok. Pribadi

Hutan Bakau Sangkima – Dok. Pribadi

Area Pantai Teluk Lombok juga menyuguhkan vegetasi hutan bakau yang masih terjaga alami. Bahkan seorang teman yang pernah bermukim di Sangkima mengatakan bahwa di sebelah utara Pantai Teluk Lombok – yang dinamakan Teluk Perancis – masih ada potensi terumbu karang yang bisa dinikmati pecinta wisata laut. Belum lagi bagi penghobi pancing akan ditantang dengan tarikan ikan-ikan yang masih banyak di rawa, sungai maupun laut TN. Kutai.

Ya, Tanjung Kutai memberikan pengalaman yang mengesankan untuk berpetualang. Semoga saja Daihatsu bisa memberikan kesempatan kepada orang-orang yang mau dan mampu untuk memberikan perubahan guna membawa Indonesia menjadi semakin dan lebih baik lagi.

***

Tulisan ini disertakan dalam Lomba Blog Terios 7-Wonders Borneo Wild Adventure

fb-daihatsu

fb-viva

twit-daihastu

twit-viva

twit

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: