jump to navigation

Mie Instan – Warung Burjo September 4, 2015

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

*tulisan ini berdasarkan riset dan pengamatan mendalam selama puluhan tahun yang keabsahannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Penggunaan seluruh atau sebagian dari tulisan ini sebagai dasar penulisan ilmiah tidak disarankan karena bisa menimbulkan perdebatan.

Warung burjo – singkatan dari bubur kacang ijo – merupakan salah satu warung yang banyak menjamur di lingkungan sekolah dan kampus, terutama di kampung saya. Maka tidak heran jika sejak bangku sekolah dasar saya sudah mengenal warung ini. Bisa dibilang saya sudah kenyang merasakan merica garam warung burjo 24 jam. Awalnya hobi mengunjungi warung burjo ini didasarkan pada kesukaan saya terhadap bubur kacang hijau dan ketan hitam, yang notabene pada awalnya merupakan komoditas utama yang dipasarkan. Namun seiring berkembangnya jaman dan untuk peningkatan omset penjualan, terjadi diversifikasi ragam produk yang ditawarkan. Salah satu di antaranya adalah mie instan.

Sekarang ini warung burjo dan mie instan bagaikan sepasang kekasih yang tak terpisahkan, hingga di akhir zaman.

Tidak heran atas keberhasilan penjualan produk mie instan di warung burjo, salah satu produsen mie (di samping produsen kopi) menjadi sponsor warung burjo yang ditandai dengan spanduk berlogo produsen mie instan dan daftar menu dengan logo serupa. Konon kabarnya apabila eksklusif menjual variasi mie instan sponsor saja ada program mudik gratis tiap tahunnya. Tidak bisa dipungkiri memang salah satu lini penjualan terlaris warung burjo adalah mie instan yang menggeser khittah bubur kacang hijau sebagai produk primernya. Memang, bubur kacang hijau dan ketan hitam masih diperdagangkan di sebagian warung burjo meskipun dengan produksi harian yang pas-pasan, sekadar pelengkap barangkali ada yang memesan. Sepertinya penjualan bubur kacang hijau kalah jauh dari penjualan mie instan, bahkan masih kalah dari penjualan nasi telur atau nasi sayur atau nasi sarden.

Sebenarnya apa yang membuat mie instan di warung burjo laris manis? Ada dua faktor yang bisa kita mintai pertanggungjawaban. Yang pertama adalah faktor teknis, dimana di tulisan ini tidak akan kita bahas secara terperinci.

Banyak yang berpendapat bahwa warung burjo mempunyai teknik tersendiri dalam memasak mie instan. Mulai dari anggapan bahwa air bekas memasak yang tidak diganti seharian, atau penggunaan kaldu ayam untuk membuat kuah lebih menggiurkan hingga yang paling ekstrim adanya mitos celana dalam bekas pakai perawan yang harus dimasukkan ke dalam wajan penggorengan. Penggunaan jumlah lembar sawi dan cabai sesuai fengshui untuk per porsi penyajian. Pemakaian mangkok putih bergambar ayam jago jantan untuk presentasi makanan. Belum lagi dari peralatan masak dimana pakem penggunaan panci sesuai dengan cara memasak di bungkus kemasan digantikan dengan wajan yang dirasa bisa memberikan panas yang lebih merata. Kompor gas yang diganti dengan kompor minyak atau kompor arang untuk pembakaran sempurna, serta berbagai teknik lain yang hanya bisa dianalisa oleh chef sebenarnya.

Tapi sekali lagi, apabila kita menerapkan segala teknik tersebut di rumah masih saja rasa mie instan yang dibuat tidak selezat buatan warung burjo. Oleh karena itulah faktor kedua – yakni faktor non teknis – yang akan diangkat di sini secara lebih terperinci, yang membuat mie instan warung burjo lebih nendang daripada mie instan buatan sendiri. Berikut faktor non teknis yang menyebabkan mie instan warung burjo lebih lezat.

Mie instan di warung burjo adalah salah satu indikator kesejahteraan dan kekayaan.
Makan mie instan di warung burjo menandakan bahwa kita sedang memiliki uang yang tentunya berkonotasi positif dengan kekayaan dan kesejahteraan yang sedang kita nikmati. Alam pikiran kita sedang berada dalam kondisi senang dan bahagia. Makanan apapun apabila dimakan dalam kondisi gembira atau kelaparan akan terasa lezat dan nikmat. Seperti Om Gombloh bilang, kalau cinta sudah melekat tai kucingpun jadi terasa coklat. Coba apabila kita tidak punya uang, tentu saja kita tidak bisa membayar makanan yang disuguhkan di warung burjo. Mentok-mentoknya bikin sendiri di rumah, makannya rasa mie instan kurang enak sebab uang kita pas-pasan cenderung ke habis-habisan. Belum lagi jika mie instan mentah dibeli dengan sistem berhutang atau kredit bulanan yang akan membuat stabilitas anggaran ke depan menjadi berantakan sehingga pikiran menjadi kacau tidak karuan.

Anomali bagi Paijo. Belum pasti indikator kesejahteraan dan kekayaan yang dimiliki dapat dilihat dari kemampuannya untuk membeli mie instan di warung burjo karena Paijo beruntung memiliki teman seperti Dibyo. Dibyo merupakan salah satu kaum borjuis yang sering lupa menaruh uang recehan hasil belanjaan yang kadang tersebar tidak karuan di kamar kostan. Inilah kekayaan yang dimanfaatkan kaum proletar macam Paijo yang dengan cara seksama bisa memanfaatkan kebaikan hati Dibyo yang merelakan recehannya bagi kaum musafir yang tengah berjuang menuntut ilmu untuk dijadikan asupan makanan.

Jadi bagi Paijo, mie instan warung burjo belum tentu selezat yang Dibyo rasakan.

Mampu menyuruh orang terlatih dan berpengalaman serta mampu membayarnya untuk membuatkan mie instan menunjukkan posisi sedang di atas angin alias sedang bergaya jadi majikan.
Siapa yang tidak senang jadi atasan, tinggal suruh-suruh orang. Itulah yang terjadi dengan mie instan di warung burjo. Kita tinggal pesan, duduk manis sambil menunggu makanan datang. Bisa diselingi dengan makan gorengan atau rokokan – ini tidak saya sarankan, mengganggu kesehatan. Semua sudah disiapkan, kalau istilah kampungnya : semua sudah diladeni. Kita tidak perlu memikirkan membuka bungkus mie, memasaknya, kemudian setelah selesai masak harus mencuci peralatan masak dan makan. Bayangkan apabila kita masak mie instan sendiri di rumah, setelah beres masak harus cuci piring, mengelap kompor, menyapu lantai dapur, mengepel, cuci baju, sampai betulin genteng. Pasti makannya jadi tidak tenang karena sudah terbayang kalori yang baru saja masuk ke badan akan segera dibakar untuk mengerjakan berbagai macam kegiatan.

Joko, bisa dan sering meminta Ucup ataupun Sukiman untuk memasakkan mie instan di kontrakan meskipun si tukang masak kadang malas-malasan kalau tidak diiming-imingi mie instan gratisan. Namun pastinya rasanya tidak bisa disandingkan dengan mie instan warung burjo. Kenapa? Tangan Ucup dan Sukiman tidak terampil dan terlatih untuk membuat mie instan dengan segala racikan dan garnish yang sering di warung burjo sajikan. Ya, di samping faktor teknis dan non teknis harus ada latihan dan pengalaman. Terlebih lagi tidak ada teman makan gorengan dan kerupuk camilan sebagai pelengkap masakan. Jadi ya tetap saja rasanya berbeda. Mungkin jika Ucup dan Sukiman lebih telaten mengurus Joko dan bisa mempraktekkan teknik memasak ala Aa-Aa dari area Kuningan, besar kemungkinan Joko bakal menjadikan mereka pasangan senasib tidak sepenanggungan.

Tidak ada tagihan mie instan yang berlebihan mengakibatkan isi dompet tidak sampai kehabisan.
Asal tahu diri, mie instan di warung burjo tidak akan sebegitunya menghabiskan lembaran rupiah di dompet atau tabungan. Tapi itu tadi, asal tahu diri. Memang mie instan dan gorengan merupakan kombinasi menyenangkan makanan yang murah meriah bergizi rendah namun juga jangan makan mie instan disambi gorengan segerobak ditambah minuman bersoda satu krat belum nanti ditambah camilan lain yang kalau sedikit kurang nendang dan kalau banyak ketagihan. Mie instan di warung burjo lebih bisa menjaga perasaan konsumennya yang rata-rata anak sekolah dan kuliahan. Seandainya kita pesan mie instan di American Grill rasa-rasanya mesikpun kita tinggal duduk dan makan, pulangnya akan puasa sampai akhir bulan.

Teman saya, Kojrat – inlander sejati, hampir tiap hari menyambangi warung burjo. Entah itu untuk memesan mie instan ataupun minta suguhan segelas kopi susu hangat. Namun meskipun jadi langganan, saya tidak melihat kondisi keuangannya menjadi minus ataupun kekurangan. Justru motornya bisa ganti baru. Malah kalau baiknya lagi kumat, Kojrat tidak segan memberikan traktiran – yang nantinya akan ditagih pada kita untuk pesanan pada kunjungan berikutnya. Beda misal sehari sekali Kojrat membeli makan di warung Pizza Hut. Meskipun cuma memesan segelas susu hangat pastilah tengah bulan Kojrat sudah sekarat.

Memakan mie instan di warung burjo menunjukkan tidak sedang (atau akan) menghadapi tekanan berat.
Pelanggan warung burjo yang memesan mie instan kebanyakan dari kalangan pelajar dan mahasiswa, dimana tiap harinya yang dipikirkan mentok-mentoknya hanya masalah perkuliahan, persekolahan, atau perpacaran. Tidak ada yang memikirkan rumah tangga apalagi negara. Masak iya presiden dan menteri makan siang di warung burjo sekalian membahas masalah dollar yang tak kunjung turun atau sapi negeri sebrang yang mulai membanjiri pasar lokal? Meskipun pemerintahan sekarang sedang mencitrakan blusukan namun sepertinya tidak sampai rapat anggaran dilaksanakan di warung burjo pinggir jalan.

Lagi-lagi Kojrat sebagai kaum cendikia terdidik membuktikan teori ini dengan kekaleman dan ketenangannya meskipun skripsi belum tamat (saat itu – syukurlah sekarang sudah selesai diwisuda). Baginya warung burjo merupakan tempat yang tepat untuk menyelesaikan segala permasalahan umat. Sepelik apapun persoalan yang dihadapi, warung burjo dan segala produknya merupakan katalis handal untuk mencari solusi. Entah itu mie instan atau nikotin di rokok batangan. Jadi meskipun kuliahnya lama dan jodohnya masih belum ada, Kojrat tetap bahagia dan bebas dari tekanan karena produk warung burjo berkhasiat.

***

Kira-kira sekian riset dan pengamatan dari saya mengenai mie instan di warung burjo. Beberapa faktor di atas, teknis dan non teknis, merupakan satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan. Penerapan salah satu faktor saja akan menjadikan masakan terasa hambar dan tidak bisa dipadankan dengan warung burjo punya mie instan. Teori yang sama sepertinya berlaku juga apabila kita juga makan di angkringan.

Lagipula, bagaimanapun juga untuk manusia sonder kemampuan memasak, makanan dan minuman buatan orang memang selalu lebih enak sebagaimana peribahasa yang menyatakan pacar tetangga selalu lebih cantik daripada pacar sendiri.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: