jump to navigation

Asap September 13, 2015

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Belakangan ini Badrun sering uring-uringan. Biasanya jadwal uring-uringan Badrun sudah bisa ditebak dan diperkirakan, yakni sekitaran tanggung bulan ketika gaji sudah mulai penghabisan sementara cicilan mulai berdatangan serta ketika jadwal libur kerjanya tiba namun “landasan” istrinya sedang dalam proses renovasi besar-besaran. Biasanya untuk kasus kedua Badrun suka merubah jadwal seenaknya agar ketika pulang ke rumah “landasan” sudah bisa digunakan sedangkan untuk kasus pertama Badrun hanya bisa mengelus dada.

Nah sekarang ini Badrun makin sering naik pitam dengan skedul yang tidak bisa ditentukan. Setelah diperhatikan, Badrun mulai meradang ketika menerima telepon dari seseorang yang belum bisa dipastikan siapakah gerangan. Karena kadar uring-uringan Badrun sudah semakin memprihatinkan dan berpotensi mengganggu kenyamanan, maka saya berinisiatif untuk menanyakan persoalan apa yang membuat Badrun masygul beberapa hari belakangan.

“Ada apa Drun, kok akhir-akhir ini sering sewot? Cicilannya nambah apa landasan istri yang lama diperbaiki dan tak kunjung bisa didarati?” saya bertanya dengan sopan.
“Owalah, kalau itu kasus rutin bulanan, bukan masalah besar. Sudah disiapkan solusinya. Ini ada masalah yang lebih runyam. Ribet. Semrawut,” kata Badrun agak geram.
“Memangnya kenapa Drun, barangkali saya bisa membantu menyelesaikan permasalahanmu,” tawar saya mencoba membantu.

Badrun kemudian bercerita panjang lebar mengenai masalah yang tengah dialaminya. Adik bungsu Badrun minta segera naik pelaminan. Kemarin dia minta uang kepada Badrun untuk bekal perkawinan. Nilainya tidak bisa dibilang kecil namun juga tidak terlalu besar. Sebenarnya untuk ukuran Badrun dan familinya yang punya kebun karet dan lahan sawit lumayan, angka yang diminta adik Badrun masih masuk dalam anggaran. Namun sebagaimana orangtuanya yang tidak mau memberikan modal, Badrun juga menolak permintaan sang adik bontot. Alasannya sama, adik Badrun belum punya penghasilan tetap untuk nafkah lahir batin keluarganya nanti.

“Kak, nak mano kalo tu betino keburu disamber lanang liyo?” kata adik Badrun bersungut-sungut. Merajuk seperti anak kecil yang waswas tidak kebagian THR Lebaran.
“Ya berarti belum jodoh. Insyaallah jodoh di tangan Tuhan, makannya kamu berubah jangan seperti ini terus. Bisa-bisa kalau kamu tidak berubah, Tuhan lepas tangan ngurusin jodohmu,” kata Badrun setengah memberi nasehat kepada adiknya.

Dari cerita Badrun baru saya tahu kalau adiknya ini pengangguran lintas jaman. Semenjak lulus sekolah tingkat atas, kerjanya hanya luntang-lantung tidak karuan. Sudah berganti tiga presiden juga belum ada perubahan signifikan. Makannya Badrun enggan untuk membantu adiknya melangsungkan pernikahan. Cemas nantinya kehidupan rumah tangga mereka tidak bahagia karena pondasinya belum kuat benar.

“Mau dikasi makan apo betino tu?” tanya Badrun.
“Adalah Kak, rejeki kan sudah diatur Tuhan. Kalau rejeki idak bakal kemano. Apalagi ingat janji Tuhan kagek abis kawin rejeki bakal berlipet duo. Pokoknya habis nikah rezeki pasti bertambah Kak,” jawab adik Badrun berceramah.
“Tapi ya rejeki itu dicari, bukannya ditunggu sampai mati. Sudah nanti saja kawinnya kalau kamu sudah kerja. Nanti Kakak carikan kerjaan dulu biar kamu tidak malu buat ngelamar anak gadis orang. Minimalnya nanti kalau sudah berumah tangga ada uang buat beli beras. Bukan minta ke orangtua atau mertua apalagi tetangga,” kata Badrun.
“Tapi Kak, udah kebelet kawin Kak,” rengek adik Badrun merengut cemberut.
“Kau tidak hamilin anak orang kan? Awas kalau sampai kejadian,” ancam Badrun.
“Tidak Kak, ini justru menghindari dosa Kak,” jawab adik Badrun.
“Puasa kalau gitu, banyak-banyak beribadah tahan napsu setan. Kalau tidak bisa, gantung itu burung di rumah. Jangan diumbar sembarangan,” kata Badrun mengakhiri pembicaraan.

Rupa-rupanya itu yang membuat Badrun sering mengomel tak tentu. Pantas saja selama ini kadang saya melihatnya merenung lama seperti banyak pikiran. Dengan tanggungan dua anak yang masih balita dan adik yang kadang tidak tau etika wajar jika Badrun semakin gundah gulana. Ditambah harga bahan pokok yang makin menggila. Badrun khawatir kalau adiknya nanti khilaf dan melarikan anak orang. Berkaca pada tabiatnya yang saat muda dulu mudah terbawa emosi dan perasaan, Badrun takut adiknya kebablasan.

Di satu sisi saya kasihan dengan adik Badrun yang di usianya sekarang memang seharusnya sudah beristri dan punya keturunan namun di sisi lain alangkah tidak bijaksananya mengiyakan keinginan adik Badrun untuk menikah tanpa persiapan yang matang. Saat itu saya tidak bisa memberikan solusi yang bisa menenangkan. Badrun pusing, saya ikutan pening.

Beberapa hari berselang, saya bertemu dengan Badrun di kantin tempat makan. Wajahnya masih ditekuk, mimik mukanya masih belum bersahabat menunjukkan urusan adiknya yang minta kawin belum terselesaikan.

“Bagaimana Drun, sudah ada perkembangan?”, tanya saya basa-basi sambil terbatuk-batuk.
“Belum, masih gelap. Belum jelas. Tetap minta kawin. Sudah biarkan saja, biar dia memikirkan juga. Tidak asal bicara. Dipikir kawin itu cuma enaknya saja. Dikira cuma nyelupin pusaka aja tidak mikir anak istri butuh dikasih makan sama pakaian,” kata Badrun.

Saya kembali terbatuk-batuk. Bukan lantaran tertawa mendengar perkataan Badrun atau tersedak makanan namun memang tenggorokan teraasa perih dan tidak nyaman. Rasanya gatal sekali, macam ada semut yang berbaris rapi jalan di tenggorokan dari pagi sampai sore hari.

“Kenapa batuk-batuk? Tidak enak badan? Kena kabut asap?” tanya Badrun.

Bulan-bulan terakhir ini kabut asap sedang marak terjadi di sekitaran pabrik. Konon kabarnya di musim kemarau seperti sekarang ini pembakaran hutan yang mengakibatkan kabut asap memang banyak dilakukan baik oleh perusahaan maupun perorangan. Kebakaran hutan seakan telah menjadi agenda tahunan yang sayang untuk dilewatkan. Sebagai penduduk setempat, Badrun sudah biasa menghadapi musibah seperti ini jadi meskipun setiap hari dia keliling mengecek pekerjaan lapangan namun tetap tenang sementara saya merana menghadapi asap yang semakin menyiksa.

Kabut asap tahun ini merupakan salah satu yang terparah. Provinsi tempat pabrik saya berdiri ini menyumbangkan titik api terbanyak yang bisa didata BMKG yakni sebanyak 621 titik panas per pertengahan September 2015. Di beberapa provinsi jarak pandang terhambat yang mengakibatkan aktivitas warga terganggu. Beberapa bandara terpaksa ditutup karena sangat tidak memungkinkan untuk aktivitas penerbangan. Kondisi udara akibat kabut asap ini masuk kategori berbahaya dan berpotensi menimbulkan penyakit pernafasan akut dan kronis apabila terhirup dalam waktu yang lama. Data dari BNPB hampir 65% pulau diselimuti oleh kabut asap yang pekat. Jadilah warga di pulau panen asap gratisan yang mematikan.

Akibat terlalu banyak menghirup kabut asap akhirnya daya tahan tubuh saya jebol juga.

“Iya Drun, cuacanya tidak enak. Terlebih lagi kabut asapnya makin menjadi. Dua hari ini semakin parah saja keadaannya. Sebelumnya cuma asap tipis tidak berbau, namun kemarin ini tambah pekat ditambah bau yang menyengat,” jelas saya menunjukkan beberapa obat yang saya comot dari klinik pabrik.
“Memang tahun ini rasa-rasanya yang paling parah asapnya. Baunya memang kelewatan,” kata Badrun yang ikut-ikutan protes pada keadaan.
“Kebakaran seperti ini apa penyebabnya ya? Masak tiba-tiba api muncul begitu saja? Sepertinya tiap tahun kejadiannya selalu berulang, tidak enak juga dengan negara tetangga,” tanya saya kepada Badrun yang lebih berpengalaman.

“Biasanya kebakaran ini disengaja. Kalau kebakaran tidak disengaja dari dulu sudah kejadian. Sepuluh tahun lalu tidak ada kan kebakaran hutan? Kalaupun ada efeknya tidak seperti sekarang. Seringnya pembakaran ini digunakan untuk pembukaan lahan. Cara yang cepat, praktis dan murah, tinggal bakar dan semuanya rata dengan tanah. Coba kalau pakai alat berat butuh biaya berapa? Tidak peduli itu perusahaan atau perorangan kalau yang memang ‘nakal’ ya begitu sistem membuka hutan biar bisa dijadikan perkebunan. Tapi jangan tidak enak sama negri jiran. Beberapa perusahaan yang kaplingnya terbakar itu merupakan lapak garapan milik korporasi negara tetangga. Ya meskipun belum bisa dibuktikan kebenarannya kalau kebakaran hutan direncanakan. Biasanya sih kalau di sekitaran sini lahan dibuka buat ditanami sawit. Dan mereka yang punya modal besar tidak mau repot, tinggal bayar orang saja untuk membakar ilalang selanjutnya biarkan angin yang menyelesaikan. Lempar batu sembunyi tangan. Jelas lebih aman apabila ada yang melaporkan,” jelas Badrun.

“Kok pada mau dibayar buat bakar hutan ya, resikonya kan besar. Bisa ikut kebakar. Belum lagi kalau ketahuan kan bisa ditahan. Kalau tidak salah hukumannya mulai dari 15 tahun kurungan penjara sampai denda sebesar RP 10 miliar,” kata saya.
“Namanya juga orang kampung, butuh buat beli kebutuhan. Mereka juga tahu kalau di luar banyak api dan asap, tapi mau bagaimana lagi? Kadang dari asap kebakaran hutan itu dapur mereka juga bisa tetap berasap,” kata Badrun menghela nafas.

Di tengah makan siang, Dadan datang dengan baju berdebu dan terlihat sisa bekas abu. Langsung saja Dadan bergegas mengambil posisi di meja kami.

“Kenapa Dan? Ada kebakaran?” tanya Badrun penasaran.

Dadan, di samping menjadi pengawas keselamatan juga nyambi menjadi tim pemadam kebakaran pabrik jika diperlukan.

“Iya, ada kebakaran lumayan besar. Itu di lahan di seberang jembatan. Sudah dua hari ini api tidak padam. Begitu siang hari mulai reda sorenya kembali lagi terbakar hebat,” kata Dadan.
“Pantas saja beberapa hari ini asapnya menyengat. Pakai masker juga tidak banyak membantu,” kata saya.
“Iya memang kejadiannya sudah beberapa hari ke belakang. Cuma parahnya baru dua hari lalu. Apinya besar, kalau tidak dipadamkan bisa merambat ke pemukiman warga bahkan bisa sampai ke pabrik kita,” kata Dadan.
“Siapa yang bakar Dan, perusahaan mana lagi yang bikin kebakaran? Atau lahan perorangan?” tanya Badrun.
“Belum ketahuan Drun, ini sedang diinterogasi pelakunya,” kata Dadan.
“Yang bakar ketangkap Dan?” tanya saya menyelidik.
“Iya, ada dua orang yang diamankan. Namanya Juned sama Gombloh. Saat ini mereka sedang digelandang ke kepolisian untuk investigasi lebih lanjut. Besok kita tunggu saja laporan dari pihak keamanan,” kata Dadan.

Selanjutnya kami mulai sibuk menghabiskan makanan yang sudah kami pesan. Nampak Dadan yang makan dengan lahap, mungkin karena tenaganya banyak dipakai untuk memadamkan kebakaran. Sementara Badrun yang tadinya kelaparan justru makan tanpa semangat.

Selepas makan dan Dadan kembali ke lapangan untuk bertugas memadamkan kobaran api, Badrun berkata lirih hampir-hampir tak dapat didengarkan.

“Juned itu adik saya yang minta dikawinkan.”

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: