jump to navigation

Preman September 27, 2015

Posted by superwid in Uncategorized.
trackback

Sebagai salah satu kuli pabrik yang sering bekerja di lapangan, Slamet banyak sekali mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Mulai dari cuaca yang kadang panas hujan tak beraturan, bertemu dan dikejar babi hutan atau diganggu makhluk astral yang tidak kelihatan hingga berhadapan dengan masalah sosial yang tak kunjung ada penyelesaian. Ditempa oleh keadaan dan kondisi lapangan, Slamet yang warga pendatang bertransformasi dari seorang remaja lucu-lucu nan lugu kini menjelma menjadi sosok yang kadang nekad dan urakan, tidak ikut aturan. Adaptasi yang wajar untuk bertahan dari tekanan lahir dan batin serta luar dan dalam.

Masalah sosial merupakan masalah yang jamak dan wajar dialami oleh pabrik tempat kami mengais rejeki dimanapun berdiri. Berada di lokasi yang jauh dari kota dan keramaian tidak menjamin lingkungan menjadi aman tenteram. Justru bersanding dengan warga dan masyarakat setempat yang sebagian dimanjakan oleh kemudahan mencari seseran mengakibatkan permasalahan sosial menjadi penyakit menahun yang susah disembuhkan. Premanisme menjadi sesuatu yang rutin terjadi, semacam dipelihara negara bagaikan fakir miskin dan anak yatim yang justru terlupa. Aksi pemalakan terang-terangan ini sudah sedemikian akut dan kronis tanpa ada solusi yang pasti.

Akibatnya, orang-orang seperti Slamet lah yang di samping menjadi garda depan pabrik untuk mencari komoditas jualan kerap bersinggungan dengan kerasnya jalanan, hutan, dan bajingan. Tak terhitung lagi sudah berapa kali Slamet mesti menghadapi orang-orang sangar yang kadang kala bersliweran di lokasi pabrik guna mencari pendapatan dengan kamuflase mencari pekerjaan. Padahal tugas utama Slamet hanyalah kuli tukang pasang pipa dan pompa, bayarannya bukan untuk menjaga stabilitas keamanan pabrik.

“Sudah biasa, sudah sering dihadang gali. Dipalak, diperas, minta setoran. Pertama nyiut juga nyali, lama-lama ya kebal sendiri. Sebenarnya kalaupun memang harus bacok-bacokan ya mari. Cuma sayangnya preman sini biasanya jago kandang, habis gitu bawa pasukan dan gerombolan. Mana pernah saya dihadang sendiri, minimalnya tiga orang dengan senjata bawaan. Apa saja yang bisa dibawa ya dibawa biar kelihatan seram. Ada yang bawa palu, arit, bahkan cangkul. Entah modal buat beli senjata tajam lagi cekak atau barangkali habis dari kebun sekalian mampir,” kata Slamet bercanda namun setengah jengkel ketika membuka pembicaraan.

Agak berlebihan memang kalau Slamet harus dihadang oleh tiga orang. Badannya kurus tinggi tanpa dasar beladiri. Terakhir malah delapan orang yang mengerubungi Slamet jam tiga pagi. Minta pekerjaan saat itu juga, pekerjaan akal-akalan karena tujuannya hanyalah rupiah dengan jumlah tertentu.

“Mereka minta kepastian, tapi saya tidak bisa menjanjikan. Memangnya ini pabrik saya apa. Kan saya harus diskusi dulu dengan bos dan mandor yang jam tiga pagi pasti masih bermimpi. Termasuk petugas keamanan untuk koordinasi. Namun mereka tidak mau tahu, sempat diancam juga kalau tidak ada penyelesaian siap-siap besok pulang tinggal nama. Itu golok sudah pada keluar dari sarungnya. Ada teman bukannya membantu malah melarikan diri,” cerita Slamet tentang kejadian terakhir yang dialaminya sekitar dua bulan lewat.

Memang masalah premanisme di lokasi kerja pabrik ini sudah ada sejak jaman dulu. Sekalinya sempat ditumpas oleh aparat sewaan tapi tidak ada tindakan berkelanjutan. Jadilah begitu ada celah untuk unjuk diri dan tidak ada usaha untuk mengebiri maka premanisme muncul dan beraksi lagi. Di lingkungan pabrik, fenomena ini terjadi karena kecemburuan sosial dan persaingan ketat untuk mendapatkan pekerjaan plus situasi ekonomi yang kian sulit dan pengangguran yang makin tinggi. Pendidikan yang rendah juga menjadi alasan. Ditambah lagi dengan faktor kemalasan yang kerap menjangkiti sebagian orang yang enggan berusaha sehingga mau enaknya sendiri. Akibatnya masyarakat dengan latar belakang ekonomi dan sosial yang sama mulai berkumpul dan mencari cara untuk mendapatkan penghasilan, lazimnya melalui penyediaan jasa yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Identik dengan dunia kriminal yang disamarkan.

“Trus gimana Met, apa kamu tidak takut kalau di lapangan ketemu preman lagi?” saya bertanya, menyelidik.
“Ya bagaimana lagi, namanya kerja. Kan saya juga butuh penghasilan biar dapur tetap ngebul dan aman. Selama saya masih sanggup untuk melawan ya saya coba lawan. Prinsip saya, kita ini bekerja untuk banyak orang. Demi kepentingan negara. Masa kalah sama satu atau dua orang yang punya kepentingan pribadi. Perlu dor ya dor saja. Kalau dosa saya siap menanggungnya, tapi ganti rugi materi jangan dibebankan ke saya juga. Misal pabrik diganggu satu atau dua orang yang sudah berkeluarga, anggap punya istri dan anaknya dua. Mentok-mentoknya kalau saya bunuh dia palingan tiga orang yang menderita. Kalau preman itu ganggu kita berapa orang yang teraniaya? Misal karyawan kita ada 100 orang dengan jumlah keluarga yang sama, bayangkan 400 orang tidak bisa bekerja. Coba lebih tekor yang mana? Tuhan Maha Ampun, dari itung-itungan yang teraniaya saja kita sudah menang. Kalau dianiaya terus tanpa perlawanan itu bodoh namanya. Pandir. Jangan sedikit-sedikit kita pasrah dan bilang bahwa ini semua takdir Tuhan yang harus diterima dengan sabar dan lapang dada. Kalau semua takdir Tuhan negara kita mau dijajah orang ya dipersilakan,” jelas Slamet mulai beringas ganas.

Mungkin saking jengkelnya Slamet menghadapi premanisme di lingkungan pabrik jadi jiwa anarkisnya mulai membara. Memang bukan sekali dua kali Slamet terancam jiwanya. Terhitung dalam tahun ini saja, sudah lima kali ancaman itu datang padanya. Teror-teror acap kali menyambangi, baik didatangi langsung, via telepon ataupun pesan singkat yang intensitasnya sudah seperti minum obat. Ketika sedang berada di lapangan, geng jagoan kampung gemar datang mengunjunginya. Berniat meminta jatah pekerjaan yang nantinya diminta uangnya namun kerjanya tidak ada. Mending kalau masih mau datang, ini menghilang begitu duit sudah di tangan.

“Kan ada petugas keamanan Met, paling tidak keselamatan jiwamu aman kalau ada mereka. Atau minimalnya bisa dilaporkan ke bos atau mandor pabrik jika memang sudah kelewatan,” kata saya.
“Petugas keamanan yang diamankan kan banyak, nggak cuma saya saja. Mana kerjaan saya tidak bisa diprediksi kapan mulai dan selesainya. Apa iya mereka mau menunggui kami yang sedang bekerja sampai beres semuanya. Saya sih sempat bilang ke bos pabrik, mau pinjam pistolnya satu saja buat jaga-jaga. Dia kan sering bawa pistol tiga. Di sebelah kanan, kiri, dan disimpan di belakang. Pistol betulan, bukan seperti pistol air yang ditaruh di selangkangan. Jadi kalau ada apa-apa tinggal dor saja. Eh dibilangnya saya sudah gila. Jadi harus bagaimana?” Slamet balik bertanya.

Saya sendiri jadi bingung ketika Slamet meminta saran. Menyadari saya cuma bisa terdiam, Slamet lantas melanjutkan.

“Saya nggak takut preman. Punya ajian pancasona, semar mesem ataupun jaran goyang pun tidak ada pengaruhnya. Dia mau bawa pisau, tebas golok, tarik picu pistol kecepek, bahkan ledakin bom sekalipun saya nggak akan mundur walau sejengkal. Semuanya sudah takdir Tuhan. Yang saya takutkan cuma satu, kalau pas itu malaikat maut nyamperin, dateng mau nyabut nyawa saya,” kata Slamet menerawang.

***

Besoknya Slamet diminta untuk kerja di lapangan lagi. Tentu saja Slamet yang baru pulang menemui keluarga jadi lebih kalem dan sadar diri bahwa masih ada mulut-mulut yang harus dinafkahi. Belakangan Slamet menolak untuk bekerja di lapangan selama belum ada jaminan keamanan.

“Mau dikasih teguran, kena surat peringatan atau diberhentikan saya ikhlas. Itu semua takdir Tuhan. Saya sadar masih punya tanggungan, tidak bisa sembarangan. Kalau saya kenapa-kenapa apa iya pabrik mau menjamin anak istri saya tidak akan kelaparan dan hidupnya terjamin hingga masa tuanya?” kata Slamet mencoba bijaksana dan bersahaja.

Kasihan juga Slamet, kasihan juga saya, begitu pula Paijo, Sukiman, Joko dan kuli-kuli lain yang mengabdi untuk negeri. Kerja di pabrik menuntut kami untuk bekerja keras menjunjung nasionalisme tinggi-tinggi. Di bawah, kami sibuk mengurusi bandit cepekan yang berkeliaran, menyabung nyawa demi negara sementara di atas sana para bromocorah berdasi melakukan aksi fantastis dengan lebih terorganisir dan rapi.

Advertisements

Comments»

1. [Hans] - October 7, 2015

Sehat paklik?? Dangu mboten sowan wonten mriki..

Sehat ndoro, biasane 2 minggu sekali sowan Bandara. Nunut lewat mulih kampung 😀 manggon nang ndi Ndoro, nek aku lagi ono gawe nang Jakarta tak mampir

2. Shelling Ford - April 20, 2016

ilmu pengubah otot saya, sih, sudah sampai tahap hitam 1 garis rajah perang. sudah ndak ada yang saya takuti lagi di dunia ini. tidak juga ulat bulu macam trauma kekasihmu itu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: