jump to navigation

Preman September 27, 2015

Posted by superwid in Uncategorized.
2 comments

Sebagai salah satu kuli pabrik yang sering bekerja di lapangan, Slamet banyak sekali mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Mulai dari cuaca yang kadang panas hujan tak beraturan, bertemu dan dikejar babi hutan atau diganggu makhluk astral yang tidak kelihatan hingga berhadapan dengan masalah sosial yang tak kunjung ada penyelesaian. Ditempa oleh keadaan dan kondisi lapangan, Slamet yang warga pendatang bertransformasi dari seorang remaja lucu-lucu nan lugu kini menjelma menjadi sosok yang kadang nekad dan urakan, tidak ikut aturan. Adaptasi yang wajar untuk bertahan dari tekanan lahir dan batin serta luar dan dalam.

Masalah sosial merupakan masalah yang jamak dan wajar dialami oleh pabrik tempat kami mengais rejeki dimanapun berdiri. Berada di lokasi yang jauh dari kota dan keramaian tidak menjamin lingkungan menjadi aman tenteram. Justru bersanding dengan warga dan masyarakat setempat yang sebagian dimanjakan oleh kemudahan mencari seseran mengakibatkan permasalahan sosial menjadi penyakit menahun yang susah disembuhkan. Premanisme menjadi sesuatu yang rutin terjadi, semacam dipelihara negara bagaikan fakir miskin dan anak yatim yang justru terlupa. Aksi pemalakan terang-terangan ini sudah sedemikian akut dan kronis tanpa ada solusi yang pasti.

(more…)

Advertisements

Asap September 13, 2015

Posted by superwid in Uncategorized.
add a comment

Belakangan ini Badrun sering uring-uringan. Biasanya jadwal uring-uringan Badrun sudah bisa ditebak dan diperkirakan, yakni sekitaran tanggung bulan ketika gaji sudah mulai penghabisan sementara cicilan mulai berdatangan serta ketika jadwal libur kerjanya tiba namun “landasan” istrinya sedang dalam proses renovasi besar-besaran. Biasanya untuk kasus kedua Badrun suka merubah jadwal seenaknya agar ketika pulang ke rumah “landasan” sudah bisa digunakan sedangkan untuk kasus pertama Badrun hanya bisa mengelus dada.

Nah sekarang ini Badrun makin sering naik pitam dengan skedul yang tidak bisa ditentukan. Setelah diperhatikan, Badrun mulai meradang ketika menerima telepon dari seseorang yang belum bisa dipastikan siapakah gerangan. Karena kadar uring-uringan Badrun sudah semakin memprihatinkan dan berpotensi mengganggu kenyamanan, maka saya berinisiatif untuk menanyakan persoalan apa yang membuat Badrun masygul beberapa hari belakangan.

(more…)

Tamasya di Bogor Kota September 9, 2015

Posted by superwid in Uncategorized.
Tags: , , ,
3 comments

Dalam kehidupan berkeluarga, komunikasi merupakan cara terbaik dalam menjalin kedekatan pribadi antara sanak saudara. Komunikasi merupakan salah satu cara untuk menciptakan hubungan yang kuat. Terlebih lagi dalam kehidupan rumah tangga, komunikasi sangat penting untuk menciptakan dan menjaga keharmonisan keluarga.

Komunikasi belakangan ini identik dengan penggunaan teknologi untuk saling terhubung satu sama lain. Di satu sisi memang penggunaan teknologi memudahkan individu-individu yang terpisah jarak untuk tetap bisa berhubungan dengan intens, namun di sisi lain sentuhan dan kebersamaan tetap harus disempatkan. Jangan sampai penggunaan teknologi justru mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Dan berlibur bersama kerabat merupakan salah satu cara untuk menghabiskan waktu dengan famili dan membuat anggota keluarga akrab.

Dengan status sebagai suami dan kepala keluarga, sudah menjadi kewajiban saya untuk mencukupi kebutuhan lahir batin semua anggota keluarga. Salah satu konsekuensi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, saya harus berada terpisah pulau dengan keluarga untuk mencari nafkah. Kondisi dan lokasi kerja yang berada di remote area tidak memungkinkan mengajak keluarga untuk tinggal bersama. Jadwal kerjanya kelihatannya memang cukup menyenangkan, yakni dua minggu bekerja dan satu minggu berkumpul dengan keluarga. Sisanya hanya bisa bersua lewat suara – yang sebenarnya cukup menyiksa. Jika ditelaah lebih lanjut, dalam satu tahun saya hanya bertemu tatap muka dengan keluarga empat bulan saja sementara delapan bulannya berada di perantauan. Bandingkan apabila kerja normal kantoran lima-dua, minimalnya tiap hari bisa selalu berjumpa.

Beberapa hari yang lalu, via telepon, istri menyatakan ingin mencicipi masakan sea food salah satu warung waralaba. Saya mengiyakan keinginan itu dan mempersilakan jika ingin berangkat bersama saudara mengingat jadwal kepulangan masih lama. Namun istri rela menunggu saya pulang kerja karena ingin sekalian tamasya keluarga. Maka ketika waktu libur kerja tiba, kami rencanakan untuk berkunjung ke salah satu kota tetangga karena warung waralaba tersebut tidak tersedia di kota tempat kami tinggal. Saat ini keluarga menetap di Cianjur, kota transit lama Bandung-Jakarta. Warung waralaba tersebut paling dekat berada di Sukabumi, Bandung atau Bogor. Pada awalnya istri berencana untuk ke Sukabumi saja karena lokasinya yang relatif lebih dekat daripada dua kota lainnya.

“Bagaimana kalau ke Bogor saja, lumayan menyegarkan mata lewat Puncak. Lagipula pilihan wisata di Bogor lebih bervariasi. Bisa mampir ke Taman Safari Cisarua atau ke Kebun Raya,” tawar saya.

Kebun Raya Bogor. Gambar diambil di sini.

Kebun Raya Bogor. Gambar diambil di sini.

Istri menyetujui usul ini dan merencanakan sekalian bervakansi bersama keluarga di Istana Negara untuk memberi makan rusa dan jalan santai di Kebun Raya bersama anak tercinta. Lokasinya yang berada di tengah kota dan harga tiket yang terjangkau oleh semua kalangan menjadi alasan utama. Istri juga ingin mengajak si kecil untuk lebih mengenal berbagai macam binatang di Museum Zoologi karena sebelumnya hanya mengenal kucing, ikan, ayam, dan cicak yang sering dijumpai di sekeliling rumah. Si kecil yang baru bisa berjalan pastinya sangat senang menyusuri jalanan di Kebun Raya dengan sesekali bermain di padang rumputnya sekaligus belajar mengenal satwa di museumnya. Namun liburan yang sudah disusun matang-matang nampaknya tidak bisa berjalan sesuai rencana. Dengan kondisi istri yang tengah hamil muda anak kedua dan anak pertama yang masih balita, banyak rencana yang meleset.

Pagi harinya mobil pinjaman yang disewa harian sudah tersedia. Dari awalnya rencana berangkat jam delapan pagi harus ditunda karena istri yang masih mengalami morning sickness. Ditambah lagi dengan si kecil yang malamnya begadang sehingga paginya agak rewel dan manja. Namun berhubung keinginan istri yang tengah ngidam untuk makan di sea food waralaba harus dilaksanakan, meskipun hari sudah beranjak siang rencana tetap dijalankan.

Untunglah dalam perjalanan si kecil berubah air mukanya menjadi lebih ceria sementara istri mulai kewalahan menghadapi polah si balita.

“Pasti nanti di Kebun Raya, Masnya seneng. Bisa lari-larian sesuka hati. Selama ini bosan di rumah terus. Nggak ada yang ngajakin jalan-jalan,” kata istri melihat si kecil yang bergerak aktif di dalam kendaraan.

Kami tiba di Bogor sekitaran tengah hari sehingga langsung menuju ke salah satu pusat perbelanjaan di sekitaran Kebun Raya. Sembari menunggu istri memesan makanan kesukaan, saya dan si kecil berjalan-jalan. Begitu makanan terhidang dan karena kelaparan, kami makan dengan lahapnya. Si kecil, yang sedang tumbuh gigi susunya, tetap makan dengan porsi yang tidak seberapa dan waktu yang relatif lama. Maklum saja, mungkin gusinya sedang tidak nyaman digunakan untuk mengunyah makanan jadi satu suap makanan disambi jalan-jalan mall satu putaran.

Gambar diambil di sini

Rusa Istana Bogor. Gambar diambil di sini

Alhasil, tandas makan hampir pukul tiga sore harinya. Niat awal untuk melihat rusa dan jalan-jalan di Kebun Raya tidak bisa dipenuhi semua mengingat kami masih harus melakukan perjalanan yang cukup panjang untuk kembali ke Cianjur kota. Paling tidak dengan perjalanan santai butuh waktu dua jam untuk pulang ke rumah. Belum lagi apabila jalur Puncak sedang macet atau padat merayap. Maka dalam perjalanan pulang kami hanya menyempatkan untuk melihat rusa istana dari mobil di kejauhan. Lagipula memaksakan harus berkunjung ke Kebun Raya rasanya kurang bijaksana karena jam tutupnya adalah pukul lima, bisa-bisa sampai rumah kemalaman. Kasihan istri yang tengah hamil plus tidak enak badan dan si kecil yang butuh istirahat untuk pertumbuhan.

“Nanti saja, lain kali kalau ada waktu dan kesempatan kita ke Bogor lagi biar si kecil bisa menikmati Kebun Raya dan puas melihat rusa,” kata saya kepada istri.

Dengan berat hati istri menyetujui. Ya mau bagaimana lagi, rekreasi untuk mengurangi kejenuhan memang dibutuhkan namun kesehatan harus diutamakan. Harus bisa menentukan prioritas yang harus didahulukan. Minimalnya seharian ini kami sudah berkumpul dan jalan-jalan sebagai sebuah keluarga seutuhnya. Bukankah yang paling penting dari liburan adalah momen-momen bersama yang tidak bisa digantikan oleh apa saja.

Nantinya, apabila ada kesempatan lagi untuk liburan di Bogor saya ingin mengajak keluarga untuk berwisata di dalam kota saja. Memberi makan rusa sekaligus menikmati keramaian lingkungan istana. Menikmati sejuk udara dan rimbun hutan tengah kota. Terlebih lagi dengan istri yang saat ini tengah hamil muda dan anak yang aktif berlarian kesana kemari sepertinya lebih menyenangkan untuk menghabiskan waktu dengan bersantai di Kebun Raya. Belajar fauna di museum Zoologi dan flora di Herbarium Bogoriense. Selebihnya cukup wisata kuliner seputaran kota, karena yang terpenting adalah berkumpul bersama dengan keluarga. Menghabiskan waktu dengan bercengkrama.

Disertakan pada “Lomba Blog Piknik itu Penting” dalam rangka Dies Natalis IPB ke 52.

Mengurai Kemacetan Ibukota September 5, 2015

Posted by superwid in Uncategorized.
Tags: , , , , ,
add a comment

Kemacetan yang jamak terjadi di kota besar, tidak terkecuali di Jakarta, sering dijadikan studi untuk dicari solusinya. Banyak yang disalahkan, seperti pertumbuhan jalan yang tak sebanding dengan kendaraan, kesadaran penggunaan transportasi umum – yang sayangnya tidak dibarengi dengan kualitas dan kuantitas armadanya dan lain sebagainya.

Ada dua tindakan yang bisa dilaksanakan yakni preventif dan kuratif. Tindakan pencegahan dilaksanakan dengan melakukan seleksi yang lebih ketat terhadap pengajuan Surat Ijin Mengemudi (SIM). Untuk mengemudikan kendaraan dibutuhkan kemampuan berpikir yang baik, kesadaran berlalu lintas, dan kematangan emosi. Untuk pengajuan ijin senjata api saja berjibun persyaratan yang harus dipenuhi apalagi untuk kendaraan yang berpotensi mengakibatkan korban yang lebih banyak apabila terjadi kecelakaan? Penambahan tahapan tes psikologi dan wawancara untuk semua tanpa terkecuali mungkin bisa memastikan nantinya pemilik SIM memang benar-benar layak dan punya kesadaran tinggi dalam berlalu lintas.

Selanjutnya untuk tindakan kuratif, rekayasa rambu dan lalu lintas harus ditegaskan. Traffic management untuk jalan dan jam tertentu bisa diterapkan dan evaluasi rutin untuk perbaikan. Penggunaan yellow box junction untuk persimpangan juga bisa diaplikasikan. Namun sebaik apapun traffic management dan rekayasa lalu lintas tanpa dibarengi kesadaran berkendara hanya jadi wacana saja.

Dan lagi, kejujuran dan ketegasan anggota Satlantas juga mesti dibudayakan. Kesalahan berlalu lintas seharusnya tidak sekadar ditilang dan didenda. Pemberian skor yang bisa berujung pada pencabutan SIM sesuai dengan UU Lalu Lintas Jalan Raya mesti diimplementasikan dalam keseharian. Apabila sudah dicabut masih melanggar, silakan dihukum pidana untuk memberi efek jera. Di samping itu tingkatkan sinergi dengan pemerintah dan masyarakat karena kemacetan bukan masalah Polisi semata, namun persoalan kita semua.

Mie Instan – Warung Burjo September 4, 2015

Posted by superwid in Uncategorized.
add a comment

*tulisan ini berdasarkan riset dan pengamatan mendalam selama puluhan tahun yang keabsahannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Penggunaan seluruh atau sebagian dari tulisan ini sebagai dasar penulisan ilmiah tidak disarankan karena bisa menimbulkan perdebatan.

Warung burjo – singkatan dari bubur kacang ijo – merupakan salah satu warung yang banyak menjamur di lingkungan sekolah dan kampus, terutama di kampung saya. Maka tidak heran jika sejak bangku sekolah dasar saya sudah mengenal warung ini. Bisa dibilang saya sudah kenyang merasakan merica garam warung burjo 24 jam. Awalnya hobi mengunjungi warung burjo ini didasarkan pada kesukaan saya terhadap bubur kacang hijau dan ketan hitam, yang notabene pada awalnya merupakan komoditas utama yang dipasarkan. Namun seiring berkembangnya jaman dan untuk peningkatan omset penjualan, terjadi diversifikasi ragam produk yang ditawarkan. Salah satu di antaranya adalah mie instan.

Sekarang ini warung burjo dan mie instan bagaikan sepasang kekasih yang tak terpisahkan, hingga di akhir zaman.

(more…)